
" *Pulang bareng gue? ", tanya Bram cepat dan menatap Crysan seolah menilai dari atas sampai bawah. Crysan hanya diam tak menjawab.
" Sya, sorry lama. Pulang sekarang ?", tanya Ridho setelah berada dekat dengan Bram juga Crysan.
" Emh...aku pulang bareng sama*... "
•••
" Kak, sorry aku mau pulang sama Avni aja deh ya ", jawab Crysan setenang mungkin dan tidak ingin memancing keributan antara kedua cowok yang ada didepannya ini.
Sungguh kebetulan yang sangat menguntungkan untuk Crysan. Avni lewat disampingnya dan sempat menyapa cewek ini. Ridho yang mencium adanya hal lain dari perkataan Crysan hanya menatap sinis pada Avni. Bahkan cowok ini masih sempat menatap Avni layaknya seekor elang. Tak lupa Ridho mengusir Avni secara halus lewat dagunya. Dan Avni dengan patuhnya langsung pergi. Crysan berlari menyusul Avni yang hampir sampai di gerbang sekolah. Crysan menepuk pundak Avni pelan sambil tersenyum. Sedangkan Avni, malah menepuk dahinya pelan. Ridho dan Bram yang membiarkan Crysan menyusul Avni hanya diam pada posisi masing masing.
Bram menoleh ke arah Ridho, melihat cowok yang berstatus sebagai temannya ini dengan tatapan sinis. Kemudian dia berjalan menjauhi Ridho dan mendekat ke arah Crysan. Ridho pun melakukan hal yang sama. Bedanya, Ridho lebih tenang dibandingkan Bram saat mendekati Crysan. Keduanya sampa pi di dekat Crysan hampir bersamaan. Avni yang melihat Ridho langsung pergi menuju halte bus yang dekat dengan SMA Wijaya Bakti. Saat Crysan ingin melakukan hal yang sama, tangannya lagi lagi dicekal oleh orang. Melepas tangannya pelan, Crysan lantas menengok ke belakang. Melihat sumber masalahnya kali ini. Bukan Bram, melainkan Ridho yang mencekalnya. Bram terlihat di dekat Ridho dan diam tanpa ekspresi.
" Kan udah aku bilang pulangnya sama aku aja. Risya, sayang!? ", ucap Ridho penuh penekanan di setiap katanya. Terutama saat mengucapkan kata 'sayang'. Crysan hanya memandang Ridho, meminta belaa kasihan pada cowok itu agar mau membiarkan Crysan pulang sendiri. Ridho lalu menggeleng dan menarik Crysan menuju mobilnya.
" Stop, please. Aku pulang sendiri aja ya? Ntar jadinya fitnah lagi ", jawab Crysan setengah memelas dan sedetik kemudian berubah menjadi sinis. " Bukannya, kakak yang bilang harus ati-ati. Aku kan nggak mau deket sama kakak. Jangan-jangan kalian berdua punya motif lain selain ngajak aku pulang ", lanjut Crysan dengan jari telunjuk yang mengarah pada Ridho juga Bram secara bergantian. Bram hanya mengangkat sebelah alisnya. Ridho diam dan memilih memutar bola matanya ke segala arah.
" Nggak. Sumpah, percaya deh sama kakak Sya ", jawab Ridho masih dengan tatapan ke arah lain. Crysan hanya melirik orang yang ada didepannya. Dia bisa merasakan ketulusan dari jawaban Ridho. Crysan ingin menggeleng tapi sama saja kalau dia menggeleng akan ada orang lain yang tersenyum. Senyuman iblis milik seorang Brahmana.
" Kakak berdua kenapa sih? ", tanya Crysan pasrah dengan nanti yang akan terjadi padanya.
" Kenapa apanya sih cantik? ", Bram yang tadi diam, akhirnya angkat bicara. Diamnya Bram sebenarnya hanya alibi semata. Dari tadi Bram melihat ekspresi Ridho dalam menghadapi Crysan.
" Kalo mau PDKT itu satu orang aja. Jangan berduaan kayak gini. Atau kalo nggak kakak berdua aja yang jadian ", setelah berkata demikian, Crysan langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Keceplosan aku. ****** Ris. Batin Crysan dan sekarang dia membuang pandangannya dari dua cowok yang ada didepannya.
" Jiahahahaha, ngarep banget kamu ", jawab Ridho dengan tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di pendengaran Crysan. " Oke lupakan, so? With me or with him? ", ucap Ridho sambil mengarahkan dagunya menunjuk Bram.
" Terserah deh ", jawab Crysan pasrah. Dia juga pasrah saat Ridho menarik tangannya menuju mobil SUV cowok itu.
Mau main secara terang-terangan Ridho ? Oke. Batin Bram lalu pergi menuju ke mobilnya sendiri. Masuk ke dalam mobilnya, Bram mencengkeram kemudi mobilnya.
Crysan bakal jadi milik gue Ridho. Tunggu aja waktunya. Lanjut Bram dalam hati sebelum melajukan mobilnya keluar dari sekolah.
