Crysan

Crysan
Menyerah



" Kata orang, coklat bisa mengubah mood yang buruk menjadi lebih baik lagi ? "


Apakah ini sebuah halusinasi ? Oh, tentu tidak. Orang yang baru saja mengatakan kalimat itu malah sudah duduk manis di depan seorang cewek. Dengan memberikan secangkir coklat panas yang masih mengepulkan asap. Membuat siapa saja dapat menikmati aroma yang disebarkan oleh minuman sederhana itu. Cewek itu mendongak, menatap mata biru laut yang tengah menatapnya pula. Cewek itu hanya tersenyum singkat. Mengambil cangkir itu dan melihat sekilas. Kembali cewek ini membuang pandangan pada langit malam Jakarta. Menghembuskan nafas pelan sebelum matanya kembali menitikkan air mata. Cewek itu menghapusnya kasar. Mencoba tersenyum pada orang atau lebih benarnya adalah cowok bermata biru yang duduk didepannya. Senyum yang kembali berganti dengan isakan tangis.


Bram cuma bisa mengamati dalam diam. Dalam hati, dia tidak ikhlas melihat air mata itu turun dari mata indah Crysan. Semua salah disini, Bram akui itu. Bukan hanya waktu yang sempat dia salahkan, melainkan semua orang yang ikut berperan dalam hal ini. Sekali lagi, Bram melihat Crysan menangis. Penyebab tangis itu juga masih sama. Ridho dan segala hal yang berhubungan dengan cowok itu. Bukan hanya Crysan yang sakit saat ini, Bram pun sakit melihat orang yang ia sayang menangis. Bohong kalau Bram sempat mengatakan bahwa dia sadar rasa yang dia punya hanya sebatas rasa sayang kakak ke adiknya. Awalnya Bram memang penasaran dengan Crysan, lalu rasa penasaran itu berubah menjadi rasa sayang kakak pada adik. Dan sekarang semua berubah, Bram mencoba menepis semua pemikiran bahwa dia tidak mencintai Crysan. Bram gagal, bahkan sebelum dan sesudah masuk ke dalam medan perang pun dia gagal. Bram sadar dia tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Crysan. Tempat yang mungkin bersisihan atau menggeser posisi Ridho.


" Ris, kakak minta maaf atas semua ini. Kakak tahu ini semua salah, tapi- ", Crysan menatap mata Bram. Sangat intens sehingga kalimat Bram terpotong dengan sendirinya. Bram menelan ludahnya, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menghapus air mata itu. Dari tindakan Crysan, Bram tahu apa yang diinginkan Crysan. Keheningan.


Handphone Bram berdering. Cowok itu memilih untuk melihat id caller yang tertera disana. Dan satu nama itu mampu membuat bola mata Bram hampir keluar. Karin. Bram melihat Crysan, meminta izin untuk mengangkat telepon itu.


" Halo, Bram. Lama banget sih angkat telepon gitu aja "


" Lo mau apa sebenarnya hah ?", Bram baru menjawabnya setelah menarik nafas panjang. Terdengar gelak tawa dari seberang. Itu tawa Karin juga tawa seseorang yang mengkhianati Bram satu tahun lalu. Tawa Helen yang sangat menjijikkan bagi Bram.


" Gue cuma mau kasih tahu kalau Daniella udah tahu rencana dinner konyol Ridho itu "


"....."


" Ah, gue juga mau kasih tahu kalau lo dapat salam kangen dari Helen "


"....."


" Lo masih dengar gue kan pengkhianat ? "


" Lo udah selesai ngocehnya ***** ? ", desis Bram sambil melirik sekitar. Memastikan tak ada orang yang mendengarnya. Pandangan Bram bertemu dengan mata indah Crysan yang tengah menatapnya dengan senyuman sendu.


" ***** ? Nggak salah nih lo ngatain gue sama Karin itu ***** ? Yang lebih pantas dibilang ***** itu pacar lo itu "


" Awas kalian berdua. Khususnya lo, Helen. Urusan kita belum selesai ", Bram mematikan sambungan telepon sepihak dan kembali pada tempatnya.


" Kita pulang ? ", ajak Bram yang langsung disetujui oleh Crysan. Sedikit ragu, Crysan menggenggam tangan Bram. Membuat sang empunya menatap Crysan dengan mata berbinar.


•••


Pagi ini masih sama dengan pagi sebelumnya. Hujan menemani langkah setiap orang yang akan melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Crysan memilih berangkat menggunakan bus yang biasa dia tumpangi. Dengan payung warna biru sebagai pelindungnya. Menengadahkan kepala, matanya nyalang memandang langit. Setetes air hujan membasahi hidung mancung milik Crysan. Cewek ini sudah lupa kalau payung yang dia pegang sudah tidak melindunginya lagi. Payung itu terjatuh dan tertinggal di belakang. Semua yang melihat Crysan pasti akan menganggap Crysan adalah cewek yang aneh. Tapi, anggapan semacam itu tidak pernah berlaku bagi keluarga Crysan, sahabat Crysan, Bram, Ridho, dan Eki.


