
Suasana kelas yang ramai serta teriakan berisik kedua sahabatnya ini yang paling di rindukan, sebab sudah hampir satu minggu penuh selalu berada di rumah sakit. Menjalani perawatan inap, penyakitnya memang menyusahkan. Terkadang ia sendiri merasa terganggu akan penyakitnya, apalagi jika sudah menyangkut orang lain pasti akan menyusahkan orang itu.
"Aaaaaaa Nifa gua kangen banget." Teriak Siska, kala melihat Nifa memasuki kelas dengan tenang.
Nifa berjalan menuju tempat duduknya di tengah Melinda dan Siska. Rasanya seperti 10 tahun tidak bertemu kedua sahabatnya ini, ya walau mereka kadang rumit dan susah di mengerti. Tetapi jika tidak ada kehadiran mereka hidup terasa sangat hampa. Begitulah memang jalan cerita persahabatan.
"Fa kok lu udah masuk aja, emangnya udah bener-bener sembuh?" Tanya Melinda.
Menganggukkan kepalanya, kemudian mendudukkan pantatnya pada kursinya. "Udah kok, dokter Riana yang bilang aku boleh pulang. Dan katanya juga aku udah boleh aktivitas kembali."
"Udah sarapan belum? Kalau belum ayuk beli dulu. Lu kan baru sembuh, gak boleh ngelewatin sarapan."
"Belum Sis, aku malas nanti saja." Nifa menelungkupkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya di atas meja. Moodnya tidak bagus hari ini, yang jelas hari ini terasa semua serba salah menurutnya.
Tetapi Melinda segera menegakkan badan Nifa, Membuat teman mungilnya itu tegak. "Ayo gua gak mau lu kenapa-kenapa hari ini." Menarik tangan Nifa agar bangkit duduknya.
Dengan terpaksa ia menurut, suasana hatinya sedang tidak bagus hari ini. Jadi ia malas untuk berdebat dan memilih menurut saja.
Setelah sampai kantin, Siska memesankan makanan untuk Nifa. Kebetulan juga memang dirinya belum sarapan. Malas juga rasanya tapi kata Melinda harus ikut sarapan, agar Nifa mau sarapan. Sahabat mungilnya itu jarang sarapan, itulah sebabnya tadi Melinda memaksa untuk sarapan. Takut-takut penyakit temannya itu kambuh kan gak baik.
Makanan sudah di hidangkan oleh ibu kantin, Siska yang memesan 2 nasi goreng dan 1 roti bakar. Nifa mengambil piring roti bakar yang di pesankan Siska, sebab ia tak bisa makan nasi di pagi hari. Pencernaannya akan memburuk jika makan nasi di pagi hari, mungkin saja karena penyakit maagnya sudah memburuk. Bagaimana tidak, Nifa bahkan pernah tiga hari tidak makan apapun dan hanya minum air putih saja, begitulah jika moodnya sedang tidak baik. Jangankan untuk makan bertemu orang saja ia enggan. Sebab itulah jika Nifa sudah berkata ingin sendiri maka baik Melinda maupun Siska dengan segera mundur menjauh beberapa saat, dari pada nantinya sahabat mungil mereka mengalami perubahan emosi yang buruk. Meskipun begitu baik Melinda atau pun Siska memaklumi kelakuan sahabatnya itu, sebab orang dengan gangguan seperti Nifa tidak bisa di paksakan kehendaknya. Apalagi jika sedang masa reaktif.
"Dimakan Fa bukan di lihatin aja, gua udah pesenin sampai ngantri panjang lho tadi." Ucap Siska yang langsung bisa membuyarkan lamunan Nifa.
"Iya aku makan kok, makasih ya udah di pesinin tadi." Menggigit selembar roti bakar rasa selai strawberry. Ia memang menyukai apapun yang berurusan dengan strawberry.
"Nah gitu dong anak pintar." Siska mengelus pucuk kepala Nifa, seperti sedang mengelus kepala anak putri kecilnya.
Menatap kedua sahabatnya itu, Melinda hanya bisa tersenyum tipis kala di kejauhan melihat sosok Rama menghampiri. Perasaannya sudah tidak enak, takut-takut sahabatnya itu akan marah ataupun mengamuk. Sebab biasanya sehabis penyakitnya kambuh jika bertemu Rama maka akan semakin buruk, Nifa yang tidak mau di ganggu dan Rama sang pengganggu. Sebenarnya mereka berdua adalah pasangan yang serasi, namun sayangnya Nifa itu cewek yang kaku sulit untuk jatuh cinta lagi.
"Hai baby, kesini kok gak ngajak-ngajak sih. Tau gitu kan gua bisa lebih pagi kesini lalu kita sarapan bareng." Berdiri di belakang Nifa sembari mengelus pundak Nifa, rasanya hampa jika satu jam saja tidak mencari keberadaan ceweknya itu. Hormon rindunya sudah berada dalam tahap tumpah-tumpah.
Membalikkan badan kemdian berdiri di hadapan Rama. Hanya diam sembari menatap Rama dengan tatapan tajam. "Kenapa?" Kedua sahabatnya menatap horor kearah Rama kala mendengar nada ketus keluar dari mulut mungil Nifa, mengisaratkan untuk cowok itu menghindar. Tapi dasar otak Rama yang tidak berkembang membuat cowok itu tidak paham akan kode kedua sahabat dari ceweknya ini.
Menggaruk kepalanya yang tak gatal, Rama jadi merasa gugup kala di tatap tajam oleh ceweknya ini. "Emm i-iya gak apa-apa sih baby, cuma pengen berdua aja sama lu."
