
Dua minggu berlalu. Crysan bosan terus menerus berada di rumah. Ya, setelah empat hari dirawat, Crysan merasa lebih baik dan diperbolehkan pulang. Tentunya atas rengekannya pada ayah dan ibunya. Ian dan Fara sempat terkejut saat melihat Daniella ada di rumah sakit yang sama tempat Crysan dirawat. Dan hari ini Crysan kembali harus duduk santai di teras rumahnya. Memandang bunga yang kemarin dia tanam bersama Avni dan Nadya saat berkunjung. Hari ini kelas dua belas sedang ujian nasional. Lebih tepatnya hari terakhir ujian. Crysan berdoa semoga Bram lulus dengan nilai yang memuaskan. Senyuman Crysan memudar saat mengingat Ridho. Cowok itu masih terbaring di ranjang rumah sakit. Meskipun sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, tapi alat pemantau detak jantung Ridho masih betah menemani cowok itu.
Hari ini Crysan memutuskan untuk menjenguk Ridho. Crysan melihat Lisa yang masih setia duduk menemani Ridho. Perempuan itu tidak mau meninggalkan Ridho walau sedetik. Crysan bisa melihat ketulusan Lisa saat memegang dan memandang wajah putranya itu. Kebenciannya pada Ridho menguap saat melihat wajah Ridho. Wajah polos Ridho saat tertidur. Lisa berpamitan pada Crysan pergi ke kantin rumah sakit. Menyisakan Crysan dengan Ridho yang masih puas dalam tidur panjangnya.
" Bangun, kak. Buka mata kamu, apa kamu nggak mau lulus dan sukses ? ", Crysan kembali diam. Menahan isakan yang sebentar lagi akan keluar dari bibirnya. Crysan menggigit bibir bawahnya. " Aku janji kalau kakak mau buka mata kakak, aku akan memaafkan semua kesalahan kakak "
Crysan masih terus mengamati wajah Ridho. Mengusap rambut Ridho pelan. Crysan tersenyum, Ridho yang datang dihidupnya. Mengatakan kalau cowok itu menyayangi Crysan,meski setelah itu melemparkan Crysan ke dasar jurang begitu saja. Crysan memberanikan diri menyentuh tangan Ridho. Menggenggam tangan Ridho yang dingin. " Aku minta maaf kak, karena aku kakak bermusuhan sama kak Bram. Karena aku, kakak jadi seperti ini "
Crysan menoleh ke belakang saat bahunya disentuh oleh seseorang. Crysan terpaku mendapati Bram dan Eki yang juga ada di sana. " Kak Bram "
Bram terkekeh pelan. Dia menarik tangan Crysan lembut. Menuntun Crysan untuk keluar. Membiarkan Eki menjaga Ridho di dalam sana. Bram mengajak Crysan menuju taman rumah sakit. Crysan tidak bersuara, menunggu Bram mengatakan sesuatu. Bram menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan. Ditatapnya Crysan dari samping.
" Ris, kakak mau jujur ", sekali lagi Bram mengatur nafasnya. Crysan masih bertahan dengan kebisuannya. " Bulan depan setelah pengumuman. Kakak langsung pergi ke Singapore "
Air mata Crysan kembali menetes. Crysan menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Fokus dan terus mendengarkan ucapan Bram. Dia tidak berani menyela ucapan Bram. Bisa dipastikan kalau Crysan membuka suara, Bram akan tahu kalau dia menangis.
" Awalnya kakak mau ambil ITB. Tapi, kakak mau berbakti sama orang tua. Jadi, pindah meneruskan di Singapore ", Bram menoleh ke samping. Crysan yang masih lurus menatap ke depan. Bram bisa melihat genangan air mata di bulu mata Crysan. " Kamu baik-baik ya selama aku nggak ada ", Crysan mengangguk lalu pergi meninggalkan Bram.
•••
Crysan duduk termenung menanti kertas ulangan yang akan dibagikan oleh Pak Yus. Menanti nilai matematikanya dengan raut wajah sedih. Berbeda dengan Avni dan Nadya yang antusias karena mereka bisa mengerjakannya satu minggu yang lalu. Pelajaran terus berganti. Avni menyenggol lengan Crysan pelan. Memaksa Crysan untuk menoleh kearahnya. Avni menunjuk arah pintu masuk dengan dagunya. Crysan mengikuti petunjuk Avni. Menatap ke arah pintu masuk dan terpaku.
•
•
•
To
•
•
•
Be
•
•
•
Continue
•
•
•
Hehe bercanda. Belum bersambung kok. Lanjut ya.
•
•
•
Ridho berdiri di sana menggunakan tongkat sebagai penyangga tubuhnya. Di samping cowok itu ada Daniella yang menahan marah dan kesal. Terakhir Crysan melihat Ridho, cowok itu belum sadarkan diri. Masih dalam kondisi kritis walulun bisa melewati masa koma-nya. Crysan menelan ludahnya kasar. Berdiri dan berjalan ke arah Ridho. Berkali-kali Crysan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Menepis pikiran bahwa orang yang ada didepannya itu fana. Namun, percuma, orang itu benar-benar Ridho. Dengan senyumnya yang terlihat sendu.
