
Dokter Riana selaku tante dari Rama menatap penuh atensi kearah keponakan tersayangnya ini. Mencari kebenaran apakah benar jika keponakannya ini menyukai gadis yang sudah menjadi pasiennya selama beberapa tahun ini dengan tulus? Bukannya meremehkan, tapi Rama itu tampan sudah pasti dia akan banyak mengoleksi banyak gadis cantik untuk di kencani. Nifa memang cantik namun itu jauh dari kriteria Rama, sebab yang ia tau mantan pacar keponakannya ini selalu berpenampilan bak model papan atas. Sedangkan Nifa? Hanya gadis biasa postur tubuh mungil dan sedikit berisi sangat jauh dari kriteria Rama keponakannya.
"Apa benar kamu menyukai Nifa? Tante hanya tidak ingin kondisi pasien tante memburuk karena ulah keponakan tante."
Mengernyitkan dahinya, kemudian mengurut pelipisnya. Pertanyaan yang sama yang tantenya tanyakan sejak tadi dan jawaban Rama tetap sama yaitu 'iya'. Memang benar Rama jatuh cinta pada Nifa, malah rasanya Rama sedang mengalami first fall in love padahal Rama sudah pernah berpacaran dulu. Pertemuan tak di senagaja Rama dengan Nifa kala itu membawa pengaruh besar pada hati dan pikiran Rama, Maka sejak saat itulah ia memutuskan untuk memilih Nifa sebagai yang terakhir apapun rintangannya. Gadis mungil yang telah mencuri hatinya tidak boleh terlepas begitu saja, pesona Nifa membuat Rama candu dan aroma strawberry yang menguar dalam tubuh Nifa membuat Rama ketagihan ingin lagi, lagi, dan lagi.
"Bener tuh Ram kalau lu cuma mau main-main aja jangan sama sahabat gua dong, lu kan ganteng bisa tuh cari cewek lain tinggalin aja Nifa. Dia butuh healing agar cepat pulih, kehadiran lu tuh memperburuk kondisi sahabat gua tau gak." Kata Melinda dengan ketus.
Spontang menatap Melinda dengan tatapan mengerikan, sorot matanya nyalang menandakan amarah. Cukup sudah dua wanita di ruangan ini menyudutkannya seolah-olah ia adalah bajingan tengik yang hobi mempermainkan wanita. "Maksud lu apa ngomong kayak gitu huh! Kalau gua gak beneran suka, sayang dan bahkan cinta ke Nifa. Gak mungkin gua rela ngelakuin apapun buat Nifa, lu inget? Gua bahkan menghalalkan segala cara agar bisa berdekatan dengan Nifa. Gua tau gua lebay tapi gua beneran cinta sama Nifa." Balas Rama dengan sarkas dan mulai terpancing emosi.
Dokter Riana yang melihat keponakannya tersulut emosi dan mengepalkan kedua tangannya pun mengelus tangan Rama dengan lembut. "Kami hanya memastikan Ram, sebab Nifa adalah gadis yang baik dengan kondisi yang buruk. Nifa berjuang mati-matian untuk benar-benar sembuh dari traumanya. Jika kamu benar mencintai Nifa, apakah kamu bersedia menjadi penyembuh untuk Nifa?" Dokter Riana menatap lembut Rama agar keponakannya itu meredamkan emosi yang mulai tersulut itu.
"Apapun akan Rama lakuin tan, kasih tau Rama gimana caranya agar Nifa bisa sembuh."
Tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, arah pandangnya kini berganti kepada Melinda. "Dan kamu Mel, bisakah mengesampingkan egomu untuk tidak bertengkar dulu demi kesembuhan sahabatmu?"
"Tapi dok, cowok kayak Rama mana bisa diandelin. Penyakit Nifa selalu kambuh setiap kali Rama mendekatinya."
