
Cuaca Jakarta kali ini cukup mendukung untuk hanya sekadar melakukan aktivitas ringan. Seperti kali ini, Crysan memilih untuk bersantai ria sebelum dia pergi untuk les piano. Ya, sejak umurnya lima tahun Crysan sudah didaftarkan oleh sang papa untuk ikut les itu. Jadi, tak heran apabila Crysan sangat mahir memainkan benda yang menghasilkan nada indah tersebut. Kamar minimalis bernuansa putih biru menjadi tempat Crysan untuk merenung hari ini. Kamar ini memang kamarnya, biru dan putih adalah warna kesukaan dari cewek ini. Crysan duduk pada salah satu kursi santai yang ada dikamarnya. Dipangkuannya ada sketchbook beserta peralatan gambar yang lain. Ini juga menjadi salah satu hobi Crysan selain merangkai bunga.
Dengan ditemani oleh secangkir jahe madu hangat juga beberapa potong kue kering, Crysan mulai membuat sebuah sketsa. Sketsa seorang cowok yang tengah memunggungi seseorang. Crysan sendiri bingung kenapa dia menggambar seperti itu. Yang jelas dari hari-hari sebelumnya, cewek ini sering kali membuat sketsa wajah cowok dan lebih tepatnya wajah Ridho. Mendesah pelan, sebelum akhirnya Crysan menutup sketchbook itu dan menyesap jahe madu hangatnya. Pikirannya kacau, bagaimana mungkin seorang Ridho berhasil memasuki kehidupan sederhananya. Crysan rasanya seperti tak asing dengan nama Ridho sebetulnya. Cewek ini merasa pernah mendengar nama itu, tapi entah kapan dia pun lupa. Yang jelas nama Ridho memang tak asing ditelinga cewek ini.
Namanya bagus sih kayak orangnya. Tapi, dulu kayak pernah denger deh sebelum masuk SMA.
Crysan terus membatin nama Ridho. Tapi, lagi lagi dia enggan untuk berpikir lebih jauh lagi. Sudah cukup. Batin Crysan menjerit meneriakkan kata cukup. Crysan lelah memikirkan segalanya. Juga kata-kata Ridho beberapa hari yang lalu.
" Sayang, dicari sama Avni di bawah ", baru saja Crysan selesai dengan pikiran kacaunya, sang ibu lantas memanggil dan menyuruhnya turun ke bawah. Well, Avni memang selalu datang ke rumah Crysan setiap hari Sabtu. Karena rumah mereka memang berdekatan juga Avni yang selalu kesepian ada di rumah.
Merapikan penampilannya, Crysan langsung turun untuk menemui Avni. Dan, ya Avni memang datang. Crysan melangkah mendekat dan duduk disebelah Avni. Sesungguhnya Crysan sedikit heran dengan Avni yang sedari tadi tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya itu.
" Lo, ngapain Av? Malah senyum pepsodent kayak gitu ", tanya Crysan penasaran dan Avni malah langsung menariknya keluar rumah.
Avni terus saja menarik Crysan sampai mereka berada di taman komplek. Tak ada yang istimewa dari taman itu. Hanya saja pandangan Crysan terganggu oleh cowok yang tengah duduk di salah satu bangku taman. Cowok yang mengenakan jaket coklat. Apa kalian tahu kalau Crysan termasuk dalam salah satu orang yang sangat lama dalam mencerna suatu hal? Except dalam pelajaran. Avni kembali menarik Crysan hingga mereka berdua sampai di hadapan cowok tadi. Betapa terkejutnya Crysan saat dia melihat wajah dari orang itu.
Kak Ridho? Ngapain disini?
" Maaf, Ris. Tadi waktu gue mau ke rumah lo sebenernya, emh...gue nggak sengaja liat Kak Ridho ", jelas Avni setelah cewek berambut sebahu ini berhasil menarik Crysan. Dan menghentikan senyum pepsodent-nya.
" Oh, gitu ", Crysan malas untuk sekadar menanggapi penjelasan Avni. Pasalnya, hal ini sangat tidak penting bagi Crysan.
" Makasih ya Av, udah bawa dia kesini ", ucapan Ridho berhasil membuat kening Crysan berkerut. Avni lantas mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan Crysan bersama Ridho.
" Kakak ngapain di sekitar sini? Kan rumah kakak nggak disini ", tanya Crysan dan Ridho hanya terdiam. Cowok ini menarik Crysan untuk duduk disampingnya. Begitu Crysan duduk, pandangan Ridho lantas beralih pada wajah manis cewek ini.
" Teman? ", ucap Ridho yang mengarah pada suatu penawaran. Cowok ini menjulurkan tangannya ke arah Crysan. Dengan ragu cewek ini membalas juluran tangan Ridho. Senyum manis Ridho tak dapat disembunyikan lagi.
