
setelah dia masuk dia bertanya pada resepsionis yang bertugas di rumah sakit tersebut.
"permisi mba apa di sini ada ada korban kecelakaan yang bernama bapak Wiliam dan ibu Teresa?"ucap Mia cepat
"mohon maaf sebelumnya,apakan anda ada hubungan keluarga dengan bapak Wiliam dan nyonya Teresa,kami hanya memperbolehkan pihak keluarga nya saja.karena bapak Wiliam adalah pemilik rumah sakit ini,jadi kami memperketat keamanannya"ucap wanita resepsionis tersebut.
pasalnya pihak rumah sakit tengah berduka ,dikarenakan pendiri rumah sakit ini meninggal dunia.dan tidak sembarang orang yang menjenguknya.
Mia bingung harus menjawab apa.tidak mungkin kalau dia harus mengaku sebagai anak kandung dari ibunya.pasalnya pada saat pernikahan ibunya dulu,publik tidak mengetahui kalau ayahnya menikahi janda beranak satu.jadi ayahnya menyembunyikan status ibunya dan tidak memperkenalkan Mia kedepan publik.publik hanya mengetahui ayahnya menikah dengan janda yang belum memiliki anak.
"ya saya anak dari adik perempuan tuan Wiliam"ucap Mia kepada resepsionis.
"baiklah tuan Wiliam dan nyonya Teresa ada di ruangan no 16 di lantai 2"ucap resepsionis.
"terimakasih"ucap Mia
dia segera meninggalkan meja resepsionis,sesampainya di depan pintu yang di katakan resepsionis tadi,Mia langsung mendorong pintu tersebut,tapi tangan Mia terhenti ketika mendengar suara yang sangat ia kenal sedang berbicara di dalam ruangan tersebut.
"Jemi apa kecelakaan yang menimpa ayah benar benar murni kecelakaan,atau memang ada dalang di balik semua ini?" ucap Lucas,Lucas sangat curiga dengan kecelakaan ayahnya ini.
karena sedari dulu banyak musuh musuh yang berkeliaran dan berniat membunuh keluarganya.
"dari penyelidikan saya,kecelakaan tuan Wiliam dan nyonya Teresa memang ada sangkut pautnya dengan salah satu musuh beliau.mereka menyewa sebuah truk yang sangat besar dan menabrak mobil yang di kendarai oleh tuan Wiliam dan nyonya Teresa"
ucap Jemi sangat hati hati karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka
"siapa dia?"sambung David bertanya
"dia adalah Mario Jhonatan musuh yang dari dulu ingin menghancurkan keluarga anda tuan"ucap Jemi
"dia lagi rupanya"ucap Marcel dingin
"secepatnya cari dia mulai sekarang" ucap Lucas tajam
"baik tuan"ucap Jemi sambil sedikit membungkuk memberi hormat
dari tadi Mia mencoba menguping pembicaraan mereka,tetapi dia tidak mendengarnya sama sekali,karena pria yang bernama Jemi itu memelankan suaranya.
dia segera bersembunyi dibalik dinding,ketika ia mendengar orang yang bernama Jemi hendak keluar.dia tida berani untuk masuk kedalam ruangan karena masih ada ketiga kakaknya disana.dia memutuskan menunggu Kaka kakanya pulang.sekian lama Mia menunggu akhirnya ketiga kakanya keluar dan menuju ke bawah.dia pun segera bergegas masuk ke dalam ruangan.
Mia tak dapat membendung air matanya lagi,melihatt jasad kedua orang tuanya yang sudah tidak bernyawa lagi.
"ayah,ibu kenapa kalian meninggalkan Mia secepat ini hiks hiks hiks" ucap Mia pelan
"semoga kalian tenang di alam sana"ucap Mia seraya menatap kedua jasad orang tuanya.
sudah setengah jam Mia belum beranjak dari duduk nya dia masih menatap kedua orang tuanya.
"Mia pulang dulu ya ayah ibu" ucap Mia akhirnya
Mia melihat ponsel yang ada di genggamannya,waktu sudah menunjukan pukul 02:00 dini hari.mia bingung bagaimana caranya ia pulang ke rumah.dia memang bukan orang yang pandai menyimpan uang,bahkan di umurnya sekarang seharusnya dia memiliki rekening sendiri untuk menabung.
"sepertinya mulai besok aku harus mulai mencari pekerjaan"ucap Mia pelan
sekarang dia menyesal kenapa tidak dari dulu menyisihkan uangnya untuk menabung,yang bisa dia di gunakan untuk keadaan genting seperti sekarang ini.
sekarang dia berjalan di pinggir jalan yang sangat sepi.mungkin cuma satu atau 2 mobil yang lewat.
"ah cape juga,mana masih jauh lagi" ucap Mia dan ia mulai duduk sambil memijit kakinya yang mulai lelah.dia melamun dan kembali memikirkan kedua orang tuanya.tidak terasa setitik kristal bening lolos begitu saja dari matanya.
"ayah,ibu,Mia lelah"ucap Mia,dia tidak menyadari adak anak perempuan seumuran dengan nya dan mendekat ke arahnya
"hei,kenapa kau menangis?"ucap seorang gadis cantik itu
"siapa yang nangis,ngga nangis ko"ucap Mia bohong,sambil menghapus air matanya.
"jujur aja kali,udah ketauan dari mata Lo yang sembab itu,kalo Lo habis nangis"ucap gadis itu sambil tertawa
"masa sih"ucap Mia kikuk
"sudahlah perkenalkan nama gue Siska"ucap Siska menjulurkan tangan nya ke arah Mia
"perkenalkan namaku Mia"ucap Mia menyambut tangan Siska
"Lo kenapa duduk disitu,nungguin angkutan umum ya? mana ada angkutan jam segini"ucap Siska
"sebenernya aku mau pulang kak" ucap Mia,dia memakai embel embel kak biar terlihat lebih sopan
"rumah Lo dimana?"ucap Siska
"di baverly hills"ucap Mia
"kebetulan sekali,gue juga mau kesana.yaudah sekalian ikut saja sama gue"ucap Siska menawarkan