Crysan

Crysan
Enemy



Crysan memandangi gelang yang dia peroleh saat ulang tahunnya. Gelang dari A.R itu masih menggantung manis di pergelangan tangan Crysan. Dia masih bertanya-tanya siapakah A.R itu. Tak ada inisial dua huruf itu kecuali nama Ridho. Tapi, Crysan tak mau lebih lanjut memikirkan tentang pemberi gelang cantik itu. Bram yang memang sering mengunjungi Crysan di kelas cewek itu, menghentikan langkahnya satu meter dari Crysan. Ikut memandang gelang itu dalam diam. Bram tahu siapa pemberi gelang itu, dia hanya merahasiakannya. Bram menatap nanar pada coklat yang dia bawa untuk Crysan. Menggeleng pelan lalu memasukkan coklat itu ke saku celananya. Duduk di depan Crysan dan memilih diam. Crysan yang sadar akan kehadiran Bram langsung tersenyum. Menanyakan kabar cowok itu dan kembali diam. Pikirannya kembali tertuju pada Ridho yang mulai masuk sekolah kembali. Tentu saja berangkat dengan Daniella. Crysan masih memikirkan tentang mama Ridho.


Kini tatapannya kembali pada Bram yang membisu. Dia ingin menceritakan apa yang dia alami dua hari lalu. Saat pulang sekolah tanpa Bram dan kedua sahabatnya. Crysan yang waktu itu berjalan sendiri dicegat oleh anak sekolah lain. Sekali lagi Crysan memilih untuk diam dan tidak menceritakan hal itu. Hal dimana keselamatan seluruh anak Wijaya Bakti terancam, mungkin. Belum lagi salah satu anak meminta Bram dan Ridho menemui mereka. Bukannya Crysan tidak mau memberitahukan hal ini pada Bram. Hanya saja keadaan yang belum stabil.


" Kenapa? ", tanya Bram tak tahan melihat Crysan yang diam dan gelisah. Crysan hanya menggeleng lemah dan menghindari tatapan Bram. Memaklumi keputusan Crysan, Bram langsung berdiri. Berpamitan kembali ke kelasnya sendiri.


" Maaf, kak. Aku nggak bisa jujur sama kakak ", lirih Crysan dengan mengamati kepergian Bram.


•••


Kelas lumayan sepi saat Bram kembali. Eki yang biasanya akan membaca buku catatan milik Ridho atau miliknya mungkin sedang pacaran dengan Avni. Bram bisa melihat Ridho dari tempatnya berdiri. Ridho yang sedang sibuk menyalin semua catatan milik Bram. Selama hidupnya, baru kali ini Bram melihat Ridho terlalu fokus pada buku catatan Bram. Padahal satu kelas tahu kalau buku catatan Bram penuh dengan coretan rumus singkat ala Brahmana. Bukan apa yang dicatatkan oleh guru sama seperti buku catatan Ridho.


Bel tanda jam istirahat selesai terdengar. Menghentikan aktivitas siswa yang berada di luar kelas. Menuntun mereka untuk kembali menuntut ilmu di dalam kelas. Bram duduk diiringi cengiran dari Eki. Bu Yayuk, guru Kimia sekaligus wali kelas datang dengan buku tugas ditangannya. Ridho yang memang sedikit tidak fokus hanya memperhatikan sekilas lalu menulis sesuatu untuk Bram. Semacam surat menyurat.


Yovi neror lo kagak?


Bram hanya menggeleng. Membiarkan Ridho berpikir tentang satu nama itu. Memang benar tidak ada satu pun orang Wijaya Bakti yang diteror oleh sekolah lain. Bram menengadahkan kepalanya. Lelah, dia lelah menjadi pentolan Wijaya Bakti. Dia sudah kapok dengan berbagai hal yang berbau tawuran dan perpecahan. Sampai pelajaran usai tak ada satu pun dari Ridho, Bram maupun Eki yang membuka suara. Jelas Eki pasti sibuk dengan pikirannya tentang Avni. Berbeda dengan Bram dan Ridho yang merasakan suatu kejanggalan untuk sekolah mereka.


" Dho, apa maksud lo dengan Yovi? ", kata Bram yang berjalan beriringan dengan Ridho. Ridho hanya menggeleng. Cowok itu langsung mendekati Daniella yang tersenyum manis menunggunya.


" Kita langsung pulang Dho? ", Ridho mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Daniella kembali memasang senyum sinisnya ke arah Bram.


Daniella berubah seratus delapan puluh derajat. Batin Bram dan dia hanya terkekeh melihat perubahan Daniella. Crysan yang datang dengan Dina sensei disampingnya hanya tersenyum simpul. Membalas salam Dina sensei sebelum benar-benar berdiri di sebelah Bram.


" Kak, aku pulang sendiri ya. Dijemput sama ayah ", kata Crysan dan Bram menampilkan senyuman manisnya. Mengacak rambut Crysan pelan sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri. Crysan memandang mobil Bram yang mulai menjauh dengan lambaian tangannya.


