Crysan

Crysan
Crazy Idea



" Coba, lo putusin Daniella. Lo hanya terobsesi sama dia, Dho. Gue ada ide "


Bram membisikkan idenya itu ke telinga Ridho. Sahabatnya itu hanya tersenyum lalu mengangguk.


...


Satu minggu berlalu, dan selama itu pula Daniella berubah. Daniella menjadi lebih ramah jika berpapasan dengan Crysan. Semua itu tak luput dari perhatian Karin, sepupu Daniella. Entah kenapa, Karin merasa Daniella sudah lupa dengan apa yang diinginkan Daniella sejak awal. Seperti memiliki Ridho  seutuhnya sampai entah kapan. Diam-diam Karin tersenyum sinis melihat semuanya. Pernah satu kali Karin bertatap muka dengan Crysan di kantin. Crysan yang sedikit kesusahan membawa mangkuk baksonya, hampir saja terjatuh saat tanpa sengaja Karin menyenggol bahunya. Crysan hanya memandang punggung Karin yang menjauh dengan tatapan kesal. Crysan tahu siapa Karin, juga Helen. Crysan juga tahu kalau Karin adalah sepupu dari Daniella. Tapi, sejauh itu Crysan membiarkan apa yang selalu dilakukan oleh Karin.


Pagi ini hujan kembali turun membasahi bumi pertiwi. Memberi rasa dingin di hari itu. Juga meninggalkan baunya yang sangat khas. Bau hujan yang sangat disenangi Crysan karena menenangkan, menyenangkan, juga memberikan kesan sederhana bagi siapa saja yang menciumnya. Crysan tersenyum simpul menikmati pemandangan di luar sana. Sayang ini bukan hari libur, andaikan saja hari libur maka Crysan akan bermain dengan hujan. Crysan memutuskan menikmati hujan ditemani dengan penjelasan matematika dari Pak Yus. Mengantuk, itu pasti. Apalagi Avni yang tadi bersemangat membahas materi dengan Crysan kini sudah terkantuk-kantuk dibangkunya. Sekali lagi, Crysan melempar pandangannya pada rintik hujan. Memilih memainkan jemarinya di kaca jendela yang mulai berembun karena hujan. Menuliskan namanya disana. Jujur, Crysan tak dapat menyembunyikan senyuman itu. Dia belajar banyak hal dari hujan. Menjadi orang yang sabar, menyenangkan, dan pandai mengendalikan emosi. Crysan memiliki semua hal tersebut dalam dirinya. Crysan kembali tersenyum memikirkan dirinya sendiri. Cewek ini tidak sadar sedang diperhatikan oleh Avni yang sudah terjaga dari tidur ayamnya. Bel istirahat sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu, bahkan Pak Yus sudah meninggalkan ruang kelas.


Setelah berhasil menyadarkan Crysan dari dunia fantasi milik Crysan, Avni langsung menggeret sahabatnya itu menuju ke kantin. Tidak masalah sebenarnya kalau Avni ingin meninggalkan Crysan. Tapi, Avni hanya tidak enak kepada Bram kalau ditanya macam-macam. Juga Nadya dan Daus yang tadi mengajak makan bersama di kantin. Kali ini Avni memesankan gado-gado dan segelas es teh manis untuk Crysan. Sedangkan Avni memilih memesan siomay kuah. Dari jauh Avni bisa melihat Bram yang sedang menuju ke kantin bersama Eki dan Ridho. Tujuan Bram dan Eki pasti Crysan dan Avni. Yang tidak Avni ketahui adalah Ridho. Ini sungguh mustahil, Ridho memang sudah lama tidak bergabung. Lalu sekarang datang bersama Bram dan Eki. Melihat Bram,Eki, dan Ridho yang semakin dekat Avni hanya menunduk berpura-pura menikmati makanannya. Avni hanya menutupi kegugupannya setiap melihat Eki.


" Kita boleh gabung ?" tanya Bram begitu sampai di dekat Crysan. Cewek itu hanya mengangguk tanpa berkata lebih lanjut pada Bram. Lewat matanya, Bram memberi isyarat pada Ridho untuk duduk di sebelah Crysan. Sedangkan Bram memilih duduk berhadapan dengan Crysan. Avni dan Eki sudah pindah bergabhng dengan Nadya dan Daus. Tidak mau mengganggu privasi antara Bram, Crysan, dan Ridho.


