Crysan

Crysan
Awkward



Tak ada satu pun dari Bram dan Ridho yang berusaha untuk menyapa satu sama lain. Situasi ini sangat disayangkan oleh banyak orang, khususnya Eki. Bram dan Ridho sama-sama murid yang cerdas. Mereka berdua selalu menduduki peringkat pertama secara bergantian. Dan sejauh itu tidak ada satu pun dari Bram maupun Ridho merasa iri atau tidak terima karena kalah peringkat. Namun, sekarang menjelang ujian nasional kedua manusia cerdas ini malah saling membisu. Pernah salah satu dari mereka berdua ( Bram-Ridho ) diminta oleh pak Yus untuk menjelaskan materi matematika bergantian, tapi tidak ada yang mau maju ke depan.


Eki diam saja melihat dua temannya yang sedang bersitegang itu. Biarkan saja nilainya nanti jelek daripada harus mendapat gertakan dari Bram atau Ridho. Eki tahu kalau dua temannya itu masih marah karena ulah Daniella yang menurut Eki dan Bram sangat salah. Ulah Daniella yang malah dibenarkan oleh Ridho. Eki menjetikkan jemarinya, sebuah ide berhasil dia dapat. Eki bangkit dari duduknya menuju ke bangku milik Tiara, cewek yang selalu menduduki peringkat tiga di kelas. Kebetulan pula, teman sebangku Tiara sedang sakit dan hari ini tidak masuk sekolah. Eki tertawa dalam hati.


" Selamat pagi semua ", sapa Bu Ambar, guru Kimia kelas dua belas. Melihat ada bangku kosong dengan tegas guru cantik itu menyuruh Bram dan Ridho untuk duduk bersama. Dua orang cerdas yang sedang bermusuhan.


Rencana pertama berhasil. Eki tertawa puas dalam hati. Membiarkan tatapan horror dari Tiara.


Selama jam pelajaran dilewati Bram dan Ridho dengan kebisuan. Bram sadar tidak seharusnya dia bersikap seperti anak SMP. Bram juga tahu kalau Ridho marah karena Bram yang menampar Daniella. Bram hanya diam, membiarkan semua masalah itu akan hanyut sendiri mengikuti waktu. Di saat seperti ini, masalah Bram bukan hanya Karin dan Helen yang akan mengganggu Crysan. Tapi, juga Yovi. Pentolan Nusa Bangsa yang dia ketahui juga tertarik pada Crysan. Bram berjanji tidak akan menjauhkan Crysan dari Yovi. Tanpa sepengtahuan Ridhi tentunya. Sudah cukup semua sandiwara yang Bram lakoni untuk menutupi permintaan Ridho dulu. Permintaan yang mengatakan bahwa Bram lebih segalanya dari Ridho. Di mana waktu itu, Ridho juga mengatakan pada Bram bahwa Ridho mencintai Crysan. Tapi, tidak pernah yakin dengan hatinya saat nanti Daniella kembali. Dan itu terbukti sekarang. Bram mendongakkan kepalanya, melihat Ridho yang baru saja menggebrak meja. Bram mengangkat sebelah alis tebalnya. Matanya terarah ke ambang pintu. Di sana ada Eki dengan Avni, di sebelah dua orang itu ada Crysan yang berdiri ragu.


Eki dan Avni menarik tangan Crysan mendekati Bram. Crysan menurut dan duduk di dekat Bram. Di bangku yang tadi tempat duduk Ridho. Crysan membuka kotak bekal yang dia peluk sejak di kelas. Isi kotak bekal itu membuat Bram ingin menghabiskannya. Bram tidak tahu kalau Crysan menahan senyumnya. Cewek ini memang sengaja menyiapkan bekal untuknya sendiri juga untuk ketiga sahabatnya. Sandwich tuna cheese dipilih Crysan untuk dia berikan sebagai bekal sarapan Bram. Eki dan Avni sudah lebih dahulu meminta jatah sandwich yang memang dijanjikan oleh Crysan ini.


" Gracias ", Crysan mengangguk pelan. Walaupun dia tidak tahu kata apa yang diucapkan Bram, tapi Crysan yakin Bram mengucapkan terima kasih. Bram dan Crysan memilih makan dalam diam berbeda dengan Eki dan Avni.


