
Dengan langkahnya yang anggun bak putri raja, Daniella berjalan menuju ke kelasnya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cantik. Sesekali Daniella mengibaskan rambutnya ke belakang. Kelas Daniella memang bersebalahan dengan kelas Ridho. Saat melewati kelas pacarnya itu, Daniella menyempatkan diri untuk mengintip ke dalam kelas Ridho. Memastikan bahwa Ridho sudah sampai di kelas cowok itu atau belum. Senyuman Daniella bertambah lebar ketika matanya menangkap bayangan Ridho di pojok sana. Ridho yang tengah fokus dengan setumpuk buku di depannya. Daniella tidak memutuskan untuk masuk, hanya melihat dari luar. Kembali cewek ini melangkahkan kakinya ke kelasnya sendiri.
" Pagi, Karin sepupuku sayang ", sapa Daniella sumringah melihat Karin yang menggerutu di dekatnya.
" Pagi juga ", jawab Karin singkat. Masih bertahan dengan posisinya. Memaki handphone yang ditaruh di meja. Membuat rasa penasaran Daniella mencuat dari dalam hati. Daniella mengambil ponsel Karin secara tiba-tiba. Membaca setiap kalimat yang tertera dalam chat milik sepupunya itu.
Yovi ? Anak Nusa Bangsa yang waktu itu kan ?
Daniella berkali-kali melihat ponsel tersebut bergantian dengan melihat wajah Karin. Mempertanyakan hubungan antara Karin dan Yovi. Dari chat yang sempat dibaca Daniella, cewek ini yakin kalau Karin memiliki hubungan khusus dengan Yovi. Yang menjadi pertanyaan utama disini adalah Karin juga mneyukai Ridho. Daniella tahu itu, tapi dia memilih untuk bungkam. Cukup dia menghancurkan Crysan terlebih dulu. Baru setelah itu, dia akan mengurus Karin dengan caranya sendiri. Daniella menaruh kembali ponsel milik Karin. Memilih duduk manis ditempatnya.
" Dee, lo harus tahu berita terbaru ", Daniella mencebikkan bibirnya. Agak malas mendengar gosip terbaru atau apalah itu yang akan disampaikan oleh Helen. Mantan Bram yang dijuluki sebagai ratu gosip. Helen sudah mengambil posisi di sebelah Daniella. " Kalo lo dengar berita ini, gue jamin lo kebencian lo akan bertambah sama si Crys- ", penjelasana Helen terpotong saat Daniella mengangkat telapak tangannya. Melihat tanda itu, Helen hanya meringis.
" Maksudnya gimana sih Hel ? Lo mau omong apa ? ", Gemas melihat Helen yang meringis tidak jelas, Daniella lalu menjitak kepala Helen. Menyadarkan Helen dari keanehan yang tidak jelas itu.
" Jadi, karena kita kurung Crysan waktu itu. Ridho yang kena imbasnya Dee. Dia, emh...dipukuli sama Bram "
" APA!!? Kenapa bisa begitu sih ?", ucap Daniella frustasi. Kemarin dia tidak memikirkan hal itu. Ridho yang terkena masalah. Bahkan melibatkan Bram. Daniella bingung akan berbuat apa setelah mendengar ini. Wajah cerianya hilang entah kemana. Berganti dengan wajah yang mulai memucat. " Terus gue harus gimana, Hel ?", Melihat Helen yang menggeleng semakin Daniella bingung.
" Eh, bukannya weekend besok mamanya Ridho ulang tahun ya, Dee ?", tanya Karin mendekati Daniella. Dee, begitu sapaan akrab untuk Daniella. Dee mengangguk, semua hal tengah berkecamuk dalam pikirannya. " Gimana kalo kita buat kejutan buat mamanya Ridho. Ya, biar lo makin deket sama pacar juga kan, Dee. Bener nggak Hel ? ", Ide dari Karin itu mengembalikan binar bahagia di mata Daniella.
