First Fall In Love

First Fall In Love
What Is Up With Her



Nifa Pov


Aku membuka mata kemudian menatap langit-langit kamar ini. Tunggu... ada yang salah dengan kamar ini. Aku menatap sekeliling kamar ini sontak aku melotot terkejut lalu bangkit dari tidurku. Aku benar-benar terkejut ini bukan kamar kontrakanku. Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang sebelumnya terjadi.


Tapi sialnya kepalaku rasanya sangat pusing, hingga tidak bisa berpikir apapun ini gila. Tiba-tiba ada suara pintu di buka. Aku terkejut ketika melihat cowok itu. Bukankah dia yang namanya Rama si populer di kampus. Aku melihat dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit pingganggnya.


Tunggu...


Apa? kenapa hanya menggunakan handuk sebatas pinggang saja.


Badanku mendadak panas dingin dan gemetar. Sontak aku membuka selimut yang menutupi tubuhku. Huh, syukurlah pakaianku masih lengkap.


Seolah paham akan pergerakanku dia berkata. “Kenapa? lu ngira gua udah nidurin lu gitu. Jangan ngarep! Gua gak mungkin nidurin anak dibawah umur, bisa-bisa gua di penjara.”


Sontak membuatku manatap tajam ke arahnya. Sungguh tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi dasar edan. Aku menatap Rama membuka lemari kemudian mengambil bajunya tiba-tiba aku melihatnya hendak melepaskan handuknya.


“Heh! jangan buka handukmu disini, buka handukmu dikamar mandi.” Kataku lirih penuh ketakutan.


Dia tersenyum miring mengerikan kearahku. Membuatku takut, tubuhku sudah menandakan reaksi bahwa penyakitku akan kumat lagi. Ini gawat aku tidak ingin pingsan dikamar ini. Aku bangkit dari dudukku hendak berdiri.


“Aku akan keluar dari sini aku ndak tahan dengan lelaki edan koyok kamu.”


“Lu mesum ya! mana mungkin gua mau ngasih liat punya gua sama bocah ingusan kayak lu.”


Tiba-tiba dia membuka handuknya dan aku menahan jeritan. Tapi untung saja ketika handuk dibuka ternyata dia memakai celana selutut yang hampir saja membuatku gila.


Author Pov


Rama menatap Nifa dengan tatapan tajam kemudian melangkah maju kearah ranjangnya, yang membuat Nifa langsung sigap berdiri di samping ranjang itu hendak melangkah pergi.


“Mau apa kamu jangan macam-macam aku bisa tinju mukamu nanti” Kata Nifa dengan badan bergetar dan wajah memerah.


Rama menyeringai saat melihat wajah ketakutan Nifa. “Kenapa? Ini kan apartemen gua jadi suka-suka gua lah.”


Nifa menatap tajam kearah Rama dengan langkah kaki mundur kearah pintu keluar. “Aku mohon Rama biarin aku pergi dari sini buka pintunya!” Nifa terlihat lemas dan gemetar serta air mata yang mulai menetes di pipinya.


Kernyitan bingung muncul di dahi Rama. Melihat Nifa yang terlihat mengenaskan jadi gak tega. “Lu kenapa? Gua gak akan ngapa-ngapain lu kok. Eits... jangan nangis oke-oke gua bukain pintu.”


Rama berjalan kearah pintu kemudian mengambil kunci di kantong celananya, ketika pintu terbuka sontak Nifa langsung berlari keluar melewati Rama. Sedangkan Rama ikut keluar melihat cewek itu lari kecang menuju lift diujung sana.


“Bener-bener aneh! Ada apa sih sama dia? Setiap lihat gua selalu terlihat ketakutan, padahal muka gua ganteng gini.” Sambil berjalan kedalam kamar apartemennya kemudian merebahkan diri di kasurnya.