" Kalian berdua kenapa diam sih ? Jadi kayak Bram sama Ridho aja ", ucapan Eki menyadarkan Crysan akan keanehan yang tadi dia lihat. Ridho yang sengaja menggebrak meja saat melihat ada Crysan. Juga Bram yang terus membisu. Sekali lagi Crysan dibuat bingung oleh Ridho dan Bram. Crysan menggelengkan kepala. Bram tersenyum sinis mendengar penyataan Eki.


•••


Crysan dan Avni kembali ke kelas X-9 dengan tawa renyah. Membicarakan kekonyolan Eki tadi saat memakan sandwich buatan Crysan. Lebih tepatnya Avni yang membahas Eki. Crysan hanya menjadi pendengar setia dari curahan hati sahabatnya itu. Crysan dan Avni masih berbincang dengan asyiknya. Sampai kedua orang ini tidak menyadari banyak mata yang sedang mengintai. Mata milik Daniella, Karin dan Helen. Daniella memelankan langkahnya agar tidak didengar oleh Crysan. Sedangkan Karin dan Helen memilih untuk menghadang Crysan dan Avni di depan. Tawa itu berhenti. Crysan dan Avni menatap mata Karin yang sangat tajam. Wajah galak Helen dan cekalan tangan Daniella dari belakang didapat Crysan. Avni memekik kaget. Mencoba membantu Crysan melepas cengkeraman Daniella pada lengan Crysan. Nihil, Avni tidak bisa melepas cengkeraman itu. Avni yang hendak melawan, justru terdorong ke belakang.


Daniella dan Helen sudah membawa Crysan menjauh dari Karin yang tengah mengurus Avni. Kembali Daniella membawa Crysan menuju ke gudang. Tempat yang sama saat Daniella menampar Crysan dan Daniella yang mendapat tamparan dari Bram. Wajah cerah Crysan berubah layaknya kapas. Sangat pucat sama seperti orang sakit. Daniella mendudukkan Crysan kasar ke kursi. Crysan ingin memberontak, tapi percuma saja karena mulutnya terlebih dahulu disumpal kain oleh Helen. Daniella dan Helen mengikatnya di kursi itu. Tertawa puas saat melihat Crysan yang sangat pasrah.


" Dengar Crysan, dulu lo rebut perhatian kakek nenek kita. Dan sekarang lo mau rebut perhatian Ridho juga ?", Daniella menggantungkan kalimatnya. Tersenyum sinis ke arah Crysan. Mengamati wajah Crysan yang menurutnya sangat biasa saja. Tidak ada keistimewaan yang lebih dari Crysan. " Jangan harap Ris. Lo nggak akan dapetin Ridho. Juga Bram ? Big No, gue nggak akan biarin pacar teman gue...lo rebut "


Crysan menggelengkan kepalanya. Mencoba membantah apa yang diucapkan Daniella. Sayangnya, Crysan gagal. Dia ingin bicara tapi tidak jelas karena sumpalan kain itu. Daniella dan Helen yang melihat keadaan Crysan hanya tertawa jahat. Tak ada niatan untuk membebaskan Crysan. Mereka justru pergi meninggalkan Crysan dengan melambaikan tangannya. Mengunci pintu gudang. Meninggalkan Crysan dalam kegelapan dan merasakan sesaknya gudang itu. Crysan lelah memberontak.


•••


" Kak Bram. Huh, syukurlah ketemu ", Avni dan Nadya berhenti berlari ketika melihat Bram di dekat mobilnya. Sedang berbicara serius dengan Eki.


" Kalian kenapa lari-lari sih ? Lagi ada lomba ya ?", Bram memutar matanya malas. Wajah Avni dan Nadya sangat serius tapi Eki malah melempar lelucon garing.


" Ada apa ? ", Jawab Bram santai. Bram tahu kalau Ridho tengah memperhatikannya.