Kamu itu beda dari yang lain, Ris. Ridho membatin masih dengan mempertahankan senyumannya. Tak ada lagi pembicaraan serius setelah itu. Crysan juga tidak berniat untuk bertanya lagi. Teringat oleh sesuatu, cewek ini langsung menepuk dahinya. Ya, jadwal les piano yang hampir dia lupakan. Crysan langsung berdiri dan bergegas untuk pergi. Namun, Ridho menahan tangannya.
" Mau kemana kamu? ", tanya Ridho penasaran melihat tingkah Crysan yang terkesan buru-buru.
" Engh...itu kak, aku mau pulang. Mau les piano ", Ridho sempat terkejut dengan ucapan Crysan. Bukannya melepas tangan Crysan, Ridho malah ikut berdiri dan menggandeng tangan Crysan. Lebih tepatnya mengantar Crysan pulang.
Dua kali dia gandeng tanganku. Duh Tuhan, kenapa jadi dag dig dug gini sih? Eh, apa kak Ridho tahu rumahku ?
Sampai di rumah Crysan langsung bergegas menuju kamarnya. Berganti pakaian dan membawa tas selempangnya. Tak lupa pula sketchbook yang sudah dia masukkan didalam tas itu. Ridho? Setelah mengantar Crysan, cowok itu tidak mau masuk. Cukup tahu rumah Crysan saja katanya. Dan setelah tadi cowok itu meminta nomor HP Crysan, dia langsung pergi.
***
Siapa yang tak membenci hari Senin? Jawabannya adalah Crysan. Dia tak pernah membenci hari pertama setelah weekend itu. Disaat Avni dan Nadya mengeluh tentang hari itu, Crysan hanya tersenyum sebagai tanggapannya. Yang dikeluhkan Avni dan Nadya apalagi kalau bukan pelajaran matematika. Oh bukan, bukan materinya tetapi, gurunya. Belum lagi pelajaran bahasa perancis yang tak disukai oleh kedua sahabat Crysan itu. Semua mata pelajaran dilalui Crysan dengan senang hati. Bel istirahat sudah berbunyi sekitar tiga menit lalu, Crysan lebih memilih diam dibangkunya dengan novel yang sedang dia baca. Avni yang sudah tak tahan dengan rasa lapar yang menyerang, langsung menarik tangan Crysan menuju ke kantin. Firdaus dan Nadya sudah meluncur ke kantin sejak bel selesai berbunyi tadi, sama seperti murid yang lain. Dituntun Avni, Crysan hanya bisa pasrah. Dia juga lapar tapi tadi terlalu malas untuk pergi ke kantin.
Crysan menyerahkan segala urusan perut kepada Avni. Cewek ini lebih memilih mencari tempat duduk, dia sama sekali tidak melihat Nadya dan Firdaus. Tak berapa lama kemudian, Avni kembali dengan dua mangkuk soto juga es teh tawar dan es jeruk. Crysan sangat berterima kasih karena Avni sangat tahu minuman kesukaannya.
" Tumben pesen soto, biasanya siomay? ", tanya Crysan penasaran dengan pesanan Avni yang jauh dari kesukaan Avni. Dan cewek didepannya itu hanya mengangkat bahu acuh sebelum memilih menikmati sotonya. Crysan pun melakukan hal yang sama.
Saat Crysan menikmati soto yang ada dihadapannya, dia sempat mencium parfum yang selama ini mengganggu indra penciuman Crysan. Merasa terusik dengan wangi parfum itu, Crysan menengok ke belakang. Benar seperti dugaannya, Ridho juga Eki duduk di belakang Crysan. Dengan Ridho yang menatap Crysan lembut. Ditambah lagi ada cowok lain yang kali ini Crysan benar-benar tak tahu namanya. Cowok itu juga sedang memperhatikan Crysan, sampai membuat Crysan risih. Bukan risih karena dipandang Ridho tapi karena tatapan cowok yang ada disebelah Ridho. Ridho kemudian berdiri dan berpindah di samping kanan Crysan. Cewek ini sampai harus menahan nafas saat Ridho duduk disebelahnya. Ridho memang tidak memesan apapun, dia malah mengambil alih mangkuk yang berisi soto pesanan Crysan. Avni yang tadi sibuk dengan sotonya lalu mengangkat wajahnya dan hampir tersedak karena melihat Ridho. Mau tahu apa yang dilakukan Ridho ? Dia menyuapi Crysan. Tadinya Crysan sempat menolak, tapi melihat tatapan tajam Ridho, cewek ini langsung menurut begitu saja.
" Kak Ridho waras? ", tanya Avni yang langsung mendapat pelototan dari Crysan. Crysan terlalu kaget dan ingin tertawa mendengar pertanyaan Avni.
Hahahahaha. Itu bukan suara tawa Crysan, melainkan tawa Eki. Wajah geli Eki juga tak kunjung hilang saat Ridho menatapnya. Merasa malu Crysan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
" Nggak usah ditutupin. Jelek tau nggak ", pinta Ridho sarat akan permohonan dan Crysan langsung menurutinya.
" Tapi malu kak ", jawab Crysan sekenanya dengan wajah yang masih merah menahan malu.
