Crysan

Crysan
Karena Bus



Seperti pagi-pagi sebelumnya, Crysan selalu siap pada pukul 5 pagi. Siap disini adalah siap dari bangun tidurnya. Setelah melakukan ibadahnya sebagai umat muslim, Crysan langsung mandi dan dia menyudahi mandinya di menit ke lima belas. Mau tahu alasannya? Dia tidak mau terlambat datang ke sekolah dan menyiapkan ide agar ikebana yang dia buat menjadi cantik. Selesai dengan semua keperluan yang dibutuhkan, Crysan langsung turun ke bawah dan sarapan seperti biasa. Crysan sebenarnya bingung karena tidak melihat sang ayah yang biasanya sudah membaca koran, tapi kali ini ayahnya tidak ada di tempat duduknya.


" Ayah kemana sih buk? ", tanya Crysan kepada ibunya setelah ibunya itu duduk disebelahnya.


" Tadi sudah berangkat. Ada urusan penting katanya ", jawab Farra dengan tangan yang masih memegang teko dan gelas.


" Kamu nanti berangkat naik bus aja ya Ris. Ibu tambahin uang sakunya ", lanjut Farra yang kali ini sudah mengangsurkan gelas berisi susu kepada Crysan.


Seperti biasa pula, kalau terpaksa pasti Crysan hanya akan mengangguk tanda 'IYA'. Selesai sarapan pula, Crysan langsung berangkat menuju ke halte yang jaraknya bisa ditempuh lima belas menit dari rumah Crysan. Cukup jauh memang, tapi gadis ini sudah terbiasa dengan itu semua. Sampai di halte Crysan melihat banyak orang pula yang ternyata menunggu bus seperti dirinya. Terpaksa lagi Crysan menunggu bus agak lama karena sejak tadi bus yang jurusan ke sekolahnya selalu penuh oleh penumpang yang arahnya juga kesana. Alhasil disinilah Crysan, di halte bus dengan seorang ibu-ibu dengan bayi lima bulan.


" Aduh, ini busnya mana sih? Ini udah jam 6.45 kok belum ada lagi sih? ", gerutu Crysan yang masih bisa didengar oleh ibu-ibu tadi.


Seiring dengan jarum panjang yang ada di jam tangannya berputar, Crysan sudah mengganti kata-katanya menjadi lebih memelas lagi agar bus yang dia tunggu datang. Hari yang sungguh tidak bersahabat dengan Crysan pagi ini.


Deg...Deg...Deg


Crysan menepuk jidatnya, " Aku kan ada lomba ikebana jam tujuh nanti. Ya Allah ", khawatir dengan bus yang tadi melanda Crysan kini berubah dengan khawatir akan lombanya.


Pukul 7.15, Crysan baru sampai di sekolahnya setelah tadi bus yang dia tunggu datang pukul tujuh kurang lima menit. Itu pula supir bus harus berlaju agak cepat karena dipaksa oleh beberapa siswa Wijaya Bakti yang ternyata juga terlambat. Gadis ini juga beberapa siswa langsung dihadapkan langsung dengan sakah satu guru tergalak di sekolah tersebut. Ya, guru itu adalah Bu Zulfa ditemani oleh pak satpam baik hati disebelahnya. Setelah gerbang dibuka dan semua murid yang terlambat di beri izin untuk masuk, semuanya langsung disuruh lari keliling lapangan. Motto Crysan yang tadinya 'Jangan sampai telat masuk sekolah juga berhadapan dengan guru piket' pupus sudah sekarang. Memang keberuntungan sedang menjauhi gadis ini. Setelah berlari lima kali keliling lapangan kecil dekat pos satpam, semua murid ikut dengan Pak Toyib, sedangkan Crysan harus mengikuti Bu Zulfa.


" Duduk dulu. Saya tinggal sebentar saya mau ambil kertas izin masuk untuk kelas sepuluh ", ucap Bu Zulfa sambil tersenyum singkat dengan Crysan.


Gadis ini hanya mengangguk takut kalau ada masalah lagi. Kembali gadis ini wajahnya, memilih untuk menikmati indahnya keramik coklat di ruang BK sekolah itu. Menunggu cukup lama, Crysan tersiap karena seseorang sudah membuka pintu yang tadi tertutup walaupun tidak begitu rapat. Crysan lebih memilih berdiam diri tanpa perlu repot untuk membuka pintu.


Kok kurus sih? Tadi kan gendut. Tanya Crysan dalam hati karena melihat bayangan yang seharusnya gemuk menjadi kecil.


