
California
7.00 P.M
Cowok itu memandang California dari balkon apartemennya. Mengamati seluruh kota yang terang dengan gemerlap lampu. Juga lalu lalang kendaraan di bawah sana. Sudah dua tahun dia menetap di kota itu. Mengejar cita-citanya sekaligus menjauh dari seseorang. Dan dia juga berpikir bahwa sekarang ini, orang yang dia pikirkan sudah lulus dari SMA. Cowok itu sama sekali tidak tahu tentang keadaan orang itu. Bahkan saat dia menanyakan hal ini pada mamanya, sang mama memberikan jawaban yang sungguh mengejutkan. Cewek itu beserta keluarganya pindah ke Malang. Kembali cowok itu menghela nafas. Ternyata menjauh dari orang itu sama sekali tak mengurangi kenangan yang pernah ada. Justru membuatnya semakin merindukan kenangan itu.
Matanya beralih menatap sebuah foto yang menampilkan sosok perempuan. Sosok itulah yang dia rindukan. Bukan orang yang selama ini menemaninya. Orang yang dia rindukan adalah Crysan bukan Daniella yang ada bersamanya. Mengalihkan pandangannya lagi, kini cowok itu mengambil sebuah kalung. Kalung yang diberikan temannya saat Crysan kecelakaan. Kalung yang menandakan bahwa hubungannya dengan Crysan berakhir bahkan sebelum hubungan itu diresmikan. Hanya satu benda yang sangat dia sayang yang masih melekat pada Crysan. Gelang yang dia berikan masih ada pada Crysan.
Daniella yang masih setia berdiri di ambang pintu mengurungkan niatnya untuk menemui Ridho. Ridho memang sudah memaafkan Daniella atas semua yang terjadi. Tapi, tidak berani menjamin kalau apa yang dilakukan Daniella bisa bebas dari ranah hukum. Dan kabar terakhir yang Ridho dapat dari Bram dan Eki yaitu Helen. Helen yang mengalami kecelakaan juga Karin yang sudah masuk ke jeruji besi terlebih dahulu. Menyisakan satu pelaku yang belum tertangkap. Daniella kembali menutup pintu kamar Ridho. Menyandarkan tubuhnya ke pintu. Menangisi nasibnya sendiri. Daniella sudah pasrah kalau seandainya dia pulang ke Indonesia nanti akan masuk ke penjara. Semua temannya satu per satu sudah mendapat ganjaran, Daniella tinggal menunggu kapan gilirannya.
" Dee... ", Daniella membalikkan tubuhnya. Hampir saja dia menabrak dada bidang Ridho kalau tangannya tidak menahan. " Kamu ngapain di depan kamarku ? "
Daniella gugup harus menjawab apa. Air matanya saja belum dia hapus dan sekarang harus melihat wajah Ridho. " Ak- aku mau manggil kamu. Makan malam sudah siap "
Ridho mengangguk kemudian berjalan mendahului Daniella yang masih diam di tempat. Ridho bukan cowok yang bodoh. Dia tahu kalau Daniella menangis. Ridho juga tahu kalau Daniella tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Dilihat dari kegugupan Daniella juga cewek itu terus menunduk. Tak lama setelah Ridho duduk, barulah Daniella duduk di seberang. Mengambil makanan yang sempat dia masak tadi. Ridho dan Daniella memilih makan dalam diam. Membiarkan keheningan tercipta antara mereka berdua. Tak ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk membuka obrolan.Β
Biarlah seperti ini sampai waktunya nanti, aku mohon Tuhan. Batin Daniella sambil melihat wajah Ridho yang masih sibuk dengan makanannya.
β’β’β’
Singapore
8.00 A.M
" Iya, iya nanti gue telepon lagi Eki kupret. Gue lagi sibuk ini beneran. Lagian lo kayak emak gue deh ya "
"....."
" Hahaha, gila kali lo. Cari gebetan sendiri somplak. Digampar Avni tahu rasa lo, kupret "
"....."
" Iye entar gue cariin. Yang bule apa yang apa nih ? "
Tut...tut...tut
" Sialan emang Eki. Pagi-pagi malah minta cewek baru ", Bram terus menggerutu tak jelas. Satu-satunya teman yang masih terus dia hubungi hanyalah Eki. Dan dia kadang-kadang menghubungi Ridho. Saat memasukkan bukunya ke dalam tas, tanpa sengaja Bram menjatuhkan sebuah kotak. Kotak yang tidak pernah dia buka selama dua tahun ini. Kotak pemberian Crysan di bandara waktu itu. Bram menahan senyumnya. Kembali mengingat Crysan adalah pilihan yang tidak pernah terlintas dipikirannya. Begitu tiba-tiba setiap cewek itu muncul dalam otaknya.
