Crysan

Crysan
Bonus Bab 2



6 Years later...


Jakarta, Indonesia.



223 suka


CrysanParisya_ Have a safe flight




Pict by : @Vanillavi19


#simple #cute #girl


Lihat semua 109 komentar


Vanillavi19 You're my real beautiful sister @CrysanParisya_


Avnii_ Kamu pulang ke Indo ? Seriously ?


NadNadya Crysankuhhh


CrysanParisya_ Hahaha that's so sweet @Vanillavi19; Iyess aku pulang @Avnii; Apa Nadyakuhhh @NadNadya


22 jam yang lalu


Crysan tertawa sambil membalas komentar mengenai foto kemarin dipostingnya. Ya, Crysan memang sudah kembali ke Indonesia. Tepatnya dua jam lalu Crysan baru tiba di ibu kota negara Indonesia. Crysan juga memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen lama milik Vanilla dan dia akan berangkat ke Malang keeseokan harinya. Kurang lebih enam tahun Crysan menetap di Perancis. Meninggalkan semua kenangannya di Jakarta. Dan selama enam tahun itulah Crysan berhasil mengingat siapa dirinya. Crysan kembali mengingat apa saja yang dia alami dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir sebelum dia pindah ke Paris. Bahkan, gadis berusia 24 tahun ini sudah mengingat kembali siapa Ridho dan juga Bram. Jika mengingat nama Bram, pasti Crysan akan tersenyum sendiri. Entah apa yang dia pikirkan, rasanya ada yang berbeda setiap Crysan menyuarakan nama Bram di dalam hatinya. Selema ini pula Crysan belum bahkan tidak pernah menjalin komunikasi lagi dengan laki-laki itu.


" Kota Tua join ? " Tanya Vanilla yang sudah duduk manis di samping Crysan yang masih berkutat dengan buku agenda juga ponsel pintarnya. Gadis berambut hitam legam itu menatap sepupunya dengan wajah penuh harap agar Crysan mau ikut pergi bersama.


Setelah lama menggantungkan jawaban untuk Vanilla, akhirnya Crysan mengangguk mengiakan ajakan Vanilla. Dan betapa bahagianya Crysan, karena mereka pergi ke Kota Tua bertepatan dengan matahari yang akan tenggelam. Dan itu membuat sebuah senyuman terbit di bibir Crysan.


Beberapa menit kemudian, Vanilla dan Crysan yang berangkat ke Kota Tua menggunakan mini cooper merah milik Vanilla pun tiba. Suasana saat kedua gadis ini turun pun cukup ramai membuat Crysan bertambah lebar senyumnya. Tak lupa juga Crusan dan Vanilla mengambil foto mereka berdua.



199 suka


CrysanParisya_ Our Sweet moment at Kota Tua Jakarta. @Vanillavi19


Pict by : @Vanillavi19


#orange #sunset #girls #evening #time


Lihat 87 komentar


Ekii_ Pingin ikut gue @CrysanParisya_


Avnii_ Ris, nggak ajak2. Ngeselin.


Ekii_ besok ke sana sama aku bebihku.


CrysanParisya_ Hehe maaf ya @Avnii_ dan kak @Ekii_


Berbeda dengan Crysan yang sedang menikmati kepulangannya ke Indonesia, Bram yang kini berubah menjadi sosok pria yang sangat tampan tengah menatap layar ponselnya yang masih menampilkan akun milik Crysan. Selama ini, Bram selalu memantau kegiatan Crysan. Baik lewat sosial media milik Crysan atau pun melalui detektif yang dia bayar untuk memantau kegiatan Crysan di Paris sana. Katakan saja Bram kurang kerjaan dan selalu ingin tahu tentang Crysan, tapi itulah kenyataannya. Bahkan Bram sama sekali tidak menanggapi perjodohannya dengan Achintya. Meletakkan ponselnya, Bram memilih memejamkan matanya sejenak. Kesibukannya dalam dunia kerja juga mengawasi Crysan membuatnya kurang istirahat. Sayang, yang tidak pernah diketahui Bram adalah ingatan Crysan yang sudah kembali.


