Crysan

Crysan
Mysterious Message



Hampir satu semester Crysan berada di SMA Wijaya Bakti. Selama satu semester itu pula, cewek ini didekati oleh Ridho dan Bram. Bahkan, sampai sekarang kalau Crysan ditanya memilih Ridho atau Bram pasti dia akan menjawab 'aku tidak tahu dan tidak mau memikirkan itu'. Avni dan Nadya sebagai sahabat sungguh menyayangkan sikap Crysan ini. Semua siswi Wijaya Bakti sangat berharap menjadi kekasih salah satu dari kedua cowok itu. Tapi Crysan, tanpa dia memburu perhatian Ridho dan Bram, cewek ini sudah mendapatkan itu semua dengan sendirinya. Masih ingat dengan makan malam ala Bram? Setelah malam itu, pandangan Crysan ke Bram sedikit berubah. Dari yang tadinya sedikit jijik menjadi lebih lembut. Sama dengan apa yang dia lakukan kepada Ridho. Setelah diantar Bram pulang selesai makan malam, Crysan langsung disuguhi berbagai pertanyaan oleh orang tuanya tetapi, cewek ini memilih menjawabnya dengan senyuman atau jawaban singkat.


Crysan tengah duduk di kursi taman. Tatapannya lurus memandang hamparan rumput. Dia merasa seperti di dunia dongeng, dimana seorang putri tengah duduk di taman kerajaannya dan menanti sang pangeran yang akan datang dari arah belakang. Tanpa dia sadari, senyum kecip terbit di wajah cewek manis ini. Lamunan Crysan terurai sedikit demi sedikit bersamaan dengan rintik hujan yang turun semakin deras membasahi sang bumi. Cewek ini menengadahkan kepalanya. Membiarkan setiap rintik hujan menimpa wajahnya yang manis nan ayu. Matanya terpejam menikmati setiap tetesnya. Puas dengan apa yang dia lakukan, Crysan lantas pergi dan mencari tempat berteduh. Ini bukan taman kompleknya melainkan taman yang ada didekat rumah Ridho. Bahkan Ridho sendiri tidak tahu kalau ada taman indah didekatnya. Taman yang dipenuhi dengan ilalang disekitarnya. Juga sebuah danau kecil. Dan dihadapan kursi taman yang mulai usang terhampar rerumputan hijau.


" Kenapa nggak ada tempat berteduh ya? ", gumam Crysan sambil menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri. Mendesah putus asa saat tak kunjung menemukan tempat yanh dapat melindungi tubuh kecilnya dari hujan yang semakin lebat.


Crysan terpaksa mengeluarkan cardigan yang tadi melindungi tubuhnya dari sejuknya udara pagi. Memakai cardigan berwarna merah muda itu sebagai payung dan berlari menembus hujan. Cewek ini sempat teringat rumah Ridho, tapi dia enggan untuk mampir. Karena ceroboh, cewek ini sempat akan terserempet mobil yang sedang melintas didekatnya. Crysan terpekik lalu berjalan pelan di pinggir. Niatnya tadi hanya sebentar di taman itu malah menjadi lama karena lamunan.


Crysan sampai dirumahnya dengan selamat. Cewek ini terkejut karena mobil Bram sudah terparkir manis di halaman rumah sederhana milik keluarganya. Menyeret langkahnya, Crysan masuk dan langsung berpapasan dengan si pemilik mobil. Bram yang tengah duduk bersama ibu dan ayahnya. Biasanya Crysan akan melihat Ridho yanh duduk disana bukan Bram. Menyalami kedua orang tuanya, Crysan langsung membersihkan tubuh. Mencoba berpikir sejenak mengenai kehadiran Bram di rumah itu.


" Hai, kak. Tumben? ", tanya Crysan setelah duduk di depan Bram dengan penampilan yang lebih fresh dari pada sebelumnya.


" Emang cuma Ridho yang boleh main kesini? ", Bram langsung melempar pertanyaan balik tanpa menjawab Crysan. Seperti biasa, cewek ini hanya akan memutar bola matanya. Jengah dengan tingkah Bram. Malas menanggapi, Crysan hanya menggelengkan kepalanya.


Hening. Tak ada percakapan panjang lebar diantara keduanya. Crysan yang diam karena lelah dan Bram yang merenung karena memikirkan tentang suatu hal. Suatu hal yang sangat mengganjal dihatinya.


***


" AAAAAAAAA....... ", sebuah teriakan membangunkan Crysan dari mimpi indahnya. Yang jelas itu bukan suara ibunya yang sangat lemah lembut. Juga bukan suara teriakan dari Keenan dan ayahnya. Itu teriakan khas Avni.


