Crysan

Crysan
What Happen ?



Tiga wajah berbeda yang digambar Crysan di grafiti itu adalah Yovi, Bram, dan Ridho. 


...


Pandangan Daniella sempat mengabur sebelum dia melihat seseorang memberinya sebotol air mineral. Daniella mendongak, melihat siapa orang itu. Dia melihat Crysan yang tengah tersenyum manis sambil kembali menyodorkan botol itu ke hadapan Daniella. Tanpa membalas senyuman Crysan, Daniella langsung mengambil botol itu dan mengucapkan terima kasih. Walaupun pelan, Crysan masih bisa mendengarnya. Sekarang, Crysan sudah duduk disebelah Daniella. Dari sudut mata, Daniella dapat melihat Crysan mengeluarkan sesuatu. Sebuah sketchbook lengkap dengan peralatan menggambar yang memang selalu Crysan bawa kemanapun gadis itu pergi. Tidak. Daniella sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan Crysan, hanya saja lidahnya gatal ingin menanyakan suatu hal. Daniella kembali mengurungkan niatnya saat Yovi kembali dengan beberapa luka lebam di wajah tampan milik cowok itu. Daniella hanya menatap Yovi sekilas sebelum menyikut Crysan. Bermaksud agar gadis disebelahnya itu melihat kondisi Yovi. Usaha Daniella tidak sia-sia. Crysan mengangkat wajahnya dengan salah satu alis yang terangkat. Dan Daniella menunjuk Yovi yang duduk jauh dari mereka dengan dagunya. Daniella hanya takut dengan orang asing, termasuk Yovi. Crysan bangkit dari duduknya dan menghampiri Yovi.


" Aku obatin ya ", itu bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang diberikan Crysan. Yovi hanya menatap Crysan sekilas sebelum mengangguk. Membiarkan Crysan mengobati lukanya dengan telaten.


Yovi sempat meringis saat Crysan tanpa sengaja menekan lukanya sedikit keras. Crysan sengaja tidak bertanya apapun pada Yovi. Dia hanya merasa semua yang didapat Yovi hari ini bukan urusannya. Urusan Crysan dengan Yovi hanya satu, yaitu Crysan ingin pulang tapi dia tertahan di tempat ini karena Yovi. Selesai mengobati luka Yovi, Crysan memandang cowok didepannya itu dengan tatapan yang entahlah. Ada kesal juga kasihan. Yovi yang merasa diamati langsung mendongak. Membalas tatapan intens milik Crysan. Sungguh Yovi sempat kacau melihat tatapan Crysan. Matanya sangat memabukkan siapa saja yang melihatnya. Mata yang mampu menghipnotis semua orang.


Masa iya aku suka dengan Crysan ? Mustahil sekali. Tapi, tunggu kenapa jantungku ? Astaga, Yov, lo benar-benar sudah gila.


Dengan bodohnya Yovi meng-iyakan semua yang dia katakan dalam hati. Sungguh, dia mulai menyukai Crysan. Yovi mengulurkan tangannya untuk menutup mata Crysan. Mencoba menghentikan tatapan intens Crysan. Yovi terkekeh melihat Crysan yang kini sibuk melepaskan tangan Yovi. Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Daniella dengan tatapan irinya. Semua teman Yovi yang menatap konyol. Juga Bram dan Ridho yang menatap penuh kelegaan melihat Crysan yang aman bersama Yovi. Bram yang tadi sempat melihat keberadaan Daniella hanya diam. Bram sudah berusaha memberitahu Ridho tentang Daniella. Jawaban Ridho seakan membuat Bram tersadar bahwa temannya ini memang tidak peduli pada Daniella. Diam-diam Bram tersenyum. Senyum lega juga cemburu. Bram mencoba menekan rasa sakit itu.


" Kita pulang Bram ", Bram hanya mengangguk. Mengikuti langkah Ridho.


Ridho sungguh beruntung. Dia menyukai kamu, Ris. Tapi, dia malu untuk mengakuinya. Batin Bram dengan senyuman yang semakin mengembang. Melihat wajah Ridho tadi, membuat Bram yakin dia salah menjadikan Crysan kekasihnya.


" Dho, setelah lulus SMA. Gue mau ambio beasiswa sekolah di Singapore ", Ridho yang tadi sibuk menyetir tiba-tiba menginjak rem secara mendadak. Membuat Bram kaget dan membetur dasbor mobil Ridho.


" Kenapa ? Bukannya lo mau ambil ITB ? ", Bram hanya menggeleng sebagai jawaban. Ridho tahu ada alasan tersendiri yang dimiliki Bram. Itu rahasia Bram dan dirinya ( Ridho ) tidak berhak untuk ikut campur.


