First Fall In Love

First Fall In Love
Struggle



Pagi ini Rama berdiri di depan gedung jurusan medis. Tangan sebelah kanan memegang setangkai bunga mawar, tangan kirinya memegang coklat berbentuk love. Cewek-cewek yang melewatinya berjerit histeris tapi Rama cuek saja. Jika ada yang mendekatinya dengan agresif Rama akan berkata ia sedang menunggu pacarnya. Meminta para cewek untuk pergi membuat para cewek kesal.


Netranya menemukan Nifa sedang berjalan kearahnya bersama Melinda. Rama segera keluar dari kerumunan cewek-cewek gila itu.


“Morning my baby girl.”


Langkah Nifa dan Melinda terhenti kala melihat Rama di depannya. Nifa menatap Rama dengan kening mengkerut bingung.


“Ngapain lu Ram? Siapa yang lu panggil baby girl. Menjijikan banget gua mual dengarnya.” Melinda membuat ekspresi pura-pura mual.


Rama memutar bola matanya jengah. “Gak usah ngeledek deh! Gua gak manggil lu. Gua manggil my baby Nifa.”


Bergidik jijik Nifa menggelengkan kepalanya. “Mas ndak boleh gitu nanti banyak orang salah paham.” Melangkah melewati Rama meninggalkannya begitu saja.


“Baby lu gak lupa kan apa yang gua katakan kemarin.” Rama bersuara sedikit kencang agar dapat di dengar Nifa, membuat langkah Nifa terhenti menegang di tempat.


Good baby girl batin Rama bersorak. Segera menghampiri Nifa berdiri di hadapan Nifa dengan senyum mengembang. “Baby gua bawain lu bunga sama coklat. Bunga yang cantik sepertimu dan coklat yang manis sepertimu.” Rama menyerahkan dengan kedipan mata genit.


Menghela nafas pelan Nifa mengambil coklat di tangan kiri Rama. “Makasih.” Tersenyum tipis Nifa terpaksa menerimanya.


Dahi Rama mengernyit. “Kenapa Cuma coklatnya aja?”


“Aku memang suka bunga, tapi aku alergi bunga mawar Mas. Jadi apakah aku boleh masuk ke kelas?”


Menganggukan kepala tersenyum lebar. “Belajar yang baik Baby biar pintar.” Rama mengelus kepala Nifa lembut kemudian melangkah pergi.


Nifa terkejut wajahnya memerah rasanya mual. “Menyebalkan!” Berjalan kearah tong sampah membuang coklat itu kemudian masuk ke kelas.


Tanpa disadari sebenarnya Rama belum pergi dari sini dia bersembunyi di balik tembok. Rasanya hatinya berdenyut. Bagaimana mungkin perjuangannya datang pagi-pagi terbuang sia-sia, cewek itu memang menyebalkan.


Tepat pukul sebelas Rama keluar dari kelas membuat sahabatnya bingung. Karena selalu saja pergi tepat pukul sebelas.


“Mau kemana lu Ram? Kenapa selalu pergi jam sebelas kita masih ada kelas habis ini.”


Mengabaikan pertanyaan Arga melenggang pergi begitu saja.


“Ini gak bisa di biarin! Kalau gini terus dia bakal terancam mengulang semester nanti.”


Farid mengelus bahu Arga karena terlihat Arga mulai emosi. “Tenang Ar biar nanti gua yang ngomong.”


Di perpustakaan Rama celingak-celinguk mencari keberadaan Nifa. Berjalan kepojokan meja baca kala netranya menangkap presensi Nifa disana.


“Hai baby apa kabar.”


Rama tersenyum lebar menatap Nifa. Kemudian mendudukan dirinya pada salah satu bangku di depan Nifa. Sayang sekali Rama hanya mendapat jawaban dari Nifa berupa acungan jempol.


“Baby lu lagi baca buku apa?” Rama tak menyerah ia bertanya pada Nifa lagi.


Nifa hanya mengangkat bukunya menunjukkan cover buku yang sedang dibacanya.


“Mas aku duluan ya, aku dapat panggilan buat ke mini hospital.” Nifa bangkit berdiri setelah berucap begitu pada Rama.


Mengusap wajahnya kasar. Ternyata butuh perjuangan ekstra untuk mendapatkan cewek itu. Tidak habis pikir juga kenapa bisa sesusah ini.