***
Satu hal yang tidak diinginkan Crysan kalau pulang dengan Ridho yaitu mampir kemana saja. Entah itu cafe atau toko buku. Seperti saat ini, Ridho menghentikan mobilnya di toko pernak-pernik. Ridho membuka pintu kemudi lalu seperti biasa cowok ini akan membukakan pintu untuk Crysan. Berbeda saat cowok ini pergi dengan cewek lain yang pernah mencoba dekat dengannya. Termasuk...
Ridho menggandeng tangan Crysan memasuki toko tersebut. Ada banyak souvenir dan pernak-pernik cantik lainnya. Mata Crysan asyik menjelajahi isi dari toko tersebut. Crysan tak ingin bertanya pada Ridho. Dia lebih suka menunggu Ridho untuk menjelaskan maksudnya mengajak Crysan ke tempat ini. Keduanya terhenti pada deretan rak yang berisi vas-vas bunga. Semua terlihat unik di mata Crysan. Cewek ini tersenyum singkat dan melepaskan diri dari gandengan Ridho. Berjalan menyusuri rak-rak tersebut. Dia terhenti pada suatu titik dimana di sana berisi toples yang cukup unik.
" Dicari kok malah disini sih? ", ucap Ridho mengagetkan Crysan. Crysan yang tadi ingin menyentuh salah satu toples akhirnya terhenti. Cewek ini membiarkan tangannya menggantung di udara.
" Aku butuh pencerahan disini. Bukannya nemenin kamu cari barang ", lanjut Ridho. Crysan memutar bola matanya malas.
" Kakak mah aneh cari pencerahan kok sama aku. Harusnya tuh sama pak ustad ", Ridho hanya tersenyum geli mendengar jawaban Crysan belum lagi muka kesal cewek itu. Cowok satu ini langsung menarik tangan Crysan dan menuju deretan lain.
" Mau cari kado ", Crysan mengernyitkan dahi sekaligus bingung dengan ucapan Ridho.
Kado untuk siapa coba? Crysan hanya diam dan bisa mengutarakan semua kalimatnya di dalam hati.
" Kalau buat ibu-ibu enaknya dikasih apa ya Sya? ", Ridho dengan cepat menoleh ke belakang. Memastikan kalau Crysan mendengar semua yang dia katakan. Crysan sibuk memikirkan benda yang dimaksud Ridho. Bukan berarti tadi dia menganggap kalimat yang keluar dari mulut Ridho sebagai angin lalu.
" Emang buat siapa sih ? Jangan bilang kakak suka tante-tante? ", Crysan bergumam dan tidak berani menatap Ridho. Cewek ini tahu kalau Ridho tengah tersenyum geli.
" Bukan buat tante-tante genit kayak yang ada dipikiranmu. Tapi, buat mamaku, sayang ", mata Crysan terbelalak mendengar kata terakhir Ridho. Sekali lagi Crysan mencoba berpikir tentang hadiah yang cocok untuk mama Ridho. Cewek ini mengesampingkan kata terakhir Ridho.
" Lisa ", jawab Ridho cepat dan tak sabar menunggu Crysan memilihkan hadiah untuk mamanya itu.
" Iya itu, tante Lisa suka sama apa? Maksudku benda apa gitu? ", Crysan balik bertanya pada Ridho. Cowok itu juga berpikir sejenak sebelum tersenyum simpul.
" Bantuin milih syal ya, sayangku ", ucap Ridho kemudian dan menarik Crysan keluar dari toko tersebut. Pindah menuju toko yang ada disebelahnya. Sebuah toko bernuansa vintage classic.
" Sekarang yang bagus yang mana? ", ucap Ridho to the point. Crysan mengamati dua syal yang ditunjukkan Ridho. Dengan senyum sumringah, Crysan menunjuk syal warna putih dengan motif sederhana tetapi terlihat elegant.
Ridho langsung bergegas membayar syal tersebut. Saat keduanya keluar dari toko tersebut, hujan turun dengan lebatnya. Wajah manis Crysan kini dihiasi dengan kekecewaan yang sangat kentara diwajahnya. Ridho bisa melihat itu. Dia juga tahu kalau cewek yang berada disampingnya ini sangat menyukai hujan. Moment seperti ini sangat disayangkan oleh Crysan. Pasalnya cewek ini lebih menyukai hujan dari gerimisnya terlebih dahulu.
" Sya, mumpung ada disini. Mampir ke rumah kakak dulu yuk ", tawar Ridho tanpa menunggu persetujuan dari Crysan. Cowok itu melepas jaketnya dan menggunakan jaket itu sebagai pelindung untuknya juga Crysan.
" Mama kakak nggak di rumah ya? ", tanya Crysan pelan dengan mata yang terus berkeliaran mengamati seisi rumah.
