
Pancaran gemerlap lampu warna-warni disko, aroma alkohol yang menyeruak kuat, serta asap rokok yang berterbangan kesana kemari. Dan jangan lupakan musik kencang serta tarian gemulai yang mendominasi ruangan yang di sebut bar.
Seorang lelaki tinggi berparas tampan tak hentinya menenggak gelas yang berisi cairan alkohol. Beberapa kali wanita seksi nan menggiurkan menghampirinya, mencoba untuk menggodanya melalui sentuhan sensual namun di tepisnya. Tujuannya hanya melampiaskan emosi bukan untuk meniduri wanita murahan disini.
“Kasih gua segelas lagi.”
“Maaf tapi lu udah mabuk parah mending udahan.” Ucap bartender, ia tak mau dalam masalah jika lelaki di depannya ini sampai berulah jika kesadarannya sudah hilang.
“Gua bilang kasih ya kasih anjing.” Bentak Rama yang sudah hilang kendali.
Kepalanya sudah pening, mengurut pangkal hidungnya kemudian meletakkan gelas dengan kencang membuat bartender itu ketakutan.
“I-iya.” Terpaksa menuruti lelaki sinting yang tengah mabuk di depannya.
Menyodorkan handphone kearah bartender. “Tolong telponin siapa aja ketika gua udah gak sadar nanti.”
Bartender itu hanya mengangguk kemudian mengambil handphone yang disodorkan kearahnya. Ia takut jika menolak, orang yang sedang mabuk kan mengerikan jika marah.
“Semua cewek memang sama saja, bajingan lu tega nyakitin gua.” Racau Rama sambil membanting gelas yang ada di genggaman tangannya.
Bartender di depannya terkejut, ia takut jikalau tiba-tiba dirinya di lempar dengan gelas kecil oleh lelaki mabuk itu. Sepertinya lelaki remaja itu sedang patah hati, menambah ketakutannya. Karena waktu itu salah satu pelanggan yang minum disini saat mabuk berat mendadak mengamuk, penyebabnya sama yaitu patah hati.
“Apakah lu mau gua telponin seseorang untuk ngejemput lu?”
Bartender itu bertanya dengan pelan, ia takut menyinggung lelaki yang tengah hilang kesadarannya ini.
Menatap pria bartender yang mungkin usianya tak jauh beda diatasnya. Tatapan Rama tajam kearah bartender itu, kemudian mengganggukkan kepala. “Telponin gua seseorang yang bernama Nifa untuk menjemput.”
Bartender itu menganggukkan kepala kemudian mulai mencari nama kontak yang di sebutkan lelaki di depannya.
“Hallo kenapa Ram?” Terdengar suara musik kencang saat seorang gadis yang tadi sedang mengarungi alam mimpi harus terganggu karena handphonnya terus berbunyi. Dahinya berkernyit saat mendengar racauan Rama yang terus menyebut namanya sambil mengumpat.
“Apakah ini dengan orang yang bernama Nifa?”
Pertanyaan dari suara yang tak di kenalinya membuatnya semakin bingung, kemudian melihat nama yang tertera di handponenya. Itu Benar nomor Rama, tapi kenapa yang menelponnya orang lain.
“Iya kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
“Tidak hanya saja pemilik handphone ini sedang mabuk berat, lu harus menjemputnya segera atau cowok ini akan mengamuk disini. Gua bakal share lokasinya.”
Belum sempat Nifa menjawab tapi seseorang di sebrang sana sudah menutup telponnya. Sangat menyebalkan ku rasa semua teman cowok sinting itu tidak ada yang tidak menyebalkan.
Setelah di pikir-pikir kenapa cowok itu meminta bantuannya. Kenapa tidak yang lainnya saja, lagi pula ia seorang perempuan dan ini sudah hampir pukul dua malam.
Sinting
Cowok itu sinting, baru saja berteman sudah menyusahkan begini, jika biasanya ia yang menyulitkan sahabatnya sekarang gantian dirinya yang dibuat susah. Jadi begini rasanya jika ia bertindak menyebalkan dan menyusahkan Melinda atau Siska.
Nifa duduk di sofa ruang tamunya sambil memijat pangkal hidungnya. Dirinya bingung sudah beberapa kali memesan taksi online tapi selalu tertolak, mungkin bisa jadi Karena sudah terlalu malam dan orang malas mengantarnya.
Tangannya bergerak memanggil pada nomor telpon Melinda, sudah melakukan panggilan beberapa kali tapi tidak diangkat. Menelpon Siska sama saja, mereka pasti sudah tertidur pulas. Kemudian mencoba memesan taksi online lagi dan yap akhirnya ada juga yang mau mengantarkannya.
Saat sampai di tempat lokasi pada GPS yang di kirimkan seseorang melalui nomer Rama, ia tertegun bingung sebab belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Rasanya seperti pendosa yang akan melakukan dosa.
