
" Crysan, kamu sakit ", tanya Pak Isman, guru sastra inggris lintas minat itu melihat ke arah Crysan yang terlihat lesu dibangkunya. Pak Isman lantas menghampiri Crysan dan terlihat kasihan dengan muridnya itu.
" Tidak pak ", jawab Crysan lemah karena dia memang terlihat sakit.
" Kalau tidak, lepas jaket kamu itu ", setelah menyuruh Crysan melepas cardigannya Pak Isman kembali ke depan dan mulai membahas materi minggu lalu.
Avni yang duduk bersebalahan dengan Crysan tidak dapat berkonsentrasi penuh mendengar penjelasan Pak Isman. Sesekali dia menengok ke arah Crysan yang tertidur. Bahkan saat gurunya itu memperhatikan tempat duduknya, Avni selalu menyenggol lengan Crysan. Gagal, Crysan sama sekali tidak bangun dari tidurnya. Cardigan yang tadi dia pakai memang sudah terlepas dan digantikan oleh aksi tidurnya itu.
" Pak, Crysan pingsan. Tolong pak ", ucap Avni panik melihat wajah pucat pasi Crysan. Sontak saja semua mata tertuju pada Avni. Firdaus yang ingin mengangkat Crysan dihentikan oleh Pak Isman. Guru itu sendiri yang membawa murid kesayangannya ke UKS.
" Avni, kamu jaga Crysan. Saya mau mengajar lagi ", Avni hanya mengangguk dan melihat Crysan yang damai dengan alam bawah sadarnya.
Selama satu jam Crysan pingsan dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau dia akan sadar. Avni beberapa kali mengirim pesan pada Eki, berharap Eki akan memberitahukan hal ini pada Ridho. Seakan terbang tinggi lalu jatuh begitu saja, Avni sadar kalau Ridho mungkin saja sudah tidak peduli dengan keadaan Crysan.
Ini pasti gara-gara kak Ridho. Awas saja nanti dia. Batin Avni geram dengan Ridho.
Melihat tangan Crysan yang bergerak dan kelopak mata nan indah mulai terbuka, Avni berteriak dalam hati. Temannya sudah sadar dari pingsannya. Tadi, dokter jaga telah memeriksa keadaan Crysan. Crysan hanya kelelahan juga penyakit magnya kambuh. Avni menghela nafas untuk itu, padahal tadi pagi Crysan juga sudah memakan bekal sandwich tuna yang dia bawa sendiri. Crysan melihat sekeliling dan mengernyit saat menemukan keanehan. Dia tidak ada di kelas melainkan di ruangan bernuansa hijau yang dia kenali sebagai UKS itu. Matanya tertuju pada Avni dan melihat temannya itu menuntut sebuah penjelasan. Dan mengalirlah semua penjelasan dari mulut Avni. Crysan hanya diam dan sesekali mengangguk mendengarnya.
Bel istirahat berbunyi dan Avni ingin mengajak Crysan ke kantin. Baru saja Avni hendak membantu Crysan berdiri, sudah ada tangan lain yang mendahuluinya. Karena penasaran, Avni menengokkan kepalanya ke kiri dan melihat Bram sudah berdiri di sana. Juga ada Eki yang berdiri di belakang Bram, memperhatikan tiga manusia yang ada didepannya dengan senyum jahil. Avni mundur membiarkan Bram memapah Crysan.
" Mau ke kantin? ", tanya Bram kepada Crysan. Dengan matanya yang sayu, Crysan mengangguk. Membiarkan tubuhnya dalam papahan Bram.
Tanpa mereka berempat sadari, seseorang tengah mengawasi di balik tembok. Dia adalah Ridho, cowok ini sempat mendengar pembicaraan antara Eki dan Bram tadi. Juga melihat wajah khawatir Bram saat menuju ke UKS. Bahkan Ridho, menghindari Daniella yang beberapa hari lalu baru masuk sekolah. Pikirannya hanya satu yaitu Crysan dan kondisi kesehatan Crysan. Ridho bahkan tak mendengarkan panggilan Daniella. Dia terus berjalan mengikuti Crysan, Bram, Avni, dan Eki. Berjalan dengan jarak beberapa meter dari objek yang tengah dia ikuti.
Harusnya aku yang perhatian sama kamu. Tapi, sudahlah, Bram lebih segalanya dari aku. Batin Ridho dan membalikkan badannya. Kembali menuju ke kelasnya dan menghampiri Daniella. Cewek yang dia sayang.
•••
" Ridho, ih, kamu ditanya malah diem aja sih ", kesal Daniella pada Ridho yang sudah duduk dibangkunya. Ditemani Daniella dan juga bekal makan siang yang dibawa oleh cewek itu. Ridho hanya melirik sekilas lalu kembali memperhatikan papan tulis yang penuh dengan rumus matematika.
Merasa gagal dengan usahanya, Daniella akhirnya bangkit. Ridho yang melihat itu langsung menahan tangan Daniella. Kalau tidak, cewek itu akan mendiamkan dirinya selama satu hari seperti kemarin. Bahkan Ridho merasa kalau Daniella berubah. Lebih kekanakan dan juga lebih bossy. Bukan Daniella-nya yang dulu. Daniella yang lemah lembut dan juga sopan dalam bertutur sapa. Tak jarang pula, Daniella menanyakan apakah Ridho masih menganggapnya sahabat atau tidak. Bahkan Daniella pernah secara terang-terangan mengatakan kalau dia adalah kekasih Ridho. Crysan juga mendengarnya waktu itu. Mendengar tanpa sengaja tentunya.