Membuka pintu caffe kemudian masuk. Rama sengaja pergi kearah dapur mencari cewek itu. Mengampiri Nifa yang sedang menata makanan di atas piring.


“Perlu bantuan?”


Saat mendengar suara Rama yang bass membuat Nifa terlonjak kaget. Hampir saja ia melemparkan wajan yang sedang di pegangnya.


“Tidak terimakasih Mas, aku harap Mas ndak mengganggu pekerjaanku. Aku butuh kerjaan ini karena aku butuh menafkahi diriku sendiri.” Ujar Nifa dengan wajah datar. Moodnya buruk tiap kali Rama mencoba mendekatinya. Rasanya hari-hari yang di lewati semakin berat.


“Satu lagi jangan mengusikku saat kerja. Aku bukan kamu Mas, yang bisa mendapatkan semuanya dengan mudah.” Berjalan meninggalkan Rama begitu saja.


Sialan, dirinya telah diremehkan oleh pujaan hatinya. Ini tidak bisa di biarkan, ia harus membuktikan kepada ceweknya. Berjalan tergesa kearah ruangan omnya.


Rama meminta om Herman untuk mengijinkannya bekerja disini. Awalnya di tolak keras oleh omnya tapi Rama tetaplah batu hidup susah untuk ditolak. Dengan terpaksa om Herman mengijinkan kemudian memberikan seragam karyawan.


Nifa terkejut saat Rama memasuki dapur dengan seragam pegawai sepertinya. Apakah dia masih waras? Bukankah Rama anak orang kaya. Kenapa perlu repot-repot untuk bekerja? Oke, Nifa tidak mau tahu urusannya.


“Huh, gila rasanya tulangku mau patah.” Rama duduk disalah satu bangku di caffe ini. Caffe sudah sepi karena sudah waktunya tutup.


“Aku pulang dulu Mas ojek onlineku udah datang itu.” Nifa berjalan kearah abang ojek yang menunggunya. Meninggalkan Rama yang diam seperti patung. Tidak mau tau Nifa hanya acuh dan pergi.


Setelah sepuluh menit kepergiaan Nifa seolah Rama tersadar. Melihat sebotol air mineral di hadapannya, ini nyata ia tidak bermimpi. Wah, akhirnya perjuangan Rama ada kemajuan.


Di sepanjang jalan menuju apartemen Rama terus tersenyum. Gila, hanya diberi air mineral saja membuatnya terbang berbunga-bunga. Namun saat masuk apartemennya tiba-tiba handphone nya berdering. Terlihat nama Melinda tertera disana membuat Rama bingung tapi tetap mengangkatnya.


“halo kenapa Mel?” Rama mendudukan diri di sofa ruang tengah. Badannya pegal semua rasanya kakinya mau patah, karena tak berhenti berdiri seharian ini.


“Ram lu dimana? Ini gawat Ram. Tadi pas gua telponan sama Nifa tiba-tiba dia menjerit. Setelah itu gak ada suara lagi. Gua udah coba hubungi berkali-kali tetep gak diangkat. Ram gua minta tolong lu samperin Nifa soalnya gua lagi dirumah nenek gua.”


Rama mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Melinda. Tanpa pikir panjang Rama segera mengambil kunci mobilnya serta memakai sepatunya kembali. Melajukan mobilnya sedikit kencang kekhawatirannya terhadap Nifa sangat tinggi.


Nifa sedang tidur dikamarnya, tapi tidurnya terganggu oleh suara ketukan pintu yang kencang. Siapa yang bertamu malam-malam begini mengganggu saja.


Saat pintu terbuka menampilkan presensi Rama yang terlihat khawatir. Tapi tunggu dia masih memakai baju yang tadi saat dikampus. Kenapa orang ini? Pikir Nifa dalam hati.


“Lu gak kenapa-kenapa kan? Ada yang luka gak? Atau ada yang lecet?”


Nifa terkejut saat mendapatkan banyak pertanyaan dari Rama. Kenapa jadi aneh begini sih tingkah Rama.


“Aku ndak apa-apa emang kenapa toh Mas?” Nifa menatap wajah Rama lekat-lekat. Apakah laki-laki di depannya salah minum obat atau apa.


