
Selama jam pelajaran berlangsung, Ridho bagaikan patung. Dia tidak terlihat seperti manusia. Hanya raganya saja yang ada di kelas, sedang nyawanya entah kemana. Eki yang tadi sibuk memperhatikan penjelasan guru, kini terfokus pada Ridho. Sungguh Eki kasihan pada sahabatnya ini. Ridho si arca batu yang menantikan pembeli untuk membawanya pulang. Memajangnya sebagai hiasan taman atau ruang tamu. Dari raut wajahnya, Eki dapat menyimpulkan kalau temannya ini sedang galau. Terkekeh pelan sebelum memukul Ridho dengan penggaris ditangannya. Menyadarkan agar cowok itu fokus pada pelajaran. Gelisah, sedih, kecewa, dan cemburu nampak jelas di wajah tampan Ridho. Tapi, yang paling mendominasi ialah rasa kehipangan yang amat besar. Ridho bingung dengan dirinya yang plin-plan. Selama ini dia menginginkan Daniella, sedang sekarang hatinya berkhianat. Berkhianat dengan menginginkan Crysan menjadi teman dekatnya. Ridho sadar Crysan memang bukan seseorang yang penting. Tapi itu dulu, bukan saat ini.
Dia bertemu Crysan karena kebetulan. Karena sebuah keterlambatan. Mereka bertatapan tanpa sengaja. Menjalin komunikasi seadanya dengan membahas Bu Zulfa. Kemudian saling melempar senyum. Senyum manis Crysan yang menampilkan dua lesung pipit manisnya. Menatap mata Crysan yang indah. Sepasang mata dengan warna madu yang sangat indah. Membuat semua orang ingin menatap mata itu terus menerus. Mungkinkah aku yang berlebihan? Dengan menganggapnya sama seperti Daniella. Batin Ridho dalam hati sebelum dia geleng-geleng kepala. Menghilangkan bayangan Crysan dan Daniella yang bergantian datang dalam pikiran Ridho. Eki kembali terkekeh, membiarkan Ridho sadar sendiri dari lamunannya tanpa bantuan Eki.
Bel berbunyi, Ridho masih bertahan di tempat duduknya. Eki sudah bangkit dan menepuk pundak Bram pelan sebelum pergi meninggalkan kelas. Meninggalkan Ridho yang menyembunyikan wajahnya pada lipata tangan cowok itu. Beberapa teman sekelas Ridho sempat bingung. Begitu pun dengan Daniella yang langsung menghampiri Ridho. Mencoba mendorong pelan bahu Ridho. Bermaksud agar cowok itu mau melihatnya. Nihil, semua yang dilakukan Daniella tidak ada hasilnya. Eki dan Bram yang melihat tindakan Daniella dari balik kaca jendela hanya tertawa pelan. Mereka berdua ( Eki dan Bram ) sudah tahu sikap juga sifat Ridho. Apabila Ridho sedang terpuruk seperti ini maka Eki juga Bram akan pergi. Percuma saja kalau bertanya dengan Ridho, pasti akan terkena amarah dan juga makian dari cowok itu.
" Ridho, ayo dong bangun. Jangan tidur di kelas Ridho. Kamu kan harus antar aku pulang", Daniella masih berusaha membangunkan Ridho. Dia menarik pelan lengan seragam Ridho. " Ck. Bodoh ah, aku pulang ", putus Daniella. Ridho bisa mendengar itu.
Eki menghentikan langkahnya. Eki dan Bram akan memasuki koridor utama. Kembali dia melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Tentunya dengan diikuti oleh Bram yang berjalan tergesa di belakang. Sampai di ambang pintu, kedua sahabat Bram ini mendapati Daniella yang masih berusaha membangunkan Ridho. Sampai akhirnya cewek itu menyerah dan keluar. Dengan menyenggol bahu Eki pelan sebelum memberikan lirikan tajam pada Bram. Eki ingin mendekati Ridho, tapi lagi langkahnya dihentikan oleh gelengan kepala Bram.
To : Paris
Dek, km kls kk bisa? Ada yg bth km.
Sent...