" Baby, come on. Our breakfast have ready ", Bram menghilangkan senyuman itu dari bibirnya. Suara yang baru saja terdengar berasal dari kekasih barunya. Lebih tepatnya cewek yang dijodohkan papanya untuk Bram. Bram sempat menolak mentah-mentah perjodohan itu. Namun gagal, karena papanya mengancam akan menghancurkan keluarga Crysan.
" Wait, Chintya "
Bram menaruh kotak itu di nakas. Meninggalkannya hanya untuk sarapan. Dan yang dia lihat saat sampai di ruang makan adalah tatapan hangat ibunya. Juga senyum manis dari Achintya dan tatapan permusuhan dari papanya. Bram bosan melihat tatapan itu. Semuanya makan dalam diam. Tak ada yang bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Membuat suasana pagi yang cerah sangat mencekam.
Bram memutuskan masuk kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan sarapan paginya. Mengambil kembali kotak itu dan melihat apa isi yang tersembunyi dibaliknya. Sebuah sapu tangan dengan sulaman yang sederhana. Bram mengambil sapu tangan itu, menghirup baunya. Membentangkan sapu tangan itu di atas ranjang. Baru sulaman tadi terlihat jelas oleh Bram. Sulaman yang menampilkan inisial nama seseorang. Bram tahu itu inisial nama siapa. Tatapan cowok itu sekarang berpindah pada kertas warna biru muda yang tadi terjatuh saat dia mengeluarkan sapu tangan itu.
Maaf aku tidak mengingat siapa dirimu tapi, kamu perlu tahu siapapun kamu dan bagaimana hubungan kita aku tetap akan selalu menyayangimu. Aku dengar kamu akan pergi ke Singapore ya ? Jangan lupa berbagi cerita denganku ya ? Oh ya, mungkin aku terlalu malu kalau harus menyampaikan hal ini secara langsung denganmu. Bagaimanan kalau kita memulainya dari awal ? Maksudku memulai memperkenalkan diri kita masing-masing. Dimulai dari aku ya, namak Crysan Parisya. Panggil aku sesuka hatimu saja. Aku tak akan marah.π
Oh, ya, kak Bram. Boleh kan aku panggil seperti itu ? Karena kamu lebih tua dariku kan. Anggap saja kau mengizinkan aku memanggilmu kakak. Kalau aku aku sembuh dari amnesiaku nanti, apa kamu tahu ? Aku ingin orang pertama yang aku ingat adalah dirimu. Dan, maaf juga karena kenang-kenangan yang aku berikan hanyalah sapu tangan ini. Aku memberikan sulaman pada bagian sudutnya. Supaya kakak bisa selalu mengingatku.
Kak, katakan, apakah sulamannya cantik ? Kalau iya, pasti sekarang ini kakak sedang tersenyum. Aku bisa melihatnya dari hatikuπ. Jangan katakan aku berlebihan ya ? Karena kata-kata ini juga dibantu oleh Nadya agar terangkai menjadi isi dari surat ini. I hope you always be success and always remember me.
Satu lagi di sisi sapu tangan yang lain juga ada inisial nama lengkap kakak.
From your future queen
C.P
Ps : kakak ganteng, aku suka sama kakak. Khususnya mata biru itu. Jangan judge aku kalau aku menuliskan " your future queen ya "ππ
Bram tergelak di tempatnya. Rasanya dia ingin sekali tertawa juga mengis sekaligus. Crysan sungguh berbeda dari yang sebelumnya. Crysan yang tercermin dari surat itu adalah Crysan yang lebih ceria. Juga Crysan yang sangat terbuka. Bukan Crysan yang selalu menangis dan tertutup. Bram menyentuh sulaman tangan Crysan. Inisial nama cewek itu juga namanya di sisi yang berbeda. Seolah sulaman itu menjadi doa tersendiri bagi Crysan. Dan juga bagi Bram sekarang. Bukan berarti dengan adanga Achintya sekarang, Bram akan melupakan Crysan seperti permintaan papanya. Itu tidak akan pernah terjadi. Dan kalau boleh memilih, Bram akan kabur menyusul Crysan ke Paris. Bram tahu dari Avni dan Eki kalau Crysan ikut bersama tantenya ke Perancis. Sedangkan keluarga cewek itu pindah dan menentap di Malang. Bram menyimpan surat itu di laci meja belajarnya. Melipat sapu tangan pemberian Crysan dan menaruhnya di dalam tas.
