
Rasa bersalah itu terus muncul di hati Ridho. Sebagai cowok dia hanya ingin memilih salah satu dari dua orang yang dia sayangi. Seperti memilih antara Crysan yang baru saja hadir dihidupnya. Atau memilih 'D' yang telah lama ada dihatinya dan orang yang dia tunggu dua tahun ini. Tapi, di lain sisi, Ridho menginginkan keduanya.
Puas mengamati Crysan yang tadi masuk ke perpustakaan, Ridho kembali ke kelasnya dan menemukan Karin juga Helen. Kedua cewek centil itu tengah duduk di dekat Bram, dan mendapat sikap cuek dari Bram. Ridho lantas menuju ke bangkunya dan duduk. Diam meratapi coklat yang sebenarnya ingin dia berikan kepada Crysan. Sebut saja dia bodoh, memang, Ridho memang bodoh. Bahkan tadi dia memanggil Crysan dengan kata 'lo'. Demi apapun, dalam hati kecilnya, Ridho berteriak ingin memanggil Crysan dengan 'sayang' seperti kalau dirinya tengah jahil kepada Crysan. Karin mendekati Ridho dan memegang tangan cowok itu yang langsung ditepis secara halus.
" Mending lo jujur deh sama cewek itu. Kalo lo itu lagi nunggu Daniella balik. Dan nggak niat ngedeketin tuh cewek "
Berulang kali, Karin memberikan usul yang sama. Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Ridho hanya menurut. Cowok itupun juga merasa aneh dengan dirinya. Dia merasa akhir-akhir ini lebih menurut kepada perkataan Karin. Tapi, kali ini lain, Ridho hanya diam dan menatap Karin tajam. Sedang yang ditatap gelagapan ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan.
" Diam, lo. Gue nggak punya urusan sama lo maupun Daniella "
" Terus kalau dia balik lo mau apa? ", sekarang Helen turut menimpali obrolan yang tercipta antara Karin dan Ridho.
Diam. Ridho tak tahu harus menjawab apa. Cowok ini memilih mengeluarkan buku pelajarannya padahal dia tahu kalau saat ini tidak ada pelajaran apapun. Semua digantikan oleh classmeeting. Dan pertanyaan dari Karin tadi seakan menyadarkan Ridho tentang semuanya. Menyadarkan bahwa tak selamanya Daniella akan berada di California. Membawa Ridho untuk kembali berpikir bagaimana caranya menceritakan semua yang telah terjadi kepada Crysan. Cewek yang telah menyita perhatiannya selama enam bulan terakhir ini. Cewek yang membuat Ridho hampir lupa kalau tengah menunggu seseorang. Menunggu seseorang yang dulu hampir meninggal karena dirinya. Menunggu Daniella yang waktu itu lumpuh karena kecelakaan yang mereka berdua alami.
Bram yang tadi sibuk dengan Helen, kini sudah berganti mengamati Ridho. Menatap temannya itu dengan tatapan kasihan juga sinis. Sebagai sahabat, Bram tidak ingin mencampuri urusan antara Ridho dan Daniella. Tapi, sebagai seorang cowok, Bram juga tak mau melihat Crysan akan menderita nantinya dengan kedatangan Daniella. Bram sadar selama ini Crysan merasa nyaman di dekat Ridho, bukan didekatnya. Mencoba menekan rasa sakit hati yang timbul dihatinya, Bram mulai menjauhi Crysan. Juga menjaga Crysan dalam waktu yang bersamaan. Dia hanya tidak ingin melihat Crysan menjadi bahan cemoohan Karin dan yang lainnya nanti. Juga tak ingin Crysan dihina oleh mulut pedas Daniella. Wanita ular yang Bram tolong untuk mendapatkan Ridho.
" Mau kemana lo, Dho? ", tanya Bram penasaran dan langsung mengikuti Ridho. Bagaikan ditelan bumi, Bram kehilangan jejak Ridho. " Sial ", umpat Bram sambil mengacak rambutnya. Memilih kembali ke dalam kelas.
