Crysan

Crysan
Never Say Good Bye (ENDING)



Bram terus melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Kurang lima belas menit lagi pesawatnya akan terbang meninggalkan Indonesia menuju Singapura. Bram memejamkan matanya. Mencoba mengingat semua kenangannya di Indonesia untuk yang terakhir kalinya. Mengingat saat dia dan Ridho masih berteman baik. Mengingat saat Crysan belum melupakannya. Bram baru membuka matanya saat mama tersayangnya menyentuh pundak Bram. Menyadarkan Bram dari kenangan-kenangannya. Bram membalasa senyuman mamanya. Di belakang mamanya juga ada Eki. Satu-satunya teman yang masih bersama Bram. Juga ada Avni dan Daus. Sedangkan Nadya sempat meminta izin untuk menjemput Crysan. Bram meringis mengingat nama Crysan. Melihat wajah Crysan sekarang, membuatnya merasa bersalah. Karena kelalaiannya, Crysan menjadi hilang ingatan seperti sekarang.


Dua cewek terlihat berlari menembus lautan manusia yang keluar masuk di bandara internasional Soekarno-Hatta. Satu cewek yang memakai celana hotpant warna coklat dengan baju lengan panjang berbahan chiffon warna kuning terus menggerutu. Cewek itu mengeluarkan protesnya pada cewek lain yang sedang menarik tangannya. Melihat protesnya tidak ditanggapi, cewek itu semakin kesal. Ingin menghentikan langkahnya tapi dia tidak bisa. Tangannya terus diseret oleh temannya itu. Bahkan, acara bersantainya yang sudah dia rencanakan hancur karena kedatangan temannya itu. Crysan menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Nadya secara paksa. Tak mengindahkan protes Nadya yang baru saja dia terima. Crysan mengikuti langkah Nadya dengan kesal. Setengah berlari sampai mereka tiba di tempat Avni. Daus dan Avni yang melihat Nadya berhasil membawa Crysan, akhirnya tersenyun puas. Nadya memang selalu dapat diandalkan. Setidaknya Crysan sampai di bandara dengan selamat walaupun wajahnya terlihat kesal. Dan Avni tahu apa yang membuat temannya itu kesal. Pasti tingkah konyol nan lebay Nadya.


Apa yang dilihat Bram seperti mimpi. Crysan ada dihadapannya. Dengan wajah yang ditekuk. Bram menahan senyumnya agar tidak dilihat siapapun. Cowok itu diam dan fokus pada wajah Crysan. Mengamati setiap inci wajah Crysan dan menyimpannya di dalam hati juga pikiran Bram. Pengumuman informasi penerbangan Bram terdengar kembali. Membuat fokus cowok itu terbagi antara wajah Crysan dan suara orang disekitarnya. Mama Bram membawakan koper milik cowok itu. Sedangkan Bram sendiri memilih mencangklong tasnya. Yang terlihat sangat bersemangat di sini adalah Eki,Daus,Avni, dan Nadya. Seolah keempat orang itu yang akan pergi ke Singapura. Menyisakan Bram dan Crysan yang berjalan beriringan di belakang. Bram tidak melirik Crysan, padahal dia tahu kalau cewek itu tengah menatapnya. Bram malah mempercepat langkahnya.


" Kak Bram ", Langkah Bram terhenti saat sebuah tangan menggenggam tangannya. Bram melihat tangan itu, menoleh ke belakang. Mendapati Crysan yang sedang menatap cowok itu intens. Mata mereka bertemu, saling memandang. Bram yang pertama kali memutuskan pandangannya.


" Walaupun aku nggak mengingat siapa kakak sebenarnya, tapi... " Bram melirik cewek itu sekilas. Lalu mengarahkan bola matanya ke segala arah asalkan tidak menatap mata coklat Crysan kembali. Crysan sendiri masih terdiam. Belum melanjutkan kalimatnya. Membuat rasa penasaran di hati Bram kembali muncul. " Emh-, aku akan selalu berdoa semoga kakak sukses. Dan juga, semoga aku bisa mengingat kakak lagi "


" Ris- ", Entah apa gunanya Bram memanggil nama Crysan. Yang pasti sekarang Bram malah diam. Tidak ada kalimat atau kata apapun yang dia ucapkan. Katakanlah Bram bodoh. Crysan sedang menatapnya dan memperhatikan dirinya namun, dia malah diam. " Bolehkah kakak mencium kamu ?"