Crysan mengerjapkan matanya. Rasanya sungguh berat untuk membuka matanya. Cahaya matahari yang mulai menyusup menyadarkannya dari tidur lelap. Tidak, dia tidak tidur. Crysan pingsan atau lebih tepatnya dibius dan diberi obat tidur. Crysan menelan ludahnya kasar. Kamar ini bernuansa biru tua. Kamar yang terlihat maskulin. Crysan bangun dan duduk bersandar. Dia mengamati kamar itu. Benar-benar asing. Itu bukan kamar Ridho, Bram, ataupun Keenan. Setahu Crysan, kamar Ridho bernuansa hitam dan coklat. Crysan juga pernah melihat kamar Bram yang bernuansa merah maroon dan warna gelap. Berbeda lagi dengan kamar Keenan, adiknya yang menonjolkan tokoh kartun Cars.


Crysan melihat ke arah pintu yang mulai terbuka. Menampilkan sosok anak perempuan kecil dengan wajahnya yang manis. Crysan bingung melihat anak itu kembali keluar dan berteriak. Tak lama pula ada langkah lain yang memasuki kamar itu. Bukan hanya anak kecil yang ada berdiri di depan sana. Ada juga sosok wanita paruh baya dan seorang cowok yang Crysan yakini bukan dari sekolahnya. Ketiga orang itu tersenyum saat melihat Crysan terbangun.


" Yovi, mama ambil sarapan dulu ya ", cowok yanh dipanggil Yovi itu hanya mengangguk. Kemudian berjalan ke arah Crysan dan duduk di ranjang yang masih kosong. Pandangannya tak lepas dari Crysan.


" Kemarin kamu pingsan. Kebetulan aku lagi bawa mobil terus aku bawa aja kamu kesini ", Crysan terdiam mengamati cowok itu. Dia yakin sekali tidak pernah melihat cowok itu sebelumnya. Untung saja ini hari minggu. Mengingat keluarganya, Crysan langsung berdiri dari ranjang. Mengambil tasnya dan berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar itu. Sebuah tarikan di tangan menghentikan langkahnya.


" Aku mau pulang ", cicit Crysan tanpa berani memandang cowok itu.


" Yovi. Kamu siapa? ", bodoh kalau Yovi tidak tahu nama Crysan. Dia sudah merencanakan ini sejak awal. Bermaksud menolong Crysan tetapi juga menghancurkan dua orang sekaligus. Yovi hanya tersenyum manis. Menutupi sifat iblis yang dia simpan.


" Aku Crysan. Aku mau pulang ", lagi Crysan menjawabnya lirih. Masih gusar dengan perasaannya. Dia tidak memberi kabar orang tuanya.


" Oke, aku antar "


•••


Yovi kembali menggandeng cewek itu menaiki satu per satu anak tangga. Menuju ke tempat semua temannya berada. Dari tempatnya berdiri dia melihat semua pentolan sekolahnya sedang asyik membuat grafiti. Senyum miring Yovi muncul seketika. Sebelumnya tidak pernah dia memikirkan ide yang secemerlang hari ini. Crysan bisa dengan jelas mengenali wajah-wajah didepannya. Mereka anak yang mencegat Crysan beberapa hari lalu. Melihat ada yang datang, aktivitas membuat grafiti berhenti. Mengamati siapa yang datang lalu menarik sebuah kursi untuk Crysan. Menyuruh Crysan duduk disana. Yovi mengenalkan satu per satu temannya. Bahkan Yovi meyakinkan Crysan kalau semua orang yang ada disekitarnya baik. Semua teman Yovi tidak berniat buruk pada Crysan.


" Lo tahu ini kegiatan kita selain tawuran ", kata Bowo yang masih membawa cat semprot ditangannya. Menggerakkan benda itu ke kanan dan kiri sebelum kembali membuat grafiti.


Crysan menoleh pada Yovi yang masih tersenyum padanya. Bagi Yovi ini aneh. Cintakah dia pada Crysan? Berniat menghancurkan pentolan Wijaya Bakti dengan cewek ini malah dia yang terjerat pesona Crysan. Yovi melihat dua temannya yang lain datang. Juga melihat Daniella yang datang dengan satu teman Yovi. Daniella menundukkan wajahnya. Dia hanya memenuhi keinginan seseorang yang menerornya. Semula Dabiella pikir, peneror itu adalah Crysan seperti yang selama ini dia lakukan pada cewek itu. Tapi, Daniella salah. Tadi dia menggunakan taksi untuk ke tempat ini. Melihat satu mangsa lagi datang, Yovi tambah melebarkan senyumnya. Crysan yang merasa aneh dengan senyum Yovi langsung ikut menengok ke arah belakang.


" Kak, kenapa ada Daniella? Kakak kenal ?", tanya Crysan pada Yovi. Tapi, Yovi hanya diam dan menghampiri temannya dan Daniella.


" Bawa dia duduk disana ", kata Yovi sembari menunjuk bangku kosong agak jauh dari Crysan. Daniella sudah menangis dan Yovi mengacuhkannya. " Dia Daniella kan? ", Yovi melempar pertanyaan pada Crysan dan cewek itu hanya tersenyum menampilkan lesung pipitnya.


