
“Ada keperluan apa ya? Bapak manggil saya.” Tanya Rama ketika sudah memasuki ruangan dosen.
Siang tadi pukul satu saat dirinya sedang istirahat dari mata kuliah basket, teman satu kelasnya memintanya untuk bertemu pak Rizki selaku dosen pengajar mata kuliah renang.
Hingga disinilah Rama, sedikit bingung sebab tak biasanya dosen yang satu ini memanggilnya. Sebab Rama bukanlah mahasiswa kesayangannya. Rama tak pandai urusan renang kemampuanya sedikit payah dalam hal ini.
Menghela nafas pelan. “Begini Ram, Dito mengalami kecelakaan. Sehingga tidak bisa menghadiri lomba yang akan di laksanakan dua minggu lagi. Dan tiga kandidat yang menggantikannya ternyata ikut andil dalam kecelakaan tersebut.” Menjilat bibir bawahnya.
Membuat Rama bingung dengan pernyataan dosennya itu. “Jadi Bapak minta tolong untuk kamu yang menggantikannya.” Lanjutnya.
Rama melebarkan kedua matanya terkejut. Bukan tidak mau tapi kemampuan renangnya sangat minim. Tidak lucu kan jika ia membuat nama kampus ini buruk di perlombaan ini.
Mengusap wajahnya kasar, menatap Rama intens. “Bapak tau kemampuan renang kamu tapi Bapak mohon kali ini saja. Belajar selama dua minggu ini pasti bisa jika kamu bersungguh-sungguh.”
Rama menggelengkan kepalanya. “Tapi pak saya sangat minim untuk urusan renang. Dan Bapak tau itu, bahkan saya sering membolos mata kuliah Bapak. Kenapa tidak yang lain saja.”
“Alasan Bapak memilih kamu karena kamu orang yang bertanggung jawab. Bagaimana jika Bapak menawarkan sesuatu kesepakatan padamu.” Menatap mahasiswa di depannya dengan raut wajah serius.
Mengernyitkan dahinya menatap dosen di depannya. “Maksud Bapak kesepakatan apa?”
Menyunggingkan senyuman misterius.
“Bagaimana jika pacarmu yang dari jurusan Fisioterapi menemanimu setiap latihan. Selama dua minggu kalian akan sama-sama, kesepakatan yang menggiurkan bukan.” Menaikkan sebelah alisnya menatap mahasiswanya.
Rama tampak berfikir, lumayan juga jadi ia bersama pujaan hatinya. Lagi pula cewek itu sedang marah padanya. Sedikit menguntungkan juga pikir Rama. Tapi apakah ia bisa lancar berenang dalam waktu sesingkat itu? Ah, masa bodoh yang terpenting bisa bersama pujaan hatinya.
Tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. “Saya menyetujui kesepakatan ini Pak. Tapi saya minta selalu ada Nifa di setiap saya berlatih.”
“Akan saya pastikan pacarmu selalu hadir setiap hari. Jadi mulai besok kamu bisa mulai latihan.”
“Baik Pak, saya permisi dulu masih ada mata kuliah setelah ini.”
Pak Rizki menganggukkan kepalanya. Rama keluar dari ruangan dosen itu setelah meminta izin. Suasana hatinya mendadak berbunga-bunga, menyegarkan dan menyejukkan. Membayangkan akan melihat cewek itu selama dua minggu penuh.
Ketiga gadis sedang berjalan keluar dari gedung jurusannya. Hendak menuju parkiran dimana mobil milik Melinda terparkir, ya mereka berencana pergi bersama lagi. Namun langkahnya terhenti kala ada yang memanggil nama salah satu dari ketiga gadis itu.
Ketiganya menoleh mengernyitkan dahi bingung karena sekarang ini seorang dosen dari jurusan lain yang memanggilnya.
Saat dosen itu sudah berada di depan ketiga gadis itu, Melinda bertanya. “Ada apa ya Pak?”
“Tidak saya hanya ingin menyampaikan jika dua minggu lagi jurusan Olahraga membutuhkan pendamping untuk perlombaan.” Jelas Pak Rizki.
Ketiganya menganggukkan kepala paham karena sudah biasa hal ini akan terjadi.