•••


Malang


Esok harinya, Crysan memutuskan berangkat ke Malang bersama Vanilla dan juga Avni yang memaksa ingin ikut mengantar Crysan ke Malang. Rindu dengan kedua orang tua Crysan katanya. Dan dengan mudahnya Crysan membolehkan Avni ikut dengannya. Bahkan sebagai sahabat yang baik, Crysan sempat menanyakan bagaimana pekerjaan Avni jika gadis itu ikut bersamanya ke Malang. Dalam perjalanannya ke Malang, Crysan banyak terdiam. Berbeda pada saat gadis itu pertama kali menapakkan kakinya di Jakarta. Ya, Crysan merasa dia akan mendapatkan suasana baru nantinya di kota apel itu.


Dan aku akan melupakan segala tentangmu lagi kak Bram.


Pernah Crysan menanyakan tentang Ridho dan juga Bram pada Avni, Eki, Nadya, maupun Daus tapi yang dia dapat hanya gelengan kepala. Terlebih lagi Eki yang sangat terkejut karena Crysan sudah mengingat siapa Ridho. Eki tidak berani menjawab dimana Ridho saat ini. Pria itu takut jika menjawab pertanyaan Crysan, maka Crysan akan shock. Bahkan Eki melarang Avni dan yang lainnya menceritakan semua yang menyangkut tentang Ridho.


" Sumpah ya Ris, gue selama kerja dan tugas ke luar kota, Malang itu jadi tempat favoritnya gue. " Ucap Avni penuh dengan semangat menceritakan pengalaman kerjanya pada Crysan.


" Tapi situ enggak pernah jalan-jalan kan di Malang ?" Sekarang giliran Vanilla yang menimpali ucapan Avni sebelumnya. Meski lama tinggal di Perancis, gadis berambut hitam legam ini tidak lupa bagaimana berbicara dengan bahasa gaul ala orang Indonesia.


Crysan hanya terkekeh mendengar gerutuan Avni yang mengiakan ucapan Vanilla untuknya tadi. " Sebenarnya aku ada project di Malang. Ya hitung-hitung biar gaun rancanganku terkenal gitu. " Kata Crysan tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang dia baca.


" Promosi ya Ris ceritanya ? " Tanya Avni penuh dengan rasa pensaran. Crysan hanya mengangguk. Memang sebelum kepulangannya ke Indonesia, Crysan sudah menjalin kerja sama dengan beberapa majalah fashion di Indonesia juga photographer terkenal di Indonesia. Dan sekaranglah kesempatan emas itu ada. Sebelumnya hanya pakaian yang Crysan rancanglah yang ada di Indonesia tanpa adanya Crysan. Sekarang gadis ini bisa tersenyum puas karena dia akan melihat sendiri gaunnya dipakai oleh model ternama.


" Besok bantu aku cari lokasi buat photoshoot ya. Kalian mau kan ?" Tanya Crysan berhasil mengalihkan perhatian Vanilla dan Avni yang asyik menikmati pemandangan Malang di balik kaca mobil yang membawa mereka bertiga menuju rumah Crysan dari Bandara Abdul Rachman Saleh.


" Seriusan lo melibatkan gue juga ? Tersanjung gue, Paris." Jawab Avni semakin antusias dengan tawaran Crysan kali ini.


" Kalau aku sih oke saja Ris, asal kita tetap bisa kuliner. " Kali ini Vanilla yang menjawab. Membuat Crysan memutar bola matanya malas. Setiap kali Crysan dan Vanilla pergi ke suatu tempat pasti mereka berdua tidak akan pernah luput dari makanan. Dan itu pun atas paksaan dari Vanilla tentunya.


" Iya pasti nanti ada wisata perutnya. "


Avni yang heran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Crysan hanya mengkerutkan dahi, sebelum " Wisata perut apaan ?"


" Wisata perut itu bahasanya si Crysan kalau menyebut wisata kuliner. " Jawab Vanilla santai tanpa melihat ekspresi Crysan yang menahan kekesalannya. Sudah biasa jika Vanilla selalu memperjelas bahasa aneh milik Crysan.


