
Sudah hampir satu bulan ini, Crysan menjauhi Ridho. Selama itu pula Ridho malah semakin gencar mendekati cewek ini. Pernah mereka berpapasan di koridor utama saat pulang sekolah tetapi, Crysan berusaha bersikap cuek dan biasa saja. Berbeda dengan Avni dan Nadya yang keheranan dengan tingkah Crysan yang berubah hampir 180°. Jika Crysan ditanya pun, cewek ini pasti akan mengalihkan pembicaraan. Seperti kali ini, Crysan dan ketiga temannya sedang duduk bersantai dengan novel yang tadi mereka cari di perpustakaan. Crysan memilih duduk agak jauh dari yang lain. Kembali pikiran cewek ini melayang entah kemana. Yang pasti Crysan tidak menyadari akan kehadiran seseorang disampingnya. Mata Crysan memang tertuju ke novel itu tapi bagi siapa saja yang melihat pasti tahu kalau cewek satu ini tengah melamun.
Cowok yang duduk disebelah Crysan ini sedikit geram karena kehadirannya sama sekali tak diindahkan oleh Crysan. Bram langsung menarik novel yang dipegang Crysan secara perlahan dan menutup novel itu. Merasa ada yang mengambil novelnya, Crysan berusaha untuk menjangkau novel itu. Terlambat, Crysan hanya menghela nafas pelan dan menyandarkan kepalanya di meja. Bram berdecak pelan dan menarik Crysan dalam pelukannya. Crysan sendiri bingung kenapa dia membiarkan cowok ini memeluk dirinya. Wajah cemberut Crysan kini sudah berubah menjadi sedikit lebih tenang dari pada sebelumnya.
" Ada masalah? Cerita kalo ada ", kata Bram tanpa melepaskan Crysan dari pelukannya. Bram tahu kalau ini perpustakaan dan dia biasa melakukan itu kepada siapa saja. Termasuk semua mantan pacarnya. Crysan hanya menggeleng pelan dan mencoba keluar dari pelukan Bram.
" Nggak kok. Kakak ngapain meluk Crysan? ", tanya Crysan kemudian saat dia berhasil menghadap ke arah Bram. Dan cowok itu malah menaikkan sebelah alisnya.
" Emang ngga boleh ya? Kan kita lagi PDKT ", ucap Bram final sambil menekankan kata PDKT.
Ya, sudah satu bulan ini mereka berdua melakukan PDKT tersebut. Lebih tepatnya hanya Bram yang berusaha mendekati Crysan. Sedangkan Crysan, tidak pernah berniat mendekat pada Bram. Kembali menatap Bram setelah tadi Crysan lama menatap sebuah lukisan karga Affandi yang terletak di sudut ruang perpustakaan ini. Bram hanya tersenyum manis ditatap sedemikian rupa oleh Crysan.
Bener omongan Ridho nih cewek susah banget dirayu. Gue peluk malah balik tanya. Batin Bram, dan kini cowok yang juga masih berteman dekat dengan Ridho itu malah membawa Crysan pergi dari perpustakaan. Mereka menuju ke parkiran mobil Wijaya Bakti. Crysan hanya pasrah dan kali ini tak ada senyuman di wajah manisnya.
" Kok kesini ngapain? ", tanya Crysan kepada Bram. Bram hanya diam dan tanpa menjawab pertanyaan Crysan, cowok itu membuka pintu mobilnya.
" Ayo masuk "
" Emang mau kemana sih kak? ", tanya Crysan lagi dengan menahan amarah yang ada dihatinya. Dengan setengah ikhlas, akhirnya Crysan masuk ke dalam Hyundai elantra putih milik Bram.
Biarin lah tasku ketinggalan di kelas.
Bram menjalankan mobilnya keluar dari sekolah. Sedangkan Crysan memilih untuk diam dan duduk manis disamping Bram. Keheningan menyelimuti mereka saat ini dan tak ada satupun dari Crysan maupun Bram yang mencoba untuk memecah keheningan tersebut. Dari balik kaca mobil, Crysan bisa melihat tetes air hujan mulai turun membasahi bumi. Sebuah senyuman terbit dari wajah Crysan. Matanya terlihat berbinar dari pada tadi saat memasuki mobil milik Bram. Bram sempat melirik cewek yang ada disampingnya itu, dan senyuman Crysan berhasil menyalur ke Bram. Kembali fokus pada jalanan yang ada didepannya, Bram tak lagi menghiraukan Crysan. Cewek itu sekarang sibuk membuat pola abstrak pada kaca mobil yang telah berembun.