•••
Ridho memandangi sekeliling kamarnya. Tak ada yang spesial kecuali saat Crysan menggunakan kamarnya untuk mengganti seragamnya dengan gaun dari Ridho. Berbarung di kasurnya yang empuk, Ridho kembali menyentuh luka yang baru saja dia dapat. Luka akibat pukulan Bram. Belum sempat mengganti seragamnya dengan kaos rumahan, Ridho memilih untuk menyalakan laptopnya. Dia sudah memutuskan setelah lulus dari Wijaya Bakti untuk pergi ke Amerika. Meninggalkan semua kenangannya yang ada di Indonesia. Terkesan pengecut memang, tapi itulah Ridho. Selalu menghindari masalah yang dia dapat demi mendapat masalah baru lagi. Ridho lebih memilih masa bodoh dengan omelan dari mamanya nanti. Toh, selama ini mamanya tidak pernah memperhatikan Ridho. Ridho ingin sembuh, kalau bisa menghilangkan penyakit yang dia punya. Selesai dengan urusannya, Ridho bergegas mengganti seragamnya. Mata Ridho tertuju pada kotak kado berwarna pastel yang jatuh dari tempatnya. Menampilkan isi dari kotak itu. Syal putih yang dibelinya bersama dengan Crysan beberapa bulan lalu. Ridho ingat kalau benda itu akan ia berikan pada Lisa, mamanya. Ridho memasukkan kembali syal itu ke wadahnya. Tersenyum singkat sebelum menutup kembali pintu lemari.
Di ruang tengah rumah Ridho, terlihat mbak Sus yang sibuk menyiapkan makan siang untuk majikannya. Lisa, mama Ridho, yang baru saja kembali dari supermarket hanya diam dan menahan senyumnya. Dia sangat jarang menyiapkan sarapan maupun makanan atau keperluan semua orang yang dia sayang. Lisa memilih untuk mengasingkan diri di taman atau kamarnya. Saat makan bersama pun, Lisa berusaha bersikap biasa saja. Tidak memperhatikan Adi, suaminya atau Ridho dan Lucky. Lisa berlalu ke dapur, menata belanjaan dia bawa. Melihat masih ada bahan makanan yang belum dimasak oleh mbak Sus, Lisa memutuskan untuk meraciknya. Wanita berkepala empat ini terlihat puas dengan hasil yang dia peroleh. Cumi asam manis kesukaan Ridho. Lisa tahu itu karena mbak Sus sering menyajikannya.
" Maaf, nyonya tadi saya kelamaan di ruang tengah ", Lisa hanya tersenyum kemudian berlalu dengan membawa masakannya. Ruang tengah memang menyatu dengan ruang makan.
Ridho turun dari kamarnya saat dia mencium aroma yang membuat cacing di dalam perutnya memberontak meminta makan. Ridho yakin sekali aroma itu berasal dari dapur. Selain penasaran dengan aroma masakan itu, Ridho semakin dibuat bingung oleh keributan yang tercipta dari ruang tengah. Ridho melihat mamanya hanya diam saja saat papanya sedang berkata entah apa itu. Heran melihat mananya yang diam saja, Ridho langsung berjalan menuju papanya. Lisa memang sering marah dan juga kata kasar sering terlontar. Ridho tidak tega melihat air mata mamanya jatuh.
" Ini ada apa pa ?", tanya Ridho kepada papanya yang sudah diam.
" Nggak ada apa-apa, Dho. Ayo makan siang, mama kamu sudah masak ", Adi mencoba untuk tersenyum di depan Ridho. Ridho dan papanya berlalu dari hadapan Lisa.
" Papa marah sama mama ya ? ", melihat papanya yang diam, Ridho semakin gemas. " Kalo papa marah sama mam berarti papa cinta mati sama mama ", kemudian dua orang itu tergelak. Menyisakan kebahagiaan tersendiri bagi Lisa yang mengamati dalam diam.