" Ada yang mau meminta maaf ", Ridho melepas pegangan Daniella pada lengan kirinya. Mendorong Daniella maju dengan sikutnya. Daniella akhirnya mau menuruti Ridho. Cewek itu menghentakkan kakinya kesal.
" Gue minta maaf ", ucap Daniella asal-asalan. Crysan mengangguk dan menatap kepergian Daniella dengan tatapan sedih.
" Kakak juga minta maaf "
•••
" Selamat pagi tuan putri "
" Pagi, pangeran "
Bram menahan senyumnya. Tersadar dengan apa yang baru saja dikatakan, Crysan langsung menoleh ke arah Bram. Cowok itu tengah menaik turunkan alisnya. Crysan memukul lengan Bram pelan. Meski sempat menangis saat Bram pamit pergi, tapi Crysan bisa memaklumi itu. Bram mengeluarkan sebatang coklat dari dalam tasnya. Memberikan coklat itu pada Crysan.
" Terima kasih, kak Bram ", ucap Crysan tulus. Bram masih menahan senyumnya. Melihat Crysan yang asyik membuka bungkus coklat itu lalu memakannya.
Bram hampir lupa mengutarakan niatnya. Cowok itu menepuk jidatnya. Menarik coklat dari tangan Crysan dan menahannya. Crysan memberengut melihat tindakan Bram. Sekarang Crysan benar-benar kesal dengan Bram. Cewek ini mengalihkan pandanganya dari Bram. Menatap ke araha lain asalkan tidak pada Bram. Crysan menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Membuat tawa renyah Bram lepas dari bibir cowok itu.
" Nyebelin ", Bram menutup telinganya mendengar teriakan Crysan.
" Oke. Tanggal delapan belas bulan ini Ridho ulang tahun. Kamu datang kan ?", Crysan menggeleng. Memang benar, Crysan tidak akan datang ke ulang tahun Ridho. Biar saja dianggap sombong yang penting tidak akan ada masalah lagi karena dirinya. Bram menarik bahu Crysan agar mau menghadap dirinya. " Kenapa ? "
" Aku nggak diundang. Lagi pula aku nggak mau Daniella marah ", lirih Crysan akhirnya. Bram bisa memahami itu. Bram sendiri merasa was-was dengan Daniella. " Delapan belas itu berarti ? Sekarang kan ? ", Bram mengiakan perkataan Crysan. Cewek itu terlihat bingung.
" Datang ya ? Please, emangnya kamu mau kakak diambil lagi sama Helen ?", tanpa sadar Crysan menggeleng. Tidak tahu kalau Bram tersenyum di dalam hati. Walaupun gelengan kepala itu samar tapi Bram melihatnya. " Dandan yang cantik, sunshine "
Malam harinya Bram menunggu Crysan di rumah cewek itu. Ditemani oleh ayah dan ibu Crysan yang sudah duduk berhadapan dengan Bram. Agak canggung memang, tapi mau bagaimana lagi ? Tidak mungkin Bram membiarkan Crysan pergi ke ulang tahun Ridho sendirian. Terlalu berbahaya untuk Crysan. Belum lagi Yovi yang selalu mengawasi semua siswa Wijaya Bakti. Sebenarnya Bram sudah pasrah dengan tindakan Yovi nantinya.
Kembali pada malam ini, Bram masih asyik menanggapi obrolan ayah dan ibu Crysan. Perbincangan tiga orang itu terhenti saat Crysan mendekat. Tak ada yang spesial malam ini dari penampilan Crysan. Hanya rok setinggi lima cm diatas lutut. Dengan atasan sweater putih. Bram berdiri dan pamit pada orang tua Crysan. Mengajak cewek itu pergi menuju ke rumah Ridho.
Mobil Bram memasuki pekarangan rumah Ridho. Terlihat banyak mobil di sana, Bram yakin mobil yang berjajar itu pasti milik semua temannya. Bram berjalan beriringan dengan Crysan disampingnya. Rumah Ridho yang besar itu terlihat lengang. Langkah Bram dan Crysan terus menuju ke taman belakang. Bram sempat mendengus melihat dekorasi ulang tahun itu. Sampai di dekat Eki, Bram belum mengeluarkan sepatah kata pun. Bram menatap Daniella kesal. Karena Daniella, Crysan sempat shock. Saat melihat sekitar, tanpa sengaja Crysan melihat seorang cowok yang tampan dengan balutan jas putih. Crysan paham betul dan juga yakin kalau cowok itu pasti Ridho.