Crysan terperangah. Memandang Bram lebih intens. Memastikan bahwa yang baru mengajukan pertanyaan itu benar Bram. Crysan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bram. Pikiran Crysan kosong. Yang dia lihat hanyalah Bram yang semakin mendekat. Menghapus jarak antara mereka. Bram berdiri tepat di depan Crysan. Menyentuh pipi Crysan. Menyingkirkan rambut Crysan yang menutupi wajah cewek itu. Sejenak Bram merasa ragu. Tapi, melihat Crysan yang hanya diam, Bram kembali memberanikan dirinya. Dikecupnya kening Crysan pelan dan lama. Bram baru melepaskan ciumannya saat tanpa sengaja menangkap sebutir air mata jatuh dari mata Crysan. Menghapus air mata itu. Setelah meyakinkan dirinya untuk yang terakhir kalinya, Bram langsung membalikkan badannya. Meninggalkan Crysan yang masih terpaku.


" Kak-, safe flight. Kirim e-mail ke aku ya ", Bram tidak mengangguk juga menggeleng. Bram hanya diam mendengar permintaan Crysan itu.


" Selamat tinggal Ris ", Balas Bram kemudian melangkah menjauh.


" Never say good bye, please. Ini bukan perpisahan kan ? Tapi awal dari masa depan. Awal dari kehidupan kita yang sesungguhnya ", Walaupun Crysan mengatakannya pelan, tapi Bram masih bisa mendengarnya. " Jangan katakan selamat tinggal lagi kak. Tapi, sampai jumpa lagi "


Bram menyeka air mata sialannya yang turun begitu saja. Juga sebuah senyum. Senyuman yang sangat tipis sampai semua orang tidak bisa melihat senyuman itu. " Ok, isn't good bye. But, see you again my queen ", Cryaan tersenyum di belakang Bram yang telah menjauh. Memandang punggung Bram.


" Siapapun kamu, tapi aku merasa kita pernah ada hubungan, kak. Juga dengan cowok yang waktu itu mengatakan namanya adalah Ridho ", lirih Crysan melihat punggung Bran yang sudah menghilang. Cewek ini tidak ikut mengantar Bram sampai depan sana. Crysan memilih menunggu di kafe yang ada di sekitar bandara.


•••


Bel masuk terdengar, menandakan jam pelajaran pertama akan dimulai. Crysan tersenyum ramah saat beberapa temannya menyapa. Dia masoh menunggu Avni dan Nadya yang tadi pamit ke toilet. Bosan menunggu, Crysan memilih duduk di bangku yang terletak di dekat ruang musik. Menyentuh bangku itu sebelum duduk. Crysan memang sedikit santai karena guru yang mengajar akan mengadakan rapat terlebih dahulu. Crysan memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Dia kembali membayangkan saat mengantar Bram. Seolah dia pernah dekat dengan cowok itu. Seolah cowok itu yang selalu melindunginya selama ini. Tapi, Crysan juga merasakan sebagian hatinya yang kosong saat ada di dekat Bram. Seakan-akan dia tidak pernah memiliki cinta untuk cowok itu.


Crysan melihat seorang cewek yang tengah duduk menghadap cowok yang ada didepannya. Cowok bermata biru yang sangat tampan. Cowok itu sedang membujuk cewek itu. Crysan semakin mendekati kedua sosok itu. Memperjelas apa yang dia lihat. Crysan yakin cewek itu adalah dirinya. Tapi, yang tidak dia percaya adalah cowok itu.


" Plase jangan marah lagi ya ?", Tak ada jawaban selain wajah cemberut cewek itu. Juga bekas air mata di pipi cewek itu.


" Nanti jalan-jalan gimana ?"


" Janji ya kak Bram ? Tapi, jangan kayak nge-date "


" Janji "


Crysan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Cowok itu benar-benar Bram. Dan cewek itu adalah dirinya. Tapi, Crysan merasa tidak pernah ada dalam posisi itu. Di mana Crysan duduk di bangku itu dengan Bram didepannya. Dan bangku itu adalah bangku yang sama di dekat ruang musik. Cowok itu tiba-tiba menoleh ke arah Crysan. Tersenyum pada Crysan tapi matanya memancarkan kesedihan dan kekecewaan.


" Nggak...nggak mungkin. Nggak "


" Ris, lo udah sadar ? Tadi, lo pingsan terua dibawa kesini sama Pak Nur ", jelas Avni yang baru saja masuk ke dalam UKS. Dengan segelas teh hangat ditangannya.


Crysan diam tak menanggapi ucapan Avni. Dia masih terpikir dengan mimpinya tadi. Mimpi yang terasa sangat nyata. Seolah-olah Crysan pernah berada dalam posisi itu. Dan apa yang dia lihat tadi ? Bram yang kecewa dan sedih. Air mata Crysan lolos begitu saja tanpa dia sadari. Avni yang melihat temannya tiba-tiba menangis langsung menyodorkan teh hangat tadi. Membantu Crysan untuk meminumnya.