•••


" Sudah sampai tuan putri "


Crysan tersenyum bahagia. Dia sudah berada di depan rumahnya. Crysan juga sempat melihat Yovi yang sudah turun dan memutari mobil. Membuka pintu untuk Crysan. Mengantar Crysan masuk ke dalam rumahnya sekaligus bermaksud bersilaturahmi dengan keluarga Crysan. Tanpa disadari Yovi, hal ini bagaikan de javu bagi Crysan. Jika hitungannya tidak salah sudah ada tiga cowok yang berkata demikian pada Crysan. Pertama Ridho, kemudian Bram, dan yang terakhir adalah Yovi. Dan ketiganya adalah kakak kelas Crysan, meskipun Yovi berbeda sekolah dengan Crysan. Fara, ibu Crysan, sempat terkejut saat putrinya pulang dengan seorang cowok. Setelah Yovi memperkenalkan diri, Fara langsung berlalu menuju dapur. Memberikan waktu bagi Crysan untuk berbincang dengan tamunya itu. Fara sampai menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis pertanyaan dalam hatinya soal Crysan. Apa mas Ian juga seperti itu? Menjadi pusat perhatian banyak orang? Fara kembali menggelengkan kepalanya. Merasa ada yang aneh dengan otaknya.


Senyum itu? Sungguh membuat Yovi sangat bahagia. Katakanlah dia gila saat ini. Karena memaksa Crysan untuk berfoto bersamanya. Bahkan sempat menanyakan akun instagram milik cewek itu. Awalnya Crysan sempat menolak memberitahu tapi, dengan bujuk rayu Yovi akhirnya Crysan memberitahukan apa yang Yovi minta tadi. Biarkan dia lupa dengan niat awalnya untuk menghancurkan Bram dan Ridho. Yovi sadar nantinya dia juga akan ikut hancur. Apalagi dia sudah memilih strategi sejauh ini dan hasilnya Yovi sendiri terjebak dalam strategi konyolnya itu. Crysan tergelak saat melihat fotonya yang diunggah melalui akun instagram Yovi. Caption yang ditulis cowok itu sungguh membuat Crysan merasa aneh. Crysan akui, dia hanya menganggpa Yovi sama seperti Eki. Hanya kakak kelasnya. Berbeda dengan Bram yang menjadj kekasih bohongan sekaligus kakak bagi Crysan. Lain lagi dengan Ridho yang sangat dicintai oleh Crysan. Dan caption milik Yovi, membuat Crysan bungkam. Dia terlalu bingung.


Mungkinkah tiga orang yang berbeda menyukaiku ? Dengan cara mereka masing-masing yang membuatku bingung seperti ini ? Crysan hanya berani menerka dalam benak dan hatinya. Dia terlalu malas untuk menanyakannya pada Nadya dan Avni. Pasti ujungnya adalah perdebatan tidak penting antara mereka bertiga ( Crysan-Avni-Nadya ).


Kesunyian menemani Crysan. Yovi sudah pulang sejak satu jam lalu. Tadi setelah Yovi berpamitan, Fara langsung memberondong Crysan dengan segala pertanyaan yang bersarang dikepalanya. Sesekali Crysan menjawab dengan senyuman, namun lebih banyak menggeleng daripada mengangguk. Fara bisa mengerti arti jawaban putrinya itu. Sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat Crysan yang bingung dengan hatinya. Semua keinginan yang Crysan sampaikan pada Fara, kini sedikit demi sedikit mulai menguap. Menyisakan satu keinginan saja yang belum bisa Crysan penuhi. Karena Crysan belum lulus SMA. Yaitu ikut dengan aunti dan unclenya tinggal di Perancis. Lamunan Crysan terhenti saat handphonenya berdering.


" Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku  ? ", Crysan terus mengetuk kepalanya dengan tangan. Terlalu bingung dengan semua yang terjadi.Lamunan Crysan terhenti saat handphonenya berdering. Crysan tersenyum singkat melihat nama Bram tertera disana. Buru-buru Crysan mengangkat telepon itu.


" Halo, kak " sapa Crysan setelah berhasil menempelkan handphone dekat telinganya.


" Iya, hallo. Kamu lagi apa ?"


Bohong kalau Bram tidak khawatir tadi. Mak dari itu, untuk memastikan Crysan baik-baik saja Bram menelepon Crysan.


" Sebentar lagi pasti hujan, Ris. Emh, kamu mau bicara dengan Ridho? "


Bram berbisik saat mengatakan itu. Bahkan matanya sempat melirik Ridho yang masih sibuk mengemudi disampingnya. Sedang, di seberang, Crysan mengangguk lemah.


