Crysan

Crysan
Surprize



Crysan menggelengkan kepalanya. Cewek ini kembali menjernihkan otaknya dari kekagumannya terhadap Ridho. Dari tadi Ridho hanya diam. Tak mau mengganggu Crysan yang sedang berkelana dalam dunia khayalan cewek itu tentang dirinya. Malahan Ridho membiarkan Crysan yang sedang melamun dan memikirkan Ridho. Crysan tak menyadari bahwa sesungguhnya, mereka ( Ridho-Crysan ) sudah sampai di tempat tujuan. Crysan tetap pada kegiatan sebelumnya yaitu melamun.


" Masih ingin duduk di mobil atau gue gendong ?", usaha Ridho tidak sia-sia. Crysan menghadap ke arahnya, tentu saja dengan keheranan yang kentara di wajah cewek itu. " Jadi, keputusannya ?"


" Keputusan apa yang kakak maksud ?", Ridho berdecak pelan mendengar itu. Digenggamnya tangan Crysan dan menuntun cewek itu turun dari mobil. Dingin, itulah kesan pertama yang Ridho dapat ketika menggenggam tangan Crysan.


" Sudahlah lupakan. Come on ", Crysan terpaku ditempatnya. Yang dia lihat bukanlah sebuah restauran maupun cafe, melainkan rumah Ridho. Crysan menatap Ridho meminta jawaban dari cowok itu. Ridho tidak menjawabnya.


Crysan yang biasanya akan diam di tempat jika ditarik kali ini berubah. Cewek ini mengikuti langkah Ridho. Rumah Ridho gelap. Tak ada pencahayaan apapun disana. Crysan sampai merasakan sesak di dadanya. Ssbelum langkah mereka terhenti. Di depan sana, lebih tepatnya taman belakang rumah Ridho sudah disulap menjadi tempat yang sangat romantis. Di sepanjang jalan menuju ke tempat itu dihiasi oleh lilin di kiri kanan jalan juga bunga mawar yang sengaja ditaburkan. Tepat diatas mereka digantung lampion. Crysan terpukau dengan apa yang dilihat. Di belakang Crysan, Ridho tersenyum. Ditengokkan kepalanya ke sudut rumahnya. Eki, Avni, dan Daus mengangkat kedua jempol mereka. Sedangkan dari arah dapur, Nadya dan mbak Sus membentuk bulatan dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jari mereka.


" Duduk, Sya " Ridho menarik kursi untuk Crysan. Setelah cewek itu duduk barulah Ridho duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Crysan.


Tak lama kemudian, mbak Sus datang bersama Nadya disebelahnya. Menyajikan hidangan pembuka untuk Crysan dan Ridho. Crysan menunjuk Nadya dengan jari telunjuknya. Kemudian berganti menatap Ridho. Mbak Sus menaruh hidangan dengan senyuman. Nadya menyenggol lengan mbak Sus dan kembali menuju ke dapur. Sedangkan, tepat di pintu yang menghubungkan taman dengan rumah Ridho, Bram berdiri dengan gagah. Memasukkan tangannya ke dalam saku celana bahannya. Bram menahan senyumnya dan berjalan menghampiri Eki, Avni dan Daus.


" Lo yakin dengan ini Bram ? ", Eki merasa kasihan dengan Bram. Tapi, kalau Bram sudah memutuskan seperti mau bagaimana lagi. Bram hanya tersenyum tanpa memberi sepatah kata pada Eki


" Semuanya beres kan ? Setelah ujian gue langsung terbang ke Singapore ", kata Bram tanpa melihat ketiga orang disampingnya. Eki menggeleng pasrah dengan keputusan Bram. Avni menghela nafas lelahnya dan Daus memilih diam.


" Kalau seperti ini, aku juga mau punya pacar kayak kak Bram ", ucap Avni tanpa sadar dan mendapat jitakan dari Eki.


" Kalau gue masih egois. Paris nggak akan pernah bahagia. Begitupun Ridho "


" Bro, disini mereka maksudnya kita ini masih tahap pacaran belum mau nikah ", jawab Eki sesuai dengan pikiran dan hatinya.


" Suatu hari nanti kalau jodoh juga bakal menikah, kak ", Daus membuka suaranya setelah lama bungkam. Mereka hanya membenarkan dari dalam hati. Kembali menatap Ridho dan Crysan yang menikmati suasana dinner mereka.


