
Ridho masih terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya nyalang menatap taman yang terlihat dari balik tirai. Nampak seorang anak kecil memakai baju yang sama dengan Ridho sedang tertawa bahagia. Tawa yang ditemani oleh tawa lain yaitu tawa dari ibu anak itu. Ridho menghela nafasnya, menutup matanya dan melupakan semua yang terjadi. Ridho sempat mengharapkan Crysan akan menjenguknya. Tapi, harapan tinggallah harapan, Crysan tidak datang, mungkin saja cewek itu tidak pernah ke rumah sakit. Membuka matanya, Ridho memilih duduk. Dia tahu kalau harus banyak istirahat. Ridho bersyukur dia masih bisa hidup sampai sekarang. Dan dia berdoa agar bisa hidup selamanya. Sampai dia bisa melihat tatapan cinta dan kasih sayang mamanya. Juga bisa terus melihat senyum Crysan. Ridho tersenyum miris akan takdirnya. Bukan, Ridho tidak pernah mengeluh hanya bertanya pada Tuhan. Bertanya mengapa takdirnya harus memiliki penyakit itu. Beberapa tahun belakangan ini penyakit Ridho tidak pernah kambuh. Seingatnya hanya dua kali itupun saat Daniella pergi ke California dan sekarang. Kambuh akibat dua faktor yang berbeda. Dulu Daniella dan sekarang Crysan.
Ridho memandang pintu yang bergerak. Menandakan ada orang yang akan masuk. Selama satu minggu dirinya di rumah sakit, hanya mbak Sus, papanya, kedua sahabatnya dan Daniella yang setia menunggui. Mamanya ? Lisa hanya berada di luar, dan akan masuk saat Ridho sudah tidur. Mengamati wajah anak itu dalam diam dan kesedihan. Di sana, ada Bram dan Eki yang masih lengkap dengan seragam sekolah. Masuk dengan membawa parsel juga buket bunga sedap malam. Ridho mengernyit aneh. Biasanya, Eki dan Bram datang menjenguknya setelah mereka berdua pulang dan sudah ganti baju. Eki yang kebagian membawa parsel masuk lebih dahulu dengan cengiran khas ala dirinya. Sedang Bram memilih memasang wajah datar. Ridho juga melihat Daniella menyusul masuk setelah dua sahabatnya.
" Apa kabar sayang? ", kata Daniella memamerkan kemesraan yang paling dibenci Ridho sebenarnya.
" Seperti yang terlihat ", jawab Ridho singkat. Berusaha melepas Daniella yang sudah memeluknya. " Dee, lepas please. Aku risih ", ucap Ridho pelan membuat wajah Daniella berubah masam. Bram yang melihatnya hanya mendengus kesal. Eki berekspresi seakan ingin muntah. Daniella mencebikkan bibirnya untuk dua orang itu sebelum memilih duduk di sofa yang tersedia.
" Dho, itu kembangnya dari Crysan. Kalau parselnya dari gue, Bram, sama yang lain ", Eki berbisik pelan pada Ridho. Dan itu tak luput dari pandangan menelisik Daniella. Eki sengaja berbisik agar Daniella tidak mendengar nama Crysan disebut. Ridho tersenyum untuk itu dan mengucap terima kasih pada Eki juga Bram.
Bram mendekati ranjang Ridho, duduk di ranjang itu dan mengamati Ridho, " Dia ada di taman sama Nadya dan Avni ", kata Bram sembari menampilkan senyum manisnya.
" Tapi, dia nggak mau ketemu lo. Takut sial " lanjut Bram lalu meninggalkan ruang rawat Ridho. Eki sudah tertawa sejak Bram mengatakan 'takut sial' tadi.
Sedangkan di taman rumah sakit, Crysan masih mengamati kertas warna-warni yang dia temukan dalam tas Ridho. Huruf yang tertulis rapi dalam kertas itu semakin membuat Crysan penasaran. Itu jelas tulisan Ridho. Kertas itu seperti sebuah surat. Dan kalau dihitung, kertas yang ada pada Crysan adalah sepuluh surat dalam sepuluh kertas berbeda warna. Kertas terakhir menjadi pilihan Crysan. Membacanya dalam hati dan mencerna setiap kata yang ditulis Ridho. Ada juga buku catatan Ridho yang lebih pantas disebut sebagai diary book. Crysan membuka dan membacanya. Semua tulisan Ridho. Tentang mamanya dan tantenya.
