
Bram terduduk lesu dibangkunya. Tak ada yang dia lakukan sejak satu jam lalu. Pikirannya masih tertuju pada Crysan. Di mana sampai saat ini cewek itu belum tersadar dari masa kritisnya. Sejak orang tua Crysan keluar dari ruangan dokter, Bram tidak berani menanyakan apapun. Dia terlalu takut karena kondisi Crysan. Eki yang tidak tega dengan kondisi Bram hanya menghela nafas. Kasihan melihat temannya itu. Ridho yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengamati keadaan Bram dalam diam. Pernah Ridho mencoba bertanya pada Bram apa yang terjadi namun, cowok itu tak bersuara. Akhirnya Ridho memutuskan untuk diam dan tak akan bertanya lagi pada Bram. Hubungan pertemanan mereka memang sudah hancur bukan ? Sejak Daniella datang semuanya menjadi sangat buruk.
Eki menepuk bahu Bram pelan, menyadarkan Bram akan kenyataan. Sebungkus roti dia taruh di depan Bram. Juga jus kemasan kotak yang tadi sempat dia beli sebelum berangkat ke sekolah. Bram hanya diam, belum mau menyentuh dua benda yang sangat lezat tersebut. Eki kembali menghela nafas dan menggeleng. Pasrah dengan sikap diam temannya ini. Untung saja kelas dua belas sudah selesai ujian nasional, kalau tidak bisa dipastikan Bram terkena amukan guru. Eki kembali menepuk bahu Bram.
" Udahlah Bram, Crysan pasti sembuh. Dia kan cewek yang kuat ",Bram menurunkan tangan Eki yang masih berada dibahunya. Tatapannya kini tertuju pada bangku kosong Ridho. Cowok itu sudah menghilang bersama Daniella sejak tadi.
" Kenapa setiap kali gue punya firasat, Crysan yang harus kena imbasnya ", Eki menggeleng, terlalu bingung untuk memberi jawaban. Semua yang ditanyakan Bram sama sekali absurd bagi Eki. " Kemarin, tanpa sengaja gue punya firasat kurang baik dan itu tentang Crysan. Dan, lo liat sekarang dia lagi kritis "
" Ya udahlah lagian itu kecelakaan, Bram. Itu udah keputusan yang diatas ", Eki menggeram dalam hati. Dua teman yang dia miliki sama-sama plin plan. Selalu menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang dialami orang terdekatnya.
" Polisi udah nyelidiki kasus kecelakaan Crysan, Ki. Tapi, ada yang aneh ", Eki menaikkan kedua alisnya. Meminta penjelasan lebih dari kalimat Bram. " Kecelakaan itu seperti direncanakan. Dan itu terjadi di dekat rumah Ridho. Disana juga ada Daniella dan yang lain. Gue juga sempet liat mobilnya Yovi. Tunggu, jangan-jangan... ", Mata Eki ikut terbelalak. Yovi memang musuh besar mereka. Tapi, menurut keterangan para saksi yang menabrak adalah sebuah mobil bak terbuka. Bukan mobil pribadi.
Bram dan Eki saling memandang. Mereka langsung memutuskan pergi dari sekolah tanpa meminta surat izin keluar. Eki yang memang selalu naik sepeda ke sekolah kali ini membiarkan sepedanya tertinggal do sekolah. Ikut bersama Bram menuju ke suatu tempat. Tempat yang sama saat dulu Bram dan Ridho meminta Crysan untuk dikembalikan. Padahal Bram tahu tempat itu merupakan markas besar anak Nusa Bangsa. Bram yakin kalau orang yang dia cari pasti ada di tempat itu.
Bram tidak mau membuang waktu lagi, begitu sampai di tempat tujuan dia langsung menaiki tangga menuju ke atas. Mencari keberadaan Yovi. Tapi, yang didapat Bram jauh dari harapannya. Tempat itu sepi, tak ada anak Nusa Bangsa satu orang pun di sana. Bram hanya menemukan gambar-gambar di dinding gedung itu. Gambar grafiti yang sangat jelas di mata Bram. Bahwa seseorang telah melukisnya dengan indah di sana. Bram mendekati grafiti itu, semakin mendekat dia bisa melihat tulisan yang ada di bawah grafiti itu. Tulisan yang menunjukkan nama pembuat grafiti. Crysan Parisya.
•••
Ridho baru mengetahui hal ini dari mamanya. Sebelumnya dia yang terbaring di rumah sakit. Dan sekarang giliran orang yang dia cintai. Ridho masih tidak percaya dengan semua yang terjadi. Beruntung mamanya masih mau memberitahukan kondisi Crysan kepadanya. Kalau tadi mamanya tidak menemui Ridho, pasti sampai kapan pun Ridho tak akan tahu tentang Crysan. Kemarin, Bran dan Eki memilih bungkam dengan hal ini. Memang Ridho sudah tidak lagi mendekati Crysan. Hanya saja terkadang jantungnya masih berdetak sama seperti saat Crysan ada didekatnya.
