First Fall In Love

First Fall In Love
Sincere Apologies



Melangkah gontai memasuki apartemennya, kantung matanya menghitam serta penampilannya tak lagi rapi. Semangatnya pupus sebab pujaan hatinya menghindarinya sudah hampir dua minggu setelah insiden ciuman kala itu.


Telepon serta pesannya tak pernah mendapat balasan. Bahkan ketika di hampiri di dalam kelas cewek itu sengaja pergi.


Rasa bersalah selalu mengerogoti, tapi mau bagaimana lagi. Hasratnya susah di tahan kala berhadapan dengan cewek pujaannya itu. Apakah semua orang yang sedang jatuh cinta seperti ini?


Dulu waktu sekolah menengah atas Rama tak pernah menjalin hubungan dengan perasaan menggebu-gebu seperti ini. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama? Rama menatap atap kamarnya sembari menunggu kantuknya datang.


Setaunya dari dulu Rama berpacaran hanya sekedar ingin pamer. Yap yang di pacari selalu cewek-cewek cantik idaman kaum cowok. Tapi sudah lama semenjak memasuki jenjang perkuliahan Rama enggan untuk menjalin suatu hubungan.


Tidak tertarik.


Menurutnya dunia perkuliahan adalah babak baru dalam hidupnya, dimana yang biasanya ia bisa menyontek atau menyuruh orang dalam melakukan tugasnya, sekarang ia harus berusaha sendiri. Karena jurusan yang diambilnya menuntutnya untuk bisa mempraktekan apa yang sudah di perintahkan.


Namun satu cewek yang bahkan mungkin sedikit jauh dari kata cantik kini telah berhasil memikat hati seorang Rama. Bagaimana tidak, Nifa tak memiliki badan bak gitar spanyol, atau gairah menggoda. Nifa hanya gadis biasa dengan banyaknya keanehan dalam dirinya. Nifa pula bukan cewek seksi nan modis seperti mantan-mantannya, cewek itu cenderung mirip bocah SMP yang tersesat. Wajah imut, bibir mungil, mata bulat serta aroma strawberry yang menguar membuat Rama seperti seorang pecandu narkotika.


Satu hari saja tidak bertemu bocah mungil itu rasanya seperti hampir gila, apalagi sekarang sudah beberapa hari ia di hindari oleh bocah itu. Ini tidak bisa berlanjut lama ia harus memikirkan permintaan maaf untuk pujaan hatinya.


Merogoh saku celananya kemudian mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang, tidak peduli jika ini sudah malam. Hatinya butuh kepastian dan kejelasan.


Mengusap kasar wajahnya kemudian melangkah memasuki kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Hanya membasuh mukanya saja, ingin rileks sesaat.


Sial!


Lagi-lagi pujaan hatinya tidak menjawab pangilan telponnya. Ia harus benar-benar merancang sesuatu untuk meminta maaf. Bisa gila lama-lama kalau terus di diamkan dan dihindari oleh cewek itu.


Pagi-pagi sekali Rama mencari toko bunga, namun sial tak ada toko bunga yang buka sepagi ini. Langkahnya menuntunnya ke taman kota. Netranya melirik kesana kemari, siapa tau menemukan sebuah ide.


Nampak di kejauhan terlihat jelas sebuah bunga terang berwarna putih. Rama mendekatinya, menundukkan dirinya untuk mencium aroma bunga itu.


Wow wangi…


Good


Menolehkan kepalanya ke kakanan dan kekiri, kemudian mencabut dua tangkai bunga putih itu. Menyembunyikannya di dalam hoodie hitam kebesarannya. Rama melangkah cepat menuju mobil, meletakkan bunga putih itu di samping kemudi.


“Untung aja gak ada yang lihat gua, konyol juga gua pake segala maling begini. Padahal beli pun bisa bahkan yang paling mahal pun sanggup. Tapi ya mau gimana lagi udah nyari dimana-mana pada masih tutup.” Monolog Rama sambil terkekeh pelan.


Rama berjalan menghampiri kelas pujaan hatinya dengan dua tangkai bunga dan satu buah coklat, serta kotak kecil berisi kalung. Melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, ternyata sudah pukul sembilan gara-gara keasikan nyari toko bunga tadi.


