
" Huh, capek banget guys ", celetuk Nadya sambil mengambil botol air minum yang tadi dipegang Crysan. And, celetukan itu mendapat persetujuan Firdaus.
Hari ini adalah hari tersial bagi Crysan. Dia tidak begitu suka olahraga, apalagi harus ada penilaian lari semacam ini. It's so damn time. Gerutu Crysan dalam hati. Rambut panjang yang ia kuncir kuda basah oleh keringat. Sungguh sial.
" Balik ke kelas yuk, panas ", ajak Avni sambil mengibaskan tangannya.
Crysan, Avni, dan Nadya lebih dahuku kembali ke kelas X-9. Kelas yang mereka tempati sejak pertama kali masuk di SMA Wijaya Bakti. Crysan tidak langsung mengganti bajunya seperti Avni dan Nadya. Keduanya sudah hilang menuju ruang ganti. Kini, tinggallah Crysan yang duduk seorang diri dibangkunya. Menatap kosong pada papan tulis yang menampilkan tulisan dari guru Kimia pada jam pertama sebelum olahraga tadi. Lelah memandangi papan tulis tersebut, Crysan lantas menyusul Nadya dan Avni untuk mengganti seragam olahraganya dengan seragam identitas Wijaya Bakti.
Sesampainya di ruang ganti, Crysan tak mendapati keberadaan Nadya dan Avni. Cewek ini memilih untuk mengganti seragamnya dengan cepat. Lalu pergi menuju ke kantin untuk membeli jeruk hangat. Selain minuman yang mengandung unsur jeruk, Crysan juga menyukai minuman yang terbuat dari jahe. Selesai dengan urusannya, cewek ini langsung melangkah kembali ke dalam kelasnya. Menaiki tangga perlahan, Crysan tak tahu kalau dia tengah diperhatikan oleh seseorang. Mengernyit bingung, mendapati ada sebuah kotak berukuran 4 x 4 cm berada dimejanya. Kotak berwarna biru dengan pita silver.
Ini punya siapa?
Tanpa sengaja Crysan melihat sebuah note tergeletak tak jauh dari kotak tersebut. Ragu Crysan mengambil note tersebut dan membacanya.
' Coba kamu buka kotak itu '
Crysan tak ingin bermaksud lancang dengan membuka kotak itu. Bisa saja kotak itu bukan untuk dirinya kan? Bisa saja untuk Avni. Namun, melihat belum ada tanda-tanda orang yang masuk kelas selain Crysan, cewek ini memantapkan untuk membuka kotak itu. Sebuah gelang yang sangat cantik. Gelang itu sangat sederhana dengan bandul love berwarna biru yang berhiaskan permata saphire. Melihat lebih jelas lagi ke dalam kotak, Crysan kembali menemukan sebuah surat. Tulisannya sangat rapi dan Crysan tergelitik hatinya untuk membaca isi surat itu.
'**Kamu suka? Kalau kamu suka silakan dipakai. Tapi, kalau kamu nggak suka cukup disimpan saja sebagai kenangan. Jangan pikirkan siapa aku. Yang penting kamu menerima gelang itu. Aku harap kamu menyukai benda kecil itu. Well, menurutku gelang itu sama seperti kamu. Batu safir yang cantik cocok untuk orang yang cantik seperti kamu.
( that is opini from my dad ) dan aku menirunya.'
Happy birthday
From : A.R**.
Tanpa sadar Crysan mengembangkan senyum manisnya. Kedua lesung pipitnya langsung terlihat. Cewek ini lalu memutuskan untuk mengenakan gelang tersebut pada pergelangan tangan kanannya. FYI, pergelangan tangan kiri Crysan sudah dihiasi dengan jam guess warna coklat. Crysan kembali memandangi gelang itu. Setelah puas dengan objek yang membuatnya bahagia ini, Crysan lantas menyimpan seragam olahraga miliknya dan langsung menuju ke kantin.
Siapa yang inget sama ultahku? Yang aku tahu cuma ketiga temanku dan orang rumah. Impossible kalau ada orang lain yang ingat.
Avni tadi sudah memberikan Crysan kado berupa boneka elmo. Nadya dengan manis memberikan Crysan sebuah bandana. Firdaus dengan ikhlas juga memberikan sebuah novel edisi terbaru pada Crysan. Sedang yang lain hanya memberi ucapan selamat. Kedua orang tua Crysan juga hanya mengadakn syukuran kecil-kecilan pagi tadi. Crysan kembali menggelengkan kepalanya, tanda menyerah. Dia memang tidak akan pernah tahu siapa yang memberi hadiah gelang cantik tersebut. Saking bingungnya dengan hadiah misterius itu, Crysan tidak sadar bahwa didepannya sudah berdiri seseorang yang juga sama-sama sedang tidak fokus.
