
Air jernih yang nampak berwarna biru dari kejauhan terlihat menggiurkan untuk diselami. Begitu segar untuk siang yang cukup terik ini, mungkin segelas ice lemon bisa menemani. Namun disini hanya terdapat dua lelaki dan satu pendamping perempuan.
Terlihat dua lelaki sedang mengasah skill, Rama nampak frustasi karena selalu gagal. Pelatihnya selaku pak Rizki lebih frustasi sebab Rama benar-benar susah untuk diajari.
Dua lelaki itu menepi dari kolam renang, beranjak kedaratan.
“Dimana Nifa? Kenapa tidak bersamamu Sis?” Tanya pak Rizki.
Siska yang tengah bermain handphone seketika mengalihkan perhatiannya pada sang penanya. “Sepertinya tidak kesini pak, dia sedang melakukan penelitian di dalam laboratorium. Dosen prodi kita membutuhkannya.”
Menganggukkan kepala kemudian menatap Rama yang sedang mengelap badannya dengan haduk. “Kau dengar Ram, gadismu ada penelitian bukan sedang bersenang-senang dengan hal lain. Jadi tak perlu mengkhawatirkannya, kau bisa lebih fokus lagi.”
Rama melebarkan kedua matanya mendengar pernyataan dosennya.
'Apakah gua terlihat sebucin itu dimata dosen perjaka tua ini?’ batin Rama menjerit.
Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Emm bukan itu pak, saya memang hari ini tidak enak badan. Itulah sebabnya saya sedikit kurang fokus.”
“Gak enak badan apa emang kurang belaian lu Ram.” Sahut Siska sambil terkekeh.
Sh.it!
Rama hanya diam sambil melotot kearah Siska.
“Tidak apa Ram, Bapak juga pernah jatuh cinta waktu kuliah. Masa percintaan seumuran kamu memang cukup labil, inginnya memang selalu bertemu tak pandang waktu.” Terkekeh sambil menepuk bahu Rama. “Hari ini kita sudahi saja besok kita lanjutkan.”
Dasar aneh!
“Baik pak, terimakasih.” Mengambil tas hendak melangkah kekamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
“Tunggu Ram... kalian jangan bertengkar ya. Harus professional jangan mengecewakan.” Ucap Pak Rizki penuh penekanan.
‘Dasar sinting siapa pula yang sedang bertengkar!’ batin Rama. Kemudian menganggukkan kepala melenggang pergi. Bisa gila jika menanggapi dosen perjaka tua itu, sedari tadi menasehati Rama persoalan cinta tapi dirinya sendiri bahkan masih menjomblo di usia sematang itu.
Menyebalkan!
“Kau mau pulang bersamaku Sis?” Tanya pak Rizki.
Mendadak bulu kuduk Siska meremang mendengar pertanyaan dosennya. Menggelengkan kepala tersenyum paksa. “Tidak perlu repot-repot pak, saya bawa motor.” Tolaknya secara halus.
“Oh tidak apa kamu bisa meninggalkan motormu disini. Lagi pula penjagaan disini aman 24 jam. Saya membawa mobil jadi kamu tidak perlu kepanasan di siang ini.”
Menelan saliva kasar berusaha mencari alasan. “Maaf pak bukan saya menolak tapi saya juga sedang ada kepentingan yang lain. Saya di panggil untuk bertugas di mini hospital.”
Dosen itu hanya menganguk kecewa.
Siska buru-buru pamit dan melenggang pergi, ia takut akan ada ajakan lain dari dosen perjaka tua itu. Karena gosip yang beredar dosen itu ingin menikahi salah satu mahasiswinya jika ada yang minat.
Keraiman di restoran ini cukup membangun suasana, ditambah beberapa candaan di meja ini. Namun kedua orang berbeda jenis kelamin ini nampak diam tak berminat untuk bergabung dalam candaan garing itu.
Si perempuan dengan perasaan malunya mengingat kejadian pertama dikolam, sedangkan si lelaki sibuk memikirkan cara untuk berduaan dengan perempuan yang duduk di depannya.