Tanpa memedulikan ucapan mamanya, Ridho mengendarai mobilnya. Membelah jalanan Jakarta yang macet untuk sampai di rumah sakit. Ridho sama sekali tidak trauma karena kecelakaannya. Yang dia khawatirkan sekarang adalah kondisi Crysan. Dan yang lebih mengejutkan bagi Ridho adalah Crysan mengalami kecelakaan di dekat rumahnya. Ridho sempat mendengar pembicaraan tetangganya kalau ada tabrak lari. Tapi, Ridho memang tidak tahu siapa korbannya. Dan itu terjadi saat ulang tahunnya. Sampai di rumah sakit tempat Crysan dirawat, Ridho langsung menuju ke ruang perawatan cewek itu. Langkah Ridho semakin melambat saat yang dia temukan adalah kebenaran. Ayah Crysan ada di depan sana.
Ridho mendekati ayah Crysan. Bermaksud ingin menanyakan kondisi Crysan. Niat itu kembali diurungkan oleh Ridho. Matanya menangkap bayangan Bram yang baru saja keluar dari ruang perawatan Crysan. Ridho menghentikan langkahnya. Membalikkan badan sebelum sebuah suara memanggilnya.
" Dho ", Itu suara Bram. Bram yang sama yang dia minta untuk menjaga Crysan. Juga Bram yang sangat mencintai Crysan. Ridho memutar tubuhnya kembali menghadap Bram. Mencoba tersenyum walau hatinya sakit.
" Gue cuma mau- ", Bran menghentikan ucapan Ridho dengan tatapannya. " Masuk, Dho. Mungkin dia nunggu lo, makanya dia belum mau bangun sampai sekarang "
Melihat kondisi Crysan, rasanya ingin membuat Ridho menangis. Wajah tenang Crysan mengingatkan akan pengkhianatannya. Ridho duduk di kursi sebelah ranjang Crysan. Menggenggam tangan cewek itu. Cewek baik yang sempat dia sia-siakan. Begitu pun sekarang, Ridho masih menyia-nyiakan kebaikan Crysan. Menolak cinta Crysan dengan memilih Daniella. Ridho belum bersuara, masih menikmati wajah damai Crysan. Ditatapnya mata Crysan, mata yang selalu mengeluarkan air mata karena Ridho. Ridho menghela nafasnya. Setetes air mata jatuh di tangan Crysan yang masih dia genggam.
" Hai, maaf baru bisa jenguk kamu. Kamu apa nggak bosan Sya, tidur terus seperti ini ? ", Bram yang sebelumnya juga ingin masuk terdiam. Mengamati Ridho yang terlihat tulus saat berkata demikian. " Aku minta maaf atas semua yang terjadi Sya. Maaf. "
" Dia pasti maafin lo, Dho ", Baru saja Bram menempelkan bokongnya di sofa, suara nyaring terdengar. Terlihat garis lurus di monitor. Ridho yang melihat itu tak kalah paniknya. Dokter yang datang langsung menyuruh Bram dan Ridho keluar ruangan. Terlihat wajah khawatir ayah Crysan. Juga Avni dan Nadya yang masih memakai kebaya.
" Crysan sudah sadar dan bisa ditemui. Tapi, cukup dua orang saja yang masuk "
Setelah dokter berlalu, Bram dan Ridho memutuskan ayah Crysan saja yang masuk sendiri. Sedangkan Bram sudah berkutat dengan ponselnya. Menelepon ibunya Crysan juga mamanya yang sempat khawatir dengan kondisi Crysan. Eki dan Daus yang tadi tidak terlihat, kini sudah kembali dari kantin rumah sakit.Lima belas menit kemudian, ayahnya Crysan baru keluar. Memberikan waktu pada Bram dan Ridho untuk menemui Crysan. Tanpa memberitahukan kondisi Crysan yang sebenarnya. Ian, melangkah gontai menuju ke ruang dokter yang merawat Crysan. Memastikan kondisi putrinya.
Bram dan Ridho yang sudah memasuki ruang rawat Crysan masih terpaku. Melihat Crysan yang menatap heran ke arah mereka. Setelah, Bram memutuskan melangkah terlebih dahulu barulah Ridho mengekor dibelakangnya. Tapi, begitu sampai di dekat ranjang Crysan, Bram mundur. Memberikan tempat pada Ridho untuk berbicara dengan Crysan. Ridho tersenyum dan mengucap syukur. Begitu pula Crysan yang ikut tersenyum.
" Emh, kakak ini siapa ya ?", Pertanyaan polos Crysan menghentikan ucapan syukur Ridho. Ditatapnya Crysan yang masih tersenyum. Kemudian menoleh ke belakang melihat Bram yang juga shock.