“Arrrgghhh gua gak bisa tidur! Kepikiran dia mulu, bisa gila padahal baru ketemu tadi. Kira-kira dia udah sampe rumahnya belum ya? Harusnya tadi gua anterin dia. Tapi keliatannya dia takut banget liat gua sial emang.”


Kemudian bangkit menuju dapur dan menuangkan air minum kedalam gelasnya, untuk merilekskan pikirannya. “Gua bisa gila! kebayang-bayang wajah bocil itu. Aroma strawberry di badannya bener-bener bikin kecanduan. Besok gua harus cari dia sampe ketemu di kampus.”


Pagi yang cerah semakin cerah karena ditambah senyum merekah dari birai bibir tebal milik Rama sang idola kampus. Berjalan menyusuri jalan arah menuju kelasnya sambil terus tersenyum dan bersenandung riang sampai kedalam kelas.


“Pagi kalian.” Sapa Rama dengan nada ceria.


Membuat ke tiga temannya sontak menatap kaget kearahnya. Karena gak seperti biasanya seorang Rama datang masuk ke kelas dengan wajah kelewat bahagia seperti habis menang main togel.


Arga si perhatian dan pengertian khawatir melihat perubahan pada diri sahabatnya. “Ram lu sehat kan? atau mau gua anterin ke mini hospital sekarang?” Berhenti sebentar sambil menatap prihatin ke arah Rama. “Atau lu habis di pukul bokap tiri lu makanya begini?”


Rama yang mendengar itu berdecak sebal. “Ck! Lu tuh ya ngerusak momen bahagia gua aja.”


Dengan raut wajah kepo luar biasa Farid ikut nimbrung. “Lagian nih ya lu tuh nyeremin. Gak biasanya lu sebahagia itu, coba lu cerita kenapa?”


“Ada deh kepo banget lu!”


Menatap curigai ke arah Rama sambil menyeringai. “Jangan bilang lu suka sama si Nifa ya? Yang kemarin lu tarik-tarik keluar caffe ya kan? ngaku aja lu!” Tuduh Bagas tak menghilangkan senyum miringnya.


Terlihat gugup tapi mencoba menyembunyikan kegugupannya. “A-apa gak kok, eh kok lu tau namanya Nifa?” Rama menatap mengintimidasi kearah Bagas.


“Iya lah gua tau orang Nifa temenan sama Melinda sepupu gua. Dia jurusan Fisioterapi kan?” Bagas berenti sejenak menghela nafas pelan sambil menatap Rama lekat. “Tapi Ram, gua saranin lu jangan suka sama si Nifa deh. Ya memang dia menarik imut dan lembut gitu anaknya tapi gua saranin jangan deh.”


Dahi berkerut kemudian manatap Bagas dengan wajah serius. “Kenapa emangnya?” Rama berbalik badan menatap Bagas penuh atensi.


“Lu gak tau rumor yang beredar? Si Nifa itu kayaknya lesbian alias penyuka sesama jenis. Soalnya kata Melinda pernah waktu itu ada cowok jurusan kedokteran ditolak juga sama dia, terus ada sekitar lima cowok nembak dia bulan ini ditolak semua. Apa coba namanya kalo gak lesbi!” Bagas balik menatap Rama dengan tatapan konyolnya.


Terkekeh kencang kemudian Farid memutar tubuhnya menghadap Bagas sepenuhnya. Menjitak kepala Bagas dengan gemas.


“Jangan suka ngomong sembarangan! bisa aja kan dia itu emang mau fokus kuliah. Dan mungkin memang belum minat pacaran. Lu gak boleh suudzon Gas.”menggelengkan kepala kemudian menghela nafas. “Lagian waktu itu gua cedera di mini hospital yang ngobatin si Nifa. Dia kelihatan aman-aman aja tuh! Malah mukanya merah mungkin dia malu kali ya? Ngobatin cowok seganteng gua.” Tawa terkikik sambil membayangkan wajah Nifa waktu mengobatinya kala itu.