Tiba di rumah orang tuanya, Crysan mendapat sambutan yang mampu membuatnya menangis. Bukan, Crysan bukannya menangis karena sedih namun, dia sangat bahagia bisa kembali berkumpul dengan ayah dan juga ibunya. Dulu, waktu Crysan menetap di Perancis ayah dan ibunya hanya satu tahun dua kali berkunjung ke sana. Begitu pula dengan Crysan yang hanya pulang ke Indonesia saat lebaran saja. Dan sekarang, Crysan bisa dengan bebas melihat Malang tidak seperti dulu. Adiknya yang dulu masih kecil pun sekarang sudah duduk di bangku SMP. Crusan, Vanilla dan Avni masuk bersama Fara-ibu Crysan. Perempuan paruh baya itu mana bisa membiarkan Crysan- anak kesayangannya berlama-lama di luar rumah. Keempat wanita beda usia ini berpisah di ruang keluarga karena Fara-ibu Crysan memilih menuju dapur. Membiarkan Crysan bersama Vanilla dan Avni menuju ke kamar Crysan.


" Emh, rumah lo yang di sini lebih nyaman dari pada rumah lo yang di Jakarta ya Ris. " Ucap Avni menanggapi setiap inci dari rumah Crysan ini. Dan sang empunya hanya tersenyum sambil sesekali mengangguk. " Tapi entar kita tidurnya gimana ? Bertiga gitu ?" Kali ini bukan hanya Avni yang mulai cerewet tetapi Vanilla yang baru beberapa hari ini mengenal Avni pun tertular kecerewetan milik Avni.


" Eh, iya ya, masak kita tidur bertiga. Emh, gampang lah nanti ambil kasur lagi. " Jawab Crysan " Apa mau tidur di kamar tamu aja kalian ? " Sontak saja Avni dan Vanilla menggeleng. Membuat dahi Crysan berkerut. " Kok geleng ?" Tanya Crysan menyelidik dengan matanya yang sudah menyipit menatap tajam Vanilla dan Avni.


" Kita kan udah sepakat mau girls time. " Ya, sejak perjalanan menuju ke Malang memang Avni dan Vanilla sengaja membuat rencana akan tidur bersama Crysan. Supaya bisa saling bercerita alasannya.


•••


Jakarta


" Bram, kamu mau kemana ? " Langkah kaki Bram terhenti. Dengan berat hati pria 26 tahun ini harus menolehkan kepalanya ke arah sang mama yang tengah menata piring di meja makan. " Mama tanya kamu, Bram. Kamu mau kemana ? Bukannya hari ini kamu libur kerja ?"


Lagi, Bram tidak bisa untuk tidak mengacuhkan ucapan sang mama. Setiap hari libur pasti pertanyaan yang sama akan disampaikan oleh mamanya itu sampai Bram mau menjawabnya. Bram memutar tubuhnya, melangkah menuju mamanya yang masih asyik dengan piring-piring di meja makan. " Hari ini Achintya ke sini Bram. Kita mau sarapan bareng. Kamu nggak mau ketemu Tya ?"


Bram hanya diam. Pria ini tidak tahu ingin memberikan jawaban seperti apa. Pasalnya sudah lama Bram menghindar dari Achintya dan keluarga gadis itu. " Bram ? Kamu...masih cinta sama gadis itu ? Siapa namanya ?"


" Crysan. " Jawaban yanh sangat singkat. Bukan Bram sekali. Karena selama ini Bram dikenal sebagai sosok yang hangat di keluarganya tetapi dia juga bisa memasang wajah super dinginnya diluaran sana


" Iya, Crysan. Nama yang cantik, pasti orangnya cantik kan Bram ? " Kali ini hanya anggukan yang diberikan Bram.


Iya ma, dia cantik. Tapi Bram terlalu takut bertemu dengannya. Batin Bram di dalam hati kecilnya.