" Omong sesuatu ke kakak sekarang "


" Kakak sudah makan atau belum ? Kalau belum makan ya. Terus jangan lupa minum obatnya biar cepat sembuh ", ucap Crysan yang ditujukan kepada Ridho. Tapi, Bram ikut tersenyum di sebelah Ridho saat suara Crysan terdengar dari telepon genggamnya. Ridho melirik Bram sekilas.


Tut..tut..tut


" Itu...Risya, k kan ?", tanya Ridho ragu. Bram hanya tersenyum dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Sedangkan Ridho, kembali fokus menatap jalanan dengan segala pemikirannya.


" Dho, gue mau tanya sama lo. Tolong lo jawab yang jujur. "


" Apa ? Asal pertanyaannya masuk akal gue jawab ", Ridho kini sudah menepikan mobilnya. Ya, mereka sudah sampai di rumah Ridho. Bram tidak langsung bertanya melainkan turun dan berjalan meninggalkan Ridho.


" Lo...emh...begini, sebenarnya lo sayang nggak sih sama Paris ?"


Uhuk...uhuk...uhuk


Eki yang sedari tadi memang bertugas menunggu Bram dan Ridho di rumah Ridho terkejut dengan pertanyaan Bram. Tadi yang terbatuk pun Eki, bukan Ridho. Fokus Eki yang tadinya ada diminuman sirup yang diantar mbak Sus terbagi saat Bram menyebutkan satu kata keramat yaitu  Paris. Belum lagi kata sebelum nama itu. Pandangan Eki berpindah pada Ridho. Temannya itu hanya tertunduk lesu. Bingung dengan keputusan yang dulu dia ambil. Keputusan saat Daniella kembali dari California. Keputusan tentang membiarkan Bram mengambil posisinya sebagai orang yang menyayangi Crysan. Ridho hanya bisa menghela nafas lelah untuk pertanyaan Bram.


" Maksud lo apaan mas bro ? Bukannya lo pacar Crysan ? Kok lo tanya kayak gi... " , Eki menghentikan ucapannya saat Bram menatapnya datar namun tajam.


" G...gue ng...nggak tahu Bram. Semuanya terlalu rumit bagi gue ", jawab Ridho putus asa. Bram berpindah disebelah Ridho. Menepuk pundak sahabatnya itu pelan.


" Gue udah jelasin yang sebenarnya sama lo, Dho. Terserah apa pendapat lo tentang gue. Tapi, gue nggak bisa mengambil hati dan perhatian dia. Cuma lo yang bisa "


Ridho tahu persis siapa yang dimaksud dia oleh Bram. Dia juga sadar kalau Crysan sama sekali tidak menyukai Bram. Bahkan Ridho sempat tertawa saat mendengar penjelasan Bram waktu itu. Crysan hanya menganggap Bram, kakak ? Kalimat itu bagaikan hal yang sangat mustahil bagi Ridho. Tidak ada satu pun kekurangan dalam diri Bram. Berbeda dengan dirinya yang mmempunyai penyakit dan juga jauh dari ibunya. Walaupun, akhir-akhir ini Lisa sudah mau berbicara dengan Ridho. Namun, rasanya ada yang aneh dengan perilaku Lisa. Seperti ada yang ditutupi oleh mamanya itu.


" Coba, lo putusin Daniella. Lo hanya terobsesi sama dia, Dho. Gue ada ide "


Bram membisikkan idenya itu ke telinga Ridho. Sahabatnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk. Bram juga sadar, rasa sukanya pada Crysan hanyalah rasa sayang layaknya seorang kakak pada adiknya. Setelah menjadikan Crysan kekasihnya, Bram juga merasa kalau dia sama seperti Ridho. Hanya terobsesi ingin berpacaran dengan Crysan. Tanpa mereka bertiga ( Ridho-Bram-Eki ) sadari, disana di dekat mobil Ridho seseorang tengah menatap mereka nanar. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bram. Orang itu berbalik dan langsung meninggalkan rumah Ridho dengan berlinang air mata.


Bukan kamu yang terobsesi, Dho. Tapi, aku yang terobsesi untuk memiliki kamu. Daniella mencoba menghalau air matanya yang ingin turun. Dia lemparkan pandangannya pada rumput liar yang ada didepannya.


" Kamu, sangat beruntung Crysan. Selalu beruntung dariku, sejak dulu aku selalu kalah dengan kamu ", lirih Daniella sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kursi taman yang dia duduki.