•••
Daniella juga menyuruh Ridho harus sampai terlebih dahulu sebelum mamanya. Dan Ridho menyanggupi hal itu. Daniella melirik pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh tapi Ridho belum sampai. Sementara mamanya Ridho bisa dipastikan akan sampai dua puluh menit lagi. Daniella bingung sendiri, dia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Ridho. Hasilnya nihil, ponsel Ridho mati. Ridho terjebak dalam kemacetan Jakarta yang semakin padat merayap. Berhasil bebas dari macet, Ridh mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Tanpa memperhatikan keselamatannya Ridho terus menginjak pedal gas. Menambah kecepatannya juga bermaksud menghilangkan wajah Crysan. Ridho menyetir dengan keadaan setengah melamun. Tanpa dia tahu maut tengah menghadangnya di depan sana.
" Gimana diangkat nggak teleponnya ?", Helen bertanya dengan rasa khawatir. Daniella hanya menggeleng pasrah. Dia sendiri bingung, Ridho tidak pernah ingkar janji.
Sementara itu di dalam mobip yang berbeda, Lisa tengah duduk gelisah. Entah apa yang membuat wanita berkepala empat ini begitu gelisah. Yang terlintas dipikirannya hanya Ridho. Tangan Lisa gemetar. Berkali-kali dia menyuruh sopirnya untuk menambah kecepatan. Tapi, lagi-lagi kemacetan menahan Lisa. Kemacetan panjang yang disebabkan oleh kecelakaan. Begitu yang Lisa dengar dari sopir taksi tadi. Sopir taksi tadi sempat turun dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Perasaan Lisa semakin tidak menentu. Dia khawatir dan memutuskan turun dari mobil. Berlari meninggalkan mobilnya, mengabaikan teriakan sopir pribadinya. Yang ada dipikiran Lisa hanyalah Ridho. Hati kecil Lisa mengatakan ada hal buruk yang terjadi dengan Ridho. Walaupun Ridho bukan anak yang dia lahirkan tapi, Lisa sangat sayang kepada Ridho. Menciptakan ikatan batin tersendiri bagi Lisa. Lisa terpaku ditempatnya. Yang ada di depan sana adalah mobil SUV milik Ridho. Mobip yang sudah tidak ada bentuknya, hancur. Lisa menarik orang terdekat yang ada di sekitar lokasi kejadian. Memastikan penglihatannya tidak salah.
" Korbannya remaja laki-laki ", Sekarang dunia kecil Lisa benar-benar hancur. Anaknya kecelakaan di jalan yang sama yang akan membawa mereka ke restaurant untuk ulang tahun Lisa. Perempuan ini tak dapat lagi membendung kesedihannya. Langkahnya gontai menuju mobil Ridho yang sudah ringsek.
Seseorang orang menyerahkan kotak warna pastel pada Lisa. Juga memberitahukan pada Lisa rumah sakit tempat korban dibawa. Sampai di rumah sakit, Lisa tidak bisa memikirkan apa-apa selain keselamatan Ridho. Anak yang sempat dia sia-siakan sedang berbaring di ruang ICU. Memperjuangkan hidup dan matinya lewat layar monitor yang ada di sebelah Ridho. Adi datang setengah jam kemudian setelah Lisa meneleponnya tadi. Melihat pandangan kosong istrinya, Adi tahu kalau Lisa sangat menyayangi Ridho. Hanya saja Lisa menutupinya selama ini.