18 April 2007
Hari ini aku ulang tahun. Makasi papa, kakek, nenek, tante udah kasih aku hadiah. Makasih juga buat mama.
Crysan terkejut, jarang seorang cowok akan menuliskan cerita ulang tahunnya dalam buku diary. Kali ini Ridho melakukan hal itu. Crysan membuka lembaran berikutnya, kembali membaca dalam diam.
18 April 2008
Mama kenapa nggak datang di ulang tahun Ridho? Papa dan tante Lusi pasti ada dan kasih hadiah. Kenapa mama malah pergi kerja? Ridho kangen mama.
Perlahan air mata menggenang di mata cewek itu. Sesak, itulah yang dirasakan Crysan.
18 April 2009
Mama terima kasih, mama sudah mau temani Ridho di ulang tahun. Mama Ridho sayang mama. Sayang tante Lusi juga. Mama jangan marah-marah lagi sama tante ya ma. Ridho jadi sedih kalau lihat mama marah sama tante Lusi dan papa.
Pada lembar selanjutnya, air mata Crysan sudah menetes. Crysan memilih membekap mulutnya agar isakannya tidak didengar orang. Avni dan Nadya yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit langsung menghampiri Crysan. Mengelus pundak Crysan dan memberikan es teh yang tadi dibeli. Nadya yang penasaran langsung membuka buku harian yang ada dipangkuan Crysan. Membukanya dengan terburu-buru. Dan berhenti pada lembar terakhir yang ditulis oleh Ridho. Mata Nadya terus bergerak membaca setiap huruf imut dari pena Ridho. Kini mata Nadya sudah melotot dan hampir keluar. Menyerahkan buku itu pada Crysan dan Avni. Menyuruh keduanya membaca halaman itu.
20 Desember 2016
Ma, aku terima kalau mama membenci aku. Tapi, aku mohon mama jangan pernah membenci papa dan tante Lusi. Mereka orang baik ma. Bahkan, seandainya aku memiliki kekasih. Aku berharap orang itu seperti mama dan tante Lusi. Maaf, kalau aku terkadang membantah ucapan mama. Termasuk saat mama mengatakan kalau aku bukan anak kandung mama. Aku hanya tidak terima orang yang melahirkan aku berkata demikian. Maaf ma, aku minta maaf.
" Desember? Berarti itu tahun kemarin ya? ", Avni berkata dengan raut wajah berpikirnya. Crysan hanya mengangguk. Semuanya tambah abu-abu.
" Aku harus tanya sama tante Lisa ", tanpa memedulikan teriakan Nadya dan Avni yang sudah mengundang perhatian sekitar, Crysan terus berlari. Sampai Bram yang melihatnya harus ikut berlari mengejar ceweknya itu.
Bram sampai di parkiran lebih cepat dari pada Crysan. Cowok ini memilih mengejar Crysan lewat jalan pintas. Dia tidak menemukan Crysan dimanapun. Memutuskan untuk mencari Crysan dengan mobilnya. Tak butuh waktu lama bagi Bram untuk menemukan Crysan. Cewek itu masih berlari kecil di depan sana. Sesekali berusaha menghentikan taksi yang lewat. Bram lantas menginjak pedal gas dan berhenti tepat di samping Crysan. Sedikit saja dia salah mengerem, Bram akan mengalami kecelakaan atau mungkin menabrak Crysan. Turun dari mobilnya dan menghampiri Crysan yang terlihat shock. Berdiri di depan cewek itu dan menyentuh bahu Crysan. Memaksakan cewek itu agar melihatnya.
•••
" Are you serious, sweety? ", tanya Bram sekali lagi. Memastikan keputusan Crysan yang memaksa untuk menemui mama Ridho. Crysan mengangguk mantap.