Membuka matanya perlahan, Crysan langsung meraba tempat tidur disampingnya. Kosong, itulah yang dia temukan. Mengikat rambutnya asal, Crysan langsung turun menuju ke ruang tamu. Benar saja Avni dan Nadya yang tadi malam menginap di rumah Crysan tengah berdiri di ambang pintu. Dengan sebuah surat dan kotak di tangan masing-masing. Crysan mengurut dadanya, merapalkan doa syukur karena hal itu tidak membangunkan seisi rumah.


" Kenapa teriak sih Av? ", tanya cewek ini begitu sampai di dekat kedua sahabatnya itu. Bukan sebuah jawaban yang diterima Crysan melainkan tatapan horror Avni dan wajah pucat Nadya. Crysan mengambil alih surat yang ada di tangan Avni dan membacanya. Matanya yang tadi belum terbuka sempurna kini berubah menjadi pelototan tajam.


Avni yang melihat bahasa tubuh Crysan kembali mengambil surat itu dan memasukkan ke dalam kotak yang dipegang oleh Nadya. Menuntun Crysan agar cewek ini duduk. Berbeda dengan kedua temannya yang shock, Crysan justru bingung kenapa dia mendapat surat itu. Sebuah surat yang berisi ancaman.


'HAI, CRYSAN. LO HARUS JAUHIN RIDHO KALAU LO NGGAK MAU HIDUP LO MENDERITA KAYAK TIKUS DI BOX INI'


Crysan terus mengulangi bacaan yang tertulis dalam surat tadi. Mencoba berpikir siapa dan apa motiv dari si penulis surat itu. Dari Nadya dan Avni, cewek ini tidak mendapatkan petunjuk apapun. Mencoba menghubungi Ridho ataupun Bram rasanya tidak mungkin. Terakhir kali Crysan dekat dengan Ridho, dia malah dijambak oleh Karin, kakak kelasnya. Juga saat dia sering diantar Bram, malah sering disindir terang-terangan oleh Helen dan Marsya. Orang yang dia tahu sebagai mantan kekasih Bram.


" Siapa yang kirim kekonyolan kayak gitu sih Ris? Atau jangan-jangan lo punya masalah ya? ", tanya Nadya dengan nada khawatir juga ketakukan. Crysan masih diam dan menggeleng.


" Kita mesti hati-hati Ris ", sambung Avni dan Crysan mengangguk. Melihat Crysan yang hanya seperti robot, Nadya berdecak kesal dan menyentak lengan Crysan.


" Crysan ih, lo dengerin kita nggak sih? "


" Iya, gue denger kok. Udahlah jangan dipikir, entar tuh orang juga bosen sendiri ngirim surat ", Crysan ingin jujur kepada Avni dan Nadya. Namun, melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan cewek ini memilih diam. Membiarkan masalah itu begitu saja. Sebelumnya Crysan juga sempat mendapat hal serupa.


Beres dari pekerjaan rumah dan rutinitas pagi harinya. Crysan memilih bersantai bersama Avni dan Nadya di rumah pohon miliknya. Mengajarkan berbagai rumus fisika kepada keduanya. Sesekali mereka bercanda dan saling menggoda. Apalagi kalau menggoda Avni yang sudah jadian dengan Eki. Nadya yang memang sedikit usil, memilih membuka sketchbook milik Crysan. Sesekali Nadya terkikik dan menunjukkan hasil sketsa Crysan pada Avni. Sedang asyik dengan kegiatannya, sebuah pesan berhasil masuk ke ponsel Crysan. Memilih membacanya dalam hati dan tekejut dengan isi dari pesan tersebut.


*From : +6285324415xxx


Crysan ingin menangis tapi dia tahan. Dia terlalu bingung dengan semua ini. Pertama, Ridho yang membawa Crysan dalam kehidupan cowok itu. Kedua, Ridho pula yang membawa dirinya pada Bram. Ketiga, Ridho pula yang telah membuat Crysan jatuh hati pada pesona cowok itu.


Avni yang melihat perubahan sikap Crysan memilih diam. Dia tahu itu ulah siapa. Avni tahu semua itu dari Eki. Hal ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Bram. Avni ingin mengatakan itu pada Crysan saat tadi, temannya itu ngotot akan bertanya pada Bram. Akhirnya Avnj memilih untuk tutup mulut sesuai perintah Eki dan akan bertindak kalau si pelaku sudah menampakkan dirinya. Poor you, Crysan. Batin Avni sambil mengamati Crysan dengan diam. Dikeluarkannya ponsel lalu mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan kepada Eki.


