
Suasana kelas 1-2 menjadi tegang karena Niel tidak masuk 2 hari. Dan rumor mengatakan bahwa Niel pindah sekolah dan lain-lain.
Sidang Niel mendapat waktu malam dan Zen mengatakan kata kata terakhir yang harus di turuti Niel.
Jangan Nakal
Jangan ngelawan
Jangan ngamuk-an
Selalu hormat kpd orang tua
Zen menyarankan Niel kembali ke Nagisa, dan bisa menjadi lebih baik kedepannya. Sidang sudah dekat di mata saat Niel berjalan dekat kantor Hakim.
Setelah menduduki kursi nya masing-masing, peran Niel disini menjadi korban dan Nagisa menjadi saksi. Zen dan suaminya menjadi tersangka, yang mengawali pembicaraan adalah Niel.
"Selamat pagi, kepada yang terhormat hakim dan dewan lainnya." Aduh. Padahall grogi bangetttt!,
"Saya sudah merasa tenang dan aman di asuh oleh keluarga megumin, jadi masalah konsekuensi harus di minimalkan!" Niel menjelaskan.
"Apa ada perlakuan kekerasan atau pelecehan terhadap anda?" Hakim berbicara.
"Tidak ada, yang mulia. Saya akan kembali ke ibu dan kalian bisa menyelesaikan sidang ini dengan cepat." Duhhhh! pengen cepet pulangg...
"Tunggu yang mulia. Saya Zen megumin ingin menjelaskan kenapa Kyouko Niel bisa berada di kami." Zen menaiki kursi karena geram bila diam terus.
"Ya silahkan."
Nagisa bertindak dengan berbicara, "Jangan dengarkan dia yang mulia! Saya memang kejam meninggalkannya. Tapi saya kali ini akan menjaga Niel setulus hati."
"Ibu Nagisa, biarkan Ibu Zen bicara!" Ucap hakim yang mengetuk meja.
"Jadi begini yang mulia. Suami Nagisa terkena hutang dan tak mampu membiayai keluarga. Dia menitipkan kepada saya, tapi lama sekali dia menjenguknya."
Hakim yang menanyakan Niel ingin berada di pihak siapa ini, Paman Niel disini menjadi pengacara Nagisa yang sekaligus menyarankan untuk kembali ke keluarga Niel.
"Aku sudah memutuskan. Maaf kepada ibu dan ayah Zen, aku akan kembali pada ibu saya dengan setulus hati." Niel yang berdiri dari kursinya lagi mengatakan, "Terimakasih untuk semua nya. Mohon kerjasamanya."
Jawaban itu membuat Nagisa senang dan sedih, ada alasan sendiri mengapa dia membutuhkan Niel. Nyawa nya sangat terancam bila dia tak membawa Niel pulang.
5 Hari sebelumnya, Tamura Niel adalah ayah Niel yang menelpon Nagisa untuk membawa nya pulang. Alasannya masih belum jelas dan mengancam kalau tidak membawa nya akan merugikan keluarganya.
Rin yang mengetahui dari Zen merasa kecewa, namun Kameza mencoba berbicara langsung dengan Niel alasan dia memilih ibu nya yang jahat itu. Niel di beri ucap terimakasih oleh ibunya karena telah kembali, Nagisa menjelaskan semua apa yang terjadi kenapa Niel harus pulang.
Niel izin untuk ke supermarket untuk membeli barang, Kameza yang tahu segera lari secepat itu dan sampai sebelum Niel masuk.
"Niel. Apa kau sudah gila?"
"Oh Kameza, maaf. Aku punya alasan tersendiri. Dimana Ri-"
Plak.... Niel ditampar keras oleh Kameza.
"Sudah ku bilang maaf, Kameza. Rin dimana?"
"Dia kecewa bodoh! brengsek." Suara keras Kameza terdengar oleh orang sekitar dan menjadi tontonan.
"Maaf. Hentikan Kameza. Katakan! Dia dimana?" Muka Niel seakan mengancam Kameza.
"Dia ada di depan toko takoyaki. Barat."
"Terima kasih. Kali ini kau tak perlu ikut campur. Aku gak bakal kemana-mana bodoh." Niel berlari dengan harapan Rin mau mendengarkannya.
Rin masih menunggu Kameza disana dengan membeli takoyaki 3 pack. Membuat Niel terharu dan berjanji tidak kemana-mana.
"Rin!" Niel menghampiri nya, "Maaf aku belum memberi tahu sebelumnya."
"Niel!" Rin memeluk Niel dengan erat, "Maafkan aku tak menghampiri mu." Rin seketika menangis.
"Rin, jangan menangis. Aku yang seharusnya minta maaf." Niel tersenyum dan mengangkat kepala Rin, "Aku bakal jelasin semuanya, 'kok!"
"Apa Zahwa tau, Niel?".... "Sudah kok." Ucap Niel.
Keduanya duduk dan makan takoyaki sambil menunggu Kameza pulang.
Sementara itu...
"Anak itu kemana sih? Niel, pulanglah." Ucap Nagisa
Bersambung.
Tambahan: Sebenarnya Paman Niel sangat ketakutan terhadap Tomura Niel. Makanya dia berharap Niel untuk pulang.