‘Tuhan ampuni aku setelah ini’ Ujar Nifa dalam hati.
Kakinya melangkah masuk kedalam bar, wow apa ini? Matanya serasa ternodai bagaimana tidak, yang ada di depan matanya adalah seseorang yang tengah bercumbu dimana-mana dan juga wanita yang memakai pakaian kurang bahan hampir telanjang. Jangan lupakan kedua melon besar mereka, Nifa menelan salivanya kasar rasanya sangat insecure sebab ya jangan ditanyakan.
Netranya menelisir kesana kemari mencari cowok itu, tepat didekat meja bartender Rama terus menerus menegak minuman walau keadaanya sudah mengenaskan. Saat hendak menghampiri tangannya ditarik oleh seorang pria yang lumayan dewasa mungkin ditafsirkan usianya sekitar tiga puluhan.
“Ayo bersenang-senang dengan om nanti akan dibuat puas. Berapapun pintamu akan di berikan.” Tangan om itu membelai pipi kanan Nifa.
Nifa menepis tangan menjijikan itu dengan kasar. “Maaf saya tidak butuh itu.” Sarkasnya, sambil menatap tajam pria kurang ajar di depannya. Mencoba melepaskan cekalan kuat pada tangannya. “Lepaskan tanganku!”
“Wow wow wow cukup ganas juga pasti permainanmu menyenangkan.” Semakin menguatkan cengkraman tangannya. Menarik tangan mungil gadis cilik di depannya.
Buk
Suara bantingan tubuh Nifa di atas sofa disana, sebelum ia berhasil bangun pria kurang ajar itu lekas menindih badannya. Meronta dan berteriak meminta pertolongan namun tidak ada yang menggubrisnya. Selain mungkin suara musik yang kecang atau memang orang-orang di tempat ini sudah hilang rasa kepedulian terhadap orang lain. Terlihat pria yang ada diatas tubuhnya tersenyum menyeringai mencoba mengecupi lehernya, ia hanya bisa meratapi nasib terus meronta dan berteriak agar keajaiban menghampirinya kali ini saja.
Rama mengedarkan pandangannya menelisir isi bar ini mencari tau apakah cewek itu benar-benar masih peduli padanya atau tidak. Melebarkan kedua matanya kala melihat seorang gadis sedang di seret dan di banting diatas sofa kemudian di tindih. Rama dengan sempoyongan menghampiri, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh miliknya.
Dua bogeman melesat saat ia sampai dan menarik pria kurang ajar itu, Rama dengan badan besarnya menindih dan terus memberikan bogeman pada pria di bawahnya. Ia tak terima karena tangan biadabnya sudah menyentuh miliknya meskipun belum jauh.
Orang-orang yang melihat kejadian itu menjerit dan memanggil pihak keamanan untuk melerai. Sebab terlihat salah satu dari mereka sudah terpakar tak berdaya. Bartender yang tadi melayani Rama pun menghampiri untuk melerai.
Nifa syock berat jika saja Rama tidak segera menolongnya mungkin dirinya sudah di gagahi dengan tidak manusiawi oleh pria gila itu.
“Lu gak apa-apa kan?” Rama merengkuh tubuh mungil Nifa. Terlihat baju cewek itu sudah ada yang di sobek, kemudian Rama melepas jaket hitamnya untuk di pakaikan pada cewek itu.
Hanya diam saja Nifa tidak merespon apapun, kejadian tadi sedikit menghilangkan kesadarannya menyebabkan dirinya lemas dan bergetar tak beradaya. Rama yang mengerti itu pun menggendong Nifa begitu saja, ia juga hampir kehilangan kesadaran pengaruh alkohol yang di minumnya tadi. Tapi sebisa mungkin untuk tetap membawa cewek ini pulang.
“Apa tidak sebaiknya kita pesan taksi saja?” Setalah bungkam beberapa saat akhirnya Nifa membuka mulutnya untuk berbicara. Sebab ia khawatir Rama terlihat sangat mabuk, mukanya sudah memerah dan tadi saat menggendongnya Rama terkesan sempoyongan. Tak ingin mengalami kesialan lagi kan tidak lucu tadi hampir di perkosa sekarang hampir mati gara-gara ulah Rama.
“Di dekat sini ada hotel malam ini kita tidur di hotel saja, aku mungkin masih sanggup menyetir karena hanya sepuluh menit saja sampai.” Memijit pangkal hidungnya untuk mengais kesadaran.
Nifa melebarkan kedua mata bulatnya. “T-tidak aku akan mengantarkanmu sampai ke hotel kemudian aku akan pulang.”