" Jika kamu memang cinta sama Crysan, kamu perjuangkan cinta kamu itu Bram. Urusan perjodohan kamu dengan Chintya, serahkan sama mama. Mama yang akan bicara dengan papa kamu. "


Bram menatap lurus ke arah mamanya. Masih merasa asing dengan ucapana mamanya. Cinta ? Memperjuangkan ? Aku takut dia melupakanku bahkan celaka karena aku, ma. Lagi dan lagi Bram hanya bisa mengatakannya dalam hati. Katakan saja dia pengecut dan itu memang kenyataan. Dan Bram salut dengan mamanya yang ingin membantunya lepas dari perjodohan konyolnya dengan Achintya. Semua itu karena papanya dan papi Achintya yang sepakat menjodohkan mereka- Bram dan Achintya sejak kecil. Dalam keluarganya pun, yang mengetahui hubungan Bram dengan Crysan hanyalah mamanya ini.


" Bram mau pergi ke Bali, ma. Mungkin beberapa hari ke depan Bram tidak pulang. "


" Kamu tidak lagi mencoba menghindari pertunangan kalian, kan Bram ? "


" Ma, please jangan bahas pertunangan itu lagi. "


" Berapa lama lagi kamu mau menunda untuk bertunangan dengan Chintya, Bram. Apa kamu tidak malu ? " Kali ini suara bariton milik papanya yang membuat Bram muak. Selalu saja perjodohan, pertunangan, malu, atau apalah yang berhubungan dengan Achintya yang dibahas oleh sang papa.


" Bram pergi sekarang ma, pa. Koper Bram juga ada di mobil. Assalamu'alaikum. "


•••


Jambuluwuk Batu Village Resort


" Jadi, kita fix pemotretan ala pengantin di sini kan ? " Tanya Aslan, selaku fotografer yang akan menangani jalannya pemotretan selama beberapa waktu ke depan. Crysan hanya mengangguk. Tatapannya masih meneliti setiap inci dari beberapa wedding dress yang dia rancang. Dan kali ino dia memakai tema gaun internasional. Untuk pakaian pernikahan yang mengutamakan ciri khas Indonesia yaitu kebaya, Crysan memutuskan akan mengambil tempat di Yogyakarta atau Solo. " Oke deh kalau gitu. Thomas, kamu panggil modelnya ke sini ya biar di-briefing sama Crysan dan gue. "


" Harus eike yey mr. Aslan ? " Ucap Thomas dengan gaya kemayunya. Aslan hanya mengangguk. Percuma jika Aslan menanggapi ucapan Thomas terlalu jauh. Yang ada bukannya Aslan cepat menyelesaikan pekerjaannya malah dia yang jijik dengan asistennya itu.


Dua puluh lima menit, waktu yang dibutuhkan bagi seorang Thomas memanggil model yang dimaksud Aslan. Dan selama itu pula Crysan, Vanilla, Avni, Aslan dan beberapa crew yang berada di resort merasa bosan. Masalahnya, model-model itu juga menginap di resort tempat pemotretan saat ini. Vanilla yang pertama kali melihat Thomas datang dengan beberapa perempuan berkaki jenjang langsung berdiri. Berkacak pinggang menanti Thomas sampai didepannya.


" Eh, mas mbak Thomas. Kenapa lama banget sih ? Lumutan nih kita." Protes Vanilla saat Thomas berhasil sampai di lokasi dengan nafas memburu.


" Habis maraton eike masih bagaskara eike sampai sindang selamatan begindang. " Jawab Thomas dengan tangan yang dia gunakana untuk mengipasi wajahnya. " Puspita eike samsara indang model. Rempong neik. "


" Udah, sekarang bawa itu model ke tempat Vanda biar di make over dulu ya Om Mas. " Suruh Crysan tanpa mau memberikan minuman terlebih dahulu pada Thomas. Padahal gadis ini sudah membawa air mineral ditangannya.


Dari ketiga model yang datang bersama Thomas, hanya satu orang yang berhasil menyita perhatian Crysan juga Avni yang ternyata memperhatikan orang itu. Tapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang saat ini tidak sadar telah diperhatikan oleh Crysan maupun Avni.