Bosan dengan kegiatannya, Crysan memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak. Berharap saat terbangun nanti dia sudah berada di rumah dan bukan di dalam mobil Bram. Bukan, Crysan bukannya membenci atau tidak menyukai Bram. Tapi, cewek ini hanya malas berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Ridho, salah satunya adalah Bram. Bram menghentikan mobilnya tepat di pinggir sebuah danau. Betapa terkejutnya cowok ini saat melihat pemandangan yang dia lihat. Crysan yang tertidur dengan kedua tangannya yang digunakan sebagai sandaran pada kaca mobil. Tak ingin membangunkan Crysan, Bram akhirnya turun dan menuju ke danau itu seorang diri.
Ini emang tempat ternyaman gue. Dan Crysan satu-satunya cewek yang tahu tempat ini. Batin Bram sambil menatap lurus ke depan. Memandang pepohonan yang berbaris rapi layaknya tentara yang siap dalam medan pertempuran. Pepohonan hijau yang sangat menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya. Ada saung kecil di dekat danau itu dan saung itu menjadi tempat favorit Bram selama ini. Bukan hanya Bram yang sering mengunjungi tempat ini melainkan Ridho dan Eki juga sering kesini. Apalagi Ridho yang malah terkadang tidur di saung kecil dekat danau tersebut.
Sementara itu, seorang cowok yang selama ini sedang dekat dengan Crysan tengah melemparkan bola basket ke ring. Meluapkan segala emosinya pada ring dan bola basket tersebut. Seragamnya sudah basah kuyup akibat terguyur hujan satu jam sebelumnya. Bahkan cowok ini sama sekali tak mau mendengar teriakan yang keluar dari mulut temannya. Sedari tadi Eki sudah berteriak meminta Ridho untuk kembali ke kelas. Memang hari ini pelajaran selesai dua jam lebih awal dari jam aslinya. Beberapa siswa yang melewati Ridho sempat berkata bahwa Ridho gila tapi, cowok itu mengacuhkannya.
" Gila lo bro, dari ujan sampe terang lagi malah disini ", ucap Eki sambil menepuk bahu Ridho berkali-kali.
" Emang kenapa? ", jawab Ridho santai yang tepatnya mengarah sebagai pertanyaan untuk Eki. Dan Eki hanya mengangkat bahu.
" Kalo ada masalah cerita bro. Kita kan temen"
Ridho hanya mengangguk dan mengambil minuman kaleng yang tadi dibawa Eki. Meneguknya sampai habis dan membuang kaleng itu begitu saja. Ridho menarik nafas lama dan menghembuskannya pelan lewat mulut.
" Liat Risya nggak lo? ", tanya Ridho pelan tanpa melihat wajah Eki. Sedangkan yang ditanya malah sibuk dengan HPnya. Ridho berdecak kesal sebelum mengulang pertanyaan yang sama pada Eki. Dan kali ini Eki berhasil menjawab walaupun lewat gelengan kepalanya dan tetap fokus pada telepon pintarnya.
" Dari mau balik tadi gue juga kagak liat Bram, Dho. Malah nemuin yayang Avni bawa tasnya Crysan ", jawab Eki lagi sambil memasukkan HP nya itu ke dalam saku celananya. Melihat Ridho yang tiba-tiba berdiri, Eki lantas mengikutinya. Benar saja dugaan Eki, pasti Ridho mencari taa Crysan.
Tas coklat yang tadi dibawa oleh Avni kini tengah bertengger manis di dekat tas milik Eki. Tak ada yang istimewa dari tas itu sebenarnya, hanya saja Ridho sangat penasaran untuk membuka dan melihat isi dari tas tersebut. Membukanya perlahan da mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Seperti pada tas siswa kebanyakan, isi dari tas Crysan memang tidak menarik kecuali....