Dokter Riana tersenyum lembut kearah Melinda. "Percayalah kali ini semua akan baik-baik saja, lagi pula saya melihat kesungguhan dalam diri Rama."
"Gua akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Nifa sembuh. Gua sayang sama Nifa, jadi lu gak perlu khawatir akan ada kejadian buruk yang akn terjadi."
Melinda ingin membalas ucapan Rama tetapi tertahan, logikanya berfikir mungkin juga Rama adalah healing yang tepat untuk Nifa. Untuk saat ini Melinda mengijinkan, tapi jika terjadi sesuatu yang mempengaruhi kondisi sahabatnya menjadi lebih buruk tentu saja Melinda tidak akan tinggal diam. Pada akhirnya Melinda menganggukkan kepalanya pasrah untuk saat ini.
"Baiklah karena Melinda sudah setuju kita mulai healing pertama, Ram tante minta kamu selalu ada untuk Nifa untuk membiasakan agar Nifa terbiasa dengan kehadiranmu. Lakukan kontak fisik tapi dalam tahap ringan seperti berpegangan tangan. Ingat ya Ram hanya berpegangan tangan tidak lebih. Sekarang kamu kembali keruang rawat inap Nifa, jaga dia sampai terbangun. Mungkin sedikit susah karena nanti saat pertama kali Nifa terbangun anak itu pasti akan mengamuk."
Mengangguk mengerti akan arahan yang di berikan tantenya itu. Rama pamit untuk pergi keruangan Nifa menjalankan apa yang di perintahkan tantenya.
Melinda sedari tadi menekuk wajahnya lesu. Sebagian dalam dirinya tidak terima jika Rama mendekati Nifa, pastinya sahabatnya itu akan kumat.
Dokter Riana yang mengerti melalui ekspresi wajah Melinda pun, mengelus tangan Melinda dengan lembut. "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku. Kita lakukan yang terbaik, kamu sebagai sahabat yang baik harus juga melakukan yang terbaik, beri dukungan untuk Nifa okay."
"Sekarang tugas kamu adalah membantu supaya Nifa tidak melarikan diri ketika di dekati Rama, semacam kamu harus jadi mak comblang untuk keduanya okay... saya mohon kamu mengesampingkan egomu kali ini demi kesembuhan sahabatmu."
Lagi-lagi Melinda hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya, meskipun berat tapi harus dilakukannya. Apa salahnya mencoba, mungkin saja Rama bukan orang seburuk apa yang ada di pikirannya.
Saat Rama membuka pintu kamar ruang inap Nifa, terlihat cewek itu masih terbaring lemah. Berjalan menghampiri ranjang yang menjadi tempat berbarin ceweknya ini. Wajah Nifa tampak pucat dan lesu, tapi tidak mengurangi paras manis nan imut ceweknya ini. Menarik kursi di samping ranjang kemudian duduk di samping ranjang Nifa sembari memegang tangan dingin milik pujaan hatinya. Rasanya sungguh tidak tega melihat wajah pucat Nifa, terlihat begitu kacau. Cewek yang selalu memporak porandakan perasaan dan hatinya kini hanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Padahal tadinya saat di villa Nifa terlihat biasa saja tanpa adanya gejala apapun. Cewek itu juga beberapa kali selalu membalas ciuman panasnya. Tapi kenapa sekarang malah jadi seperti ini? Pikiran Rama berkecamuk, banyak teka teki dalam kehidupan cewek yang amat di cintainya ini.
Rama mengecup kening Nifa dengan lembut, kemudian duduk menelungkupkan kepalanya sembari memegang sebelah tangan Nifa. tidak ingin berjauhan dengan ceweknya ini. Kalau perlu Rama siap menikahi Nifa sekarang agar cewek ini menjadi miliknya seutuhnya. Namun itu tidak bisa terjadi secepat itu, ia harus membuat ceweknya sembuh terlebih dahulu agar dapat ia miliki seutuhnya tanpa adanya ceweknya akan kabur ketika di dekatinya. Perlahan kantuk mulai menyerang dan Rama akhirnya tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang milik Nifa.