Wajahnya mirip Daniella. Ucap Crysan dalam hati. Matanya tak pernah lepas dari sosok itu. Perempuan cantik yang tengah didandani bak pengantin oleh Vanda sang penata rias.


Rasanya gue pernah kenal sama tuh model satu. Kayak Daniella. Batin Avni, sesekali matanya melirik Crysan yang masih memperhatikan model itu.


" Kalian berdua kenapa ngelihat Daniella begitu ?" Hampir saja Crysan berteriak karena suara Aslan menginterupsi pandangannya dari Daniella. Ya, fotografer satu ini sudah berdiri diantara Crysan juga Avni. Namun sayang, baik Avni dan Crysan tidak menjawab pertanyaan Aslan tadi. " Dia baru pulang dari California beberapa tahun yang lalu. Dan dia model yang sangat profesional dalam bekerja. Kalian kenal sama dia ?"


Avni hanya menggeleng, mencoba tidak mengenal Daniella lebih baik rasanya. Karena bagaimana pun juga Daniella-lah orang yang telah membuat Crysan tidak bisa bersatu dengan Ridho dulu, kini, nanti, dan selamanya. Sedangkan Crysan, " Iya, aku kenal dia. Daniella itu sepupuku. Aku rasa begitu." Lirih Crysan tanpa mau bersusah payah menatap Aslan yang terperangah disampingnya.


Setelah memberikan briefing pada ketiga model wanita dan dua model pria, Crysan langsung bergegas ke tempat duduknya. Membuka buku agendanya kembali. Crysan ingin semuanya selesai dalam tiga hari ke depan karena setelah itu dia berencana liburan ke Bali sekaligus menghadiri acara pernikahan teman SMA-nya dulu. Acara berlangsung cukup lancar pada awalnya, sebelum salah satu perwakilan dari majalh fashion yang memberikan kontrak untuk gaun rancangan Crysan datang menghampirinya.


" Ada apa ? " Tanya Crysan pada Sophie yang tadi datang menghampirinya. Sedangkan, Sophie masih terdiam antara iya dan tidak untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.


Diamnya Sophie membuat Crysan gemas sendiri. Tidak biasanya Sophie bertele-tele dalam menyampaikan maksudnya. Dan Crysan tidak suka ora yang bertele-tele seperti ini. Ditariknya tangan Sophie menuju salah satu kursi taman yang memang disediakan untuk para penginap di resort itu. Crysan menyuruh Sophie duduk. Dan Sophie pun menurutinya. Perlahan Sophie menarik nafasnya lalu menghembuskannya. Gadis berusia 22 tahun ini masih menimbang apakah Crysan akan setuju atau tidak mengenai permintaan gila bosnya beberapa jam yang lalu. " Emh, mbak Crysan jadi begini. Tadi, Miss Nilam telepon terus dia bilang sesuatu. " Sophie memberikan jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. Sebenarnya yang Sophie tunggu adalah respon dari Crysan, tapi gadis itu malah terdiam memperhatikan Sophie. " Miss Nilam bilang, mbak harus membawakan satu atau dua potong baju pengantin yang dirancang sendiri untuk photoshoot kali ini.Bagaimana ? Apa mbak Crysan setuju ?" Dan hebatnya Sophie berhasil mengatakan itu dengan satu tarikan nafas.


"Harus aku banget ya Soph ? Emh, oke deh aku setuju. Nanti aku pilih beberapa gaun untuk aku sendiri. Thanks ya infonya. Dan sampaikan maafku untuk miss Nilam karena handphone milikku lowbat." Crysan bisa melihat senyuman manis terbit di wajah cantik Sophie. Begitu Sophie berlalu, Crysan dengan penuh kesabaran memilih gaun unggulannya. " Aku pakai yang ini sajalah. " Ucapnya pelan sambil meletakkan dua gaun terbaiknya.


" Sumpah tadi lo cantik banget Ris waktu pakai gaun pengantin itu. " Ucap Avni tak henti-hentinya memuji kecantikan Crysan.


