
Ruangan semuanya gelap, sunyi seperti tidak ada tanda kehidupan. Bau aneh tercium oleh indra penciuman Melinda, ia berkunjung ke kontrakan Nifa namun ia terkejut kala membuka pintu ternyata semuanya gelap. Berjalan sambil berpegangan tembok, meraba-raba mencari sakelar lampu. Setelah menemukan dan lampu menyala, ia terkejut kala melihat rumah kontrakan Nifa yang biasanya tertata rapi dan selalu berbau wangi sekarang berubah menjadi seperti gudang. Barang-barang berserakan dimana-mana, serta ada pecahan benda-benda yang terbuat dari kaca.
Melinda sengaja berkunjung sebab Nifa menghilang selama hampir tiga minggu. Beberapa kali Melinda menghubungi Nifa melalui pesan dan telepon tapi tidak dibalas. Ia juga menanyai Rama tapi ternyata sama saja Rama juga sedang kalang kabut mencarinya. Pernah pada satu minggu lalu ia berkunjung kerumah kontrakan Nifa tapi tak ada orang, namun kala itu kondisinya masih rapi belum seperti ini.
“Nifa lu dimana Nif.” Teriak Melinda dengan keras namun tak ada sahutan.
Melinda melangkah menuju dapur tapi tak ada, kemudian mencari diruang cuci tidak ada lalu melangkah menuju kamar Nifa dan tidak ada juga. Tapi sayup-sayup telinganya mendengar bunyi air kran yang menyala seperti air pada ember yang penuh isinya. Melinda melangkahkan kakinya menuju kemar mandi mengetuknya beberapa kali sembari memanggil nama Nifa tapi tak ada balasan.
Melinda mencoba mendobrak pintu tapi pintu pun tak kunjung terbuka. Ia mencari sesuatu untuk memanjat agar bisa melihat kondisi di dalam melalu celah fentilasi di atas pintu.
Saat Melinda mendapatkan kursi untuk memanjat, betapa terkejutnya kala melihat Nifa tergeletak di lantai masih memakai pakaian utuh tetapi tunggu apakah itu genangan darah? Melinda mencoba menajamkan penglihatannya. Hampir saja terjatuh saat matanya dengan jelas melihat Nifa yang tergeletak bersimbah darah dan pisau kecil di tangannya.
“Halo Ram lu bisa kerumah Nifa sekarang? Ini gawat Ram Nifa dia… dia di--“
“Kalo ngomong yang bener jangan bikin gua khawatir Mel, kenapa sama Nifa?”
“Ram cepetan kesini Nifa darah… pokoknya lu cepetan kesini ini darurat Ram.” Melinda mematikan teleponnya badannya bergetar dan menggigil ia panik sekaligus bingung, Melinda terus mengigiti kuku jarinya itu tanda bahwa ia benar-benar panik dan khawatir.
Tiga puluh menit kemudian Rama datang, sebenarnya jarak kampus dengan rumah Nifa lumayan jauh mungkin butuh waktu satu jam tapi Rama megendarai mobilnya dengan kesetanan.
“Mel, lu dimana Mel.” Rama berteriak memanggil Melinda saat sudah memasuki rumah.
Melinda yang mendengar panggilan Rama segera berlari menemuinya. “Ayo Ram cepetan Nifa ada didalam kamar mandi, gua udah coba dobrak tapi gak bisa.” Melinda menggeret Rama agar cepat menuju kamar mandi.
Rama mencoba mendobrak pintu pada percobaan kedua baru berhasil, saat pintu terbuka alangkah terkejutnya kala melihat Nifa tergeletak di lantai bersimbah darah sambil tangan kanannya memegang pisau kecil. Rama mengambil pisau itu membuangnya kesembarang arah, kemudian menggendong Nifa dibawanya kedalam mobil di jok belakang bersama Melinda.
“Mel cek hidung Nifa apa masih bernapas? Coba lu cek denyut nadinya cepat!”
Melinda mengangguk kemudian memeriksa pernapasan dan denyut nadi Nifa. “Ram lu harus tambah kecepatan soalnya nafas dan denyut nadi Nifa sudah melemah, ini benar-benar gawat Nifa juga sudah kehilangan banyak darah.”
Rama menambah kecepatan pada lajunya, mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan sampai menerobos lampu merah dijalan. Saat sampai di rumah sakit Rama menggendong Nifa berteriak-teriak agar Nifa supaya cepat mendapatkan penolongan.
Mereka berdua menununggu di depan ruangan, menunggui pintu di depannya segera dibuka karena sudah hampir dua jam tapi tak kunjung terbuka juga. Tepat saat dua jam lamanya seorang pria berjas putih keluar dari dalam ruangan tersebut.