Ya, Bu Zulfa memang sedikit gemuk dan agak pendek. Dari bayangan itu pula, Crysan bisa melihat kalau itu adalah laki-laki. Tingginya sekitar 173 kalau dalam perkiraan gadis ini. Merasa diawasi, Crysan langsjng menolehkan kepalanya ke arah bayangan tadi. Hampir saja Crysan menjerit karena kaget, bayangan itu bukan orang jahat melainkan siswa Wijaya Bakti karena dia memakai seragam putih abu-abu dan memeliki logo Wijaya Bakti. Cowok tadi hanya tersenyum pada Crysan yang tertangkap basah sedang menatapnya. Malu dengan tingkahnya, Crysan langsung kembali menunduk tidak berani memandang wajah cowok tadi lebih lama lagi.


" Bu Zulfa kemana ya dek? Dia ada kan atau ada guru piket yang lain disini? ", tanya cowok tadi dan Crysan membiarkan pertanyaan itu begitu saja. Crysan tahu betul siapa cowok yang sedang berbicara dengannya itu. Dia salah satu murid berprestasi juga murid yang suka tawuran di Wijaya Bakti.


" Eh, itu kak, bu guru yang rambutnya pendek terus gendut lagi keluar ", jawab Crysan singkat dan mendapat senyum dari cowok tadi. Crysan sendiri bingung kenapa cowok yang ada didepannya itu malah tersenyum. Menurut Crysan, jawaban yang dia berikan memang sesuai fakta bukan ?


" Sstt, kamu ngomongnya jangan gitu. Nanti orangnya dengar bisa ditelan kamu " Bisik cowok tadi di telinga Crysan. Membuat cewek itu sedikit merinding.


Tak lama kemudian guru galak yang menjadi topik pembicaraan Crysan dan kakak kelasnya itu datang dengan setumpuk kertas surat izin masuk ditangannya. Zulfa, guru itu terkejut melihat siswa laki-laki yang sudah sering bahkan selalu berurusan dengannya ada di ruangan itu.


" Kamu namanya siapa dan kelas berapa? ", tanya Bu Zulfa yang sebenarnya tertuju pada Crysan.


" Lah, ibu pikun ya? Lupa bu sama murid tampan yang satu ini? ", jawab cowok tadk yang langsung ditertawakan oleh Crysan dalam hati.


" Saya Ridho kelas XII IPS-1. Gitu aja lupa ", jawab cowok tadi yang bisa diketahui Crysan namanya.


Ridho. Nama yang bagus. Ucap Crysan dalam hati.


Melihat tingkah ajaib Ridho yang sudah terbiasa dihadapi oleh guru itu, Bu Zulfa hanya bisa terdiam. Speechless. Kembali mengajukan pertanyaan tapi dengan menekankan kata 'Yang cewek ya Ridho'.


" Saya Crysan bu. Emh, Crysan Parisya. Kelas X-9 ", Zulfa hanya mengangguk dan terus menulis di kertas milik Crysan. Tentu saja dengan membatin nama muridnya itu.


" Nama kamu susah juga ya, tapi bagus. Enak di dengar. Ya sudah kamu ke kelas ", ucap guru satu itu sambil memberikan secarik kecil kertas warna biru kepada Crysan.


Setelah mendapat kertas, Crysan langsung melangkah keluar dan saat tatapannya berpapasan dengan cowok tadi dia hanya tersenyum. Wajah Crysan yang tadinya mendung kini langsung berubah cerah secerah awan di langit.


" Kamu masih disini Ridho ", lanjut Bu Zulfa setelah memastikan Crysan keluar dari ruangannya. Dan itu langsung mendapat cibiran khas Ridho.


" Kamu kemana aja sih Ris? Dicariin anak-anak tahu nggak? ", tanya Avni ke Crysan dan langsung menarik tangan Crysan menuju tempat lomba ikebana tanpa memberikan Crysan waktu untuk istirahat sejenak.


" Tadi ditelpon sama Daus juga nggak bisa. Nadya juga sms kamu sampai dua puluh kali ", lagi Avni masih memarahi Crysan secara halus.


Sampai di arena lomba, Crysan, Avni, Firdaus atau Daus dan juga Nadya langsung membagi tugas masing-masing. Tugas merangkai seluruhnya diserahkan kepada Crysan dan Nadya. Sedangkan Daus memotong kawat yang akan digunakan. Avni sibuk dengan bunga yang dia potong. Ada dua lomba disini yaitu ikebana atau rangkai bunga khas Jepang dan juga merangkai bunga di vas kecil untuk meja tamu. Crysan bersusah payah mengeluarkan ide ikebana yang dia miliki dan sempat dia pelajari sebelumnya. Mau tahu dari siapa Crysan bisa merangkai bunga? Dari Farra, ibu sambungnya.


" Yeay selesai juga akhirnya ", teriak keempat orang itu dan terkagum melihat hasil karya mereka.