" Ris, kakak mau bicara sesuatu tapi setelah ini ", Bukan apa-apa Bram mengatakan itu. Matanya melirik Ridho. Mencoba melihat reaksi temannya itu.


" Iya, aku makan dulu ya kakak ganteng ", Bram mengangguk dan mengacak rambut Crysan. Ridho juga tersenyum.


Mungkinkah ini yang terbaik ? Pikir Bram sejenak sebelum bangkit dan berlalu untuk memesan minuman.


Di samping itu semua, Ridho juga memikirkan semua ide dari Bram. Ide yang menurutnya sangatlah gila. Bukankah Crysan adalah pacar Bram ? Tapi Bram malah ingin melakukan suatu hal yang sangat konyol untuknya dan juga Crysan. Semuanya masih terasa janggal bagi Ridho. Dia bahkan tidak sempat memikirkan tentang Daniella dan apa yang akan terjadi nantinya.


•••


" Kakak sebenarnya mau bicara apa ? Lima menit lagi bel masuk kak ", ucap Crysan frustasi karena Bram sudah meneriknya jauh dari kantin. Menuju ke suatu tempat yang kata Bram adalah tempat rahasia.


Bram menghentikan langkahnya. Menengok ke belakang, mengamati wajah frustasi sekaligus lelah Crysan. Dia hanya menampilkan senyum polosnya. Bukannya menjawab pertanyaan Crysan, Bram malah mendudukkan Crysan di sebuah kursi yang terletak di depan ruang musik. Sedangkan Bram, memilih untuk berjongkok di depan Crysan. Baru kali ini Bram merasa gugup untuk menyampaikan niatnya. Niat membantu Ridho untuk mendapatkan apa yang diinginkan sahabatnya itu. Bram menarik nafasnya panjang dan menghembuskan pelan. Berbeda dengan Crysan yang sudah tak sabar untuk mendengar penjelasan Bram nantinya.


" Cepetan kak Bram. Mau omong ap- ", Ucapan Crysan terhenti saat Bram meletakkan jari telunjuknya di bibir manis Crysan. Membuat Crysan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


" Jadi, seperti ini. Kakak mau mengajak kamu untuk dinner. How about it ? ", Bram sengaja mengatakan itu dengan pelan. Crysan yang tadinya melihat mata Bram langsung membuang pandangannya. Meskipun samar, tapi Bram bisa melihat kalau Crysan menggeleng. Melihat itu Bram sempat panik.


" Aku nggak mau kalau dinner nya mendadak kayak waktu itu ", Bram mendesah lega mendengar jawaban Crysan.


Jadi itu maksudnya menggeleng tadi. Bram tersenyum dan langsung menuntun Crysan. Mengantar Crysan untuk kembali ke kelas cewek itu.


•••


Crysan terus berpikir mengenai ajakan Bram. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidur siang karena putus asa tidak menemukan jawaban atas pemikirannya. Crysan terbangun dari tidurnya karena sinar matahari yang mulai terlihat redup. Berganti dengan langit malam bertabur bintang. Melihat jam dinding, Crysan langsung terduduk. Jarum panjang sudah menunjukkan angka enam. Dan Crysan belum mandi dan bersiap untuk ajakan Bram. Crysan mengarahkan pandangannya pada pintu kamarnya. Siapa yang mengetuknya ? Tanya Crysan dalam hati. Tidak mungkin itu ibunya. Mustahil pula kalau itu ayahnya mengingat ayah kesayangannya sedang ada pekerjaan di luar kota. Atau Keenan, adiknya ? Rasanya itu lebih mustahil. Dengan langkah sempoyongan, Crysan membuka pintu dan menemukan ayahnya sudah berdiri disana.


" Iya, yah. Eh, ayah kok sudah pulang sih ?", tanya Crysan begitu sadar kalau itu memang ayahnya. Ian tergelak mendengar ucapan putrinya itu.