Crysan sampai di kelas dengan kondisi basah kuyup. Kelas yang tadi ramai mengejek kegilaan Crysan langsung terhenti. Semua tidak ada yang berani mengangkat kepala. Karin, Helen dan Daniella berdiri di ambang pintu kelas. Dengan angkuhnya mereka berjalan menghampiri tempat duduk Crysan. Crysan sendiri tidak menyadari kehadiran Karin, Helen, dan Daniella. Posisi Crysan membelakangi tiga cewek idola Wijaya Bakti. Nadya dan Daus yang melihat Daniella sudah berdiri di belakang Crysan hanya berdoa dalam hati. Semoga saja tidak akan ada masalah yang tercipta lagi untuk Crysan. Tawa Crysan berganti dengan ringisan karena lengan kanannya sudah dicekal kuat oleh Karin. Helen yang sudah gatal ingin mencakar wajah Crysan langsung menarik rambut basah Crysan. Menyebabkan Crysan mendongak ke atas menatap mata tajam nan sinis Daniella. Semua yang ada di kelas terpekik kaget. Tak ada satu pun teman Crysan yang menolong. Avni, Nadya, dan Daus sudah diperingatkan Helen lewat tatapan matanya untuk tidak menolong Crysan.


" Kkk...kak lepas, sakit " Rintih Crysan dengan tangan kiri yang sudah memegang rambutnya yang ditarik Helen.


" DIEM LO. NGGAK USAH BANYAK OMONG ", jerit Karin dan menyeret Crysan keluar dari kelas. Dengan seragam yang basah itu, Crysan diseret menuju gudang. Daniella bersyukur tidak ada yang melihat tindakan kasarnya terhadap Crysan.


" Kak..kakak mau ap-apa ? ", tanya Crysan lagi dengan mata yang sudah berkabut menahan tangis. Karin tersenyum sinis, melepaskan cekalannya dan menarik paksa tangan Helen dari rambut Crysan. Daniella yang dari tadi diam, mendorong Crysan kasar.


Satu tamparan diterima Crysan dari tangan mulus Daniella. Lagi, Helen menjambak rambut Crysan. Jeritan Crysan tidak menghentikan aksi Helen yang masih asyik menjambak rambut Crysan. Karin mengeluarkan gunting dari dalam saku kemejanya. Mengarahkan gunting itu tepat di depan wajah Crysan. Isakan Crysan terdengar sangat memilukan. Karin menarik lengan kemeja seragam Crysan yang basah. Mengguntingnya di sana sini. Membuat seragam itu tak berbentuk di bagian lengannya. Belum puas dengan itu, Karin menarik baju bagian depan Crysan kasar. Menampilkan pemandangan yang sangat buruk. Baju bagian dalam Crysan hampir terlihat. Dan Karin tertawa puas dengan hal itu.


" Lo, nggak mau menyampaikan sesuatu sama ****** satu ini Dee ? ", ucap Karin menekankan kata ****** di depan Crysan. Daniella mendekati Crysan, mengamatk wajah Crysan sebelum menampar Crysan kembali.


" MAU LO APA CRYSAN ??!!! HAH!!! LO- LO REBUT SEMUANYA DARI GUE ", Danella memalingkan wajahnya. Menarik nafas sebelum kembali melihat Crysan. " Lo bahkan ambil Ridho dari gue. Dulu perhatian eyang yang lo ambil sekarang Ridho ? PARAH LO ***** ", Daniella mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Crysan. Menunjuk Crysan sebagai ***** yang dia maksud.


" Dan Lo dengan santainya juga ambil Bram. LO EMANG KETERLALUAN. LO AMBIL BRAM DARI HELEN ", Crysan pasrah akan diapakan setelah ini. Berkali-kali dia menghapus air matanya. Juga mencoba menutupi bagian dadanya yang hampir terlihat karena ulah Karin.


" LO- "


" STOP IT ", bram menendang pintu gudang kasar. Berteriak untuk menghentikan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Melihat cewek yang dia sayangi sedang dihina oleh Daniella, Karin, dan Helen. Ridho masuk tak lama kemudian dengan Eki dan tiga sahabat Crysan.


" Hebat kalian. Membangungkan macam tidur Wijaya Bakti. Dua macan tidur. WOW ", ejek Eki yang masih menikmati pemandangan ketakutan Karin dan Helen.


Bug..bug..bug


" Apa yang lo lakuin sama Dee, brengsek "


Bug


" Dia itu cewek. Kenapa lo tampar dia, Bram "


Bug..bug


Bram diam, tidak membalas pukulan demi pukulan yang dilayangkan Ridho untuknya. Pandangannya jatuh pada kondisi Crysan yang terisak di pelukan Avn dan Nadya. Bram menghapus darah yang ada di sudut bibirnya. Bangkit dan menarik kerah kemeja Ridho. Menatap tajam Ridho dan mendorong Ridho. Sehingga Ridho jatuh tepat di depan Crysan dan tiga sahabatnya. Bram mendekati Ridho. Mengarahkan dengan dagunga supaya Ridho melihat kondisi Crysan.