Rama memang berotak kotor, tidak perlu di ragukan.
Canggung…
Satu kata yang menggambarkan keduanya, sebab mereka hanya diam sambil sesekali saling melirik.
Mereka sedang merayakan kemenangan ajaib yang di raih Rama dalam perlombaan renang. Padahal sebelumnya Rama sangat payah dalam latihan, pak Rizki hampir menyerah mengajarinya berenang. Apalagi ditambah dengan Nifa yang jarang hadir membuat Rama terkadang tidak fokus.
“Nifa kenapa makanannya gak dimakan? Atau mau ganti menu? Biar bapak pesankan kalau mau.”
Nifa menggeleng cepat. “T-tidak pak, ini saja saya hanya sedang….” Menetap Siska untuk membantu menjawab.
Siska menaikkan sebelah alisnya bingung. “Emm Nifa sedang diet pak, soalnya katanya Rama suka cewek yang kurus.”
Nifa melototkan matanya kala mendengar ucapan bodoh sahabatnya. Sedangkan Rama terkejut mendengar ucapan Siska, sejak kapan ia suka cewek kurus? Bahkan Nifa adalah tipe ideal bagi Rama. Kecil, imut, lembut, membuatnya ingin menikahi cewek itu secepatnya.
Terkekeh kemudian menepuk bahu Rama yang ada di sebalahnya. “Kau jangan terlalu memaksakan kehendak Ram, terimalah gadismu apa adanya. Lagi pula ku lihat Nifa ini cantik khas gadis jawa yang anggun dan berkarisma.”
Apa-apaan sih teman ceweknya ini! Ia kan jadi disangka seorang lelaki yang hanya memandang fisik saja. Rama menatap tajam kearah Siska. “Itu tidak benar pak, mungkin Nifa hanya salah paham. Bagi saya Nifa sudah sangat terlihat sempurna.” Menatap Nifa dengan lembut. “Makanlah sayang, cintaku untukmu tidak akan berkurang walau beratmu bertambah.”
Menjijikan!
Nifa menatap tajam kearah Rama, rasanya sebal dan ingin muntah. Apa-apaan dia itu membual hal yang tidak benar. Nifa memaksakan makanannya masuk kedalam mulutnya dengan cepat. Tak ingin berlama-lama ada di dekat dua laki-laki aneh itu.
Di dalam mobil hanya terjadi kecanggungan mereka berempat menaiki mobil yang sama. Sebab saat perlombaan tadi, dosennya itu memaksa agar satu mobil saja terpaksa baik Rama maupun Siska meninggalkan alat tranportasinya di kampus.
Yang mengemudi pak Rizki sedangkan di sampingnya Siska. Di kursi penumpang terdapat Nifa dan Rama yang saling diam, Rama diam sebab merasa letih dan sudah di pastikan jika Nifa diam sedang menahan muntah.
Siska yang selalu heboh mendadak merasakan atmosfir yang tidak nyaman. Semua diam rasanya menyebalkan.
Tiba-tiba pak Rizki mengerem mendadak sebab ada kucing menyebrang sembarangan, saat dirinya hendak berbelok. Membuat Siska terhuyung kesamping kanan hampir menempel pada bahu kiri pak Rizki. Sedangkan Rama terhuyung ke kanan juga menahan kedua tangannya di samping kanan kiri kepala Nifa. Terlihat seperti Rama hendak mencium Nifa saat tak sengaja badannya terhuyung tadi.
Keduanya tersadar saat mendengar deheman dari pak Rizki, membuat Nifa spontan mendorong badan Rama untuk menjauh. Mereka diam tanpa suara Rama dan Nifa saling menatap kearah jendela tanpa berniat untuk bercengkrama.
Kalau saja tadi tidak ada pak Rizki, Rama pasti sudah mencium ceweknya dengan panas.
Ah bibir mungil itu candunya.
Setalah sampai di kampus Rama menarik tangan Nifa paksa. Menggeretnya memasuki mobilnya, melajukan mobilnya mengantarkan ceweknya pulang, tanpa menghiraukan Siska yang meneriaki nama Nifa dengan kencang.