" Kamu sudah ditunggu seseorang. Oh, iya, ayah pulang sejak dua jam yang lalu "


Crysan mengangguk dan menutup pintu kamarnya kembali. Crysan tahu pasti yang mencarinya adalah Bram. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Crysan langsung turun dan semakin terkejut saat melihat wajah Ridho disana. Ridho tersenyum ke arah Crysan. Cowok ini menyadari kehadiran Crysan lewat langkah kaki Crysan.


" Itu dia, Crysan. Sini sayang sudah ditunggu sama Ridho ", Fara berdiri dan menuntun putrinya itu untuk duduk. " Oh, ibu lupa. Nak Ridho mau mengajak kamu jalan-jalan. Iya kan yah ?", ucap Fara lagi sambil memberi isyarat mata kepada suaminya. Dan Ian dengan senang hati meng-iyakan ucapan sang istri.


Tapi, kan aku mau dinner dengan kak  Bram. Kenapa jadi kak Ridho ?


Ridho sebenarnya sudah memberi tahu ayah dan ibu Crysan tentang rencananya juga Bram. Rencana awal memang Bram yang akan menjemput Crysan sekaligus meminta izin dari orang tua Crysan. Tapi semua gagal saat tanpa sengaja Bram menabrak orang dijalan dan harus mengurus orang tersebut. Ridho mengucap syukur dalam hati saat Crysan tak kunjung bertanya lebih panjang lagi. Ridho sedikit khawatir akan jawaban Crysan. Ridho juga menduga kalau Crysan masih sakit hati padanya. Sakit hati dengan semua yang dikatakan dan tindakan Ridho. Mempermainkan Crysan dan menyebutnya sebagai pelarian semata.


Berbeda dengan Ridho yang menunggu dengan cemas di ruang tamu, Crysan tengah sibuk mengeluarkan semua gaun yang dia punya. Dari gaun berwarna biru sampai hitam tidak ada yang cocok. Fara, sang ibu hanya tersenyum melihat wajah putrinya yang ditekuk namun tetap mengeluarkan semua baju terbaiknya. Tak tega melihat Crysan kebingungan, Fara keluar mengambil sesuatu dikamarnya. Lima belas menit kemudian Fara kembali dengan membawa sebuah kotak. Crysan menoleh ke arah ibunya dengan ekspresi yang masih sama seperti sebelumnya. Fara memindahkan kotak tadi dari tangannya ke tangan Crysan. Dengan bingung Crysan membuka kotak itu. Mengeluarkan isinya dan terkejut dengan apa yang dia lihat. Sebuah gaun berwarna baby pink dan sebuah high heel berwarna putih keabu-abuan. Tanpa melihat ibunya, Crysan langsung berlari ke dalam kamar mandi.


" Gaunnya nyaman, buk "


Fara tersenyum manis, menghampiri Crysan dan menyuruh anaknya itu untuk duduk di depan meja rias Crysan. Fara mengamati Crysan yang tengah berdandan seadanya. Rambutnya yang hitam dikepang. Crysan tak menambahkan aksesori apapun pada rambutnya. Fara kembali mengeluarkan kotak. Lebih kecil daripada yang tadi. Membukanya tepat dihadapan Crysan. Fara mengeluarkan sebuah kalung dengan tiga permata. Semua itu bukan milik Fara tapi murni milik Crysan yang disimpan oleh Fara. Terakhir Crysan memakai gelang yang dia dapat saat ulang tahunnya. Gelang dari seseorang yang tidak pernah Crysan ketahui siapa namanya kecuali inisial si pengirim.


" Ini semua ibu yang beli ?", Crysan mengeluarkan pertanyaan itu setelah dia menahannya lama. Iya, dia terlalu penasaran dengan semua yang diberikan sang ibu.


Fara menggeleng, menyentuh bahu Crysan, " Ini semua dari tante Nadja. Tante kamu yang tinggal di Perancis. Masih ingat kan ? ", Crysan mengangguk mantap. Dia mengingat semuanya, dua tahun lalu tantenya memberikan dua buah kotak pada ibunya ini. Karena menurut Fara isi kotak itu masih terlalu besar untuk tubuh Crysan maka tak pernah sekalipun Fara menyentuh kotak itu. Sebelum malam ini, Crysan benar-benar membutuhkan isi kotak itu.