Setelah mendapat tawa lepas dari Eki, Ridho langsung berhenti menyuapi Crysan. Karena hal itu pula, nafsu makan Crysan sirna. Tak lama kemudian handphone Crysan berdering. Satu chat berhasil masuk dan Crysan penasaran. Dari salah satu temannya ternyata.
**From : Erika
' Ris, td ada k3 kls yg waktu itu ke kls kt. Dy cari km, ke kls sm kak Bram** '
Setelah membaca chat dari Erika, mata madu Crysan langsung beralih pada Ridho yang ada dikanannya. Tanpa diduga, Ridho juga tengah memperhatikan Crysan. Cewek ini memilih menyenggol kaki Avni lewat kolong meja dengan kakinya. Setelah Avni melihat Crysan, Avni langsung paham dengan maksud Crysan. Mereka berdua langsung bangkit dan menuju ke stand kantin milik Bu Atik. Membayar makanan mereka berdua. Crysan menarik Avni agar lebih cepat berjalan. Crysan sempat memiliki firasat buruk dan benar saja. Lengan kiri Crysan langsung dicekal oleh seseorang. Memaksa Crysan untuk menoleh ke orang tersebut. Bram, orang yang mencekal lengan kiri Crysan malah tersenyum.
Ganteng sih tapi gantengan kak Ridho. Batin Crysan tanpa sadar telah memuji Ridho dalam hatinya.
" Kok buru-buru mau kemana? ", tanya Bram tanpa melepas cekalannya. Ridho hanya diam melihat apa yang dilakukan Bram.
" Mau ke kelas kak, habis ini pelajaran fisika. Gurunya galak ", jawab Crysan mulai mengawur dan Avni hanya mengangguk tanda setuju dengan jawaban Crysan.
" Lo kira gue **** atau gimana? Orang habis ini lo pelajarannya si Fitria. Pkn right? ",
Ini cowok emang nggak punya sopan santun kali ya?
" HAH!? ", Crysan hanya pura-pura kaget. Dia tahu kebohongan yanh dia buat terbongkar begitu cepat. Kini cewek ini menatap Ridho. Meminta penjelasan dari cowok itu. Tapi, Ridho hanya diam dan menolak untuk menatap Crysan.
" Gue aja yang antar dia ke kelaa Bram. Lo sama Eki langsung balik ke kelas kita aja ", Crysan mendesah lega mendengar suara Ridho. Kini Ridho yang menggenggam tangan Crysan. Rasa takut itu seketika sirna dan berganti dengan kehangatan.
" Masalah Bram tadi nggak usah dipikir ya, say? ", kata Ridho pelan tapi masih bisa didengar oleh Crysan juga Avni. Bahkan Crysan dan Avni bergantian memandang Ridho yang terkesan cuek dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya itu.
***
Sama seperti yang lalu, Crysan kembali dihujani pertanyaan tak penting dari teman sekelasnya. Dan cewek ini hanya mengatakan dengan mantap bahwa dia dan Ridho hanyalah teman. Ada yang percaya dengan jawaban Crysan tapi, ada pula yang tidak percaya kalau mereka hanyalah teman. Begitu juga Avni yang memilih untuk tidak percaya dengan ucapan Crysan. Dengan tatapan menyelidik Avni bertanya pada Crysan tetang hal yang sebenarnya.
" Emang beneran ya lo sama kak Ridho cuma teman? ", pertanyaan itu mengundang rasa penasaran Nadya yang tidak tahu apa-apa.
" Iya, bener. Gue nggak bohong sama sekali "
" Masak sih Ris? Nggak mungkin ah ", giliran Nadya yang berpendapat. Mereka bertiga bukannya memperhatikan Bu Fitria yang tengah menerangkan tentang HAM malah bergosip ria.
" Yang gue tau ya Ris, kalo temen itu nggak mungkin saling bergandengan tangan kayak lo ", jawab Avni pelan sambil menunjuk Crysan. Dan langsung mendapat deheman dari Firdaus.
" Terus nih ya, nggak mungkin saling suap menyuap makanan ", lanjut Avni dan Bu Fitria yang mendengar suara halus Avni langsung berdehem.
" Teman tapi mesra kalo itu mah Av. Percaya deh sama gue ", ucap Nadya tak terusik dengan deheman guru Ppkn mereka itu.
" Udah ah diem. Diliatin sama Bu Fitria tuh ", sambung Crysan menghentikan gosip dan aksi kepo kedua temannya.
Apa iya aku sama Kak Ridho keliatan mesra? Bodo amat lah. Gue nggak peduli sama itu semua. Batin Crysan kemudian kembali fokus pada penjelasan Bu Fitria.
Siapa sih yang sms? Lagi pelajaran juga.
**From : Kak Ridho
Hati-hati sama Bram**.
Pesan singkat Ridho yang membuat Crysan bingung sekaligus heran. Tali, cewek ini tak mau ambil pusing dan langsung men-nonaktifkan benda persegi panjang itu.