Keduanya sudah di depan pintu rumah Ridho. Sudah tiga kali Crysan dan Bram mengetuk pintu juga memencet bel. Tapi, belum ada orang yang membukakan pintu untuk mereka. Hanya ada satpam yang terlihat di dekat gerbang. Satpam itu tadi berkata bahwa di rumah ada orang. Crysan masih tampak gelisah dengan tindakannya. Dia hanya ingin kejelasan dari mama Ridho. Mengenai siapa Ridho. Beberapa waktu lalu saat dia dan Lisa membahas Ridho di taman belakang rumah besar ini, Lisa tampak antusias. Kemudia berubah murung saat Crysan bertanya tentang siapa Lusi yang sering Ridho banggakan. Crysan menghembuskan nafas lega saat mbak Sus membuka pintu rumah itu. Tersenyum pada Crysan dan Bram. Meminta Crysan dan Bram duduk sebelum menuju dapur membuat minum. Sekaligus memanggil Lisa yang biasanya akan berkebun.
Mbak Sus kembali dengan Lisa yang sibuk membersihkan bajunya dari tanah liat. Tersenyum pada Crysan dan duduk di single sofa di dekat Bram. Bram tidak menanyakan apapun pada Crysan tadi. Melainkan cewek itu yang berterus terang pada Bram mengenai niatnya.
" Tante kira kalian ke rumah sakit. Kan papanya Ridho ada di sana ", kata Lisa sambil bergantian melihat Bram dan Crysan yang menunduk.
" Crysan mau bicara sama tante ", Bram membuka suaranya. Crysan yang merasa Bram sedikit lancang langsung melihat Bram.
" Tante, maaf kalau aku lancang. Tapi...", Crysan menggantungkan kalimatnya. Dia terlalu bingung akan memulai pembicaraan dari mana. Memilih memilih cardigan yang menutupi seragamnya. " Tante Lusi itu siapanya tante ya? ", akhirnya Crysan bisa mengeluarkan kalimat yang bersarang di otaknya itu.
" Dia adik kandung tante ", jawab Lisa datar dan terkesan dingin. Crysan bisa merasakan perubahan hawa diantara dirinya dan mama Ridho. Crysan hanya mengangguk.
" Lalu kak Ridho ? Emh...kenapa kesannya kak Ridho sayang sama tante Lusi dan tante seperti tidak memperhatikan kak Rid...", ucapan Crysan terhenti saat Lisa menatapnya tajam. Rahang Lisa sudah terkatup rapat. Crysan sebenarnya tidak enak menanyakan hal itu. Tapi, dia terlalu penasaran dan mengikuti kata dewi batinnya untuk bertanya pada Lisa.
" Ridho bukan anak saya ", jawab Lisa singkat dan berlalu meninggalkan Crysan sendiri di taman itu. Air mata itu menetes lagi. Bram yang menyaksikan hak itu dalam jarak jauh hanya diam. Tak dapat berbuat apa-apa selain menghampiri Crysan dan membawanya pergi.
" Risya, tunggu ", suara Lisa kembali terdengar. Menghentikan langkah Crysan dan Bram. " Saya akan ceritakan semuanya sama kamu, juga Bram. Ikut saya "
Disinilah mereka bertiga. Di dalam kamar bernuansa putih. Mama Ridho berdiri di dekat jendela. Sedang Bram dan Crysan sedikit menjaga jarak.
" Sebenarnya Ridho itu anak dari... "
•••
Lisa pov
Flashback
" Apa? Nggak itu pasti bohong kan mas? ", tanyaku pada pria yang aku hormati dan sayangi. Memandang pria yang aku sebut sebagai suami.
Dia hanya mengangguk sebelum menggeleng. Bingungkah dia? Menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan secara mendadak. Dia dan selingkuhannya itu berdiri tak jauh di depanku. Di kamar bernuansa putih yang menjadi saksi bisu kehancuran seorang Lisa. Dikhianati oleh suami dan adikmu sendiri. Bagaimana rasanya? Bahkan penghianatan itu ada sebelum aku menikah dengan pria ******** ini. Berjalan menghampiri mas Adi yang dengan tak berperasaannya malah memeluk wanita itu. Wanita yang aku sayangi sekaligus aku benci saat ini. Suami yang aku sayangi malah setega itu? Dosa apa aku ini? Iya, jujur aku tidak bisa memberinya keturunan. Aku mandul, tapi, bukan berarti dia bisa main api dengan wanita lain dibelakangku kan?