“Oh begitu Pak, kebetulan Siska mungkin bisa membantu untuk menjadi pendamping.” Ujar Melinda.
“Tidak saya membutuhkan Nifa untuk kali ini."
Ketiga gadis itu melebarkan kedua matanya terkejut. Sebab Nifa Fisioterapi Pediatri (anak) hanya menangani masalah anak-anak bukan olahraga. Diantara ketiganya hanya Siskalah yang Fisioterapi Sport itulah sebabnya Melinda mengajukan Siska untuk membantu.
Nifa menggelengkan kepala. “Saya hanya mengerti menangani anak-anak Pak. Saya takut nantinya salah memberi intervensi.”
“Tapi waktu kamu memberi pertolongan pertama pada saat Farid cedera itu lumayan bagus. Saya berharap kamu bisa menjadi pendamping kali ini.”
“Bukan saya tidak mau Pak, tapi kemampuan saya minim dalam hal ini. Mungkin Bapak bisa mencari kandidat lain yang memang menguasai seperti Siska mungkin.”
“Saya bisa membantu jika Bapak berkenan.” Sahut Siska. Merasa kasian kepada sahabatnya jika terjadi sesuatu nantinya.
Menghela nafas pelan. “Baik bagaimana jika kalian berdua saja mendampingi selama latihan sampai perlombaan.”
Saat di caffe Nifa memijat pangkal hidungnya rasanya pusing dan lelah. Tapi tetap harus bekerja sebab ia butuh uang untuk biaya kuliah dan makan. Rasanya hari ini dirinya sedikit tidak bugar, apalagi setelah mendapatkan permintaan menjadi pendamping jurusan Olahraga.
Keesokan harinya tepat pukul sepuluh ada yang meminta izin untuk membawanya keluar kelas untuk menjadi pendamping latihan. Dosen yang sedang mengajar hanya menganggukan kepala sebagai persetujuan, sebab hal ini sudah biasa terjadi.
Siska dan Nifa sudah berada di kolam renang menunggu mahasiswa dari jurusan Olahraga yang hendak di damping. Nifa tampak duduk di pinggir kolam di tempat duduk yang sudah di sediakan. Kepalanya terasa pening, padahal tadi pagi sudah meminum obat dan merasa lebih baik tapi entah kenapa sekarang muncul lagi.
Rama datang dengan hanya memakai handuk yang di kalungkan di leher serta celana renang ketat diatas lutut. Terlihat indah badan atletisnya terpampang jelas membuat Siska yang melihatnya melebarkan kedua matanya. Mungkin saja air liurnya bisa menetes begitu saja, tapi segera ia menepuk pipinya sendiri menyadarkan. Tiba-tiba handphone Siska berbunyi ia pamit kepada Nifa untuk keluar menjauh untuk mengangkat telepon. Sahabatnya itu hanya menganggukkan kepala.
Rama mengernyitkan dahinya saat mendapat presensi Siska juga disini. Ia kira hanya ceweknya saja yang datang. Tapi tak apalah yang penting ia bisa melihat Nifanya disini. Sangking bersemangatnya Rama langsung masuk kedalam kolam tanpa pemanasan dan tanpa menunggu pelatihnya datang. Saat sampai di tengah kolam kakinya mendadak kram, pernafasannya menjadi tak terkendali. Badannya tenggelam ia hanya bisa menaikkan tangannya keudara memberi tanda untuk seseorang menolongnya.
Nifa yang tengah memijat pangkal hidungnya karena merasa pusing pun menolehkan kepalanya saat mendengar bunyi air yang tak beraturan. Kedua matanya membola terkejut, ada yang tenggelam? Yang benar saja. Ia berjalan mendekat kearah kolam, mondar mandir kebingungan. Kemudian membalikkan badannya membelakangi kolam.
“Tenang Nifa, anggap saja kamu tidak melihatnya. Jadi mari tinggal saja pasti ada yang melihatnya selain dirimu.” Nifa melangkahkan kakinya sebanyak lima langkah kemudian menatap sekitar.
Sepi.
Gawat!
Menengok kebelakang tangan yang semula melambai-lambai ke udara tadi sudah tak terlihat. Nifa berlari menjeburkan dirinya kedalam kolam. Menyelami kolam mencari-cari yang tenggelam, matanya menelisir di dalam air pandangannya tidak terlalu jelas, kemudian memunculkan kepalanya untuk menarik nafas.