" Ada paling lagi di ruang baca ", jawab Ridho tampak cuek dengan pertanyaan Crysan. " Oh, ya, nanti kalo udah reda hujannya. Ikut kakak ke suatu tempat ya? ", Ridho langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dua puluh menit Crysan menunggu, dia tidak melihat tanda-tanda kehidupan lain di rumah megah itu. Cewek ini memutuskan untuk mengeluarkan novel dari dalam tasnya. Membaca novel tersebut sampai tidak sadar akan kehadiran Ridho. Ridho kembali dengan sebuah box warna merah maroon. Duduk di sebelah Crysan dan meletakkan box tersebut di pangkuan Crysan. Cewek itu lantas menurunkan novelnya dan melihat Ridho bergantian dengan box tadi.
" Maksudnya sama kotak ini? ", tanya Crysan penasaran dan Ridho hanya diam.
Tangan Ridho dengan lincahnya membuka box maroon itu. Mengeluarkan isinya dan menunjukkan apa yang tadi tersembunyi di balik box tersebut. Crysan sempat terperangah dengan apa yang dia lihat. Sebuah dress model vintage berwarna putih. Crysan memandang dress tersebut dengan tatapan kagum. Ridho hanya menyaksikan apa yang ada di hadapan dengan diam.
" Karena hujannya sudah reda. Sekarang tuan putri ganti sergamnya dengan dress ini ", Crysan mengangguk dan mengikuti Ridho ke kamar cowok itu. Crysan sempat heran kenapa Ridho bisa memiliki dress itu dan juga ukurannya sangat pas di tubuh Crysan. Jangan lupakan wedges berwarna keemasan yang sekarang menghiasi kaki Crysan dengan indah. Seragam cewek ini pun juga sudah berpindah ke dalam box menggantikan dress yang sedang dia pakai.
" Sya, kamu bisa dandan sendiri kan? Nggak usah menor, kayak biasanya aja ", ucap Ridho tepat di belakang Crysan. " Kayak kalo kamu sekolah itu aja dandannya. Itu ada peralatan make up. Aku suruh mbak Susi sama Avni beli kemarin sesuai karakter kamu "
Crysan hanya mengangguk dan mulai memoleskan pelembap juga bedak bayi tabur ke wajahnya. Sedikit sentuhan lip balm. Rambutnya dia kepang sebagian di belakang. Ridho yang sudah kembali, sampai tak dapat mengatupkan kedua bibirnya melihat Crysan. Ridho kembali dengan celana jeans hitam juga kaos warna biru langit. Cowok ini juga tidak melupakan jaket hitam yang selalu dia bawa setiap saat.
Ridho melajukan mobil kelleners sport nya ke tempat yang Crysan sendiri tahu bahwa suatu saat setiap manusia akan menghuninya. Ridho membawanya ke pemakaman umum yang terletak tak jauh dari perumahan elite dimana Ridho tinggal. Keduanya turun dari mobil dan Crysan mengikuti langkah lebar Ridho menuju ke warung kecil yang menjual bunga. Rangkaian bunga sedap malam menjadi pilihan Ridho.
" Kak, kalo tau gini kan tadi aku pakai seragam aja. Nggak usah pakai dress "
Ridho diam dan terus berjalan menuju ke sebuah makam. Setelah sampai, Ridho berjongkok di samping makam tersebut. Crysan pun melakukan hal yang sama. Setelah Ridho meletakkan bunga yanh dibawanya, kini dia memimpin doa untuk seseorang yang sudah terbaring tenang dalam tidur panjangnya. Orang yang sangat disayangi Ridho sewaktu hidupnya. Orang yanh dianggap Ridho seperti ibunya. Selesai membacakan yasin dan tahlil, Ridho lalu menatap Crysan. Cewek itu masih setia memandang nama yang tertera di sana. Dari dia ikut Ridho berdoa sampai selesai, dia tidak mendapat petunjuk dari semuanya.
" Dulu beliau wanita yang cantik ", ucap Ridho sambil mengusap nama itu. " Dress itu dulu dikasih beliau. Beliau bilang, aku harus kasih ke orang yang tepat. Dan orang itu kamu, Sya. Kalau urusan sandal yang kamu pakai, aku tanya ibu kamu ", Crysan kemudian tersenyum mendengar penjelasan Ridho.
" Pasti beliau perempuan yang hebat ya? Sampai berpesan seperti itu ke kakak ", jawab Crysan dan mengundang senyum bangga di wajah Ridho.
" Iya beliau hebat. Tante dari pihak mama. Tante yang palinh hebat ",Crysan ikut mengusap nama itu. Nama yang sepertinya sangat berarti untuk Ridho.
**LUSIANA ARUNDATI
binti
Suryadi
lahir : 17 Desember 1979
wafat : 6 Juni 2006**
Crysan ingin menangis, tapi dia bisa menahannya. Awalnya memang dia tidak ingin terjebak dengan keadaan seperti ini. Namun, sekarang dia sadar bahwa Ridho sangat menyayangi orang lain. Dan orang itu adalah tantenya.
Sepertinya aku mulai menyukai keadaan yang sering mnejebakku dengan Kak Ridho. Banyak pelajaran yang bisa aku dapat dari dia. Tentang kasih sayang dan cinta yang sesungguhnya.
" Jadi kangen ke makam Bunda ", kata Crysan pelan sebelum bangkit dan menggandeng lengan kiri Ridho.