" Semoga kamu cepat sembuh dan mengingatku, Ris "
β’β’β’
Paris
2.00 A.M
Crysan bergerak gelisah dalam tidurnya. Pikirannya terus melayang pada Indonesia. Seperti ada magnet sendiri setiap kali mengingat negara kelahirannya itu. Tatapannya tanpa sengaja mengarah ke jendela kamarnya yang terhubung langsung dengan balkon. Jendela yang dia biarkan terbuka itu memberikan kesan sejuk di pagi hari buta bagi Crysan. Seperti sebuah kebiasaan baru, cewek ini bangkit dari tidurnya. Berjalan menuju balkon kamarnya. Memperhatikan menara eiffel yang berdiri kokoh di depan sana. Juga beberapa muda mudi di Perancis yang masih berada di jalanan. Crysan tersenyum simpul melihat pemandangan itu. Merasa konyol sekaligus geli. Baru beberapa bulan ni negeri orang, cewek ini sudah merindukan masakan ibunya. Kejahilan adiknya juga nasihat ayahnya.
Mata Crysan menatap langit Paris. Langit yang cerah bertaburkan bintang. Crysan kembali tersenyum saat melihat sekitarnya. Cuaca yang sedikit dingin membuat Crysan harus merapatkan cardigan yang dia pakai sebagai penutup tubuh. Musim gugur memang menambah kesan romantis Paris. Crysan terkikik geli, memikirkan semua teman barunya yang selalu mengagungkan tentang pacar mereka. Sedangkan Crysan terkadang harus menahan rasa kesalnya karena tidak memiliki kekasih. Tapi, Crysan menutupi kekesalannya itu dengan menggoreskan coretan gaun-gaun yang sangat indah.
" Apa kau mau di balkon seperti itu terus atau kembali tidur Crysan ?", Crysan tahu persis suara siapa yang baru terdengar. Itu suara Vanilla yang sedang liburan dan memilih pulang ke Perancis daripada harus tinggal di Belanda.
Crysan membalikkan badannya sambil terkekeh pelan. Menertawakan Vanilla yang datang menemui Crysan di balkon dengan masker yang masih menempel diwajahnya. " Iya, aku akan masuk dan tidur. Sudah kembali tidur sana. ", Usir Crysan secara halus sambil mendorong tubuh Vanilla masuk kembali ke kamar Crysan.
" Ingat, jangan terkikik lagi. Aku berasa mendengar kuntilanak Indonesia yang tersesat di Perancis ", Crysan mengangguk dan kembali mendorong tubuh Vanilla agar pergi dari kamarnya. Menutup pintu kamarnya, Crysan tidak langsung kembali tidur. Melainkan kembali ke balkon kamarnya. Memandang eiffel dalam diam dan sesekali tersenyum.
" Hah, rasanya...aku ingin tahu siapa kekasihku kelak. Apakah ada hubungannya dengan orang yang bernama Bram atau Ridho ", Crysan kembali terkekeh pelan. Dan cewek ini langsung membekap mulutnya sendiri sebelum Vanilla kembali ke kamarnya.
Suasana pagi di Paris semakin membuat Crysan terbuai. Terhanyut dalam keheningan yang tercipta. Hanya suara hewan malam yang dia dengar. Dia sendiri juga bingung kenapa memikirkan orang dengan nama Bram dan Ridho. Rasanya kepala Crysan mau pecah karena terlalu bingung dengan kedua nama itu. Nama yang dia rasa seperti ada keterkaitan tersendiri dalam hidupnya. Crysan menangkap daun maple yang baru saja terlepas dari tangkainya. Daun berwarna merah kecoklatan. Melihat daun itu, Crysan mengingat salah satu film bollywood. Yang juga menampilkan musim gugur sebagai latarnya dalam mendeskripsikan cinta. Tanpa sadar cewek ini menyenandungkan lagu dari film itu. Membuatnya tertawa geli dengan tingkah yang dia buat.
" Jodoh kita siapa yang tahu. Iya kan ?", ucap Crysan pada daun itu padahal dia tahu daun itu tidak akan menjawab. " Tapi aku berharap dia akan datang kepadaku. Bukan aku yang akan datang kepadanya "
Cewek itu masuk ke dalam kamarnya masih dengan membawa daun maple tadi. Meletakkan daun itu di nakas dan masuk ke dalam selimut. Keremangan di kamar Crysan membuat cewek itu langsung terlelap dalam tidurnya. Membawa kenangan tersendiri bagi Crysan di pagi buta yang dingin itu.