" Ka-kamu nggak ingat kakak, Sya ? ", Crysan menggeleng. Menanti pertanyaan selanjutnya dari cowok yang ada dihadapannya itu dengan tatapan bingung. " K-kalau di-dia ingat ?", Crysan kembali menggeleng. Langit seakan runtuh menimpa Bram dan Ridho. Bram yang sedari tadi diam tanpa sadar sudah meneteskan air matanya. Berbeda dengan Ridho yang memilih keluar daripada melihat kondisi Crysan. Bram berjalan mendekat.
" Hai, Ris "
" Nama kakak, Bram dan yang tadi Ridho "
Crysan hanya ber-O ria. Kepalanya masih pusing untuk memikirkan siapa cowok itu. Yang dia ketahui hannyalah keluarganya. Bukan orang asing yang baru saja memberitahukan namanya ini. Tak lama kemudian, Crysan melihat ayahnya masuk bersama dokter. Dokter yang tadi memeriksa kondisi Crysan. Bram menarik tangan ayah Crysan. Meminta penjelasan dari ayahnya Crysan. Ian bukannya menjelaskan sesuatu, malah mengusap wajahnya kasar. Tidak bisa menjelaskan kondisi putrinya saat ini.
" Crysan, hah...begini Bram. Crysan mengalami amnesia mundur ", Bram masih setia mendengarkan penjelasan ayahnya Crysan. Cowok itu tidak menyela sepatah katapun. " Ada cedera di bagian otaknya. Dan kata dokter... "
" Apa om ? Crysan akan sembuh kan ? Akan mengingat saya dan teman-temannya lagi kan ?"
Ian mengangguk, " Tapi butuh waktu lama, Bram. Tergantung pada ingatan Crysan mau mengingatnya lagi atau tidak. Kalau Crysan berusaha mengingat pasti dia cepat sembuh. Tapi kalau... "
" Biarkan dia melupakan semuanya om Ian. Jangan paksa Crysan untuk mengingat. Cukup dia mengingat teman-temannya saja "
Ian sempat terkejut dengan permintaan Bram. Tapi, dalam hati dia juga setuju dengan hal itu. Sebagai ayah, Ian tidak mau memaksakan ingatan putrinya. Biarlah waktu yang akan mengembalikan semuanya. Ridho yang diam-diam mendengar pembicaraan Bram dan ayahnya Crysan menghela nafas. Walaupun sedikit berat, tapi Ridho ikhlas. Rela tidak diingat oleh Crysan. Demi kebaikan cewek itu.
•••
" Guys, yuhu, mari kita berpesta ", Daniella dan Karin memutar matanya malas. Selalu saja Helen heboh sendiri dengan apa yang dia ketahui. Ya, Daniella sudah tahu kalau Crysan hilang ingatan. Tentunya tahu dari Yovi yang dua hari lalu menjenguk Crysan.
" Pesta mulu kerjaan lo Hel. Bentar tunggu si Yovi ", Helen terdiam dan cemberut mendengar suara Karin. Saat kecelakaan Crysan terjadi, Helen mengucap syukur saat polisi tidak menangkapnya.
" Biarin lah, mumpung penjara belum terlihat ", jawab Karin sinis. Daniella hanya menggeleng melihat kedua temannya ini.
" But, gue nggak ikut campur ya. Semua ini ide Karin dan Yovi. Gue hanya diberi tahu begitu Crysan kecelakaan ", Karin mengangkat sebelah alisnya. Memang semua ini adalah rencananya. Karin yang tidak mau kehilangan Yovi. Juga melindungi Daniella agar bersama dengan Ridho. Dan bermaksud mengembalikan Bram dengan Helen.
" Gue nggak takut polisi. Setelah ini, gue juga kabur ke Aussie sama Yovi. Kuliah di sana tanpa beban "
" Gue berasa jahat deh. Crysan juga masih sepupu gue. Walaupun dia anak tirinya tante Fara. Dia, sepupu kita kan Rin ?"
" Gue nggak anggap dia sepupu. Orang kita nggak saling kenal. Cukup lo aja yang jadi sepupu dia. Gue ogah "
" Dasar drama queen. Eh, Crysan hilang ingatan. Jadi dia nggak ingat apa-apa kan ?"
" Ya bagus dong. Iya, nggak Dee "
Daniella tidak menjawab. Cewek ini berdiri dan keluar dari kamar Karin. Melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Mencari tahu kebenaran itu sendiri. Berdoa di dalam hati agar semua itu salah. Tapi, sampainya Daniella di sana. Yang dia temukan adalah kebenaran. Awalnya Daniella tidak percaya dengan ucapan Yovi. Dia hanya ingin tahu saja. Tapi, siapa sangka kalau hilang ingatannya Crysan yang dia dengar dari Yovi itu benar. Dan yang mebuat Daniella tambah merasa jahat adalah Crysan mengingatnya sebagai sepupu. Di mana mereka masih bermain bersama dan tidak bertengkar karena Ridho.
" Gue jahat ", Lirih Daniella di depan kamar rawat Crysan.
" Ya, lo emang jahat Daniella "
" Bram-"