Rama menatap tajam kearah cewek di sampingnya. Perasaan marah masih tersemat kala ingatannya saat di pantai. “Lalu ngebiarin lu di perkosa laki-laki lain begitu?” menghela nafas kasar. “Gua gak akan membiarkan lu pulang sendirian, lagi pula taksi sangat susah di temukan sekarang sudah malam. Kita menginap di hotel, Gua gak akan melakukan apapun sama lu.”
Melajukan mobilnya menuju hotel terdekat. Disana Rama langsung memasan kamar, awalnya ia ingin memesan dua kamar tapi sayangnya kamarnya tinggal satu. Dengan terpaksa mereka tidur berdua di dalam kamar itu.
Rama langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang badannya sudah tidak kuat lagi. Nifa hanya diam memperhatikan, bingung harus tidur dimana sebab hanya ada satu ranjang.
“Gua gak akan ngapa-ngapain lu, lagian kesadaran gua udah menipis. Kesini aja tidur di samping gua gak usah takut gua kalau udah tidur gak bakal kebangun buat macam-macam. Apalagi gua mabuk berat sekali tidur susah bangun.”
Ada benarnya juga sih, mungkin ia sedikit aman. Walau hanya sedikit tapi toh badannya butuh istirahat ini sudah hampir pukul empat pagi. “Lagian kenapa sih Mas pakai mabuk segala.”
Yang tadinya mata Rama terpejam kini langsung terbuka. “Ya lu lah penyebabnya, ngapain lu mesra-mesraan di pantai tadi. Dia cowok lu?”
Tertegun mendengar perkataan cowok mabuk itu. “I-itu… kakak ku, dia menjengukku setelah sekian lama.” Mencoba menetralkan kegugupannya.
“Yakin cuma kakak?”
Menganggukkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Rama. Hati Rama sedikit melunak sebab ia telah salah sangka rupanya. Menepuk tempat di sampingnya, mengkode cewek itu agar tiduran disampingnya. “Sini lu gak capek berdiri mulu, udah gak apa-apa gua janji gak akan mecem-macem.”
Nifa memang sudah letih rasanya, apalagi matanya sangat ingin diajak berjalan-jalan ke alam mimpi. Akhirnya berjalan mendekati ranjang biarkan saja lah, toh Rama sudah berjanji. Menidurkan diri di samping Rama berharap semoga kali ini penyakitnya tidak kambuh sebab akan mengganggu kantuknya nanti.
Rama tersenyum manis kala cewek itu menidurkan dirinya di sampingnya. “Gua mungkin mabuk tapi kewarasan gua masih nempel, Nif gua gak tau kapan gua mulai suka sama lu. Tapi yang jelas saat ini, rasa suka gua ke lu udah berubah menjadi cinta. Gua gak pernah mengalami jatuh cinta sampai segitu bodohnya, bahkan terkadang gua suka cemburu kalau ada cowok yang ngedeketin lu termasuk kejadian di pantai itu.” Menjilat bibir bawahnya ia merasa gugup. “Gua cemburu ngeliat lu deket sama cowok lain, sebut aja gua bego tapi memang gitu adanya. Walaupun gua pernah pacaran gua gak pernah ngejar-ngejar cewek kayak gua ngejar lu.”
Nifa menolehkan kesamping kiri menatap lekat cowok disampingnya. “M-maksudnya?” Mendadak jadi gugup sampai tangannya berkeringat.
Menghadapkan badannya kesamping kanan menghadap Nifa. “Gua cinta sama lu dan lu cinta pertama gua, karena gak ada yang pernah bikin gua segila ini.”
“Lu harus jadi pacar gua Nif, gua gak mau tau kalau lu tolak cinta gua. Gua bakal perkosa lu disini sampai hamil. Tapi kalau lu terima gua, gua bakal kasih ciuman aja buat lu.”
Nifa memutar bola matanya malas. “Kalau seperti itu mana adil untukku Mas!”
“Semua adil dalam mendapatkan cinta dan sayang, so apa yang lu pilih.”
Menghela nafas kasar. “Jika sudah seperti ini apakah aku terlihat bisa menolak Mas? Aku sebenarnya tidak mau, tapi aku lebih tidak mau jika Mas memperkosaku.”
“Good girl nah kalo gitu kan enak kita sama-sama enak”
“Hanya dirimu yang keenakan tidak jelas Mas.”
Cup
Satu kecupan hinggap di bibir mungil Nifa, hanya kecupan sebab Rama sudah mulai berat matanya.
“Itu ucapan terimakasih karena telah mau menjadi pacarku.”
Cup
“Dan yang itu untuk ucapan selamat tidur sekaligus selamat malam yang sudah mulai pagi.”
Rama mulai memejamkan matanya memasuki alam mimpi. Sedangkan Nifa masih terjaga menatapi langit-langit kamar hotel ini.
Mungkinkah Rama salah satu obat agar dirinya sembuh? Ya mungkin saja begitu.