Brak!!
Crysan mendongak menatap objek yang baru saja dia tabrak. Betapa terkejutnya cewek ini saat dia sadar siapa yang dia tabrak. Bram, dengan santainya hanya tersenyum. Tak ada niatnya untuk menahan bahu Crysan yang tadi hampir terjatuh. Untung saja cewek ini bisa mengendalikan dirinya sehingga dia tidak terjatuh. Tubuh Crysan mulai gemetar dan kedua telapak tangannya dingin. Dengan susah payah cewek manis ini menelan ludahnya. Tatapan Bram juga tak lepas dari Crysan, dan itu sukses menambah Crysan semakin gemetar.
" So...sorry kak emh... ", ucap Crysan terhenti saat dia melupakan nama Bram. Itu membuat Bram terkekeh. Refleks tangannya mengusap rambut Crysan.
" Bram ", jawab Bram santai. Bram memang belum mengenalkan namanya pada Crysan bukan? Jadi, tak salah kalau Crysan sempat terhenti saat akan menyebut namanya tadi.
Sebagai jawaban Crysan hanya mengangguk dan melanjutkan niat awalnya ke kantin. Selain itu, dia juga malas meladeni omongan Bram nantinya. Cukup Firdaus yang cerewet. Eh? Dengan sepiring siomay juga segelas es jeruk, Crysan melampiaskan kekesalannya. Siapa yang tidak kesal? Avni dan Nadya sudah terlebih dahulu di kantin. Bertiga Firdaus, selalu begitu. Ketiga temannya sering meninggalkan Crysan sendiri kalau urusan perut. Tak lama kemudian, Crysan merasakan samping tempat duduknya seperti ada yang menduduki. Memilih lanjut makan, Crysan tak sadar kalau orang yang ada disebelahnya itu adalah Bram. Tadi cowok itu berniat untuk menemui Marsya, mantan pacarnya. Tapi, dia urungkan dan mengikuti Crysan.
" Boleh minta nomor hp lo? ", Crysan tersedak karena mendengar suara Bram yang tiba-tiba saja masuk dalam pendengaran cewek ini. Cepat-cepat Crysan meminum es jeruk yang sisa setengah itu. Lalu menoleh ke arah Bram.
" Maksudnya? ", tanya Crysan yang gagal paham dengan pertanyaan Bram.
Cowok itu berdecak pelan sebelum kembali mengulang pertanyaan yang sama. Crysan hanya ber-O ria mendengarnya. " Boleh nggak nih? ", tanya Bram lagi. Crysan tampak menimbang sebentar sebelum dia berdiri dan kembali ke kelas.
" Oke, gue minta bantuan Ridho buat nih cewek ", ucap Bram sambil mengetikkan sebuah pesan pada nomor Ridho. Entah apa yang dia kirimkan, yang jelas ada balasan 'Iya' dari nomor yang sama.
***
Cuaca memang tak dapag ditebak bukan? Ridho terjebak di koridor utama sekolahnya itu. Bukan hanya Ridho, tapi siswa yang lain juga. Cowok ini lupa hanya untuk sekadar membawa sebuah payung. Kadang dia meremehkan quotes tentang hujan dan payung. 'Sedia payung sebelum hujan', Ridho tak peduli akan hal itu. Dan kini, dia baru sadar kalau payung memang penting. Terutama kalau hujan seperti ini. Fokus cowok dengan tinggi 173 cm ini berpindah dari hujan kepada cewek yang dengan santainya berjalan menerobos derasnya rinai hujan siang itu. Cewek itu hanya sendirian dan terlihat bahagia. Terkesan cuek dengan orang-orang yang memperhatikan cewek itu. Rambutnya yang tergerai bebas telah basah oleh hujan. Begitu pun dengan seragam dan tas cewek itu.
Berusaha bersikap cuek akan kondisinya nanti, Ridho langsung menerobos hujan. Mensejajarkan langkahnya dengan langkah kecil Crysan. Benar cewek ini sama sekali tidak peduli dengan teriakan temannya tadi. Dia juga tak peka kalau sekarang disampingnya sudah ada Ridho. Ridho menarik tangan Crysan, cewek ini sempat berhenti namun detik berikutnya dia tersenyum dan melangkah bersama dengan Ridho. Ridho membuka pintu penumpang depan, membiarkan Crysan masuk. Tapi, cewek ini bertahan pada posisinya. Sampai dia harus didorong oleh Ridho. Berputar menuju arah lain dan membuka pintu yang terhubung dengan kemudi mobil. Ridho duduk dengan tenang, tangannga terulur ke belakang untuk mengambil jaket coklatnya. Jaket yang sama saat pertama kali dia menemui Crysan di taman komplek cewek ini.