Rama terbangun kala mendengar suara jeritan Nifa yang amat sangat kencang menghampiri indra pendengarannya, bukan hanya jeritan namun di sertakan isakan tangis. Ia yang tersadar dari tidurnya pun spontan memeluk ceweknya untuk menenangkannya, meskipun Nifa selalu berontak dalam pelukannya. "Tenang baby ini gua, gak akan ada hal buruk terjadi selama gua masih memijakkan kaki di bumi ini. Tenang ya semua akan baik-baik aja." Rama mencoba menenangkan Nifa sembari mengelus pungggung Nifa dengan lembut.
Perlahan Nifa mulai tanang isakan serta jeritannya mulai berkurang. "Aku takut, takut sekali." Terisak pelan di pelukan Rama.
"Gak ada yang perlu lu takutin, ada gua yang akan selalu ada disisi lu. Gak akan gua biarin siapapun nyakitin lu, jadi tenang ya."
Rama tidak tega mendengar isakan pilu dari ceweknya ini, perlahan tangisnya pun juga pecah. Namun sengaja ia membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara, berusaha menenangkan ceweknya ini. "Percaya sama gua lu akan baik-baik aja, gak akan gua biarin siapapun nyakitin lu." Mengecup pucuk kepala Nifa.
Saat Nifa sudah tenang Rama menghapus air matanya kemudian mengambilkan minuman yang ada di nakas samping ranjang, menyodorkannya ada Nifa. "Minum dulu ya biar lu tenang."
Nifa hanya menurut saja sembari meminum air putih yang di sodorkan Rama untuk dirinya. Sekarang kondisinya sudah lumayan rileks.
Membantu ceweknya agar terbaring kembali dengan perlahan. Menyelimuti hingga sebatas dada, kemudian mengecup lembut kening ceweknya.
Nifa menahan tangan Rama saat terasa cowok itu hendak pergi menjauh. "Jangan tinggalin aku, aku takut mas."
Rama menolehkan badannya, tadinya ia hendak melangkah menuju sofa yang ada di ruangan ini untuk merebahkan diri. Sebab badannya terasa pegal karena tidur dengan posisi terduduk. Tapi melihat tatapan memohon yang diberikan kepadanya seolah membuatnya luluh, tak pernah ceweknya ini menatapnya seperti ini. "Gua cuma pengen rebahan di sofa itu kok" tunjuk Rama pada sofa yang ada tak jauh dari ranjang Nifa. "Gua gak akan kemana-kemana cuma rebahan aja badan gua agak pegel,"
"Kalau begitu mas tidur disini aja." Ucap Nifa sembari menggeserkan badannya memberi ruang untuk Rama tertidur di sampingnya. Entah kenapa Nifa tidak ingin berjauhan, perasaannya cemas jika tidak ada orang di sampingnya.
Betapa terkejutnya saat ia mendengar permintaan dari ceweknya. Apakah semudah itu? Ia hanya menenangkan lalu mendapat kedekatan seperti ini. Sekarang Rama paham untuk menjalankan misi pertama ia harus bersikap lembut dan menenangkan akan bisa berdekatan dengan Nifa. Tak menyiakan kesempatan Rama langsung naik keatas ranjang, merebahkan diri kemudian Nifa dengan segera menjatuhkan kepalanya ada dada bidang Rama dan memeluk Rama dari samping. Rama hampir tidak percaya apakah ini nyata atau tidak. tapi yang pasti dirinya senang saat ini. membalas pelukan Nifa kemudian mengelus lengan ceweknya ini dengan lembut dan penuh kasih sayang. seumur-umur Nifa tak pernah bertingkah seperti ini. Tapi sudahlah mau bagaimana lagi toh ini juga menguntungkannya.