Menyelam lagi menelisir dan netranya menangkap presensi seorang pria. Nifa berenang menghampiri, setelah mendapatkan Nifa mengalungkan tangan pria itu kepundaknya untuk dibawa menepi ke pinggir kolam. Nifa menyeret badan pria besar itu untuk dibawa kedaratan dan membaringkannya. Betapa terkejutnya saat pria yang ditolongnya adalah Rama.
“Mas bangun.” Menepuk-nepuk pipi Rama tapi tak mendapat respon. “Duh, bagaimana ini.” Nifa menatap sekitar tak ada orang.
Tangannya gemetaran ia bingung apa yang harus di lakukan jika ada orang yang habis tenggelam. Di kejauhan Siska datang menghampiri dengan berlari.
“Dia kenapa Nif?”
Menggelengkan kepala. “Aku ndak tau tadi aku melihatnya udah tenggelam. Mungkin aku telat menyelamatkannya jadi dia ndak bangun-bangun.” Nifa gugup sekaligus bingung.
Siska langsung melakukan CPR pada Rama. Selang lima menit Rama memutahkan air dari mulut dan hidungnya tapi matanya masih menutup.
“Nifa lu tolong kasih nafas buatan gua pergi panggil Pak Rizki. Ini harus segera di bawa ke mini hospital karena Rama gak kunjung membuka mata.” Tanpa persetujuan Nifa, Siska sudah melenggang pergi.
Sebanarnya Rama sudah sadar hanya ingin memejamkan mata namun saat mendengar perintah Siska untuk Nifa pun membuat Rama mengurungkan niatnya untuk membuka mata.
Nifa gugup tapi bagaimana jika Rama kehabisan nafas dan mati. Pasti ia bisa saja jadi tersangka sebab disini hanya ada mereka berdua. Dengan terpaksa Nifa memegangi hidung dan rahang Rama mendongakkan wajah Rama sedikit, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajahnya Rama. Jantungnya sudah meledak-ledak seperti kembang api.
Saat tersisa jarak hanya lima centi tangan Rama dengan cepat meraih belakang kepala Nifa agar mendekat kemudian memagut bibir mungil Nifa. Ia merindukan cewek itu, sudah lama selalu di hindari ketika akan mendekatinya. Memagutnya dengan lembut, menggunakan tangan yang satunya untuk memeluk cewek diatasnya ini agar merapat.
Kali ini ciuman Rama lembut tidak seperti biasanya yang terkesan buru-buru, brutal dan membabi buta. Rasa rindunya sudah meluap tak tertampung lagi.
Terkejut akan perbuatan seseorang yang di tolongnya tadi membuat tangannya lemas berada di dada bidang Rama. Jantungnya berdebar berdetak lebih cepat perasaan aneh yang belum pernah Nifa rasakan seumur hidupnya. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu hinggap di perutnya terasa menggelitik.
Saat Rama masih asik memagut bibir cewek mungilnya terdengar suara deheman laki-laki. Membuat keduanya terkejut refleks saling menjauhkan tubuh.
“Kita gak liat banyak kok ya kan Pak?” Ujar Siska sambil menatap sahabatnya dengan tatapan menggoda.
Pak Rizki mendadak canggung menggaruk belakang kepalanya, sebab ia juga masih muda dan belum menikah melihat adegan itu membuatnya sedikit gugup.
Wajah Rama dan Nifa memerah, seperti pasangan mesum yang di grebek warga. Nifa bangkit pamit pergi tak tahan ia merasakan malu luar biasa. Jika hanya sahabatnya yang melihat mungkin masi mendingan, namun ini dosennya juga ikut melihat dan menyaksikan.
Meskipun hanya ciuman tapi tetap saja memalukan. Apalagi posisinya yang tidak bagus, ia berada diatas tubuh Rama seperti terlihat ia yang mencium Rama.
Saat Nifa sedang bekerja di caffe selalu melamun membayangkan kejadian tadi. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya di dasar sungai yang dalam. Bagaimana bisa ia besok menampakkan dirinya untuk mendampingi latihan. Sangat malu untuk bertemu dosen itu lagi.