Crysan

Crysan
Kencan



Setelah berhasil mengantarkan Crysan dengan selamat dirumah cewek manis itu, Ridho berniat untuk mampir. Maklum selama ini Ridho hanya mengantar Crysan lalu pulang apabila cewek itu sudah masuk ke dalam rumah. Crysan tidak menanyakan apapun pada Ridho. Cewek ini kembali heran dengan segala tingkah spontan Ridho yang menurutnya sangat susah ditebak. Setelah mengucap salam, Crysan bergegas mencari ibunya. Hampir di setiap sudut rumah Crysan cari, tetapi dia tak kunjung menemukan keberadaan perempuan yang telah merawatnya itu. Melangkah menuju dapur, Crysan baru teringat kalau ibu dan ayahnya tadi berpamitan akan ke rumah tantenya yang baru saja pulang dari Malaysia. Bukan bekerja sebagai TKW atau TKI, namun tantenya ikut suami untuk bekerja di salah satu perhotelan di Malaysia. Keenan? Adik kecil Crysan itu tentu saja ikut karena bisa dipastikan akan mendapat banyak oleh-oleh nantinya. Kembali ke ruang tamu, Crysan pamit kepada Ridho untuk ke kamarnya. Mengganti seragam yang sudah bercampur dengan keringat.


Crysan kembali lagi dengan dress atasan berbahan denim yang dipadukan oleh kain chiffon berwarna putih. Rambutnya yang tadi dia kuncir kuda kini berganti dengan rambut panjang yang tergerai dengan indah. Tak lupa Crysan juga membawa baki yang berisi dua gelas jus apel juga camilan. Meletakkan baki itu di meja dan memindahkan isinya agar berdiri sempurna di meja ruang tamu. Pandangan Ridho sama sekali tak teralih sejak Crysan kembali dari kamarnya tadi. Tersenyum simpul Ridho menarik Crysan agar duduk disampingnya. Begitu Crysan sudah duduk manis, Ridho langsung merangkul pundak cewek ini. Malu? Tentu Crysan sangat merasa malu, meskipun di rumah tidak ada siapapun.


" Kak, bisa lepasin aku nggak? Aku malu ", pinta Crysan pelan sambil menutup mukanya dengan telapak tangan. Ridho terkekeh mendengar ucapan Crysan.


" Kamu lucu ih, kenapa juga malu? Nggak ada yang liat ", jawab Ridho masih denga kekehan yang tak kunjung hilang.


Tiba-tiba terlintas suatu ajakan untuk Crysan dalam benak Ridho. Walaupun Ridho tahu nantinya akan memperoleh masalah. Entah kecil atau besar, Ridho malas untuk menerka. Ditatapnya Crysan yang kini tengah menunduk. Sungguh, kalau boleh memilih Crysan lebih baik ditenggelamkan ke dalam laut yang paling dalam daripada harus berada dalam situasi yang semacam ini. Ridho menyentuh dagu Crysan dan mengarahkan tatapan Crysan kepadanya.


Tuhan, matanya sungguh memabukkan.


Setelah membatin, Ridho mengucapkan beribu kata maaf dalam hatinya. Hanya satu orang yang boleh dia puji selain mamanya dan orang itu bukanlah Crysan. Melainkan orang lain yang jauh keberadaannya saat ini. Berpisah negara juga berpisah benua.


" Kok sepi? ", tanya Ridho tanpa menurunkan tangannya pada dagu Crysan. Cewek ini sedikit kesusahan saat menelan ludahnya karena tatapan Ridho yang tajam tapi sangat lembut apabila diselami cukup dalam.


" Pergi ke rumah tante, paling pulang besok ", Ridho mengernyit saat jawaban Crysan masuk ke gendang telinganya.


Kalo gue ditinggal sendiri nggak apa. Kalo dia? Batin Ridho kemudian.


Tak mau mengundang kecurigaan Crysan atas kernyitan didahinya itu, Ridho langsung mengalihkan pembicaraan. Mengutarakan niat yang tadi sempat terlintas dibenak cowok tampan ini.


" Jalan aja yuk? Tapi mampir ke rumah kakak dulu ", tawar Ridho pada Crysan. Crysan tak kunjung mengangguk tapi juga tidak menggeleng.


" Aku siap-siap dulu deh kak. Tapi, pulangnya jangan malem ya? "


" Kenapa emangnya kalo malem? ", tanya Ridho kepada Crysan.


" Kasihan mbak Tuti nanti di rumah sendiri ", jawab Crysan dan Ridho hanya tersenyum. Membiarkan Crysan bersiap sebelum pergi dengannya.