" Dia koma, mas. Anakku koma, Ya Allah ", air mata itu semakin deras mengalir di mata Lisa. " Tad...hiks...tadi...mobilnya tabrakan sama truk mas. Dia koma...hiks "
•••
Crysan berdiri diam menatap seseorang yang tengah tertidur di sana. Terbaring dengan alat-alat penunjang kehidupan. Crysan menghapus air matanya kasar. Berjalan menghampiri Bram yang duduk tenang di samping Lisa dan Adi. Lisa yang masih menangis sesenggukan dalam pelukan suaminya. Saking kalutnya, Adi langsung menghubungi Crysan. Dan disinilah Crysan berada. Crysan sudah kembali duduk di kursi panjang di depan ruang ICU. Bram mendekati Crysan dan memeluknya. Memberikan kehangatan sekaligus menyalurkan ketenangannya pada Crysan.
Bram semakin tidak tega meliha kondisi Crysan. Sangatlah buruk dibandingkan kemarin. Crysan masih sakit akibat ulah Daniella, bukan hanya sakit hati tapi juga sakit fisik. Sampai detik ini pun demam Crysan belum turun, tapi Crysan memaksa Bram untuk mengantarnya ke rumah sakit. Mengabaikan kekhawatiran orang tuanya sendiri dan mementingkan kondisi Ridho. Bram tahu kondisi Crysan down saat ini. Crysan menutup matanya, meredap air mata yang akan keluar. Dan sekarang sudah membasahi mata Crysan yang tertutup.
" Risya...hiks...tadi tante dikasih ini sama orang...hiks. Tante terlambat ya, Sya, Bram...hiks. Tante belum sempat bilang kalau tante sayang sama Ridho. Tapi, di-dia malah ter...ti..dur di sana...hiks "
Crysan semakin terisak dalam pelukan Bram. Cowok berdarah Spanyol ini hanya bisa mengusap bahu Crysan lembut. Membisikkan kata-kata positif tentang Ridho di telinga Crysan. Mengatakan kalau Ridho akan baik-baik saja. Melihat wajah Crysan yang semakin pucat, Bram memutuskan pamit pada orang tua Ridho. Memeriksakan kondisi Crysan pada dokter keluarganya yang juga bekerja di rumah sakit tempat Ridho dirawat. Bram terduduk lemas di sisi Crysan. Memperhatikan setiap lekuk wajah Crysan. Tinggal dua minggu lagi dia tidak bisa melihat wajah Crysan untuk selamanya. Bram menghubungi orang tua Crysan kalau saat ini Crysan juga dirawat karena penyakit tifus.
Bram terbangun saat mendengar teriakan dan kata-kata kasar. Matanya terbuka perlahan dan semakin lebar saat tahu kalau teriakan itu berasal dari Crysan dan Daniella yang sedang kalap. Memaki Crysan didepannya. Bram bangun dari tidurnya, mencekal lengan Daniella. Menjauhkan bidadari berhati iblis itu dari Crysan. Di belakang Daniella juga ada Karin dan Helen.
" LO KETERLALUAN CRYSAN. Lo bikin Ridho kayak gini. Dasar pembawa sial. Lo dengar ya, setelah Ridho sadar jauhi dia "
" Dengar gue, Dee. Crysan nggak ada hubungannya dengan kondisi Ridho sekarang. Berhenti menghina Crysan ", pinta Bram pada Daniella. Cewek itu masih menatap Crysan penuh amarah.
" Kalau Ridho nggak mikirin dia saat nyetir. Nggak mungkin Ridho kecelakaan. Aarrgghh ", Bram menurunkan jari telunjuk Daniella. Menyeret Daniella keluar dari ruang perawatan Crysan.
Bram kembali masuk, menemukan tatapan Crysan yang semakin kosong. Dengan air mata yang terus berjatuhan. Crysan tidak menjawab pertanyaan Bram. Hanya diam dan menatap kosong ke depan. " Kenapa kak ? Kenapa seperti ini. Ini terlalu rumit kak "
" Iya, kakak tahu Ris. Kita harus kuat menghadali ini "
" Tapi aku bukan pembawa sial. AKU BUKAN PEMBAWA SIAL KAN, KAK ", Crysan menggoncangkan tubuh Bram. Meminta jawaban Bram dan cowok itu hanya mengangguk.