Karin yang melihat kedatangan Bram bersama Crysan mulai mendekat. Berdiri angkuh di depan Crysan dan Bram. Karin menyentuh tangan Helen. mengisyaratkan agar temannya itu mendekati Bram. Dan, ya, saat Helen berdiri di samping Bram, cewek itu langsung merangkul lengan kiri Bram. Tersenyum sinis pada Crysan tanpa mengindahkan wajah kesal Bram. Tak tahan dengan kelakuan Helen, Bram menyentakkan tangan cewek itu begitu saja. Meninggalkan Helen dan Karin yang melongo melihat reaksi Bram. Bram membawa Crysan menemui Ridho. Ridho yang tertawa bahagia dengan keluarganya juga Daniella.
" Happy birthday, Dho "
" Selamat ulang tahun ya, Kak "
Ridho tersenyum ke arah Bram dan Crysan. Beginilah nasibnya sekarang, tidak akan pernah mendapatkan Crysan. Ridho dengan segala keegoisannya memilih Daniella daripada Crysan. Ridho tahu mana yang benar dan mana yang salah, tapi Ridho lebih memilih yang salah itu. Melindungi Daniella dan segala sifat liciknya.
" Kak, aku keluar sebentar ya ? Ad telepon ", pamit Crysan pada Bram yang tengah menikmati hidangan. Bram hanya mengangguk tanpa menaruh rasa curiga. Mengamati kepergian Crysan dengan senyum.
" Iya ayah, Crysan nggak akan pulang malam. Nanti bilang sama kak Bram "
"....."
" Janji ayah. Ya, assalamualaikum "
Crysan menutup teleponnya. Memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang dia bawa. Saat Crysan akan berbalik, matanya menatap seorang anak kecil berdiri di tengah jalan. Padahal jalanan itu terlihat ramai. Crysan mempercepat langkahnya, bermaksud mengajak anak itu untuk ke pinggir. Mata Crysan semakin terbuka lebar saat sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah anak itu. Tidak ada pemikiran lain sekarang selain menyelamatkan anak itu. Crysan berlari sekuat tenaga. Mendorong tubuh anak kecil itu ke pinggir. Membiarkan tubuhnya yang ringkih terpental jauh. Darah segar itu mengalir dari belakang kepala Crysan. Dan tanpa diketahui siapapun, dua orang tengah menertawakan kondisi Crysan saat ini.
Melihat ada kejanggalan, Bram berlari keluar. Menyisakan tanda tanya bagi siapa saja yang ada di dalam ruangan itu. Eki yang penasaran dengan sikap Bram lantas mengikuti Bram keluar. Matanya terpaku pada sosok yang tengah terbarin di sana. Dalam pangkuan Bram dengan bersimbah darah. Sosok Crysan yang sangat pucat. Eki semakin terkejut saat melihat ambulance datang. Membawa tubuh Crysan ke rumah sakit. Eki menerima kunci mobil Bram yang sempat di lempar oleh cowok itu. Menuju ke rumah sakit dengan mengendarai mobil Bram.
Wajah pertama yang dilihat oleh Eki adalah wajah khawatir milik Bram. Sedangkan ibu Crysan menangis dalam diam di sebelah ayahnya Crysan. Saat Eki tiba tak ada satu pun yang bersuara. Sampai dokter keluar dan menyuruh orang tua Crysan mengikutinya. Eki duduk di dekat Bram. Wajah Bram yang masih shock. Eki pun tidak percaya kalau hal itu terjadi pada Crysan.
•••
Tawa bahagia terdengar dari dalam ruangan gelap yang sudah disulap menjadi ruang pesta. Menertawakan orang yang mereka anggap musuh sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Karin, Helen, Yovi, juga Daniella masih terbahak bahagia. Tak ada yang tahu kecuali mereka berempat apa rencana yang sebenarnya. Menyuruh seseorang untuk menabrak Crysan. Membuat cewek itu tidak dapat berbuat apa-apa sekarang.
" Gue yakin habis ini Ridho seutuhnya akan jadi milik lo, Dee "
Daniella tertawa mendengar ucapan Karin. Terdengar kekanakan, tapi Daniella sungguh senang. Begitu juga dengan Helen yang sedang berpikir keras. Memikirkan Bram yang pasti nantinya akan kembali pada dirinya. Setelah Crysan meninggal tentunya. Memikirkan itu Helen tertawa keras. Membuat Daniella, Karin, dan Yovi yang sedang asyik mengobrol menoleh ke arah Helen.
" Apa dia gila, beib ? " Tanya Yovi penasaran. Karin hanya mendelik, memilih tidak menjawab pertanyaan Yovi.
" Nggak usah panggil gue beib kalo lo juga pernah suka sama Crysan ", jawab Karin sarkasme. Daniella kembali tertawa, menertawakan ketiga temannya. Apa yang Daniella perbuat beberapa hari lalu hanyalah kepalsuan. Daniella tidak pernah tulus saat meminta maaf pada Crysan. Dia hanya meminta maaf karena perintah Ridho.
" Kali ini gue yang menang ", Daniella kembali tersenyum sinis.
" Lo bener-bener iblis yang bersembunyi dibalik wajah bidadari, Dee ", ucap Yovi menimpali kalimat Daniella sebelumnya. Dan mereka berempat kembali tertawa.
" Ya begitulah "