Terkejut mendengar perkataan Farid spontan membuat kedua mata Rama menatap tajam kearahnya penuh selidik. “Apa! Kapan lu diobatin Nifa? Kenapa sama lu dia mau sama gua dia malah ketakutan ini gak bisa dibiarin!”


Bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar dari kelas. Membuat Farid menggidikkan bahunya tidak peduli.


Ketika sampai di lobi gedung jurusan Fisioterapi, Rama melihat sekelilingnya bingung mau kearah mana sebab dia gak pernah memasuki gedung ini. Biasanya dia hanya akan pergi ke gedung Olahraga saja tempat jurusannya. Karena ya memang tidak ada yang bisa ditemuinya malas, apalagi bertemu fans alay nya itu.


Tiba-tiba saat hendak melangkah lagi ada suara yang memanggilnya.


Memutarkan badan menghadap belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. Terlihat Jesika menghampirinya dengan senyum ceria. “Rama tumben lu kesini nyari siapa? Nyari gua ya?” Tanyanya.


Malas meladeni Jesika yang merupakan salah satu fans alaynya. Membuat Rama berlalu dari hadapannya. “Kepedean lu amit-amit gua nyari lu.”


“Hey Ram tunggu!” Panggil Jesika lagi dengan teriakan menggelegar tapi tak dihiraukan oleh Rama justru malah berlari menghindari Jesika.


Rama Pov


Untung aja gua bisa lepas dari cewek sinting macem Jesika itu. Gua bingung harus masuk kemana buat nyari si Nifa karena sebelumnya gua gak pernah kesini. Gua hanya berjalan mengikuti arah kaki saja. Akhirnya gua memilih buat naik kelantai dua menaiki tangga. Pas sampai lantai dua gua melihat Melinda sedang berjalan tergesa-gesa, ini kesempatan gua buat nanya kan katanya Melinda temenan sama Nifa.


“Melinda.” Gua memanggil dengan nada kencang. Membuat beberapa orang disana ikut menegokkan kepala.


Akhirnya gua berjalan mendekati Melinda. Sedangkan Melinda memandang gua dengan tatapan tidak percaya. Mungkin pikirannya mimpi apa dia semalam sehingga bisa di samperin cowok seganteng gua.


“Mel gua mau nanya dong Nifa sekarang ada dimana?”


Melinda natap gua penuh heran terlihat jelas muka bingungnya. “Kenapa emangnya nyari Nifa?”


Setelah dipikir-pikir iya juga ya kenapa gua nyariin tuh anak? Ah, kayaknya otak gua udah mulai eror.


“G-gua itu ada kepentingan, ya ada kepentingan sama Nifa.” Gua gugup ya karena gua sendiri juga bingung ngapain juga nyari Nifa?


Dengan senyum sumringah kearah gua Melinda Berkata dengan riang. “Oh pasti mau konsultasi soal cedera ya? Sama gua aja soalnya tadi Nifa pingsan terus di anterin pulang sama Siska.”


“Apa! Kenapa bisa pingsan memangnya dia lagi sakit?” Mendadak merasa khawatir saat mendengar perkataan Melinda, entah kenapa rasanya gua ingin segera menemuinya.


Raut wajah yang semula ceria mendadak menjadi sendu. Gua melihat jelas perubahan wajah Melinda.


“Gua gak tau pasti kejadiannya, soalnya kami mendapat jadwal praktek di lab dengan jam yang berbeda. Tapi kata Siska tadi di telepon Nifa itu dapat pasangan praktek cowok. Tema praktek kali ini adalah massage. Cowok yang menjadi pasangan praktek Nifa itu menyentuh telapak kakinya untuk memulai proses massage. Tapi Nifa bilang, biar dia aja yang massage kaki si cowok tapi si cowok ngeyel dan ya endingya Nifa pingsan.” Jelas Melinda, gua bingung itu bocah kenapa ya setiap kontak fisik dengan orang lain. Seolah-olah dia merasa terbebani, sebenernya ada apa dengan dia?.