
Paman Niel seorang pengacara handal menuntut Niel untuk di kembalikan pada Ibu nya. Sebagai ancaman bila keluarga Megumin tak menaati sidang ini, maka keluarga nya akan di mata-matai oleh Bodyguard nya.
Saat menerima surat itu, Zen (Ibu Zahwa) terkejut karena Nagisa (Ibu Niel) masih belum sepenuh nya mengerahkan Niel untuknya. Surat itu di baca oleh keduanya, dan mengusulkan untuk memberi Niel, Daripada terkena urusan serius yang menimpa keluarga Megumin.
Zen saat itu marah dan mencoba mengatakan apa yang diinginkan Nagisa dari Niel. Dan di hentikan oleh suami nya yang mengatakan itu akan menimbulkan masalah lagi, dan mencoba bermain akal sehat.
"Aku rasa Nagisa hanya mau menikmati waktu bersama anak semata wayang nya, kau berpikiran kenapa dia menelantarkan nya, 'kan?" Ucap suami nya.
"Aku kasihan terhadap Niel, aku tak apa bila melepasnya." Kemudian Zen duduk, "Tapi dia akan senang apa nggak? sayang!"
"Ikhlas kan saja, kita juga bisa mengabari lewat sms 'kan?" Suaminya berdiri dan membuka pintu, "Zahwa juga pasti berpikiran yang sama denganku kok." Dan meninggalkan Zen sendiri.
"Iya, aku minta maaf. Masih labil aku soal masalah anak." Kemudian Zen tidur di sofa.
Percakapan tadi 1 hari sebelum sidang ini segera berlangsung, Niel berlatih cakap saat sidang nanti. Zahwa menelpon Rin saat keadaan genting ini, dan meminta Rin untuk menemani Niel.
"Halo Rin, maaf menelpon mu." Ucapan Zahwa seperti orang yang panik.
"Halo Zahwa, tak apa, emangnya kenapa?"
"Besok Niel akan sidang 'kan? Temani dia Rin, kumohon!"
Zahwa menceritakan semua, Rin yang kesal dengan Nagisa kemudian setuju untuk menemani Niel sidang. Kameza juga di telpon Rin untuk menemani Niel sidang.
Peran Rin dan Kameza adalah menenangkan Niel yang sepertinya telah memilih keputusan yang berat. Pilihan ini membuat arah hidup dan takdir nya bisa berubah dalam waktu singkat.
Niel yang berkepala dingin ini memutuskan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa berbohong. Soalnya memang di asuh oleh keluarga megumin hampir tidak mempunyai kekurangan baginya, Niel hanya di tegur dan di ajar lemah lembut agar menjadi pribadi yang baik.
Namun pikiran Niel adalah bila dia tak kembali pada ibunya, keluarga Zahwa pasti menerima konsekuesi. Intinya ada yang untung dan tak di untungkan, Niel berpikir dewasa demi harga diri yang mahal.
Saat hendak tidur, Rin menelpon Niel dan mengatakan dengan jujur besok. Bagi Rin berbicara ke Niel harus jujur pada saat tertentu, mereka berdua berjanji akan selalu jujur dan setia.
"Niel, halo, maaf menelpon, aku pengen ngomong." Rin berpikir apa ini pilihan tepat
"Tak apa Rin, emang kenapa?" Niel jantung nya deg-deg an karena Rin menelpon jam segini.
"Besok aku ikut sidang sama Kameza, boleh Niel?" Rin menunggu jawabannya.
"Permintaan siapa Rin?"
"Zahwa, tapi Niel... Kau kemarin kecepetan ngucapin salam ke aku! Aku khawatirin kamu loh." Rin sangat malu mengatakannya.
"Hahaha, kau bicara apa Rin? Kali ini aku bolehkan, jangan membuatku gugup yah! Aku juga sayang kok, ke kamu." Niel menutup telpon nya.
Rin yang kaget mendengar kalimat itu membuatnya sangat tenang.
"Aku juga sayang kamu, Niel." Rin berbaring, dan bobo.
Sementara Kameza...
"Niel lagi-lagi menimpa hal rumit, sialan, dia itu pria sejati!" Kameza yang berbaring di kasur mengatakan, "Zahwa, kau kapan pulang, Niel menunggumu bodoh."
(Emang Kameza pinter? Sotoy bet sih Kameza) ~Yantooo.
Bersambung.
ch ini ditulis Exeniel.