" LO!! BISA-BISANYA NGEBELA DANIELLA. LO LIHAT SEKARANG APA YANG MEREKA LAKUKAN KE CRYSAN, DHO ", Teriak Bram emosi dengan tingkah konyol Ridho. Membela Daniella padahal jelas Crysan yang disakiti.


" Lo bilang lo cinta sama Crysan. Lihat sekarang, melihat semua ini gue nggak yakin kalau cinta lo tulus. Udah gue bilang lo cuma terobsesi sama Daniella. OBSESI, DHO. OBSESI INGAT ITU ", lanjut Bram sebelum berlalu dari hadapan Ridho. Membawa Crysan pergi dari gudang. Membawa Crysan pulang ke rumah cewek itu.


•••


" Lo itu plin plan ya Dho ", ejek Eki saat mereka berdua ( Ridho-Eki ) memilih meninggalkan gudang dan menuju ke taman belakang. Meninggalkan jam pelajaran fisika dan bahasa inggris.


Iya, Ridho akui dia memang plin plan. Tadi pagi, dia dan Bram melihat Crysan yang sedang hujan-hujanan saat menuju ke kelas. Karena penasaran, Ridho dan Bram menuju ke kelas Crysan. Lebih terkejut lagi saat mendapati Crysan tidak ada di kelas. Padahal Bram mengatakan pada Ridho kalau Bram yakin Crysan sudah ada di kelas. Ridho bersyukur pada kecurigaan Bram. Ridho lalu memanggil Avni, Nadya dan Daus untuk ikut dengannya. Namun, langkahnya kurang cepat saat Bram lebih dahulu mendobrak pintu gudang. Ridho hanya mengikuti kata Bram yang tadi sempat dia dengar tentang gudang. Dan apa yang dia lihat di gudang langsung membuat shock. Terkejut dengan keadaan Crysan juga marah saat melihat Bram menampar Daniella.


" Malam itu lo bilang kalau lo cinta sama Crysan. Sekarang lo malah ngebela Daniella saat berbuat salah. Bukannya menolong Crysan "


" Gue terlalu pengecut, Ki "


" Sangat pengecut malah "


" Aaarrrggghhh ", teriak Ridho frustasi. Mengabaikan rasa sakit pada jantungnya.


•••


" Terima kasih, kak " Bram membisu, dia masih bertahan pada posisinya. Begitu pun dengan Crysan yang juga masih duduk manis di kursi mobil Bram.


" Nggak perlu berterima kasih. Sekali lagi kakak yang harus meminta maaf atas nama Ridho ", Crysan menggeleng. Tidak tega membiarkan Bram terus menerus meminta maaf atas nama Ridho. Crysan merapatkan jaket hitam milik Bram agar tidak ada yang melihat bagian dadanya. Malu, Crysan sangat malu dengan kondisinya.


Bram menelungkupkan kepalanya pada setir mobil. Mereka sudah menjauh dari kompleks rumah Crysan. Tadi, Crysan memohon agar Bram mau membawanya pergi. Kemanapun asal tidak ke rumah Crysan. Crysan malu dan takut dengan ibunya. Bram mengangkat wajahnya. Melihat Crysan yang ada di sisi kirinya. Bram mengatupkan rahangnya. Dia tidak mau lagi melihat air mata Crysan. Menghapus air mata itu dan membiarkan Crysan menatapnya. Bahkan Bram diam saja saat tangan Crysan menyentuh tangannya.


Apa kamu mulai menyukai kak Bram, Ris ? Tanya hati Crysan. Cewek ini menggeleng pelan. Crysan yakin kalau Ridho mencintainya.


" Aku lelah kak Bram ", Bram tahu itu dan dia tak mempunyai solusi baik saat ini untuk keluhan Crysan itu. " Aku capek dengan keadaan yang seperti ini. Kenapa jadi rumit seperti ini ? "


" Kakak nggak tahu Ris "


" Iya, kakak nggak tahu sama sepertiku ", Crysan menyeka air matanya menggunakan tangan kiri. Sedang tangan kanannya masih setia memegang tangan kiri Bram yang ada dipipinya. " Sudahlah, lupakan. Yang penting sekarang kakak fokus belajar buat ujian. Terus kuliah biar jadi orang sukses "


" Amin. Kita pulang sekarang ?"


Crysan mengangguk. Melepas tangan Bram dan memejamkan matanya. Ini semua kebenaran dan kejujuran yang sangat menyakitkan kak Bram. Jawab Crysan dalam hatinya atas pertanyaan Bram tempo hari.