Tiada hari yang membosankan bagi Crysan. Semua hari dia lalui dengan senyuman dan keceriaan. Tapi, semua itu berubaha semenjak cewek ini mendapat teror lewat pesan-pesan misterius. Pernah dia bertanya kepada Firdaus mengenai nomor itu. Tapi, Firdaus menggeleng dan menyuruh Crysan bertanya pada Eki. Sama halnya dengan Firdaus, Eki hanya menggeleng. Kakak kelas sekaligus kekasih Avni ini telah tahu semua yang dialami Crysan. Melalui Avni, tentunya. Walaupun, dalam masa yang membingungkan bagi Crysan tapi itu tidak mengurangi kecerdasan yang ia miliki. Bahkan semua nilai Ulangan Bersama Semester Satu pun, cewek ini mendapat nilai yang hampir sempurna. Mendapatkan peringkat pertama dikelasnya.


Memasuki semester dua ini, Crysan jarang bertemu dengan Ridho maupun Bram. Pernah sekali dia bertemu Ridho di kantin tidak sengaja tentunya. Saat Crysan bertanya tentang kabar Ridho, cowok itu hanya menjawabnya singkat. Bahkan tidak melihat Crysan. Berbeda saat Crysan bertemu dengan Bram yang langsung tersenyum manis dan menggandeng tangannya. Sikap Bram tidak berubah seperti Ridho. Hanya saja, Bram sekarang lebih fokus pada bimbelnya.


Cowok tukang tawuran bisa juga bimbel. Pikir Crysan saat itu. Dan dari itulah dia tahu kalau Bram sudah taubat. Tidak berniat tawuran lagi.


" Kantin yuk, laperrr ", ajak Nadya yang telah bergelayut manja di lengan Crysan seperti anak yang merengek meminta sesuatu daru ibunya.


" Ayo, nggak usah nggelendot kayak gitu ke Crysan ", Jawab Daus mewakili Crysan yang hanya tersenyum kecil tanpa menunjukkan kerisihan dengan sikap Nadya.


Sampai di kantin, mereka bertiga segera bergabung dengan Avni dan Eki yang sudah terlebih dahulu ada di tempat makanan ini. Merasa tidak enak dengan Eki dan Firdaus, Crysan lantas mencari tempat duduk lain. Crysan tahu diri kalau dua pasangan itu tengah kasmaran, jadilah dia duduk sendirian di meja paling pojok. Menikmati soto dan segelas es jeruknya. Membiarkan hingar bingar yang tengah ada di lapangan sana. Bersikap cuek dengan hiruk pikuk siswa Wijaya Bakti yang tengah menyoraki teman mereka dalam lomba classmeeting.


" Hai, boleh gabung? ", Crysan langsung mendongak. Matanya bersitatap dengan mata elang milik Ridho. Cewek ini menoleh ke kanan kiri. Memastikan kalau dia yang diajak bicara.


" Iy...iya....bo...boleh kok kak ", jawab Crysan sedikit ragu dan canggung tentunya. Lama mereka tidak berkomunikasi baik itu secara langsung maupun lewat ponsel.


Mereka makan dalam diam, tidak seperti penghuni meja disampingnya yang ramai dengan canda dan tawa. Ridho sesekali melirik cewek yang ada didepannya ini. Bahkan Ridho merasa kalau Crysan berubah, dia berubah dan semuanya berubah. Tepat saat Crysan melirik Ridho, cowok itu langsung mengalihkan pandangannya dari Crysan.


" Tumben sendiri ? Nggak punya temen lo? ", Crysan kaget dengan ucapan Ridho. Lebih tepatnya saat Ridho memanggil dia dengan kata 'lo'. Cewek ini hanya menjawab iya lalu kembali fokus pada sotonya yang tersisa sedikit.


" Avni, Nadya, Daus sama kak Eki ada di meja sana. Lagi pada berduaan ", jawab Crysan tanpa melihat Ridho. Berusaha cuek dengan situasi awkward seperti ini.


*Bip..bip..bip


From : +6285324415xxx


UDAH GUE BILANG JAUHI RIDHO. MASIH NGEYEL JUGA? CARI MASALAH EH*?


Crysan menghela nafas pelan. Kemudian bangkit dengan membawa mangkuk dan gelasnya menuju ke kantin Bu Atik. Membiarkan Ridho yang memandangnya dengan tatapan yang entahlah tak dapat diartikan.


Oke aku jauhin kak Ridho. Batin Crysan dan langsung menghilang dari kantin menuju ke perpustakaan untuk menenangkan dirinya dengan novel atau buku ensiklopedia yang ada di dalam ruangan penuh buku itu.


Kenapa semuanya jadi berubah? Aku sayang sama dia, tapi aku juga masih nunggu kamu 'D'. Batin Ridho yang diam-diam mengikuti Crysan ke perpustakaan. Cowok ini tidak ikut masuk hanya sampai di dekat ruang itu saja. Dan menunjukkan dirinya saat Crysan benar-benar masuk ke dalam perpustakaan.