Di ruang kelasnya Crysan masih harus berkutat dengan tugas presentasi yang diberikan oleh guru Ppkn. Jemarinya menari indah diatas keyboard laptop. Dengan ditemani Nadya, Avni dan Daus yang sibuk membacakan poin-poin dari setiap materi. Sebenarnya dia sedikit khawatir. Entah mengkhawatirkan apa, yang jelas Crysan merasa ada sesuatu. Sesuatu yang tidak beres. Sempat terlintas dipikirannya yaitu Ridho. Tadi saat istirahat di kantin, dia tidak melihat Ridho. Hanya dirinya dan Bram juga Eki dan tiga teman Crysan. Sebuah pesan dari Bram menyadarkan Crysan kalau dia terlalu lama berpikir pada tugas dan Ridho.
From : Kak Bram
Dek, km kls kk bisa? Ada yg bth km.
Wajah Crysan memucat. Membaca huruf-huruf yang tersusun rapi dari pesan Bram. Hal berikutnya yang membuat tambah bingung sekaligus khawatir adalah teman satu kelas Ridho. Cewek itu datang begitu saja dan menarik tangan Crysan menuju ke kelas Ridho. Cewek itu Bella. Dan Bella tadi terpaksa karena Eki dan Bram yang mendorongnya ke tangga kelas sepuluh. Bella menceritakan semuanya tentang Ridho dan Daniella yang sempat membangunkan Ridho. Sepengetahuan Bella memang Crysan-lah pacar Ridho. Bukan Daniella yang baru saja datang dari luar negeri. Crysan pasrah saat Bella membawanya melihat keadaan Ridho. Setelah tugas Bella membawa Crysan ke kelasnya selesai, dia langsung pergi. Memberikan tatapan sinis pada Bram dan Eki yang tersenyum manis dan mengucap terima kasih pada Bella. Crysan lantas mendekati Ridho. Duduk di bangku kosong yang dia yakini milik Eki atau Daniella. Crysan takut kalau seandainya Bram melihatnya. Walaupun dia tidak menyukai Bram, tapi dia harus menghormati dan menghargai perasaan Bram bukan? Tangan Crysan menggantung di udara. Dia ingin menyentuh rambut Ridho. Namun, niat itu dia urungkan. Kalau Daniella datang bagaimana? Semuanya terlalu abu-abu bagi Crysan. Samar dan tak terbaca sama sekali.
•••
" Kak, bangun yuk. Kita pulang mau magrib ", Crysan masih berusaha membujuk Ridho agar mau bangun. Hampir satu jam dia berceloteh sendiri seperti berbicara dengan patung.
Avni dan Nadya yang tadi sempat mengikuti Crysan juga sudah masuk menemani temannya itu. Merasa kasihan dengan temannya dan sesekali membantu Crysan membangunkan Ridho. Eki dan Bram juga sudah keluar dari tempat persembunyian mereka. Membantu Crysan membangungkan Ridho. Bram bisa melihat rasa cemas itu. Dia memang menyukai Crysan tapi, kalau Crysan menyukai sahabatnya dia bisa apa ?
" Kak, coba angkat kepala kak Ridho ", mohon Crysan pada Eki dan Bram. Keduanya langsung mengangkat kepala Ridho dengan hati-hati. Mereka bisa melihat wajah pucat Ridho.
Ridho tadi memang masih terjaga. Tapi, beberapa menit sebelum Crysan ada di kelas dia sudah kehilangan kesadarannya. Bram yang tahu dengan kondisi Ridho langsung lari keluar. Menyiapkan mobilnya dan segera kembali ke kelas. Memapah Ridho dengan bantuan Eki dan Crysan. Sedangkan Nadya dan Avni membawa tas dan buku-buku Ridho. Pertanyaan Crysan mengenai kondisi Ridho dikesampingkan oleh Bram. Dia memilih fokus pada masalah saat ini.
" Ki, lo bawa mobilnya Ridho. Sepeda lo masukin aja ke bagasi ", kata Bram lalu masuk ke mobil. Duduk di belakang kemudi, sedang Crysan duduk di belakang. Dengan Ridho yang tidur dipangkuannya. Bram berusaha menekan rasa cemburunya. " Satu lagi, lo antar Avni sama Nadya pulang dulu. Kalau mereka mau ikut ke RS suruh izin orang tuanya dulu ", Eki hanya mengangguk.
" Kamu punya nomor mamanya Ridho atau papanya, Ris? ", tanya Bram pelan tanpa melihat Crysan. Cewek itu hanya mengangguk dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dengan susah payah. Mencari kontak mama Ridho yang sempat dia simpan. Berhasil menemukannya, Crysan langsung memencet icon gagang telepon. Crysan sempat cemas karena orang di seberang tak kunjung mengangkat teleponnya.