Persetan kalau cewek itu tengah belajar di dalam kelas, atau dosen yang tengah mengajar adalah dosen galak. Yang ia pedulikan hanya keegoisan hatinya saat ini. Tidak ingin berlanjut lama di jauhi, rasanya menderita.


“Nifa”


Teriakan yang menyebutkan nama Nifa pun membuat seisi kelas terkejut, apalagi dosen galak yang kini tengah menerangkan mata kuliah fisiologi.


“Nifa gua minta maaf.”


Teriakan itu membuat Nifa menegang, gugup sekaligus bingung, karena dosen di depan sana sudah memelototinya. Matanya seperti ingin keluar dan menerkamnya hidup-hidup.


“Nifa keluar gua pengen ketemu gua minta maaf.” Teriaknya lagi.


Brengsek!


“Ck cowok gila itu kenapa lagi sih Nif?” tanya Melinda sambil berbisik kearah Nifa.


Menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang terlontar dari bisikan Melinda.


“Ada apa ini, jika memang ada kepentingan silahkan keluar. Saya tidak ingin ada yang menganggu mata kuliah saya.” Dosen di depan memandangi Nifa seperti harimau yang tengah memangsanya. “Tolong Nifa keluar dari ruangan. Setelah ini keruangan saya, kamu akan saya beri kelas detensi.”


Gila!


Nifa bangkit berdiri kemudian keluar dari kelas. Seumur-umur ia menempuh pendidikan, baru kali ini diusir secara tidak terhormat. Cowok itu benar-benar menjengkelkan, rasanya ia ingin mencongkel kedua bola mata cowok itu. Hidupnya tak pernah tenang sejak bertemu dengannya.


Rama tersenyum lebar kala netranya menangkap presensi pujaan hatinya keluar kelas berjalan menuju kearahnya.


“Ada apa?” bertanya dengan nada ketus dan menatap tajam kearah Rama setelah sampai di hadapan cowok itu.


Rama berlutut dengan satu kaki menjadi tumpuan dan kaki lainnya di tekuk, menyodorkan bunga, coklat dan sebuah kotak.


Mata Nifa berbinar kala melihat bunga kesukaannya yaitu bunga lili, namun ia urungkan karena masih sebal.


Menghela nafas pelan. “Mas tau? Tindakan Mas ini membuat aku kena kelas detensi. Seumur-umur ndak pernah tuh di keluarkan dari kelas dengan cara seperti ini, hanya karena Mas aku jadi di keluarkan begini.”


“Gua minta maaf, nanti kalau lu butuh bantuan gua bakal bantu kelas detensimu.”


“Mana bisa, kapasitas otak Mas bahkan tipis. Mana sampai untuk memikirkan tugasku nanti.” Jawab Nifa cepat menatap sebal kearah Rama.


Kurang ajar!


Melebarkan matanya tak percaya, jika bukan Rama sedang meminta maaf begini sudah di terkamnya bocah itu. “Gua bakal usahakan, please maafin gua.” Rama memohon dengan memelaskan wajahnya.


Nifa menatap mata Rama lekat-lekat, mencari kebenaran atas permintaan maafnya. Menghela nafas pelan cowok ini bersungguh-sungguh rupanya. Kasian juga wajahnya jadi seperti kucing di wartek depan kampus.


Mengambil bunga lili dari tangan Rama kemudian menciumnya, berjalan meninggalkan Rama. Rama menaikkan satu alisnya tak mengerti, tapi kakinya melangkah megikuti cewek mungil itu.


Di belakang gedung jurusan cewek itu Rama duduk di ujung bangku, tidak berani mendekat takut hal buruk terjadi.


“So do you accept my apology?” menatap cewek yang duduk cukup jauh di bangku ujung dari Rama duduk.


Menganggukkan kepalanya, mencium bunga kesukaannya lagi.


“Lu suka bunga itu?” tanya Rama sambil mengembangkan senyumnya. Rasanya senang melihat senyum cewek itu.