Hanya ada kesunyian di dalam mobil, tidak ada yang membuka suara. Nifa rasanya canggung untuk bertemu Rama. Apalagi bertemu dengan dosen itu, yang notabenya adalah orang yang memergoki dirinya dengan Rama sedang berciuman, meski hanya Rama yang menciumnya.
Sesampainya di depan rumah kontrakan, Nifa hendak turun namun tangannya di cekal. “Bisakah gua dapet salam perpisahan dari pacarku tercinta?” tanya Rama dengan senyum menyeringai.
Nifa menaikkan salah satu alisnya tak paham. Rama terlihat menakutkan, layaknya hewan buas, membuat Nifa seolah menyalakan alarm tanda akan bahaya.
“Lu mau yang kasar apa yang halus?” Rama mendekatkan badannya condong kearah Nifa.
Menelan saliva kasar. “Maksud Mas apa?”
Rama menarik dan mengangkat badan mungil Nifa kearah pangkuannya, membuat Nifa terkejut akan tindakan tiba-tiba. Tak tunggu lama Rama menarik tengkuk cewek di pangkuannya agar mendekat.
Memagut, menyesap bahkan menjilati bibir mungil lawannya. Mengabsen gigi-gigi kecil di dalam mulut ceweknya. Rama melakukannya dengan lembut, sangat lembut membuat Nifa tersihir. Dan entah sejak kapan kedua tangannya mengalung begitu saja di leher Rama.
Tidak tahu cara berciuman Nifa hanya sesekali balas menyesap permainan yang di ciptakan oleh Rama. Terkadang juga meremas rambut ikal Rama. Entah ada apa dengan dirinya, di perlakukan sedemikian halus oleh Ram membuatnya tersihir.
Keduanya terengah melepas tautan bibirnya mengambil nafas dengan rakus. Rama mengusap bibir mungil Nifa dengan ibu jarinya. Terlihat bibir mungil itu sedikit bengkak akibat ulahnya dan itu membuat Rama senang.
Diam-diam Nifa membuka pintu mobil dan melesat pergi dengan cepat. Tak mau berlama-lama dengan lelaki semesum Rama.
Sesampainya di dalam rumah Nifa menutup rapat pintu rumahnya. Memegangi dadanya, jantungnya berdetak lebih cepat.
‘Aku kenapa?’
Berbaring sambil mengingat kejadian tadi, kenapa dirinya tidak menunjukkan reaksi kambuhnya penyakitnya kali ini. Dan kenapa juga ia jadi membalas ciuman Rama?
Nifa mengusap wajahnya kasar. Rasanya gila, sejak kapan ia jadi begini terkesan menjijikan. Akan di taruh dimana mukanya jika bertemu lagi dengan Rama nanti.
Aroma buku serta ketenangan yang tercipta di perpustakaan ini membuatnya selalu merasa nyaman. Pelarian paling aman saat merasa gundah dalam hatinya.
Suara kursi berderit membuat Nifa mengalihkan pandangannya dari buku, terlihat Rama tersenyum lebar sambil mendudukkan dirinya di samping Nifa.
Gawat…
Rasanya Nifa belum siap untuk bertemu Rama setelah insiden kemarin. Ia merasa canggung saat Rama berada di dekatnya. Bangkit berdiri meninggalkan Rama begitu saja tidak peduli dengan ancaman Rama.
Detak jantungnya sedang tidak bersahabat, mungkin saja setelah pulang bekerja nanti ia akan mampir ke dokter untuk menanyakan kondisi jantungnya. Bisa sajakan kalau dosis dalam obatnya membuatnya seperti ini.
Rama mengernyitkan dahinya bingung, sebab kali ini ancamannya tak berhasil. Apa jangan-jangan cewek itu marah padanya?
Sh.it!
Harusnya ia bisa menahan nafsu, tapi mau bagaimana lagi Nifa terlalu menggoda di mata Rama. Jika cewek itu marah apa sebabnya? Bukankah cewek itu membalas ciumannya?