" Oh iya, Crysan kenalkan ini teman aku yang lain selain Bowo, Thomas, Feri, Gilang dan Diki ", Yovi menjeda kalimatnya. Dari sudut matanya, dia melihat Daniella yang menatap Crysan sinis dan Yovi membenci itu. Entah apa yang terjadi dengan diri Yovi. " Ini Irfan ", tunjuk Yovi pada cowok berperawakan tinggi. " Ini Catur dan Aris ", berganti pada dua cowok yang terlihat kental dengan paras jawanya. Crysan tersenyum dan menjabat tangan mereka satu per satu. Tatatapannya kini berpindah pada Daniella yang masih menangis tersedu-sedu. Crysan menghampiri Daniella dan mengajaknya bergabung. Awalnya Daniella sempat menolak namun, dia menurut saat Yovi melihat kearahnya.


" Daniella, kamu nggak apa-apa kan? ", tanya Crysan yang langsung diangguki oleh Daniella. Crysan menghapus air mata Daniella dan meyakinkan cewek itu bahwa teman Yovi dan Yovi sendiri adalah orang yang baik. Daniella mengangguk dan mengucap terima kasih pada Crysan. Yovi hanya tersenyum dan mengambil kantong plastik berisi makanan dan minuman. Memberikannya pada Crysan dan Daniella.


Crysan tidak tega melihat Daniella menangis. Walaupun Daniella sedikit tidak suka dengannya, bukan berarti Crysan harus balas tidak suka dengan Daniella. Gara-gara Ridho dan Daniella pula Crysan menangis. Tapi, Crysan benci kalau ada cewek yang menangis karena ketakutan. Oleh karena itu, dia menghapus air mata Daniella tadi. Menikmati makanan ringan yang dibawakan Yovi, Crysan dan Daniella sesekali membantu Bowo dan yang lain membuat grafiti. Yovi berdiri dan mengisyaratkan pada Thomas, Gilang, Feri, Irfan, dan Diki untuk mengikutinya. Sedangkan Bowo, Catur dan Aris menemani Crysan dan Daniella belajar grafiti. Informasi dari anak buahnya yang lain sudah memberi tahu bahwa Ridho dan Bram sudah datang. Hanya berdua tidak ada Eki dan pasukan Wijaya Bakti yang lain. Yovi sangat senang mendengar hal itu.


" Welcome to my place, enemies ", kata Yovi saat berada di depan Bram dan Ridho. " Gue kangen tawuran sama lo lagi. Dan kali ini mari kita mulai, dengan kekalahan Nusa Bangsa secara tidak adil saat basket bulan lalu "


" Gue minta cewek gue. Bukan tawuran ", geram Bram tepat di depan wajah Yovi. Yovi hanya tersenyum miring dan mundur satu langkah.


" Cewek yang mana? Crysan atau Daniella? ", tanya Yovi masih dengan wajah tenangnya. Berbeda dengan Bran dan Ridho yang menahan amarah dalam ekspresi yang berbeda. " Ridho jawab? Crysan atau Daniella. Gue tahu lo berdua menginginkan satu cewek yang sama. Begitupun gue "


Yovi menolehkan kepalanya melihat anak Nusa Bangsa yang tadi bersembunyi. Mereka menatap mangsa yang sudah masuk dalam perangkap Nusa Bangsa. Dengan membawa Daniella untuk datang sendiri. Dan Crysan yang kebetulan pingsan lalu disuntik diberi obat tidur oleh Yovi kemarin. " Kalau mereka melawan. Langsung habisi di tempat "


" Gue sama Bram nggak akan ngelawan asal bawa Crysan kemari "


Mendengar itu Yovi bertepuk tangan. Dia terlalu kaget mendengar ucapan Ridho. Bukan hanya Yovi, tapi, Bram juga terkejut. " Hebat, pacar sekaligus sahabat sendiri tidak diminta. Tapi, malah pacar Bram. Bagaimana Bram? "


" Berengsek lo Yov, bawa kemari "


Bram sudah kehilangan kontrol. Dia melayangkan satu pukulan untuk Yovi. Dan itu berhasil ditangkis oleh Yovi. Menyisakan kemarahan di hati Bram karena gagal memukul Yovi.


" Kalian berdua sujud di kaki gue. Akui kalau Nusa Bangsa lebih baik dari Wijaya Bakti. Kalian mengaku kalah sama kita. Dan mari kita akhiri permusuhan dua sekolah "


" Nggak akan "


Sedangkan diatas sana Crysan dan Daniella masih asyik membuat grafiti. Mengabaikan perkataan Bowo yang memberi tahu bahwa Yovi mungkin akan kembali dengan babak belur. Crysan hanya menggeleng dan mengatakan kalau dia akan mengobati luka Yovi nanti. Mereka lalu tertawa lepas mendengar penuturan Crysan. Daniella tersenyum, ada rasa bersalah dihatinya. Kembali memakan keripik singkongnya dan mengamati Crysan yang masih asyik membuat grafiti berbentuk seorang cowok. Dan Daniella tahu itu wajah siapa. Tiga wajah yang berbeda. Satu wajah Yovi, wajah kedua milik Bram, dan yang terakhir adalah Ridho.