" Pake biar nggak dingin. Tempat duduknya basah nggak apa. Nggak usah dipikir ", suruh Ridho melihat Crysan sedikit menggigil karena kedinginan.
Dasar aneh, udah tahu bakal kedinginan malah hujan-hujanan.
Ridho menggelengkan kepalanya. Crysan memakai jaket Ridho, walaupun terlihat kebesaran tapi Crysan nyaman memakainya. Menangkap benda yang tak asing bagi dirinya, Ridho lantas tersenyum. Entah apa maksud dari cowok berdarah Inggris ini. Crysan fokus pada bangunan yang sedang diamatinya dibalik kaca mobil Ridho, sedangkan Ridho fokus pada jalanan dan sesekali memanuver mobilnya. Itu tak mengganggu fokus Crysan, ada perasaan lain saat sesekali Ridho mengamati Crysan. Rasa yang dua tahun ini hilang, beserta orang masa lalu Ridho yang pergi ke California dengan keluarganya. Orang yang Ridho tunggu akan kepulangannya. Dan rasa itu sekarang ada saat dirinya bersama Crysan.
Ini nggak mungkin kan?
" Rumah kamu masih disana kan? ", Ridho tahu itu pertanyaan konyol. Mana mungkin Crysan pindah rumah sama seperti kenangannya? Crysan hanya mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut pada Ridho. Dia cukup kedinginan.
Sampai di depan rumah Crysan, Ridho tidak ikut turun. Dia langsung pada Crysan dan cewek itu hanya tersenyum sambil menggumamkan kata 'terima kasih' untuk Ridho. Otomatis lesung pipit Crysan terlihat, dan Ridho dapat dengan jelas melihat lesung pipit di kedua pipi Crysan itu. Crysan masih menunggu sampai mobil Ridho tak terlihat lagi. Kemudian cewek ini memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri. Dalam sisa perjalanan pulang, Ridho masih memikirkan Crysan. Sedikit demi sedikit cowok ini mulai tertarik pada cewek itu. Tertarik kepada adik kelasnya yang cuek akan hujan? Dan teriakan dari temannya.
Aku nggak mungkin suka sama Risya kan? Nggak mungkin, 'D' aku masih setia nunggu kamu.
Ucapan Ridho dalam otaknya itu sangatlah berbanding terbalik dengan ucapan hatinya. Masalahnya hati kecil Ridho mengatakan kalau Ridho menyukai Crysan. Memarkirkan SUV hitamnya di garasi, Ridho bergegas menuju kamarnya di lantai dua. Satu pun tak dia dapati tanda kehidupan di rumah yang besar itu. Asisten rumah tangga rumah ini sedang pulang ke kampung. Satpam hanya bertugas menjaga depan. Ridho tidak melihat keberadaan sopir keluarganya, Mang Asep. Itu pertanda bahwa mamanya sedang pergi. Kakaknya juga belum pulang, seperti biasa kalau kakaknya pulang pasti akan ada banyak orang di rumah ini. Belum lagi teman wanita kakaknya yang akan berpenampilan sangat jauh dari kata sopan. Menaiki anak tangga dua sekaligus, Ridho ingin cepat sampai dikamarnya yang nyaman. Belum sempat dia membuka pintu kamarnya, Ridho mendengar seperti suara ribut dari dalam kamar kakaknya. Lucky keluar kamar dengan penampilan yang berantakan disusul dengan perempuan yang Ridho ketahui sebagai kekasih dari Lucky. Perempuan itu Abigail, seperti dugaan Ridho pasti mereka telah... kalian tahulah. Lucky sempat terkejut tapi segera dia mengubah keterkejutannya dengan wajah sinis. Ridho langsung masuk ke dalam kamar dan melemparkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
Tidur sebentar akan menghilangkan wajahmu Risya. Pikir Ridho sempit. Tapi, siapa sangka bahwa dia akan bertemu Crysan dalam mimpinya?