Saat ini Crysan, Vanilla dan Avni dalam perjalanan menuju bandara Abdul Rachman Saleh. Ya, setelah menyempatkan pulang ke rumah Crysan untuk pamit, mereka bertiga langsung memutuskan untuk terbang ke Bali. Kembali Crysan membuka agendanya, menuliskan apa saja hal yabg akan dia lakukan selama di Bali selain menghadiri pernikahan Nadya. Ya, sahabatnya yang satu itu memutuskan mengakhiri masa lajangnya di Bali. Crysan juga Avni sebenarnya ingin membantu dalam persiapan pernikahan Nadya namun sang empunya acara melarangnya. Nadya hanya menyuruh Crysan dan Avni untuk datang dan menikmati pernikanan Nadya saja.


" Nadya menikah sama siapa sih ?" Tanya Vanilla yang sedikit mengetahui tentang Nadya.


" Sama kak Raga. Kakak kelas kita satu tahun waktu SMA dulu. " Jawab Crysan pelan tanpa menghentikan aktivitasnya.


•••


Denpasar, Bali


" Acara pernikahannya di daerah Denpasar sini kan ? Jadi, gimana kalau kita nginapnya di rumah tanteku aja." Tawar Crysan pada Vanilla dan Avni. Keduanya hanya mengangguk karena kelelahan. Sampai di rumah tantenya, Crysan langsung menunjukkan kamar Avni dan juga kamar untuk Vanilla. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum jalan-jalan menikmati suasana Bali sore harinya. Bosan dengan kegiatannya, Crysan memilih membuka akun sosial medianya. Meng-upload fotonya saat dia diminta melakukan photoshoot wedding gown-nya.



502 suka


CrysanParisya_ in my dream 😊. I love this pict. Thanks for kak @ImAslan.




Taken by : @ImAslan


#bridal #beautiful #girl #Parisgown #natural.


Lihat 154 komentar


ImAslan Sama2 cantikku.


NadNadya Ih aku iri sama kamu Ris. Haha.


Ekii_ Avni bisa cantik gitu nggak yah ?


Avnii_ Ekiiiiiii. Awas kamu.


Crysan tertawa sendiri membaca respon teman-temannya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nadya. Dan rasanya Crysan juga ingin cepat-cepat menyusul sahabatnya itu menuju pelaminan.


Dua hari berada di Bali dan sekarang inilah waktunya bagi Nadya menikah. Crysan yang sudah siap dengan dress brukat berwarna birunya dengan panjang sampai lutut. Sedangkan Avni memakai dress berwarna putih. Vanilla sendiri memutuskan menjaga rumah karena tante Susan- tantenya dan Crysan sedang pergi ke Pekalongan beberaoa hari. Crysan dan Avni berangkat memakai mobil milik tante Susan yang sempat dipinjam Crysan sebelumnya. Sampai di lokasi pernikahan Nadya tanpa menunggu lebih lama lagi mereka berdua- Crysan dan Avni langsung mencari keberadaan sahabatnya itu. Avni yang sebelumnya datang bersama Crysan kini sudah menghambur ke dalam pelukan Eki. Aku pun ingin dipeluk seperti itu. Batin Crysan menertawakan dirinya sendiri.


Setelah melepas rindu dengan Nadya dan Avni, langkah Crysan terhenti di taman hotel tempat Nadya melangsungkan resepsi. Taman yang terletak bersebelahan dengan ballroom hotel. Crysan memutuskan untuk duduk dan menikmati suasanan taman yang terlihat asri itu. Tanoa gadis ini sadari pula, ada sepasang mata yabg tengah mengawasinya. Siapa lagi dia kalau bukan Bram. Sosok pria yang setia mengamati Crysan dari kejauhan. Pria yang selalu berpikir apabila dia berdekatan dan menjalin hubungan lagi dengan Crysan, gadis itu akan mengalami musibah lagi.