" Tolong jawab mas? Apa itu benar atau sebuah kebohongan? ", teriakku di depan wajah mas Adi yang masih setia melindungi wanita itu. Orang tuaku yang mencoba memisahkan aku agar tidak mengamuk mas Adi sudah kewalahan. Dan wanita itu, Lusiana Arundati. Tengah menangis tersedu-sedu di pelukan mas Adi. Allah, sakit sekali.
" Itu benar dan itu bukan kebohongan. Aku mencintai Lusi dan bukan kamu. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, Lusi mengandung anakku ", jawabnya santai di depanku. Oh, Tuhan, salah apa aku di masa lalu? Nasibku seperti sekali.
Memilih pergi meninggalkan semua orang yang ada di rumah dengan membawa Lucky. Ya, dia anak yang aku adopsi dari panti asuhan. Berjalan keluar dan mengacuhkan teriakan dari orang tuaku. Teganya mereka berbohong padaku selama ini. Berjalan menyusuri jalanan Jakarta, aku memilih menyewa sebuah kontrakan. Bekerja siang malam untuk hidupku dan Lucky. Biar saja kalau mas Adi akan menceraikan aku dan hidup bahagia bersama adikku Lusi.
Hampir enam bulan aku hidup di kontrakan. Dan hari itu, adalah hari yang paling menyakitkan bagi diriku. Dia, pria yang masih aku hormati sebagai suami, datang ke kontrakan kecilku. Mengatakan kalau Lusi akan melahirkan dan memintaku untuk ke rumah sakit atas permintaan Lusi. Awalnya aku menolak, tapi lama kelamaan tak enak juga aku dengan tetangga. Aku memutuskan untuk ikut dengannya. Melihat Lusi yang mengerang kesakitan di ruang bersalin. Setelah satu jam menunggu, bayi mungil itu berhasil dilahirkan. Anak dari mas Adi dan Lusi. Lagi-lagi Lusi meminta sesuatu dariku. Bukannya aku tidak menyayangi adikku. Hanya saja, sudah banyak yang dia minta termasuk hati suamiku sendiri.
" Aku mohon, kak. Jaga bayiku. Aku janji akan berperan sebagai tantenya kalau dia sedikit besar. ",air mataku memang sudah mengalir deras sejak tadi. Lusi sempat mengalami pendarahan. Sepuluh tahun kemudian dia, adikku meninggal karena sakit kanker serviks yang dia derita. Mungkinkah itu karma? Aku tak ingin menebak. Yang aku tahu, dia mengucap satu kata sakral yang selalu aku tolak selama hidupnya, yaitu 'maaf'.
Flahback off
Pov end
" Sejak saat itu, saya membenci Ridho. Lebih tepatnya kecewa karena dia bukan anak kandung saya. Tapi anak kandung Lusi ", Lisa masih menghadap keluar jendela. Berbeda dengan Crysan yang sudah menangis dalam diam. Juga Bram yang menahan air matanya.
" Saya kecewa sama Lusi kenapa dia berkhianat, juga suami saya. Selama ini, saya hanya menghormati dia sebagai suami ", air mata itu jatuh menimpa wajah ayu Lisa. Menghapusnya kasar dan berbalik. Menatap Crysan yang juga tengah menatapnya. " Itu juga yang membuat saya enggan hadir di acara ulang tahun Ridho dulu, walaupun saya ada di rumah bukan kerja. Saya hanya memberi Lusi kesempatan sebelum dia meninggal "
" Ap-apa tante, tidak mencintai om Adi? ", tanya Bram terbata. Takut menyinggung perasaan Lisa.
" Rasa cinta itu sudah mati Bram. Mati bersama pengkhianatan suami saya dan ibu kandung Ridho ", jawab Lisa pelan lalu menggenggam tangan Crysan. Memeluk Crysan pelan. Melepaskan pelukan itu dan membawa Crysan keluar dari kamar putih milik Lisa. " Saya tidur di kamar itu. Papa Ridho di kamar utama. Kalau Ridho menganggap kedua orang tuanya baik-baik saja itu salah"
Bram meremas pundak Crysan pelan. Menyalurkan kekuatan pada Crysan. Menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di pipi cewek itu. Lalu tersenyum dan berpamitan pada Lisa.
" Tante, Crysan harap tante mau jujur sama kak Ridho ", mohon Crysan dan diangguki oleh Lisa. " Saya pamit tante, Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam. Hati-hati ya "