“Iya ini kesukaanku, dulu seseorang selalu memberikannya kepadaku saat suasana hatiku memburuk.”


Senyum Rama luntur, apakah cewek itu sedang membicarakan mantan terindahnya?


Menyebalkan!


Mendadak jadi cemburu dan terbakar hatinya, tapi sebisa mungkin Rama mengontrol emosinya. Bisa gawat jika di jauhi lagi, usahanya tadi bisa sia-sia kalau gegabah dalam menentukan emosi.


“Siapa orang itu?” Tanya Rama dengan senyum getir.


Nifa menghentikan kegiatan menciumi bunganya, menatap lurus kedepan. “Seseorang yang berarti, kami seperti saudara kandung jika bersama.”


Bernafas lega ketika mendengarnya, syukurlah ia tak mempunyai saingan dalam mendapatkan hati cewek ini.


“Tapi sekarang kita seolah sangat jauh, aku kehilangan sandaran yang selalu menampungku.” Sambung Nifa.


Menatap cewek di sampingnya terlihat raut wajah sedih di sana. Rama mencoba menggeser duduknya agar lebih dekat tapi tetap menyisakan jarak. “Lu bisa bersandar sama gua kapan pun lu mau, gua siap selalu. Tapi bukan sebagai saudara, melainkan sebagai seorang pria kepada gadisnya. Jadikan gua tempat berteduh kala hujan badai menerjangmu.”


Menggelengkan kepalanya. “Aku ndak bisa menjalin suatu hubungan, aku sakit dan karena itu aku sulit berdekatan dengan lawan jenis.” Satu tetes air mata jatuh mengenai pipi bulatnya.


“Gua bakal nunggu, jadikan gua teman lu. Anggap saja ini pendekatan kita untukmu beradaptasi.” Rama semakin mendekatkan duduknya memutar bahu Nifa agar menghadapnya. Menghapus air mata cewek itu dengan lembut. “Gua bakal jadi penghapus di setiap goresan pahit di hidup lu.”


Nifa tertegun atas perlakuan dan penuturan cowok di depannya. Tersenyum tipis kemudian melepaskan tangan Rama menghadap lurus kedepan lagi.


“Akan aku coba, tapi jangan memaksaku. Jika penyakitku bereaksi lain aku harap tidak ada kata menyerah dalam hatimu Mas.”


Senyum merekah terbit di wajah tampan Rama. “Of course, Promise.” Rama menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Nifa.


Menautkan kelingking kecilnya pada kelingking panjang Rama. “Promise.” Tersenyum manis kearah Rama. “Aku harap Mas mau bersabar menghadapiku kedepannya. Walaupun status kita hanya berteman.”


Mengelus pucuk kepala cewek di depannya. “Gadis manis, mau daddy cium sayang?” terkekeh sengaja menggoda.


Mengerucutkan bibirnya kemudian menggeleng. “Kamu membuatku mual dengan perkataan daddy itu.” Melepaskan tautan jarinya kemudian memuntahkan isi perutnya.


Rama memutar bola matanya malas, selalu muntah di saat-saat yang tidak tepat. Menyebalkan! Rama memijat tengkuk Nifa saat cewek itu muntah, tapi di tepis dengan alasan akan semakin muntah.


Mengusap kasar wajahnya, menarik tangan cewek itu setelah selesai aktivitas muntahnya. Mengajaknya memasuki mobil.


“Mau kemana kita Mas?”


“Ke KUA mengawinimu paksa.”


“Apa?!”


Terkekeh kencang, sangat polos cewek ini. Tidak mungkin Rama mengawini sebelum menikahi. Kecuali kalau cewek ini mau, melirik melalui ekor matanya. Menggemaskan raut terkejutnya membuat Rama ingin menerkamnya. “Tidaklah… kita pergi nonton. Hari ini kita bersenang-senang, kita ini kan teman yang akan menjadi pasangan. Anggap saja ini awal pendekatan kita.” Rama tersenyum manis.


Nifa bernafas lega, semoga ia bisa sembuh dan menyesuaikan dirinya seperti dahulu. Penyakitnya melelahkan, membuatnya harus banyak menghindari seseorang terutama lawan jenis.