
Niel meminta untuk tidak pindah sekolah, dan hari ini dia ber aktivitas normal. Karena tidak 3 hari sekolah, Niel menjadi kangen suasana kelas.
Bersama Rin yang selalu menyapa nya setiap pagi, Zen memberi tahu kalau keputusan Niel adalah suruhannya.
Masalahnya adalah Kameza yang tidak percaya itu suruhannya Zen dan masih bersikeras membenci Niel.
Bulan depan semua kelas mengadakan tampil presentasi, para ketua kelas menyiapkan orang yang akan bermain drama, bazar, dll.
Niel memikirkan apa yang terjadi pada ayahnya, "Kok bisa sih, orang tua itu? Kok masih bisa hidup?" Tanya Niel dalam hatinya.
Setelah pemilihan pemain, Niel menjadi pangeran dan Akira menjadi putri.
Niel tak peduli dan fokus berlatih saja, bagi Akira tidak, ini kesempatan membuat Niel tercengang melihat akting nya.
Niel sempat melihat Rin yang sedang fokus belajar sesuatu, dan inisiatif membelikan makanan di kantin.
Ini pertama kali Niel melangkahkan kaki disitu, dia ingin membeli nugget dan nasi, tapi tak tahu cara memesannya.
Kameza datang dan membantu memesan, 2 Pria tampan itu tiba di kantin bersamaan. Setelah membeli.
Kameza mengantarkan Niel sampai Rin. Parah nya, saat di depan kelas, Kameza mengatakan sesuatu yang buruk.
"Niel, jangan harap kau bisa ciuman dengan Rin lagi." Berbicara pelan menghadap Niel.
"...." Tak menghiraukan dan terus berjalan ke arah Rin.
"Rin. Kau sedang belajar apa? A-Aku bawakan makanan!" Ucap Niel dengan muka polos nya.
"Terima kasih Niel. A-Aku sedang mengerjakan teks naskah drama kelas ku." Rin menggapai lembut makanan yang di beri Niel.
Kameza yang kesal, memasuki kelas dan membentur pintu. Keadaan kelas saat itu sedang sepi.
Braakkk, "Rin, apa ini balasan nya?" Mood Kameza nya sedang tak baik.
"Ah ayam ayam. Kameza, hah? Kenapa-kenapa?" Rin kaget karena kedatangan tiba-tiba Kameza.
"Kenapa Rin? Padahal kamu kemaren nangisin dia loh? Jangan nunjukkin senyuman lagi, bodoh."
"Loh? Aku kan udah dibilangin ibu Ze-"
"Ayo Kameza." Niel berdiri dan mengelus kepala Rin, "Bentar yah Rin. Dia belum dewasa."
"Apa yang kau maksudkan, Hah?" Teriak Kameza sampai membuat Rin khawatir.
"Dewasalah dikit Kameza. Kau sahabat ku 'kan? Ikut aku." Tangan Niel merangkul leher Kameza dan menyeretnya.
Niel mengajak Kameza menuju atap sekolah, Kameza susah untuk memberontak karena tangan Niel merangkul kuat. Rin di panggil ketua osis untuk segera ke ruangannya, Rize sendiri yang datang.
Rin yang hari ini sangat anggun membuat Rize sedikit gugup berbicara berdua dalam ruangannya, dan membahas tentang drama kedepannya. Setelah rapat, Rize mengajak Rin jalan-jalan keliling kantin.
"Kan murid disini jumlah nya 450. Jadi melakukan di lapangan voli yang cukup besar itu ide bagus." Ucap Rize yang menatap mata Rin yang berkilau itu.
"Ya, ketua." Rin hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Rize.
"Memang mirip Zahwa, gadis ini. Kalau di lihat lebih detail."
Sementara Niel mengatakan sesuatu sampai bisa menenangkan hati Kameza.
"Sebenarnya aku mau Rin dari hatinya. Rin itu masih wanita biasa secara fisik."
"Kau kok masih tenang. Walau aku masih benar benci kamu!" Membuka lebar mulut Kameza di setiap kata-katanya.
"Aku tahu. Walau kalian saling mengolok. Tapi masih sepupuan 'kan?" Ucap Niel yang memegang kepala Kameza.
"Sudahlah Kameza. Aku tak memaksa Rin suka aku. Tapi, cinta ku padanya emang gak pernah ilang." Tersenyum sinis Niel menghadap Kameza.
"Idih, lebay tau. Ya udah, aku maafkan. Jelaskan alasan kenapa milih ibu jahat mu daripada ibu Zen!"
Rize mengajak Rin minum sambil membahas drama lagi, pada saat bersamaan Niel dan Kameza berjalan depan kantin.
Kameza yang menyadari nya duluan meminta Niel pergi, soalnya posisi duduk mereka berdua sangat dekat dengan kaca.
"Dasar Ketos (ketua osis) genit. Niel, aku ada urusan. Duluanlah."
"Oke." Kesempatan Niel untuk berlatih naskah.
"Ketua. Aku ada urusan. Nanti kita bicarakan lagi." Ucap Rin yang tergesa-gesa.