•••


" Sya, gue mau omong sesuatu. This is very very important, okay. So, don't say something else now. And I will reject your interruption. Are you understand it ? ", Crysan diam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Ridho. Lupakan tentang hidangan utama yang belum mereka sentuh sampai sekarang.


" Emh, mama.... "


" Mama ? Tante Lisa kenapa kak ?", ucapan Ridho terpotong saat Crysan menyela. Teringat dengan perintah Ridho, Crysan kembali mengatupkan bibirnya.


" Mama, sudah nggak sinis sama gu-maksudnya aku. Terima kasih, tentang apapun yang kamu ucapkan sama mama ", Crysan tersenyum dan bersyukur dalam hati kalau Lisa sudah mau berbicara tanpa kesinisan dengan Ridho.


" Jujur, Sya malam ini kamu sangat cantik. Bukan cantik lagi melainkan sangat anggun ", kali ini kedua alis Crysan hampir menyatu karena ucapan Ridho.


Ridho yang terlihat tenang dan melupakan ucapan lo-gue yang diciptakan sendiri oleh cowok itu membuat kebahagiaan Crysan membuncah seketika dalam hati. Oh, pujian Ridho tadi juga membuat perut Crysan seolah dipenuhi oleh kupu-kupu yang beterbangan didalamnya. Ridho tersenyum lembut pada Crysan. Cowok ini mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak perhiasan yang sangat sederhana. Menarik pelan benda yang tersimpan dari dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan bandul dua menara eiffel. Ada satu permata di tengah-tengah menara yang berukuran lebih kecil. Bingung ? Jelas Crysan merasa bingung juga aneh dengan kalung itu. Gerak gerik Crysan ditangkap jelas oleh Ridho.


Berdiri dari duduknya, Ridho menuju ke belakang Crysan. Menunduk sedikit dan menyenderkan dagunya pada bahu Crysan. Nafas Crysan tercekat karena tindakan Ridho.


" Maukah kamu menerima kalung cantik ini ? ", Seolah terhipnotis dengan permintaan Ridho, Crysan mengangguk meski samar.


Dengan malu Crysan memperjelas anggukan kepalanya. Beruntung Ridho tidak melihat pipinya yang sudah memerah seperti kepiting rrbus karena posisi Crysan yang membelakangi Ridho. Ridho tahu kalau Crysan ingin pergi Perancis. Tentu semua informasi itu dia dapat dari tiga sahabat Crysan. Hanya sekedar informasi, kalung itu dibeli Ridho saat dia dan papanya pergi liburan ke Perancis lima tahun yang lalu. Awalnya, Ridho ingin menghadiahkan kalung itu kepada Lisa. Tapi Lisa menolak dengan alasan tidak menyukai kalung itu. Lalu, Ridho ingin memberikan kalung itu pada Daniella, dua tahun yang lalu. Sayangnya, Daniella pindah ke California terlebih dahulu. Barulah sekarang Ridho menemukan orang yang cocok dengan kalung itu. Crysan masih bertahan dengan diam seribu bahasa.


" Aku pakaikan ya ", itu bukan pertanyaan dari Ridho. Tanpa menunggu persetujuan langsung dari Crysan lewat ucapan, Ridho langsung memakaikan kalung itu.


Ridho menahan senyumnya saat melihat gelang yang melingkar manis di salah satu pergelangan tangan Crysan. Kini, Ridho sudah memposisikan dirinya di depan Crysan. Menulusuri wajah Crysan lewat mata hitamnya. Tatapan Ridhi berhenti pada kalung yang baru saja dia pasangkan di leher Crysan. Sangat cantik dan kalung itu bersebelahan dengan kalung yang Crysan pakai sejak awal. Kalung milik tante Nadja.


" Apa ini sebuah kejutan ?", Ridho tergelak. Ridho membenarkan ucapan Crysan lewat senyumnya. Crysan terbius oleh senyum Ridho.


" Kamu tahu gelang ini dari siapa ?", Crysan menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. Tanda bahwa dia tidak tahu. " Coba kamu baca note di kotak kalung itu ", Tunjuk Ridho pada kotak kalung tadi menggunakan dagunya.


Apa kau tahu keistimewaan kalung ini ? Tentunya kau tak tahu. Sama aku pun tak tahu. Hanya orang yang memakai kalung ini nantinya yang tahu apa keistimewaan didalamnya. Karena yang aku tahu, apabila kalung ini dipakai oleh orang yang tepat akan terlihat memukau bagi siapa saja yang melihatnya.