***
Crysan tertawa puas melihat tingkah konyol Firdaus yang saat ini sedang menyanyi di depan kelas. Belum lagi tatapan kagum Nadya yang membuatnya ingin muntah. Bukan muntah karena jijik melainkan muntah karena perutnya sakit. Terlalu banyak tertawa sungguh tidak bagus bagi perut Crysan. Niat Firdaus tadi hanyalah menghibur Crysan. Dengan dibantu oleh Eki yang memainkan gitar kesayangannya. Avni dan Nadya hanya bertepuk tangan saja melihat dua makhluk yang sedang bernyanyi itu. Berbeda dengan Crysan yang kini sudah lemas karena tawanya tadi.
Setelah berhasil menenangkan dirinya dari tertawa, kini Crysan memilih duduk di bangku biru yang terletak di depan kelas X-8. Tepat disebelah kelasnya. Dari sudut matanya, Crysan bisa melihat bayangan Ridho yang berdiri di dekat tangga. Ridho terdiam di sana, mengamati Crysan dalam diam. Cowok itu mungkin melihat Eki, temannya yang kini menjauh dari dirinya sama seperti Bram. Menghindari Ridho, seakan dia adalah virus yang berbahaya. Perhatian Crysan kini sepenuhnya melihat ke arah Ridho. Cowok itu tengah berjalan mendekat kearahnya. Kali ini Crysan tidak gugup ataupun malu seperti dulu. Crysan memilih bersikap tenang walaupun dalam hati dia bertanya kenapa Ridho mendekati dirinya. Lagi. Masih dengan kebisuannya, Ridho memilih duduk di sebelah Crysan. Dengan pengawasan penglihatan Crysan tentunya.
" Sya ", Crysan ingin tersenyum tapi dia tahan. Dia sudah berjanji bukan akan menjauh dari Ridho? Ridho tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya memanggil Crysan. Sedang, cewek yang tadinya akan menoleh saat dipanggil seperti itu kini hanya diam. Memilih meremas kedua tangannya yang saling bertautan. " Gue mau ngomong sama lo ", ucap Ridho final. Crysan hanya mengangkat sebelah alisnya tak memberi respon lebih.
Ridho hanya menghela nafas lelah karena diamnya Crysan, " Gue mau jujur sama lo, Sya".
" Kalau mau omong silakan. Kalau mau jujur cepat bicara, saya mau gabung sama teman saya lagi, kak ", Ridho sempat terkejut. Crysan yang biasanya akan memakai kata 'aku' kini mengubahnya menjadi 'saya'.
" Ris, kantin yuk habis itu ke lapbas. Lihat yang lain main basket ", ajak Avni yang langsung menarik tangan Crysan. Membawa cewek itu menuju ke kantin dengan Eki, Daus, juga Nadya.
Ternyata nggak mudah jujur sama kamu, Sya. Batin Ridho, dengan tatapan sesalnya cowok ini membiarkan Crysan pergi ke kantin.
Sementara itu, Crysan yang sudah duduk dan siap menyantap makanannya hanya bisa merenung. Cewek ini terlalu bingung dengan semua maksud Ridho. Eki, teman Ridho sekaligus kakak kelasnya yang berstatus pacar Avni itu sempat bertanya, tapi Crysan hanya menggelengkan kepalanya.
" He.em, aneh tahu nggak. Lama nggak deketin lo, eh main nongol lagi dia ", sekarang Avni yang berpendapat. Masoh sama, Crysan hanya diam.
" Sabar ya Paris ", ucap Daus yang langsung mendapat lirikan tajam dari keempat orang yang ada didekatnya. Cowok itu hanya nyengir dan langsung melahap baksonya lagi
" Ridho nggak usah diurus, Ris. Dibiarin aja ", nasihat Eki yang malah disetujui oleh Avni. Tak punya pilihan lain, Crysan hanya mengangguk.
Sebenarnya dia mau apa sih? Crysan hanya membatin dan berusaha melupakan semua tindakan yang dilakukan oleh Ridho.