Rin lupa kalau Niel memberi nya makanan. Kameza langsung mengejar Rin ke dalam lorong, dan tak ingin ini ada urusannya dengan Niel.
"Rin. Ada yang ingin aku bicarakan setelah pulang sekolah."
"Aku nanti ada keperluan. Sepertinya ndak bisa."
"Sebentar saja. Nanti aku tunggu. Jam 4 didepan lapangan. Nanti aku ajak anggota ku untuk membahas drama!"
"Ya sudah."
Rin menepati janji tersebut. Tapi Kameza tak mendengarnya, dia akan mengikuti Rin terus nantinya.
Bel pulang telah berbunyi, Rin segera kesana agar cepat pulang dan minta di temani Kameza. Mereka berdua menunggu 2 menit dan akhirnya Rize datang sendirian.
"Wah wah Rin. Sudah ku bilang kan, sendirian saja. Lagi pula dia anak populer cuma dari ganteng nya 'kan?" Berjalan santai menghampiri mereka berdua.
"Katanya kau akan membawa anggota mu, Dimana mereka semua?" Rin kaget kalau yang di janjikan Rize itu bohong.
"Seharusnya, kita berdua saj-" Tangan Rize ingin menggapai Pundak Rin, dan di telak oleh Kameza.
"Jangan sentuh dia. Kumohon Niel datanglah terlambat, kalau tidak. Rize akan mati ditanganmu." Perasaan Kameza campur aduk. Antara kesal dan merinding.
"Pacar mu Rin. Ku.. Rasa dia lemah." Seettt... Rize meluncurkan bogeman keras tepat di dada Kameza.
"Ukhhh... Ahhhh." Kameza mundur dan lumpuh sebentar.
"Rize. Apa yang kau lakukan?" Rin menghampiri Kameza yang terbaring.
"Akan aku katakan. Kau itu mirip Zahwa! Jadi, aku ingin menembak mu! Tapi... Tapi... dia menggangu!" Rize melontarkan suara keras dan terdengar suara langkah kaki dari belakang.
"Apa yang terjadi? Kameza? Rin?" Niel memegangi pundak Rize dengan kuat, "Hei siapa kau?"
Rize yang menampar tangan Niel itu mengatakan, "Kita bertemu lagi ya. Pacar Zahwa, aku mau membuktikan. Siapa yang kuat di antara kita."
Kazurito yang berada belakang tembok ruang ganti merasa itu permintaan konyol. Bahkan kalau serius, Niel bisa mematahkan tulang nya berkali-kali.
..."Rin. Hentikan mereka berdua, ada yang akan mati kalau di biarkan. Ukhu Ukhu.. Akhhhh." Kameza masih merasakan kesakitan setelah mendapat bogeman itu....
..."......" Niel yang terdiam membuat Kameza menjadi khawatir apalagi Kazurito, "Cepat Rin. Leraikan mereka berdua!"...
..."Baiklah kalau begitu aku muulaa-" Kazurito yang bergegas datang, Kameza dan Rin mengatakan, "Jangan Niel!"...
..."Pertama.." Niel meluncurkan gerakan tangan kuat ke pundak Rize. Membuat Rize kehilangan kendali, "Yang kedua tutup hidung dan mulut."...
...Kemudian Niel mengunci kuat tangan dan kaki nya hingga berlutut, "Pas banget Kazurito. Ayo hitung berapa detik dia bertahan!"...
Rize yang tak bisa bernafas itu memohon maaf dengan keras. Sampai Rin datang dan menutup hidung Niel.
..."Hentikan Nii Elll.. Dia tidak menyaki..ti.. ku kok!"...
..."Wah Rin. Oke." Niel melepas semua tangannya karena suruhan ibu negara....
..."Ahhhh... Ahhhh.... Ahhh...." Rize hampir tidak bernafas selama.....
..."Kazurito, berapa detik tadi? Tiga enam."...
..."Maaf.. Maaf Rize, soalnya kau ngeselin tadi. Jadi ceritakan semuanya padaku ya."...
"Walaupun kau begitu. Senyuman mu masih mengerikan loh." Ucap Kazurito dalam hati nya.
Rin menceritakan semua. Dan Rize meminta maaf, Niel akhirnya terang-terangan.
..."Oh, begitu. Tapi omong-omong. Aku dan Rin berpacaran loh." Merangkul badan Rin dengan penuh senyuman, "Dengan ini kau udah puas Riz?"...
..."Sudah ku duga. Kau itu tak kesepian. Sudahlah. Aku mau pulang." Rize pulang dengan keadaan lemas....
..."Niel. Kemarilah." Niel menoleh, "Ada apa?"...
Sumber: Pinterest | Selebihnya Exeniel yang mengedit :] (Exeniel gak bisa ngedit. jelek) ~Yanto
Setelah pelukan hangat di berikan Rin. Kazurito tak ingin melihatnya (walaupun sebentar) dan pulang. Kameza masih tertepar di lantai.
"Oiii Kameza. Masih hidup?"
"Maa... Maasih lahh, bodoh!"
ch ini di ketik Exeniel. Sama Ilustrasi nya Exeniel yng Edit 🤙