Yang menilai lomba ikebana adalah Bu Zulfa yang saat menilai tersenyum pada Crysan. Ada juga Pak Iman, Miss Diana dan dua orang anggota OSIS yaitu Salwa dan Thalita. Puas menilai semua juri tadi langsung meninggalkan tempat lomba ikebana. Crysan dan ketiga temannya langsung berbaur dengan teman-temannya yang lain. Mereka memilih untuk mendukung teman-teman yang sedang lomba tarik tambang. Selesai dengan menyemangati teman-temannya, Crysan langsung menyeret Avni, Daus, dan Nadya menuju ke kantin dan menceritakan semua yang dialaminya pagi tadi.


" Serius Ris? Kamu nggak bohong kan? Dia ganteng apa kagak? ", pertanyaan polos Nadya yang langsung mendapat cubitan di lengannya dari Firdaus juga Avni.


" Gimana ya? Ganteng sih. Hehe ", jawab Crysan akhirnya.


Iya yang tadi itu ganteng. Hehe


" Nad, kalau lo mau lihat langsung kayaknya bisa deh. Tuh orangnya ", ucap Daus dengan jari telunjuk yang mengarah pada Ridho.


Mereka bertiga sempat tertegun karena Ridho dan salah satu temannya menghampiri meja mereka. Crysan, satu-satunya orang yang hanya bersikap biasa saja melihat Ridho dan lebih memilih memakan siomay yang tadi dia pesan.


" Hai, boleh gabung? ", tanya Ridho yang langsung duduk di sebelah Crysan tanpa menunggu jawaban dari orang yang sedang duduk tersebut.


Hal itu juga langsung dilakukan oleh teman Ridho yang mengambil tempat duduk disebelah Avni yang berhadapan dengan Crysan.


" Nama kamu siapa tadi? ", tanya Ridho mengkonfirmasi nama Crysan tadi di ruang BK.


Crysan langsung menoleh ke kanan, ke arah Ridho dan menatap mata hitam cowok itu. Terdiam sebentar memikirkan jawaban yang akan diberikan untuk Ridho sebelum akhirnya cewek manis ini menarik nafas dan menghembuskan pelan. Memberikan senyum manis pada Ridho dan langsung menjawan pertanyaan dari cowok tadi.


" Nama saya Crysan, kak. Crysan Parisya. Aneh ya? Aku juga merasa seperti itu ", jawab Crysan dan langsung berpindah pandangan kepada siomay yang baru dia makan setengahnya.


Ridho hanya tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. Tanpa melepas pandangan dari Crysan, Ridho memilih diam dan menikmati Crysan memakan siomay.


" Menurut aku itu aneh ", ucap teman Ridho yang sedari tadi memperhatikan Ridho dengan segala tingkah laku anehnya.


" Nggak kok, malah unik menurutku aku. Oh, ya kenalin aku Ardana Ridho. Kalau itu Eki Alditama ", ucap Ridho mengenalkan dirinya juga Eki.


Keduanya saling melempar senyum manis sebelum Bu Zulfa datang mendekat dan berdiri di belakang Ridho. Eki yang mencoba memberi isyarat tak kasat mata kepada Ridho hanya dianggap angin lalu oleh cowok itu.


" Tadi saya menyuruh kamu ke kantin ya Ridho? ", merasa namanya dipanggil Ridho langsung menoleh dan tersenyum kikuk mendengar pertanyaan gurunya.


Cowok itu hanya meringis dan menggeleng. Belum sempat menjawab, Ridho sudah dihadiahi pukulan penggaris kayu yang selalu dibawa Bu Zulfa. Kejadian itu juga disaksikan oleh Crysan dan semua yang ada di kantin.


" Aduh bu sakit. Saya kan capek bu, kemarin habis penelitian. Galak amat sih, nanti keriputnya tambah lho bu ", ucap Ridho dan langsung mendapat wajah Bu Zulfa yang semakin garang.


" Saya tahu kemarin kamu penelitian dapag tugas dari Pak Hamid. Saya juga tahu kalau marah, keriput saya nanti tambah. Memangnya saya sudah keriputan ya Ridho? Halah sudahlah. Ikut saya ke perpustakaan susun buku disana!!!", ucap Bu Zulfa menaikkan ssatu oktaf suaranya dan langsung menarik Ridho.


Ridho hanya tersenyum tanpa rasa malu sama sekalipun, " Kamu Paris, jangan main sama ini anak. Susah diatur ", lanjut Bu Zulfa sebelum benar-benar pergi dari hadapan semua orang menuju perpustakaan.


Dan mereka semua hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi Eki yang sudah menahan tawa dan akhirnya tertawa lepas sampai hampir menangis. Juga tatapan horror dari Crysan, Avni, Daus, dan Nadya.