" It-itu...an-anu...kak. Crysan...nggak ada... "


" Kalau kasih info yang serius Nad ", kesal Eki melihat Nadya yang masih berusaha mengatur nafasnya. Ucapan Eki semakin menambah rasa kesal. Nadya. Nadya lantas menyenggol lengan Avni. Menyuruh Avni untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Crysan. Dan mengalirlah cerita itu. Bram dan Avni sudah berjalan menuju gudang. Sepi. Tak ada satu pun orang yang berkeliaran di gudang itu. Sedangkan Eki, Nadya dan Daus menunggu di koridor utama. Mengawasi gerak gerik Daniella yang sewaktu-waktu akan lewat.


" Lo bener kan, Crysan ada di dalam ?", Avnj mengangguk mantap. Tadi, dia sempat melihat Crysan dibawa Daniella ke gudang setelah Avni terbebas dari makian Karin.


Ridho harus lihat kelakuan orang yang dia sayang itu. Batin Bram, berjalan meninggalkan gudang Crysan dengan Crysan digendongannya. Avni siap siaga membawakan tas sekolah Crysan. Eki yang melihat Bram langsung membuka pintu mobip Bram.


" Ki, lo tahan Ridho di sini. Av, lo ikut gue ke rumah Crysan. Daus sama Nadya pulang nggak apa-apa ", perintah Bram pada semua orang yang ada didekatnya. Mereka menyetujui omongan Bram lewat isyarat mata. " Nanti, gue balik kesini lagi Ki "


Di perjalanan setelah mengantar Crysan pulang, Bram merasa gelisah. Dia terlalu bingung dengan semua hal yang dilakukan Daniella. Tentang Daniella yang berubah dan maksud Daniella saat mengatakan kalau cewek itu membenci Crysan. Bram tanpa sengaja mendengar kata benci itu, bahkan Daniella menyebut Crysan merebut perhatian keluarga besarnya. Mengatakan kalau Crysan anak pungut. Ketukan di kaca mobil Bram, menyadarkan cowok itu kalau dia sudah kembali di parkiran sekolah. Eki dengan senyuman anehnya sudah menyambut Bram. Tak jauh dari Eki, Ridho tengah berdiri dengan sombongnya. Melihat Bram yang berjalan bagaikan mayat hidup.


Bug


Satu pukulan Bram berikan di wajah tampan Ridho.


Bug


Pukulan kedua tepat pada bagian perut Ridho.


Bug


Terakhir, Bram memberikan pukulan itu di rahang Ridho. Eki hanya diam menyaksikan kedua temannya sedang berkelahi. Pak satpam yang tadi penasaran, bersiap untuk melerai Bram yang memukuli Ridho. Pak satpam maju selangkah namun dihentikan oleh Eki.


" MAU LO ITU APA, DHO ? MANA DANIELLA. JANGAN LO LINDUNGI RUBAH ITU ", Ridho tahu Bram sedang diliputi oleh amarah. Oleh sebba itu, dia memilih diam tidak membalas pukulan Bram tadi.


" Gue sayang sama Crysan, Dho. Begitu juga lo, apa lo nggak bisa lihat kalau Crysan...aarrgghh "


" Ap- uhuk uhuk, apa yang Dee lakuin ke Risya "


Bram tersenyum sinis. Tak menyangka Ridho mau bertanya padanya. " Crysan hampir mati karena ulah pacar lo, berengsek ", jari telunjuk Bram mengarah tepat di depan wajah Ridho.


" Gue mohon Dho, mohon banget lo bilang ke Daniella jangan ganggu Crysan. Suruh dia fokus sama ujian kita ", Bram mengacak rambutnya frustasi. Dilihatnya kembali wajah Ridho. " Satu lagi, kalau dia berbuat macam-macam sama Crysan. Gue juga akan lakuin hal yang sama ke Daniella "


Bram berbalik meninggalkan Ridho. Cowok ini berhenti di depan Eki dan pak satpam. Menyuruh kedua orang itu untuk membubarkan diri.


" Bram. Gue titip Risya sama lo ", lirih Ridho yang masih bisa didengar oleh Bram.


" Dengan senang hati ", jawab Bram tak kalah lirihnya.


Setelah ini hubungan pertemanan kita akan hancur Bram. Ridho hanya bisa mmengucapkan kalimat itu dalan hati sambil memandang kepergian Bram dan Eki. Dua sahabatnya yang sangat dia sayang.