Jangan pernah lepas kalung ini dari lehermu. Biarkan dia dengan indahnya menghiasi leher jenjangmu itu. Melingkar disana sebagai tanda pengingat kalau kau milikku. Hanya milikku.


Losers


A.R.


Crysan mengamati kertas itu bergantian dengan mengamati wajah Ridho. Mencerna apa yang baru saja dia baca. Juga menebak inisial yang dia temukan lagi di note itu. A.R, inisial yang sama dengan seseorang yang mengirimkan gelang pada hari ulang tahun Crysan. Mengerti dengan maksud note dan inisial itu, Crysan terkekeh.


" Maksudnya ?", Ridho tersenyum dan merasa bersalah dengan semua itu. Cowok ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Terlalu gugup dengan pertanyaan Crysan. " Feeling guilty brother ? "


" Maaf, Sya. Kakak terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya. Itu, emh, gelang itu hadiah ulang tahun untuk kamu dariku. Maaf, waktu itu tidak mengatakan langsung. Terlalu pecundang memang sebagai seorang cowok "


" Apa Daniella tahu ? Kenapa kakak melakukan hal ini ? Seharusnya yang makan malam rromantis disini dengan kakak itu Daniella. Bukan aku ", Ridho tahu kalau Crysan marah. Hanya saja Crysan menahannya dan meluapkan amarahnya itu lewat ucapan halus Crysan.


" Daniella nggak tahu. Jujur, Sya... "


Crysan menghentikan ucapan Ridho. Tanpa mau mendengar kata-kata palsu dari bibir Ridho lagi, Crysan bangkit dan berlalu dari hadapan Ridho. Bram, Eki, Avni, Nadya, Daus dan mbak Sus yang melihat itu hanya memekik kaget. Ridho menatap nanar punggung Crysan yang mulai menjauh.


Salahkah aku kali ini ? Pikir Ridho kemudian menatap beberapa orang yang bersembunyi di kegelapan sana. Bram mengangguk. Memerintahkan Ridho untuk mengejar Crysan.


" Sya, tunggu "


Crysan sama sekali tidak mau mendengar suara Ridho. Crysan berlari sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ridho berlari menyusul Crysan. Terkesan seperti sinetron memang. Namun, apa boleh buat hanya itu hal yang bisa dilakukan Ridho.


" Aku sayang sama kamu, Sya. Bukan Daniella yang aku mau, tapi kamu. Aku yang menyuruh Bram pacaran sama kamu ", teriak Ridho dari teras rumahnya. Langkah Crysan sempat terhenti namun, sedetik kemudian Crysan kembali berjalan. Menjauh dari rumah Ridho.


Tepukan ringan, Ridho dapatkan dari Bram. " Biar gue yang kejar. Gue yang salah "


" Lo berdua salah. Begitu juga dengan Yovi ", ucapan Eki menarik perhatian Bram dan Ridho.


" Maksudnya ? ", tanya Bram penasaran. Eki hanya diam dan menatap Bram juga Ridho dengan serius.


" Yovi, suka sama Crysan. Gue tahu ini dari Daniella, kemarin "


Bram langsung berlari menuju mobilnya. Mengejar Crysan yang bisa dipastikan belum jauh dari rumah Ridho. Tebakan Bram benar, Crysan berhenti di taman dekat rumah Ridho. Crysan yang melihat Bram melangkah kearahnya langsung membuang muka. Enggan menatap Bram.


" Kamu marah ?"


Hening. Crysan tidak sudi menjawab dua kata itu. Bram diam membiarkan Crysan yang masih diliputi oleh amarah. Menarik Crysan untuk berdiri dan membawa Crysan ke mobil Bram. Membiarkan Crysan masuk ke dalam mobil dan mengantar Crysan pulang.


" Apa sebuah kejujuran yang baru saja kamu dapat itu, sangat menyakitkan ? "


Crysan tidak menjawabnya. Matanya perlahan tertutup. Melepas semua beban yang timbul setelah dia mengenal Ridho dan Bram juga yang lainnya selama di Wijaya Bakti. Mencoba melupakan Ridho dan Bram lewat tidurnya kali ini. Tidur di dalam mobil Bram. Bram mengamati cewek yang ada disisinya itu dengan pandangan bersalah. Semua adalah salah Bram. Bukan, lebih tepatnya bukan salah Bram. Tapi, salahkan waktu yang mempertemukan mereka semua sehingga menjadi rumit seperti ini.