" Gue pinjem HP lo Ki, buat telpon Risya ", Eki hanya diam tak memberikan reaksi apapun. Tidak berkata iya maupun tidak. Ridho langsung saja mengambil HP milik Eki dan memencet nomor yang telah dia hafal di luar kepala. Dering pertama tidak diangkat begitu pula pada dering berikutnya. Pada saat Ridho sudah hampir putus asa, HP yang sedari tadi dia pegang bergetar. Menampilkan nomor yang tadi dia tuju. Mengangkatnya dan mendiamkan si penelepon.
" Halo, maaf ini dengan siapa ya ", tanya seseorang dari seberang. Ridho hanya diam tak berkata apa-apa.
" Halo, Assalamualaikum? "
" Halo? "
" Siapa Ris? Dari tadi cuma halo halo aja? ", itu suara Bram, Ridho hafal bahkan sangat hafal sehingga dia mudah mengetahuinya.
" Nggak tahu, mungkin salah sambung "
" Sya ini kakak "
"...."
Sekarang giliran orang di seberang yang terdiam. Seperti terlalu shock mendengar suara Ridho yang memang sangat merdu dan enak untuk didengar.
" I...iya kak. Kenapa ya? "
" Kamu dimana ? Aku jemput "
" Aku pergi sam...."
Tut...tut...tut
Ridho mematikan sambungan begitu saja dan langsung membawa tas Crysan pergi setelah mengembalikan HP Eki. Cowok ini mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke dalam SUV hitam yang sering dia pakai ke sekolah. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat dimana orang yang tengah dia pikirkan berada.
Kenapa harus Bram?
***
Setelah menelepon nomor yang asing, Crysan langsung melihat Bram yang masih berada disampingnya. Ya, tadi setelah terjaga dari tidurnya Crysan langsung turun dan menghampiri Bram. Berdiri dengan jarak satu meter dari cowok itu dan tidak mengatakan apa-apa. Bahkan saat Bram tadi bertanya tentang si penelepon, Crysan menjawabnya dengan asal. Dan kini hatinya semakin gelisah. Bagaimana tidak? Yang menelepon adalah Ridho, cowok yang hampir satu bulan mati-matian Crysan hindari.
" Malah ngelamun lagi. Kenapa sih? ", tanya Bram pelan. Crysan hanya menggeleng dan pergi begitu saja. Bram hanya diam dan membiarkannya. Toh untuk apa dia mengejar Crysan? Cewek itu akan sangat tidak peduli dengan Bram bukan ?
" Sya ", Crysan menoleh dan hampir saja melempar ranting pohon yang tadi dia ambil untuk mainan. Ridho sudah berada di sana. Di samping mobilnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Ridho berjalan mendekat dan Crysan berjalan mundur.
" Nggak usah kabur dari aku ", ucao Ridho setelah berhasil menangkap pergelangan tangan kanan Crysan dan membalikkan cewek itu agar menatapnya.
" Nggak kabur kok. Cuma mau pulang ", jawab Crysan pelan dan sedikit gugup. Ridho bisa melihat itu. Menarik cewek itu dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil pun, Crysan masih enggan untuk bertanya kepada Ridho. Masalahnya cewek ini terlalu malu, malu dengan apa yang Ridho lakukan satu bulan lalu di taman belakang. Entah itu candaan atau mungkin sungguhan, Crysan malas untuk menebak. Kini malah Ridho muncul lagi didepannya.
" Ini tas kamu ", ucap Ridho memecah kesunyian yang ada diantara mereka berdua sambil memindahkan tas milik Crysan dari kursi belakang ke pangkuan cewek itu. " Oh ya, satu lagi kalau marah sama aku harus ada alasannya. Kalau enggak ya jangan salahin aku kalau kamu akan pulang bareng aku terus sampai aku nemu alasannya sendiri kenapa dicuekin "
" Terserah ", jawab Crysan singkat, padat dan jelas. Ridho hanya tersenyum dan melajukan mobilnya menuju rumah Crysan.
Bram hanya melihat itu semua dengan diam dan tanpa ekspresi. Tetapi, secepat kilat cowok ini mengubah ekspresinya dengan senyuman licik. Mengeluarkan iphone dari saku seragamnya dan mengetikkan pesan untuk seseorang yang jauh dari pandangannya.
To : 'D'
'Ridho dkt sm cwk lain. Lo kpn blk ke Indo?'
From : 'D'
Secepatnya. Tunggu aja tgl mainnya.