“Keluarga pasien?” Dokter itu bertanya pada Rama dan Melinda yang dibalas anggukan.
“Kami temannya dok keluarga Nifa mungkin dalam perjalanan kesini karena keluarganya ada di jogja. Dokter bisa katakan ini semua pada saya, karena saya teman dekatnya sudah seperti saudara.” Melinda sengaja berbohong mengenai keluarga Nifa karena ia bahkan tak tahu kontak orang tua Nifa.
“Pasien mungkin akan sadar dalam kurun waktu yang lumayan lama karena kalian sedikit terlambat membawanya kemari, tapi jika ingin melihatnya kalian boleh masuk. Usahakan jangan ada keramaian itu akan membuat pasien stress nantinya. Bisakah kamu ikut saya keruangan, saya ingin berbicara mengenai kondisi pasien.”
Melinda menganggukan kepala lalu mengikuti dokter dari belakang menuju ruangannya.
“Apa kamu tau kondisi kejiwaan temanmu itu?”
Setelah sampai ruangan Melinda ditanyai banyak pertanyaan oleh dokter tersebut. Ia bingung karena hanya sedikit tau saja mengenai temannya itu sebab Nifa adalah orang yang cukup pendiam. Nifa akan berbicara dengan Melinda mengenai masalah hidupnya jika memang dirinya sudah tidak bisa mencari solusi atau Melinda yang akan memaksanya berbicara.
Menganggukkan kepala menatap dokter itu dengan raut khawatir. “Saya hanya mengetahui bahwa Nifa depresi dimasa lalu yang menjurus pada suatu pobianya dan mengakibatkan kondisi kejiwaannya kadang tidak stabil.”
“Temanmu itu sudah ditahap mengalami PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. Setelah dia sadar saya menganjurkan agar Nifa mendapat pengobatan khusus.”
Melinda mulai menitikkan air matanya kala mendengar penuturan dokter tersebut. “Tapi Dok saya rasa Nifa selalu rajin meminum obat serta rajin untuk menemui psikiater.”
Menghela nafas pelan. “Memang mungkin Nifa rajin meminum obat dan mengikuti sesi pengobatannya, akan tetapi mungkin saja ada suatu hal yang memicu ingatannya pada masalalunya. Dan akan sangat fatal jika tidak mendapat pengobatan khusus. Kali ini ketika penyakit itu kambuh mungkin Nifa bisa selamat dari tindakannya, tapi tidak ada yang tau ketika ingatan buruknya kembali dia tidak akan melukai dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa menjamin bukan?”
Melinda membuka ruang rawat inap Nifa, disana terlihat Rama yang tertidur dengan posisi duduk sambil memegang tangan Nifa. Ia bingung apakah harus bercerita kepada Rama agar mendapat jalan keluar, atau memendamnya sendiri dan mencari solusi sendiri. Dan Melinda memilih opsi kedua, biarkan saja nanti dirinya mencari solusi Karena Melinda tidak mau jika nanti menyebarkan luaskan tentang penyakit Nifa kesemua orang.
Mengelus bahu Rama pelan agar terbangun dari tidurnya. “Ram mending lu pulang aja, ini udah jam tujuh, biar gua aja yang jagain Nifa disini.
“Ya udah hari ini, lu yang jagain Nifa besok lu mesti balik gantian gua. Sekarang gua pulang dulu besok pagi-pagi gua kesini bawain perlengkapan Nifa.”
Rama hanya menganggukkan kepala sambil mencium tangan Nifa dan mengelusnya. Terlihat wajah damai Nifa saat memejamkan matanya membuat Rama merasa nyaman, tapi Rama lebih suka jika Nifa seperti biasanya.
Rama sangat rindu karena sudah hampir tiga minggu Nifa menghilang sekalinya bertemu malah kondisinya seperti ini.
Pukul tujuh pagi Melinda sudah datang kerumah sakit untuk giliran menunggui Nifa. Rama terbangun saat Melinda membangunkannya.
“Sekarang giliran gua Ram lu harus kekampus, lu gak boleh bolos inget janji lu sama Nifa kalau lu gak akan bolos kelas.”
Rama menganggukkan kepalanya kemudian bangkit berdiri mencium kening Nifa lumayan cukup lama karena enggan untuk meninggalkan. “Baby gua pulang dulu ya. Gua bakal kesini lagi setelah pulang dari kampus nanti bye.”
Memutar bola matanya malas karena pagi-pagi sudah di suguhkan adegan menjijikan. “Udah deh gak usah lebay Ram sana pergi hus hus.” Melinda mendorong badan Rama sampai keluar ruangan.
“Lu kenapa sih iri? Ngeselin banget, makanya punya pacar biar gak iri.”