" Aku gapapa. Jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya hilang ", rayu Ridho agar cinta pertamanya itu tidak lagi cemberut dan kembali duduk. Sesungguhnya, hati dan otak Ridho sangat bertolak belakang. Dan sekarang otak dan pikirannya yang sedang mendominasi. Mengatakan agar tidak jauh dari Daniella. Sedangkan hatinya, berbisik agar pergi ke kantin dan melihat Crysan.
" Kamu hari ini banyak melamun ya Dho? ", tanya Daniella pelan. Melihat Ridho dari sudut matanya.
" Enggak kok ", Daniella tahu kalau Ridho berbohong. Kebiasaan Ridho selama ini yang tidak pernah dia lupakan. Daniella tidak pernah mendengarkan jawaban Ridho tapi gerak-gerik cowok itu. Dan yang baru saja terjadi, Ridho menegang di tempatnya.
" Yaudah, aku kembali ke kelasku dulu ya. Bye, jangan lupa bekalnya dimakan ", ucap Daniella mengingatkan Ridho tentang bekal yang dia bawakan tadi. Ridho hanya mengangguk dan tersenyum simpul. " Kamu berubah Ridho. Apa penyebab ini semua adalah Crysan ? Sungguh keterlaluan ", desis Daniella begitu sampai di depan pintu dan berjalan meninggalkan kelas Ridho.
Setelah Daniella benar-benar pergi, Ridho mendesah lega. Dia membuka bekal itu dan memakannya. Kembali pikirannya menerawang pada kondisi kesehatan Crysan. Mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Eki. Satu-satunya orang yang dia percaya sebagai teman selain Bram.
From : Eki Kuya
Balasan pesan itu berhasil membuat Ridho mengelus dada, bersyukur karena Crysan sudah makan. Sekaligus khawatir karena penyakit mag Crysan itu.
From : Eki Kuya
Td udh disuapin Bram jg.
Sekali lagi Ridho tersenyum. Senyum ejekan yang dia tujukan untuk dirinya sendiri. Dia yang melepaskan Crysan demi Daniella. Ridho juga sadar seharusnya dia tidak mendekati Crysan. Awalnya dia hanya menganggap Crysan biasa saja, tapi siapa yang bisa menebak kapan rasa itu akan datang? Seiring dengan kebersamaan mereka berdua, Ridho mulai menyukai Crysan. Begitupun dia sadar kalau Bram juga menyukai adik kelasnya itu.
From : Brahmana
Lepasin Crysan untuk selamanya. Lo blg udh ikhlas.
Pesan itu membuat selera makan Ridho sirna begitu saja. Ya, dia kemarin mengatakan hal yang sama pada Bram. Bahwa dia ikhlas memberikan Crysan kepada temannya itu. Pertama kali Ridho mengatakan hal itu pada Bram, cowok itu hanya tersenyum sinis. Mengatakan kalau Crysan bukanlah barang yang dengan seenaknya dia berikan kepada orang lain.
To : Brahmana
Oke, Bram.
•••
" Kenapa nggak mau kakak antar? Kamu kan lagi sakit ", setelah tahu kalau Ridho mundur untuk mendapatkan Crysan, Bram merubah panggilan lo-gue menjadi aku-kamu pada Crysan. Berbeda dengan Ridho yang melakukan hal sebaliknya.
" Yaudah deh ", akhirnya Crysan mengalah dengan keadaan. Badannya sudah sangat lemas kalau digunakan menolak Bram seperti hari-hari lalu.
Diam menjadi pilihan Crysan saat ini. Menikmati suara milik Ed Sheeran yang sedang terdengar dari radio mobil Bram. Crysan memejamkan matanya sejenak dam kembeli membuka mata coklat mudanya itu. Melihat ke arah Bram yang sedang menyetir dengan tenang. Crysan mengulum senyum melihat wajah Bram. Cowok yang dia hindari karena Crysan tidak pernah menaruh hati pada Bram. Juga cowok yang dengan gigihnya mau menjadi pacar Crysan.
Aku sama sekali tidak menyukai kak Bram, tapi akan aku coba untuk nyaman saat dengan dia. Crysan kembali mengulum senyum setelah menilai perasaannya ke Bram di dalam hati.
" Eh, kak ", menarik nafas lalu menghembuskannya, Crysan melanjutkan kalimatnya " Tumben kakak perhatian sama aku. Biasanya juga nggak pernah "
Bram ingin tertawa mendengar kata-kata Crysan. Demi apa, cewek ini mempertanyakan perhatiannya? Selama ini Bram memang jarang perhatian dengan Crysan dan itu karena Ridholah yang lebih perhatian. " Perhatian kok, cuma kamu nggak sadar aja ", jawabnya singkat, membiarkan Crysan kembali berpikir sendiri dengan jawaban Bram.
Gapapalah walaupun hanya secuil perhatian yang dia berikan. Crysan mengangkat bahunya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Lelah dengan semua kejadian yang tak dia inginkan seperti pingsan tadi.
" Kalai ngantuk tidur aja gapapa. Nanti kakak bangunin ", ucap Bram seraya mengusap rambut Crysan pelan. Crysan hanya menurut dan mulai menutup matanya.
Semoga ini yang terbaik. Batin Crysan dan Bram bersamaan tanpa mereka berdua sadari.