"Beneran cuma pengen berdua aja sama aku?"
Menganggukkan kepalanya, "iya baby gua pengen berduaan terus sama lu."
kedua sahabat Nifa memutar kedua bola matanya malas, perkataan Rama sangat menjijikkan jika di dengar di telinga orang normal.
Nifa semakin mendekat kearah Rama, membuat Rama menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah, Nifa mendekat dengan tatapan tajam serta wajah yang sedikit mengerikan. Melinda dan Siska yang menyadari mood sahabat mungilnya yang jelek pun meringis ngeri. Takutnya jika Rama di bunuh dan di makan hidup-hidup oleh sahabat mungilnya itu.
Rama hanya menganggukkan kepala, menelan saliva kasar. Setaunya dari kemarin ceweknya ini baik-baik saja. Bahkan selalu menempel padanya, tak peduli siang atau malam selama di rumah sakit Nifa menjadi sosok yang mudah di dekati dan selalu manja terhadapnya.
Masih menatap Rama tajam, kini jarak mereka berdua sudah sangat dekat. Ia terus-terusan menatap Rama tajam. Rasanya ingin marah juga ingin senang. "Aku mau makan es krim ayo pergi bolos aja hari ini." Nifa mengalungkan kedua lengannya pada leher Rama. Hal itu sangat membuat kejut jantung Melinda, Siska dan Rama. Pasalnya tadi Nifa terlihat seperti bad mood dan ingin marah, apakah secepat itu mood Nifa berubah?
Rama terkejut bukan main, tadi saja ceweknya terlihat garang dan seperti ingin mengulitinya hidup-hidup. Sekarang justru terlihat imut, apalagi di tambah mata kucing yang berbinar milik Nifa. "L-lu mau es krim sekarang?"
"Iya mau kan mas?"
Menganggukkan kepala, kemudian mengecup singkat bibir Rama itu. Kecupannya ringan hanya sebentar tetapi itu mengejutkan semua orang, tapi Nifa tidak peduli lagi toh memang Rama ini pacarnya jadi apa salahnya.
Kaget
Satu kata yang menggambarkan ekspresi orang yang melihat adegan ini.
"Nifa apakah itu beneran lu? Atau lu lagi sedang bercanda." Melinda menatap horor pada sahabat mungilnya itu.
"Gak kok kan kita memang seperti ini, iya kan mas?"
"Iya itu bener kok, namanya juga pacaran bermesraan wajar." Menyombongkan diri di depan semua, akhirnya ceweknya ini bisa mengakui status berpacarannya secara tidak langsung namun Rama paham akan itu."
Melinda dan Siska hanya bisa tercengang setelah kepergian Nifa bersama Rama. Nifa yang tidak mau berdekatan dengan lawan jenis, sekarang ini bahkan Nifa terlihat sudah sangat riang dekat dengan Rama. Karena terlihat Nifa yang menggandeng lengan Rama sembari menyandarkan ke kepalanya di bahu Rama dengan manja.
Sulit di percaya!
Menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung apa yang terjadi pada cewek ini. Apakah tadi pagi Nifa terpentok sesuatu, hingga menyebabkan cewek ini menjadi amesia dan gangguan ingatan. Atau memang kepalanya sedikit teracuni sesuatu? Jelas saja Rama bingung tidak biasanya ceweknya ini begini. Biasanya jika di dekati saja sudah seperti mau di bunuh dan dikuliti hidup-hidup. Sekarang? Tiada angin tiada hujan nempel seperti cicak. Bukan ia tidak suka di tempeli seperti ini namun terasa aneh saja, baiklah mari ikuti alur saja. Lagi pula momen ini yang selalu di tunggu-tunggu bukan? Jadi anggap saja Nifa sudah mulai membuka hati untuknya.
"Sayang aku ingin naik delman sehabis beli es krim nanti." Menatap Rama dengan tatapan memohon.
Terkejut? Tentu saja, ini pertama kalinya ceweknya ini memanggilnya dengan sebutan sayang. Sulit di percaya tapi ini nyata, membuatnya yang sedang menyetir sedikit tidak fokus.
Ccciiiiiitttt
Rama mengerem mobilnya mendadak kala ia sadar dari lamunannya serta rasa terkejutnya karena mendapat panggilan sayang.
Badan mungilnya terdorong kedepan untung saja kepalanya tidak terjedot, ia terkejut kemudian menatap Rama dengan tajam. "Bisa nyetir gak sih! lihat tuh hampir saja kamu menabrak pedang itu." Sungut Nifa marah ketika terlihat tadi Rama hendak menabrak pedagang kaki lima yang hendak menyebrang.
"Maaf baby g-gua gak sengaja." Mengelus tangan ceweknya untuk menenangkannya. Jangankan ceweknya ia sendiri pun terkejut. "Gua janji gua bakal lebih hati-hati lagi ya baby."
Hanya deheman lirih yang di dapatkan Rama, mungkin ceweknya kesal. Kembali ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan penuh hati-hati. Sebab ia tak ingin momen baik hari ini jadi kacau, gimanapun juga momen seperti ini yang ia tunggu-tunggu. Mumpung ceweknya mau di dedakati maka ia akan berjuang, ya tentu saja berjuang untuk lebih mendekati ceweknya ini dan mengambil penuh rasa cinta untuknya seorang. Rama pelit, egois, biarkan saja toh ia tak ingin jika ceweknya membagi hati dengan orang lain. Nifa hanya milik Rama seorang, selamanya akan tetap begitu. Tidak boleh ada yang lain hanya dirinya saja.