" Ris, setelah semesteran nanti gue mau liburan ke rumah nenek gue di Banyuwangi "


" Gue mah mau di rumah aja. Belajar biar bisa ke Paris. Sekolah di sana dan melupakan apa yang baru saja gue dapat lewat mimpi gue ", Mereka berdua tergelak. Merasa konyol dengan pembicaraan mereka sendiri.


•••


Satu setengah tahun kemudian...


Crysan menunggu ayahnya yang berjanji akan menjemputnya. Ayahnya tidak pernah mengingjari janji yang telah dibuat. Sama seperti Crysan yang selalu mengingat semua janjinya. Crysan yang dulu tidak pernah memakai riasan saat ke sekolah sekarang berubah. Menjadikab Crysan yang sangat fashionable. Mengalahkan penampilan Nadya yang selalu heboh. Dan sekarang Crysan semakin bebas mencoba penampilan baru. Ujian nasionalnya sudah selesai dan tinggal menunggu pengumuman. Rambutnya yang dulu berwarna hitam kini berganti dengan warna coklat. Melihat mobil ayahnya yang sudah terlihat, Crysan langsung mendekat dan masuk ke dalam mobil.


Saking sibuknya menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa, cewek itu tak menghiraukan teriakan ibunya. Bahkan ini sudah teriakan ketiga yang dia dengar. Cewek itu terlalu asyik memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Juga sangat antusias saat mengetahui bahwa tante dan om-nya akan datang dari Pernacis. Menjemputnya Crysan juga bermaksud menyekolahkan Crysan di Perancis.


" Makan dulu Ris "


" Iya, bu, sebentar belum laper "


Fara hanya memutar matanya. Crysan yang sudah berubah sangat dewasa. Jangan lupakan tatapan Fara pada rambut Crysan yang dulunya hitam sudah bertranformasi menjadi warna coklat pirang. " Ibu tunggu ya. Nanti kamu nggak kebagian ayam goreng kesukaanmu lho "


" Iya ibuku sayang ", ucap Crysan seraya memeluk ibunya dari belakang. Fara tersenyum, sudah hampir dua tahun ini tapi Crysan tidak mengingat apapun kecuali apa yang sengaja direncanakan oleh Ian dan Bram. 


Cewek itu kembali memutar bola matanya. Membiarkan dua temannya mengoceh tak jelas. Tangannya masih asyik membuat coretan gaun yang sangat indah. Crysan sudah membulatkan tekadnya untuk mencari peruntungan di Perancis. Ikut bersama tante Nadja dan suaminya. Bahkan Crysan menghela nafas kasar. Ingin berteriak agar Nadya menghilangkan sifat kemayunya itu tapi, Crysan tak tega. Akhirnya dia memilih menyampirkan tas selempangnya. Berjalan meninggalkan Avni dan Nadya yang masih berdebat tak jelas. Menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berdialog dengan tante Nadja.


" Sudah siap melihat Paris, sayang ?", Crysan mengangguk antusias. Dan mendapat senyuman manis dari tantenya. Banyak nasihat yang dia dapat dari ayah dan ibunya. Dan Crysan akan selalu mengingat semua nasihat itu.


" Sebentar tante. Av, Nad, gue pamit ya. Semoga kalian juga sukses di sini "


" Iya, Ris. Jangan lupain kita ya, tetep contact kita ya Crysan ", Avni sudah menjitak kepala Nadya. Bosan mendengar suara alay Nadya yang semakin parah.


" Good Bye Crysan. Safe flight, juga semoga lo sukses di sana "


" Jangan ngomong good bye, Av. Tapi, see you again. Karena kita pasti ketemu lagi ", mereka bertiga saling berpelukan. Setelah itu melepaskan Crysan. Crysan melangkah menjauh dari kedua temannya. Teman yang dianggap saudara sekaligus. Crysan melambaikan tangannya pada Avni dan Nadya. Begitu pun Naday dan Avni yang membalas lambaian tangan itu. Orang tua Crysan hanya tersenyun bahagia.


Semoga saja aku mendapat banyak hal baru nantinya. Juga semoga ingatanku kembali agar aku tidak dihantui mimpi itu lagi. Kak Bram, siapapun kamu dulu aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Crysan merapalkan doanya dalam hati sambil memandang hijaunya bumi Indonesia dari dalam pesawat yang sudah terbang membawanya ke Perancis. Membawa Crysan pada masa depannya.


...End...