" Temui dia Bram, jangan cuma dilihat saja. Diambil orang baru tahu rasa. " Bram tahu Eki baru saja mengejeknya. Dan mungkin apa yang dikatakan Eki ada benarnya juga. Perlahan namun pasti Bram mulai mendekati Crysan yang sesekali tersenyum melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain di sana. Bram duduk di samping Crysan. Menelusuri wajah Crysan dari samping. Banyak yang berubah dari Crysan menurut Bram.


Andai lo di sini Dho, lo pasti tambah cinta sama dia. Dan kita akan seterusnya jadi rival. Bram terkekeh pelan. Hati kecilnya selalu mengejek pertemanannya dengan Ridho yang bisa dibilang tidak atau belum membaik sampai sekarang.


" Hai. " Lidah Bram rasanya kelu. Tak ada satu patah kata pun yang mampu dia ucapkan kecuali tiga huruf itu. Crysan yang tadi terfokus pada keindahan taman lantas menoleh. Terkejut ? Tentu saja. Lama Crysan tidak melihat Bram dan sekarang pria itu sudah duduk manis disampingnya. Bram yang dulu sedikit urakan sekarang sudah berubah menjadi pria yang sopan. Penampilannya pun sudah rapi. Crysan tersenyum, menilai setiap inci dari perubahan Bram. Jika dulu gadis ini tersenyum karena Bram yang selalu ada didekatnya saat Ridho lebih memilih bersana Daniella. Jika dulu Crysan tersenyum saat melupakan sosok Bram dan mengenalnya sebagai orang baru. Tapi, sekarang berbeda. Crysan mengingat semuanya, dan Crysan tersenyum karena dia bisa melihat Bram dari dekat. Setelah lama mereka- Crysan dan Bram tidak menjalin komunikasi. Lebih tepatnya Bram yang memutuskan untuk tidak menghubungi Crysan.


" Kak Bram. " Lirih Crysan. Tatapan Bram masih lurus ke depan sedangkan Crysan masih setia melihat wajah Bram dari samping.


" Bagaiaman kabar kamu enam tahun ini ? "


" Kak Bram. " Air mata yang tadi masih menggenang di pelupuk matanya, saat ini sudah jatuh membasahi pipi Crysan. Ternyata rasa yang dulu pernah hilang, kini timbul kembali. Ruang di hati Crysan yang dulu ditempati Ridho, sudah menjadi milik Bram secara utuh. Hanya ada nama Bram di dalam hati Crysan.


" Kenapa kamu menangis ?"


" Kenapa kakak pura-pura enggak kenal aku ?"


" Ada alasannya. "


" Aku ingat siapa kakak. Aku ingat siapa itu kak Ridho. Ja-jadi kenaoa kakak pura-pura nggak kenal aku sekarang. "


" Kakak takut kamu celaka di dekat kakak Ris. Kakak takut. "


" Kakak tahu, kak Bram jahat. " Walaupun dengan air mata yang terus mengalir, Crysan mampu mengucapkannya dengan lancar. Bram hanya diam, membiarkan Crysan memukul lengannya. " Kakak jahat hiks..hiks."


" Apa kamu mau tahu sesuatu ?" Sengaja Bran memberi jeda pada kalimatnya. " Ridho sudah pergi Ris, pergi ke tempat yang jauh. Dia sudah tenang tanpa gangguanku. " Pukulan Crysan pada lengan Bram melemah.


" Maksudnya ? "


" Ridho sudah meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan mobil. Dia dimakamkan di Bandung. "


•••


" Jadi ? " Tanya Eki pada Bram dan Crysan yang baru saja kembali dari taman. Bahkan Avni dan Nadya juga Raga melirik pada tangan Crysan yang berada dalam genggaman Bram. " C'mon bro. Kita bertiga ini cowok, gue udah 25, kak Eki dan lo pun usianya 26 kan ? Kita udah dewasa. Jadi apa nama hubungan kalian ?"


" Kita-" Bram langsung terdiam. Masih bingung dengan statusnya dengan Crysan. " Kita tunangan. " Jawab Crysan karena tidak sabar menunggu Bram yang terdiam.