“Apa gua gak salah denger Ram? Lu pikir lu punya pacar hah! Bahkan Nifa pun gak sudi sama lu.” Melinda menatap tajam kearah Rama.
Rama menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Y-ya gua lagi proses kan gua sama Nifa lagi deket.”
Melinda tertawa mengejek. “Ngimpi aja terus lu Ram, udah sana pergi hus.” Melinda menutup pintu membuat Rama memberengut kemudian pergi.
Saat Melinda kembali dari menebus obat Nifa, ia terkejut kala melihat ruangan tempat sahabatnya itu sudah di penuhi beberapa perawat juga dokter yang kemarin menangani Nifa. Yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah suara teriakan Nifa serta tangis histeris. Seumur-umur Melinda tak pernah mendengar suara sekencang itu dari mulut sahabatnya karena Nifa adalah sosok yang lembut baik bertingkah laku atau pun bertutur kata.
“Kondisi Nifa sangat buruk hari ini, ia sadar dengan keadaan yang mengerikan. Dengan terpaksa kami mengikatnya, saya akan merujukkan tempat rehabilitasi agar mendapat penanganan khusus.”
Melinda hanya menganggukkan mengiyakan perkataan dokter itu. “Bisakah saya menemuinya saat ini Dok?”
“Ya silahkan tapi jangan banyak mengajaknya bicara karena kondisinya sedang tidak stabil.”
Melinda mengucapkan terimakasih kemudian menuju ruangan Nifa, tangannya bergetar saat memegang knop pintu.
“Mel itu kamu? Mel tolong aku Mel aku ndak gila tapi mereka mengikatku layaknya aku pasien gila. Tolong bilang kepada mereka Mel untuk melepaskanku.” Nifa menangis histeris.
Melinda menghampiri Nifa sambil mengelus bahu sahabatnya itu. “Iya sabar ya Nif, gua bakalan bilang buat lepasin ikatan lu nanti sekarang lu tenangin diri lu dulu.”
“Tangan dan kakiku sakit Mel lihatlah mereka mengikatku sangat kencang. Aku ndak melakukan apapun, Mel bisa kamu hubungi dokter Riana dia mungkin bisa membantuku.”
Melinda mengangguk kemudian keluar ruangan untuk menghubungi dokter tersebut. Setelah tiga puluh menit dokter Riana datang.
“Astaga Nifa kenapa bisa sampai seperti ini, aku akan mengambil alihmu untuk aku rawat di rumah sakitku. Mel tolong kamu kemasi barang-barang Nifa ya, aku akan menemui dokternya dulu.”
Setelah dua bulan Nifa di rawat di rumah sakit rehabilitasi milik dokter Riana, ia di perbolehkan pulang dengan syarat harus rutin meminum obat dan rutin untuk mengikuti psikoterapi. Selama itu juga Melinda mencegah Rama agar tidak menemui Nifa terlebih dahulu. Awalnya menolak tapi Melinda mengancam jika akan membawa Nifa pergi dari Jakarta jika tidak menurutinya, dengan terpaksa Rama menurut.
“Nif kamu bereskan barang-barangmu dulu saya ingin berbicara dengan Melinda diruanganku.”
Nifa hanya mengangguk, kemudian Melinda dan dokter Riana pergi meninggalkannya.
“Mel saya sarankan untuk saat ini Nifa jangan di dekati laki-laki dulu agar penyakitnya tidak kambuh lagi. Dan setelah ini biarkan dia istrirahat selama seminggu dirumah. Saya harap kamu bisa menemaninya selama seminggu agar tidak merasa kesepian, itu akan memicu penyakitnya kambuh.”
“Baik Dok, tapi kondisi Nifa saat ini apakah sudah benar-benar stabil? Saya takut setelah ini dia kambuh lagi atau tiba-tiba mengamuk.” Melinda terlihat khawatir.
“Selama kamu menjaganya dengan baik dia tidak akan kambuh, ajaklah dia melakukan hal yang membuatnya merasa senang itu akan mengembalikan kondisi kejiwaannya. Nifa itu mudah pulih dan juga mudah kembali sakit kondisi itu cukup berbahaya jadi kali ini usahakan agar moodnya baik.”
Melinda mengangguk paham kemudian mengucapkan terimakasih dan pamit untuk menemui Nifa dan mengajaknya pulang kerumahnya. Untuk berjaga-jaga saja agar tidak ada yang mengganggunya, lagi pula ia kesepian orang tuanya berada di Surabaya mengurus bisnisnya sebab itulah Melinda merasa kesepian dan berkuliah mengambil kelas karyawan agar bisa pergi berjalan-jalan saat selesai kuliah.