Rama bengong saat mendapati jawaban Nifa. Jika dilihat-lihat pun Nifa terlihat baik, tidak ada yang kurang malah terlihat seperti bangun tidur karena baju tidurnya terlihat kusut.


“Kata Melinda lu menjerit saat dia nelpon lu, terus lu di telpon lagi gak lu angkat.” Jelas Rama


Nifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Oh, itu aku ndak sengaja ketemu tikus Mas didapur. Sangking kagetnya aku lari keluar, sepertinya handphone ku ketinggalan di dapur. Soalnya setelah itu aku langsung kekamar buat tidur.”


Mengangakan mulutnya lebar dengan tatapan tidak percaya. “Jadi hanya itu?”


Nifa menganggukakan kepalanya. “Iya Mas, mending Mas sekarang pulang. Ini udah mau jam sepuluh udah malem, Mas juga kan belum mandi tuh.” Menjeda ucapannya sebentar. “Kasian Mas pasti capek mending cepetan pulang. Aku juga mau lanjutin tidurku aku tutup pintunya ya Mas, selamat Malam.”


Nifa tersenyum manis sebelum menutup pintunya. Tidak sia-sia perjuangannya menuju kesini dengan rasa capek yang luar biasa. Karena Rama tidak pernah sekalipun melihat Nifa tersenyum manis kepadanya. Biasanya Nifa hanya akan menampilkan raut wajah ketakutan.


Pagi ini Rama menunggu Nifa di depan rumah kontrakannya. Tapi sudah lima belas menit tidak ada tanda-tanda cewek itu keluar. Padahal sudah hampir pukul delapan bukannya Nifa selalu berangkat pagi-pagi? Rama bergegas keluar dari mobil. Takut terjadi sesuatu dengan Nifa di dalam sana.


Rama mengetuk pintu sebanyak hampir sepuluh kali tapi tidak ada respon.


“Yang tinggal disini udah pergi pagi-pagi jam enam tadi bang.”


Tiba-tiba Rama terkejut saat ada cewek yang mungkin usianya dibawahnya. Rama mengucapkan terimakasih kemudian melangkah pergi menuju mobilnya. Sial, perjuangannya bangun pagi gagal.


Pukul sebelas Rama menemui Nifa seperti biasa.


Nifa yang tengah fokus membaca terkejut kala seseorang menyodorkan sebuah buku kehadapanya.


“Ini novel buat lu, kata Melinda lu suka baca novel.” Ujar Rama dengan senyum mengembang.


“Aku udah pernah baca itu. Tapi makasih ya Mas, itu buat Mas aja itung-itung buat ngilangin bosan. Aku pergi dulu Mas ada urusan di prodi.”


Sialan! Lagi-lagi perjuangannya gagal, padahal ia sudah capek-capek memesan novel itu sampai berebut dengan orang lain. Novel itu sedang populer ia kira Nifa akan senang tapi ternyata dia sudah pernah baca. Dan lagi-lagi bernasib ditinggalkan sendirian gagal lagi perjuangannya.


Di caffe Rama bekerja dengan giat, sebenarnya ia malas bersusah-susah seperti ini. Tapi demi membuktikan kepada Nifa bahwa ia bukan laki-laki lemah Rama rela melakukan apa saja.


Rama menatap Nifa yang sedang mengantarkan makanan di meja nomor delapan. Nifa terlihat cantik dimata Rama walaupun dengan tampilan sederhana. Cewek itu selalu membuat jantung Rama seperti lari maraton saat di dekatnya.


“Jangan dilihatin terus Nifa gak akan hilang, tolong antarkan ini kemeja nomor tiga belas.” Pinta Nisa


Menghela nafas pelan Rama menerima nampan berisi makanan yang diberikan Nisa kepadanya. Lamunannya terganggu gara-gara pesanan ini.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam yang berarti sudah saatnya pulang. Sengaja Rama langsung menemui Nifa agar bisa pulang bersama.


“Nifa pulang bareng yuk.” Ajak Rama.


Nifa menggelengkan kepala pelan. “Maaf Mas aku udah terlanjur pesan ojek online, lain kali aja ya.”


Rama Nampak lesu kemudian menggelengkan kepalanya. Perjuangannya mendekati cewek itu memang sangat susah.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya biar author semangat nextnya ❤