Suami Nadja, adik dari Ian memang orang Perancis asli. Lebih tepatnya berasal dari Eguisheim sebelum menjadi muallaf. Dan sekarang tante dan om dari Crysan ini menetap di Paris. Crysan mengucap terima kasih kepada tantenya itu. Dia sangat bersyukur memiliki tante yang baik. Bahkan tante dan om-nya berjanji akan mengajak Crysan tinggal di Paris.


Crysan terus mengatur nafasnya sampai akhirnya dia siap untuk menemui Ridho. Ridho terpana melihat cewek yang sedang berjalan menuju dirinya. Crysan tersenyum manis ke arah Ridho. Senyum yang terlihat seperti sebuah ringisan malu. Ridho terkekeh pelan, dia tak mampu hanya untuk mengedipkan matanya. Bahkan Ridho sudah tak sadar kalau Crysan berdiri dihadapannya. Crysan berdiri dengan membawa tas pesta kecil yang disampirkan di pundak kanannya. Setelah lama menunggu tak ada reaksi dari Ridho selain diam, Crysan meniup mata Ridho dengan sengaja.


" Oh, emh, ay...ayo Sya berangkat, yah, bu, kita berangkat sekarang "


Setelah kedua orang tua Crysan mengangguk, barulah Ridho berjalan mendahului Crysan. Sekali lagi, Ridho terperangah dengan penampilan Crysan. Crysan menahan senyum malu saat tatapan Ridho tidak lepas darinya.


Di dalam mobil, hanya kebisuan yang mendominasi. Baik Ridho maupun Crysan merasa de javu dengan hal ini. Bedanya waktu itu Crysan belum menjadi pacar Bram. Dan Daniella belum kembali dari California. Waktu itu Ridho masih single. Dan sekarang keadaan sangatlah berbeda. Crysan lebih fokus pada apa yang dia lihat di kiri jalan. Gedung pencakar langit yang memenuhi Jakarta. Juga lampu penerangan yang sangat indah saat malam hari. Tanpa Crysan ketahui, Ridho sempat meliriknya sekilas. Bosan dengan suasanan kiri jalan, Crysan menolehkan kepalanya ke arah kanan. Arah Ridho. Tepat juga Ridho menengok ke arah kiri. Mata mereka bertemu satu sama lain. Saling menyelami perasaan masing-masing lewat sorot mata. Ridho mengalihkan Pandangannya terlebih dulu. Sedangkan Crysan masih betah menatap wajah Ridho dari samping.


Kamu ganteng kak. Apalagi dengan kemeja biru yang kamu gulung sampai siku itu. Crysan tersenyum setelah membatin Ridho. Hanya dua kalimat itu yang mengganggu pikiran Crysan.


Sebelum ada hal lain lagi yang ingin Crysan tanyakan.


" Kak. Kenapa jadi kakak yang jemput bukan kak Bram atau jangan-jangan? ", Crysan menggantungkan pertanyaan itu saat Ridho melihatnya dengan tatapan bersalah.


" Sebenarnya- "


Flasback


" Lo, dinner sama Paris. Gue nggak marah Dho, serius. Justru malah senang kalau orang yang gue sayang bahagia dengan orang yang tepat "


Ridho mengangguk dan menahan senyumnya. Biarlah kali ini dia sedikit egois. Menjerat Daniella juga Crysan dalam satu waktu yang sama. Setelah mendengar ide dari Bram yang menurut Ridho itu gila, Ridho langsung mengajak dua temannya itu menentukan tema dinner Ridho. Dan pilihan mereka bertiga jatuh pada candlelight dinner di rumah Ridho.


" Kalian pastikan Daniella nggak tahu soal ini "


Eki dan Bram mengacungkan jempol. Mereka sungguh bekerja sama dalam hal ini. Ridho tahu kalau Bram mengatakan hal itu pada Crysan di depan bangku ruang musik.


Flashback off


" Jadi ?", tanya Crysan heran. Ridho hanya meringis dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Crysan.