" Iya, halo Risya ", Crysan mendesah lega saat Lisa mengangkat teleponnya.
" Tan-tante, kak Ridho ", Crysan sempat ragu memberitahukan kondisi Ridho pada mama cowok itu. Tapi, Bram berhasil meyakinkan Crysan lewat anggukan kepalanya. " Kak Ridho pingsan tante. Aku sama kak Bram lagi perjalanan ke RS "
" Oh oke tante sama om kesana sekarang. Sms alamatnya ya ", Crysan hanya mengangguk walau dia tahu kalau Lisa tidak akan melihatnya. Dengan cepat dia mengetik alamat rumah sakit terdekat yang dituju Bram.
•••
Crysan duduk dalam kegelisahan. Bram suda berusaha menenangkan cewek ini. Bahkan sekarang mereka sedang duduk berdua dengan Bram yang merangkul pundak Crysan. Kedua orang tua Ridho sudah datang lima belas menit lalu. Lisa yang tadinya merasa cemas kini sudah biasa saja. Lisa sempat menyesal dia mengkhawatirkan Ridho. Eki, Avni, Nadya, dan Daus juga menyusul setelah orang tua Ridho datang. Dengan Nadya yang membawa tas kecip berisi baju ganti Crysan. Daniella datang ditemani Karin dan Helen. Cewek itu sempat melotot pada Crysan. Tatapan sinis dan mengintimidasi sempat diberikan Daniella pada Crysan. Menyebabkan Crysan tambah beringsut ke pelukan Bram.
Dokter juga belum keluar sejak terakhir masuk memeriksa kondisi Bram. Baru setelah beberapa menit lagi menunggu, dokter keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Semua orang berdiri dan menunggu penjelasan dari pria berjas putih itu. Bram yang sudah tahu penyakit Ridho hanya terdiam. Kedua orang tua Ridho sama halnya dengan Bram. Disini yang terlihat masih menyimpan amarah dan dendam adalah Daniella.
" Penyakitnya kambuh lagi pak, bu. Dan saya rasa Ridho juga sudah jarang meminum obatnya ", jelas dokter bernama Adrian itu. Dokter muda yang tambah tampan dengan kemeja biru langit dibalut dengan jas dokter. " Untuk lebih lanjut mari ke ruangan saya "
Setelah kepergian papa dan mama Ridho, semua yang ada di luar ruang perawatan Ridho terdiam. Eki yang sibuk memakan biskuit dengan Avni. Nadya yang sibuk merenung dengan Nadya. Crysan yang kembali berada dalam pelukan Bram. Sedangkan Daniella dan Karin hanya diam. Kedua cewek itu sesekali melirik sinis pada Crysan. Crysan sempat menangis tapi, cewek itu langsung menghapus air matanya.
" Kkk...kak. Ap-apa penyakit kak Ridho sebenarnya? ", tanya Crysan sesenggukan di pelukan Bram. Bram hanya mengelus bahu Crysan pelan. Memilih untuk diam sejenak. Merangkai kata demi kata yang akan dia jelaskan pada Crysan nanti. " Kak Bram? ", paksa Crysan lagi dan Bram tidak tahan akan hal itu.
" Lemah jantung ", jelas Bram singkat. Entah, kemana menghilangnya semua kata-kata yang dia rangkai di otaknya tadi. Air mata itu turun lagi dari mata indah Crysan. Menghapus air mata itu Bram lantas mengeratkan pelukannya pada Crysan.
" Heh, dengar ya. Gara-gara kamu, Ridho sakit. Harusnya kamu itu menjauh dari dia ", teriak Daniella dengan tangan yang sudah dia gunakan untuk menarik rambut Crysan.
" Lepasin pacar gue ******* ", ucap Bram pelan tapi, mampu membuat semua orang yang duduk di tempat itu merinding. Bram melepas kasar tangan Daniella dan mendorong cewek itu pelan.
" Lo ingat, jauhi Ridho. Jangan temui Ridho lagi "
" Nggak akan pernah ", jawab Bram mewakili Crysan yang tambah sesenggukan dalam peluknya.
Apa lagi setelah masalah ini? Batin Crysan sambil menyalahkan dirinya sendiri akan kondisi Ridho.
" Sudah ah, hapus air matanya. Jelek nanti ", hibur Bram dan itu berhasip membuat Crysan tersenyum. Juga Eki, Avni, Daus dan Nadya yang sudah tersenyum lega dengan mengucap syukur dalam hati masing-masing.