" Kok Bisa ? " Tanya Avni dan Nadya hampir bersamaan.


" Jadi tadi itu-"


Flashback


" Ridho sudah meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan mobil. Dia dimakamkan di Bandung. " Ucap Bram pelan. Bram tahu Crysan semakin terisak disampingnya. Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Bram menarik Crysan ke dalam pelukannya. Memberikan ketenangan tersendiri bagi Crysan.


" Bram. "


Bram tahu suara lembut itu. Suara dari orang yang telah mengandung, melahirkan, juga merawatnya selama ini. Masih dengan Crysan yang ada dipelukannya, Bram bangkit dan berjalan ke arah mamanya. Kehadiran mamanya sama sekali tidak diduga oleh Bram. Tak jauh dari mamanya, Bram bisa melihat ada papanya, Achintya, juga orang tua Achintya. Awalnya papa Bram sempat marah karena Btam lebih memilih Crysan dati pada Achintya. Namun, Bram tetaplah Bram yang keukeuh dengan pendiriannya.


" Aku tahu kok kalau kamu lebih mencintai dia dari pada aku. Dan aku ikhlas kok Bram jika kamu memilihnya. It's no problem for me. I'm okay, and maybe this is your destiny. You and Crysan together and forever. Kamu ditakdirkan untuk Crysan bukan aku. Dan mungkin ini adalah jawaban dari kesetiaan dan kesabaran kamu, Bram." Ingin rasanya Bram mengucapkan terima kasih kepada Achintya. Tapi tatapan tajam papanya membuat Bran bungkam.


" Kamu benar-benar anak papa Bram. " Hanya itu yang diucapkan papa Bram sebelum laki-laki paruh baya itu menepuk bahu kanan Bram. Crysan sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Yang dia tahu hanyalah saat Bram memasangkan cincin ke jari manis di tangan kirinya. Juga Crysan yang memakaikan cincin berwarna silver di jari manis tangan kiri Bram. Juga kedua orang tua Bram yang mengatakan kalau Crysan adalah calon menantunya.


Flashback off.


" Begitu ceritanya. " Ucao Crysan pelan, sedangkan Bram masih diam.


" Happy ending nih ceritanya kalian ? " Tanya Avni yang langsung diangguki oleh Crysan.


Dan ketiga pasangan ini langsung tertawa ke arah kamera yang disewa untuk memotret acara pernikahan Nadya.


•••


Dulu aku sempat membencimu, tapi siapa yang tahu kalau kamulah yang sampai saat ini terus mengisi hari-hariku. Bahkan hanya akan ada namamu di dalan hatiku. Cintaku yang sederhana ini terasa begitu istimewa saat aku berada di dekatmu. Sungguh, aku tak akan berhenti mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas permainan takdir yang telah ditulis-Nya untukku. Dan untuk kak Ridho semoga kakak tenang di sana. Sampai kapan pun, aku akan tetao menyayangimu meskipun cinta kita tidak bisa bersatu. Dan untukmu Brahmana Alexander, calon imamku. Aku mencintaimu selalu.


- Crysan Parisya -


Mungkin benar apa yang dikatakan semua orang, bahwa kesabaran akan membuahkan hasil yang lebih maksimal. Dan aku bisa membuktikannya sendiri. Sembilan tahun aku mencintainya dalam diam. Bahkan dulu, dengan bodohnya aku membiarkan hatiku terluka saat melihatnya didekati dan dijadikan mainan oleh sahabatku. Tapi itu tidak akan terulang lagi kali ini. Karena bagaimana pun juga dia sudah menjadi milikku. Ridho, gue tepatin janji gue ke lo soal Crysan. Dan siapa sangka kalau dia lebih mencintaiku dari pada lo. Maaf, bukan maksud gue merebut Crysan dari lo. Gue harap lo bisa tenang di sana. Dan juga lo ikhlas kalau Crysan sama gue. Dan untukmu calon makmumku, aku mencintaimu dari dulu, saat ini, nanti dan selamanya. Dariku calon imammu.


- Brahmana Alexander -