Ex-love

Ex-love
Ini Kencan 'Kan?



Niel membuka kembali ponsel nya dan baru ingat kalau Rin mengajak nya makan di cafe baru dekat stasiun.


"Ya ampun. Khilaf." Membuka jendela untuk menyuruh tunggu. "Rin. Maaf, aku cepat kok. Tunggu di taman situ."


Niel mandi dan berpakaian rapi, (Selera nya gk buruk buruk amat sih Niel) sementara Rin yang gugup di goda kakaknya kalau ini adalah "Kencan".


"Maaf Rin. Aku lupa. Ayo berangkat." Ucap Niel yang memiliki semangat lakik.


Cuaca sekarang sedikit panas jadi Rin membawa payung karena kulitnya sensitif. Rin masih gugup walau udah di cium bibir oleh Niel, tapi itu keinginan Niel sendiri bukan keinginannya.


Tapi misi untuk berduaan dengan Niel gagal, karena dalam jalan searah, keduanya melihat Rei. Niel tak lama langsung menyapa nya (Rin lupa kalau Niel sering banget nyapa orang yang dikenal.)


"Kak. Selamat pagi." Niel menepuk pundak Rei.


"Owalah Niel." Menengok kesebelahnya dengan senyum licik. "Sama Rin?"


"Iya. Mau ikut? Ke kafe baru sebelah stasiun?"


"Niel... Kamu itu peka gak sih? Kan aku maunya berduaan." Cemberut Rin dalam hatinya.


"Boleh." Rei menunjukkan senyum licik lagi pada adiknya.


Cafe baru pasti ada diskon, semua yang berbau diskon sangat di sukai Niel. Apalagi buku seri terbatas yang ada di toko sebelah, dan minta dititipkan parfait pada Rin dan Rei.


Rin yang cemberut ke kakaknya tak mau melihat wajahnya, ya karena mau berduaan doang sama Niel. Kejadian Rumit antara mereka berdua dimulai.


"Mau menghancurkan "Kencan" Adiknya?" Ucap Rin yang mengemut sendok parfait.


"Ya ndaklah. Kakak seneng aja kamu punya teman jalan jalan. Aku curiga Niel lelaki liar." Jawab Rei sambil mengaduk kopi.


"Bo doh. Niel bukan laki-laki liar! Dia orang baik." Padahal suka banget nyium tiba tiba.


"Ya sudahlah."


Niel yang datang dan nyemil parfait mengajak Rin ke taman besar untuk foto foto. Kali ini Rei ndak di ajak.


"Niel, aku iku-?" Ucap Rei.


"Ndak Boleh!" Jawab Niel.


***


Tanggal 25, Zahwa menyiapkan sedikit baju dalam koper nya untuk berangkat. Barang kedokterannya dititipkan ke asisten ayahnya, dan Laurent ke jepang untuk di kenalkan ibunya.


Di hotel pribadi, Zahwa dan Laurent merapikannya dan membeli tiket ke jepang. Alasan kenapa ayah nya Zahwa langsung hilang sejak sidang, karena dia ke Amerika.


Cerita beralih pada pertemuan Laurent dan Zahwa...


Sejak Zahwa pindah ke Amerika, Laurent anak yang sendirian di hari magang-magang nya menjadi pembimbing Zahwa dalam pelatihannya.


Kozuki Meruki (Ch 15.) yang sudah menjadi senior itu tertarik dengan kecantikan dan kelihaian nya. Lalu melihat lebih dekat tentang Zahwa yang dingin itu.


Zahwa pada hari pertama di latih tes ujian, dan didatangi oleh ayah nya. Laurent, Kozuki yang tahu kaget kalau bakat guru kedokteran nya diturunkan ke Zahwa.


Laurent memperkenalkan diri sebagai pembimbing nya, ayah Zahwa kaget kalau itu Niel padahal bukan. Dan meminta membimbing Zahwa dengan benar, Dia mengandalkan Laurent.


"Guru. Hari ini kita akan ke apartemen kan? Ha. Aku mau parfait !"


"Haduh. Jangan bilang aku guru. Panggil aj Mas Laurent."


Laurent yang suka sifat Feminim nya padahal sudah remaja, tersenyum sendiri melihat wajah Zahwa. Seperti masalah masalah hidupnya sudah hilang setelah melihat parasnya.


"Habis ini kita belajar ya."


"Gak mau." Jawab Zahwa.


"Hah? Apa yang kau bilang?"


***


Rei yang tak kapok mengikuti Niel dan Rin, menjadi penguntit hebat. Benar saja, Rin bermesraan dengan pria lain selain kakaknya. Memeluk dan memegangi tangan Niel membuat Rei cemburu.


Dan tiba di tempat yang pas untuk bilang sesuatu, Rin tak tahu kalau dia sedang berkencan. Duduk di kursi ayunan dan membicarakan hal santai.