" Kali ini harus berhasil ngomong. Harus berhasil, harus berhasil. Semangat Ridho ", ucap Ridho menyemangati dirinya sendiri.
Cowok ini sudah berdiri di depan rumah Crysan dari satu jam yang lalu. Dia siap menerima apa saja yang akan diberikan Crysan sebagai respon nantinya. Dengan mantap Ridho melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu. Mengetuk pintu itu pelan, tak ada sahutan dari dalam. Mencoba bersabar, cowok ini mengetuknya sekali lagi. Tak selang berapa lama pintu terbuka. Menampilkan sosok manis nan cantik yang selama ini menarik perhatiannya. Crysan berdiri disana dengan tatapa yang aneh. Seperti tidak suka melihat kedatangan Ridho.
" Boleh masuk? ", diam dan menyingkir, memberikan Ridho jalan untuk masuk. Tanpa mempersilakan cowok itu duduk, Crysan langsung melenggang pergi.Segelas jus jeruk kini sudah tersuguh di depan Ridho. Juga Crysan yang masih memegang baki.
" Sya, gue mau ngomong "
" Hmmm "
" Lebih tepatnya jujur. Tapi jangan potong penjelasan gue. Oke, janji setelah itu lo mau berkata apa ataupun marah sama gue ", Crysan sama sekali tak menyela omongan Ridho. Memberikan Ridho waktu untuk menjelaskan kejujurannya itu.
Ridho menarik nafasnya pelan dan memulai mengakui semuanya. Kejujuran yang membuat air mata Crysan menggenang di sudut mata cewek itu. " Sorry, karena gue ganti panggilan aku jadi gue. Itu semua nggak ada maksud apa-apa. Dan ya, lo jangan kecewa karena sebenarnya selama ini... ", cowok itu menggantungkan kalimatnya. Mencoba melihat reaksi Crysan. Tapi Crysan hanya diam dan memandang Ridho dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ridho memutuskan melanjutkannya lagi. " Sebenarnya selama ini, lo cuma gue anggap sebagai pelarian. Sya, dengerin gue, ada cewek yang gue tunggu. Dan ya, lo jangan anggap kedekatan kita selama ini karena gue beneran sayang sama lo. Jangan salah artikan kedekatan kita. Gue nggak pernah suka sama lo. Bram yang suka sama lo, dan gue ikhlas kalau lo mau jadian sama Bram. Dia lebih segalanya dari gue. Satu lagi, cewek yang gue tunggu itu namanya Daniella "
Daniella? Apa dia Daniella yang sama, Daniella temanku waktu SD? Crysan mencoba bertanya kepada dirinya sendiri tentang siapa Daniella. Kalau benar Daniella yang Ridho maksud adalah teman SDnya dulu, Crysan memang harus mengalah. Tapi, kalimat terakhir Ridho, menyuruhnya bersama Bram? Sedangkan dia tidak menyukai cowok itu.
Ikhlas dia bilang? Menunggu Daniella? Bullshit kak Ridho. Sekali lagi Crysan memaki dalam hati. Menghapus air matanya kasar, cewek ini lantas berdiri dan menuju ke pintu rumahnya.
" Sudah kan? Sekarang kamu boleh pulang dari rumah saya ", suruh Crysan tanpa melihat Ridho yang tengah menatap cewek ini dengan tatapan tak percaya.
Setelah Ridho pergi dari rumahnya, barulah tangis Crysan yang dia tahan pecah. Sesenggukan di balik pintj yang telah tertutup. Tangis sakit hatk yang masih bisa didengar oleh Ridho dengan jelas. Bahkan tanpa cowok itu sadari, air matanya juga sudah mengalir pelan.
" Kakak jahat..hiks..hiks..kenapa harus aku yang jadi pelarian dia? Kenapa Allah ", Crysan berdiri dan menuju ke kamarnya. Membanting pintu itu dengan keras dan menenggelamkan dirinya pada selimut. " Kenapa harus Daniella? ", lirih Crysan.