***
Bel pulang sekolah menjerit lima kali. Kebetulan hari ini Crysan dan Avni mendapat giliran piket kelas. Firdaus dan Nadya yang tadinya ingin menunggu Crysan dan Avni malah pulang terlebih dahulu. Menyapu dengan santai dan sesekali membenahi meja dan kursi yang tak beraturan. Celotehan dari Avni tak dihiraukan oleh Crysan. Sedang asyik dengan kegiatannya, Crysan dikejutkan oleh teriakan Avni dari arah depan kelas. Tergopoh Crysan menghampiri Avni. Dia tidak melihat apapun kecuali Fatin yang kembali ke kelas dengan wajah pucat. Dengan nafas yang masih tersengal, Fatin bersuara. Crysan sedikit kasihan, karena Fatin sepertinya berlari menaiki tangga untuk menuju ke kelas mereka ini. Seluruh kelas sepuluh memang berada di lantai dua.
" Ris, lo dicariin sama kakak kelas. Kayaknya kakak kelaa yang waktu itu anterin lo ke kelas ", tutur Fatin setelah berhasil menetralkan nafasnya. Crysan sedikit bingung, tapi beberapa detik kemudian dia mengerti maksud dari Fatin.
" Namanya siapa? Dia dimana Fat? ", tanya Crysan penasaran karena dia bingung orang yang dimaksud Ridho atau Bram.
" Itu di tangga bawah. Tadi gue dicegat terus disuruh balik lagi manggil elo "
" Nah, loh, Ris siapa coba? ", Avni malah melongok ke bawah dan melihat orang yang dimaksud Fatin. Avni berhasil melihat Ridho, dan mata cewek ini langsung melotot. Avni kembali manatap Crysan dan orang yang ada di bawah bergantian. Sebelum menarik Crysan masuk ke dalam kelas untuk mengembalikan sapu.
" Udah ya, gue cuma ngomong itu. Good Luck for yours ", ucap Fatin. Crysan penasaran dengan orang yang dimaksud Fatin. Akhirnya dengan terpaksa, Avni menceritakan kalau dia melihat Ridho di bawah.
" Ya udahlah, ayo pulang. Nggak usah diurusin ", dua cewek ini langsung berjalan pelan layaknya kura-kura. Bermaksud agar Ridho segera pergi dari tempatnya berdiri.
Bukannya pergi Ridho betah menunggu Crysan yang jalan sangat lama dengan Avni disebelahnya. Saat jarak antara Ridho dan Crysan sudah semakin dekat, cowok ini melempar senyum singkat pada Crysan. Crysan hanya membalasnya dengan senyum terpaksa lalu menunduk, sementara Avni langsung berlari meninggalkan Crysan. Berdiri agak jauh dari Crysan juga Ridho, memberikan privasi untuk Ridho dan Crysan. Karena tidak mendapat respon positif dari Crysan, akhirnya Ridho menggenggam kedua tangan Crysan. Crysan mendongak dan mendapati wajah Ridho yang babak belur. Ada rasa khawatir dalam hati Crysan.
Halah, ngapain gue prihatin. Kan dia yang waktu itu bilang suruh hati-hati kalau nanti dilabrak sama kak Karin. Tapi sendirinya yang terus mengundang masalah. Kesal Crysan yang menilai Ridho plin plan dengan ucapannya.
" Kok aku dicuekin sih? Kan aku mau minta maaf soal Bram ", Crysan masih bertahan untuk tidak menjawab, " Yaudah kalo gitu. Pulang bareng aku mau ya? ", lanjut Ridho dan langsung menuntun Crysan ke mobilnya.
" Nggak perlu minta maaf, nggak usah repot pulang bareng. Makasih ", ucap Crysan terkesan dingin pada Ridho dan menghentikan langkah cowok itu.
" Gelang yang bagus ", kata Ridho sambil menunjukkan gelang yang dipakai Crysan kepada sang empunya.
" Makasih, tapi nggak usah anter pulang. Kak Ridho nggak perlu minta maaf soal kak Bram yang sering deketin aku ", jelas Crysan dan Ridho mengangguk. Tetap dengan membuka pintu penumpang agar Crysan masuk. Crysan tak dapat menolak dan pergi meninggalkan Avni yang sedang menunggu jemputan bersama siswa yang lain.
" Gelangnya dikasih siapa Sya? ",Crysan menggeleng tanda tak tahu. Toh, cewek ini tak punya jawaban atas pertanyaan Ridho. Dia sendiri tidak tahu siapa yang mengirim gelang itu. Hanya sebuah inisial yang ia tahu. 'A.R'. Ridho tersenyum dan kembali fokus menyetir.
Lebih baik kamu nggak tahu Sya.