..."Rin. Kamu tahu, cincin pernikahan ada di jari mana?" Niel mengangkat tangan Rin yang seketika mukanya memerah....


..."Ni.. Niel? Pernikahan? Maksudnya apa?" Kemudian Rin menunjukkan jari manis....


..."Pintar." Kemudian memberi kotak putih, "Terima ini, dan pakailah di rumah!"...


..."Ini a...apa? Coklat?" Dan bertanya apa isinya, "Niel. Ini apa? Coklat? Belum valentine 'Kan?...


..."Kamu bakal tahu nanti dirumah. Janji yah buka nya di rumah!"...


...Rin menyadari nya, "Tunggu, apa ini cincin?"...


Rin mengajak Niel menuju rumahnya untuk minum teh dan santai. Niel setuju, karena hari mulai panas.


Keduanya yang sudah sampai rumah membuat keluarga Rin menyapa kehadiran Niel.


"Wah Niel. Maaf berantakan. Ayo masuk, banyak makanan loh." Ucap Ibu Rin.


"Tidak usah repot-repot Bu. Rin tadi kemana?"


"Dia ada di dapur."


Niel yang pelan-pelan masuk ke dapur membisiki Rin sesuatu.


"Rin. Ayahmu ada dimana?"


"Dia lagi kerja. Udah nyapa nenek?"


"Dimana nenek?"


"Di sebelah kebun."


Niel membuka pintu pelan-pelan agar nenek Rin tidak terkejut, turun menggunakan sandal dan menghampiri nenek.


"Nek. Bisa aku bantu?"


"Siapa? Rei? Kamu tambah besar?" Nenek Rin terkejut dan belum kenal Niel.


"Niel, Nek. Ada yang bisa aku bantu?"


"Ohh. Laki-laki yang sering di omongi Rin. Iya, bantu nenek mencabuti Rumput disana."


Niel yang sudah mencabuti Rumput bersama Nenek di buatkan teh oleh Rin.


"Gimana rasa teh nya, Nak Niel?" Ucap Nenek.


"Enak Nek." Seruput Niel.


"Kamu masih SMA. Masih banyak jalan yang kamu tempuh. Misal ada perempuan yang menghalangi mu untuk maju ke masa depan. Apa kamu keberatan?"


"Lagi membahas aku dengan Rin ya?" Niel yang meletakkan gelas nya tersenyum.


"Tidak Nek, Tujuan ku sebenarnya mempunyai banyak teman. Aku mempunyai tujuan hidup yang jelas. Kalaupun orang yang menghalanginya adalah orang yang ku cintai. Aku sungguh tidak sama sekali keberatan."


"Benarkah begitu, Nak Niel. Orang yang kamu cintai itu Rin 'kan?"


"Yap. Betul Nek."


"Hahaha. Sama, aku juga mencintai cucuku."


Niel yang sangat kelelahan itu izin pulang ke Rin, namun tak di izinkan. Niel harus makan terlebih dahulu baru boleh pulang oleh ibunya.


"Niel. Ke kamar ku, mau?" Tanya Rin yang melihat Niel kelelahan.


"Aku tidak pernah ke kamar perempuan. Apa boleh Rin?" Jawab Niel yang berbisik-bisik.


"Boleh." Rin yang meminta izin ke ibu nya, "Bu. Niel udah keliatan capek. Aku taruh kamarku boleh?"


"Boleh. Daripada jauh jauh ke rumah nya 'kan?"


Niel kaget segampang itu izin masuk ke kamar perrmpuan, di ajak ke kamar Rin di lantai 2. Kamar yang penuh buku dan selalu rapi, juga wangi. Niel sebelum tidur membaca buku dulu sebelum tidur.


"Aduh. Beneran ngantuk." Niel memilih untuk tidur di sofa Rin.


......Kreekk...


Rin masuk kamar dan kaget Niel tidur di sofa nya ketimbang kasur yang empuk. Dalam posisi yang sama-sama mengantuk, Rin tidur menindih Niel.


Niel yang sadar melihat bahwa itu Rin, memeluk erat badan nya.


..."Rin. Aku jadi tau apa arti teman." Ucap Niel...


..."Aku juga. Tidak berat kan aku?"...


..."Tidak kok. Selamat tidur Rin." Rin menjawab, "Selamat tidur Niel."...



Sumber: Pinterest | Selebihnya Yantooo yang ngedit.


Tambahan dari Saerul:v


Cintai lah orang yang bisa membuat mu menjadi akhlak yang terpuji. Carilah teman hidup yang selalu minta sedikit uang gaji.


Ch ini ditulis oleh Yantooo.


Exeniel minggu depan. Kita tim Ex-Love rehat ya gays ya. See you next time!


Very Tx :)