Devil's Brother

Devil's Brother
BAB 14



arsen dan Mia pun sudah berada di taman belakang


" nih sen makanannya"ucap Mia sambil memberikan kotak makan


arsen yang melihat pun dia kebingungan,kenapa Mia memberi makanan di tempat bekal,bukan nya piring yang berisi nasi.


" tadi niat nya mau ngasih kamu di kampus,berhubung kamu makan di sini jadi aku ngasih nya sekarang" ucap Mia


"oh.."ucap arsen sambil mengangguk nganggukan kepalanya,pertanda ia paham.


"enak" ucap arsen memuji makanan Mia


"haha makasih,padahal yang bikin bi minah.aku cuma bantu bantu dikit aja"ucap Mia keceplosan


"maksudnya"ucap arsen menaikan satu alisnya.


"eh..sebenarnya aku ga bisa masak sen, yang buatin nasi bi minah.aku hanya bantu dikit dikit aja" ucap Mia pelan,nampak wajah nya berubah sendu.


arsen yang melihat ekspresi wajah Mia dia tersenyum


" ga apa apa,yang penting kamu udah berusaha buat bantuin bikin nasi goreng buat aku"ucap arsen lembut


"maaf ya sen aku udah bohong,lain kali aku belajar masak deh"ucap Mia


"oke oke" ucap arsen tertawa


"ayo buruan makan,nanti nasi kamu keburu dingin" ucap arsen lagi sambil melihat nasi di pangkuan Mia.


"ah iya" Mia pun segera menyuapkan nasinya kedalam mulutnya


Disisi lain


"Mia..Mia.." ucap seorang pria dengan nada nyaring


"dimana Mia bi?" ucap pria itu


"maaf tuan,non Mia sedang berada di taman belakang bersama temannya"ucap bi Minah


"panggil dia sekarang" ucap pria itu dingin


"ba..baik tuan" ucap bi Minah takut.bi Minah pun pergi


" aku sekalian ikut ya acara pemakaman orang tua kamu " ucap aren


"ah iya boleh ko" ucap Mia tersenyum


"non,non Mia" ucap seorang wanita tua yang tengah berlari ke arah Mai.


"bi kenapa bibi lari lari?" ucap Mia menatap kasihan ke arah wanita tua yang ada di hadapannya


"anu non"ucap bi Minah,dia terlihat kesusahan bernapas


"tarik napas dulu bi" ucap Mia


'deg' raut wajah Mia tampak berubah drastis


"emang nya mau apa ka David manggil aku ya bi?" ucap Mia


" ngga tau non, tapi saya liat dari raut wajah tuan kayanya sedang marah" jawab bi Minah


"cepat non nanti tuan tambah marah" ucap bi Minah lagi


"eh..iya bi, sen tunggu di sini ya jangan masuk" ucap Mia,dia setengah berlari masuk ke dalam rumah


"tapi....." ucap arsen belum selesai,arena Mia sudah meninggalkan nya untuk masuk kedalam rumah


setelah berada di dalam rumah dia mencari sosok kakanya itu.perlahan lahan dia melangkahkan kakinya keruang tengah.tampak ketiga kakanya sudah berkumpul di sana.


"sini" ucap David dingin melihat Mia yang hanya diam berdiri.


" cepat Mia" ucap David mulai kesal,karena tidak ada pergerakan sedikitpun dari adik tirinya itu.


Mia melangkahkan kaki nya ragu menuju sofa yang di duduki oleh ketiga Kaka nya.


"duduk" ucap Marcel kepada Mia


Mia pun duduk di sofa kosong yang tidak jauh dari Lucas.


"Lo masih berani bawa cowo itu masuk ke mari?" desis Marcel sarkas


"ma..maaf ka,tapi aku kan bawa dia ke taman belakang bukan ke dalam rumah" ucap Mia mulai memberanikan diri


"udah berani ya bantah gue" ucap Marcel bangkit dari sofa yang didudukinya,lalu menuju ke arah Mia.


"akhhh....ampun ka,Mia ga bermaksud melawan Kaka" ucap Mia menahan rasa sakit saat Marcel menarik rambutnya dengan keras


"sudahlah,ngapain ngurusin dia.lebih baik kita berangkat sekarang.acara pemakaman ayah akan segera di mulai" ucap David sedikit kesal


sebenarnya niat David mencari Mia tadi untuk memberi uang harian yang sering dilakukan ayahnya setiap pagi.tapi David mengurungkan niatnya, entah kenapa dia selalu ingin marah jika dia bertemu mia.mubgkin rasa bencinya yang sudah mengakar susah untuk di hilangkan.


"kali ini Lo selamat" ucap Marcel,menghempaskan kepala Mia.


setelah mengatakan itu, Marcel mengambil kunci mobil nya lalu pergi melangkahkan kaki nya keluar rumah di ikuti kedua adiknya.


Mia tersenyum getir,terlihat setetes air matanya jatuh.ia berpikir mungkin Kaka kaka nya tidak bisa merubah pandangan nya terhadap Mia


Mia melangkahkan kakinya menuju taman belakang untuk menemui arsen, diapun tida lupa membenarkan kembali rambutnya yang sudah acak acakan bekas jambakan kakanya Marcel


"sen ayo,acara pemakamannya bentar lagi mau mulai"ucap Mia menarik tangan arsen


"kamu habis di apain tadi sama Kaka Kaka kamu?" tanya arsen sambil mendekatkan wajahnya ke arah mia.dia menatap curiga ke arah hidung Mia yang sedikit memerah seperti bekas menangis.


"eh..engga di apa apain ko" ucap Mia seceria mungkin