Rumah megah Ridho mulai terlihat. Crysan hanya menatapnya dengan tatapan datar namun, senyum tak pernah hilang dari bibirnya. Senyuman itu terus mengembang saat Crysan melihat sesuatu di taman rumah Ridho. Ya, kolam ikan yang dulu Ridho buat bersama papanya. Memarkir SUV hitamnya di halaman rumah mewah tersebut, Ridho turun dari mobil dan berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu Crysan. Cewek ini hanya tersenyum kecil dan mengucapkan terima kasih.


Kayaknya ini nggak bener deh. Jangan bilang yang diucapin sama Avni dan Nadya itu bener. Teman tapi mesra?


" Hey, kok malah ngelamun? Ayo masuk ", ajak Ridho sambil menggandeng tangan kanan Crysan.


Kekaguman Crysan bertambah saat cewek ini melihat interior rumah mewah milik cowok yang notabene adalah kakak kelasnya ini. Setelah menyuruh Crysan untuk bersantai di ruang tamu, Ridho menghilang ke kamarnya. Tak lama seorang asisten rumah tangga Ridho datang dan mengantarkan minuman. Senyuman ramah diterima Crysan dari asisten yang dia baru ketahui namanya yaitu Mbak Susi. Dan Ridho sekeluarga lebih sering memanggil dengan nama Mbak Sus. Ridho kembali dengan pakaiannya yang santai. Hanya celana pendek selutut warna coklat yang dipadukan dengan T-shirt warna hitam juga kemeja yang dibuka kancingnya. Duduk sebentar disamping Crysan hanya untuk meneguk segelas jus yang tadi diantar oleh mbak Sus. Crysan sempat heran kenapa rumah Ridho sama seperti rumahnya. Sepi.


Melihat wajah penasaran Crysan pada rumahnya, Ridho memutuskan untuk bercerita. Berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya. Ridho mengajak Crysan berdiri dan menuntun cewek ini ke suatu tempat. Sebuah ruangan yang terletak di sayap kiri rumah Ridho. Dari tempatnya berdiri Crysan dapat melihat seseorang yang tengah berbincang dengan cewek juga seorang cowok. Mereka bertiga duduk di kursi yang tersedia di taman belakang rumah Ridho. Cowok yang menggandeng tangan Crysan ini hanya tersenyum sekilas lalu menoleh kepada Crysan. Ridho juga kembali menunjuk ketiga orang yang tampak bahagia dengan dunia mereka dengan dagu cowok itu.


" Yang pake baju warna coklat itu mamaku, yang cowok itu kakakku namanya Lucky. Dan yang pakaiannya kurang bahan itu Abigail pacarnya kakak ", Crysan hanya merespon dengan anggukan kepala. Tanpa sadar kakinya sudah melangkah menjauhi Ridho dan menuju ke taman. Sadar dengan apa yang akan dilakukan Crysan, Ridho langsung menarik tangan cewek itu kembali.


" Aku kan mau salim sama mama kakak. Kok ditarik ", tanya Crysan heran karena Ridho yang tiba-tiba menarik tangannya.


" Nggak usah kesana ", jawab Ridho. Crysan merasa nada bicara Ridho berbeda. Lebih dingin, entah hanya perasaannya atau itu memang benar.


Mereka lalu keluar rumah dan menuju ke mobil Ridho. Kali ini, Ridho tidak menggunakan SUV hitam yang tadi, melainkan kelleners sport BMW putihnya. Crysan hanya menghela nafas. Cewek ini memang sering naik mobil, tapi mobil avanza abu-abu ayahnya. Itupun mobil keluarga dan bukan mobil pribadi seperti ini. Kembali Ridho membuka pintu untuk Crysan. Melajukan mobil mewah itu meninggalkam rumah, Ridho mulai membelah jalanan Jakarta yang tak kunjung rampung dari masalah kemacetan. Tujuannya kali ini adalah sebuah restoran Perancis. Restoran yang sebenarnya milik tante Anne ini memang selalu ramai.


"Bonjour ", sapa seorang waitress dengan seragam kerjanya yang lebih menyerupai pelayan restoran Perancis. Well, sekarang Crysan memang sedang ada di restoran Pernacis bukan?


" Bonjour, mademoiselle ", jawab Ridho sopan. Cowok ini terbiasa memanggil para pelayan baik pria atau wanita dengan sopan menggunakan bahasa Perancis. Seperti monsuer atau mademosille.


Crysan hanya memandang Ridho dengan penuh tanda tanya. Cewek ini memang menyukai Paris dan segala yang berhubungan dengan tempat itu. Tapi, dia tidak pernah bisa fasih berbahasa Perancis. Sungguh mengenaskan bukan?


Kayaknya aku harus belajar sama kak Ridho deh. Biar fasih. Batin Crysan dalam hati. Dari tadi cewek ini hanya memandang sekeliling tanpa memedulikan Ridho yang entah berbicara apa dengan waitress tadi. Yang jelas Crysan sama sekali tidak tahu artinya. Tapi, cewek yang duduk dihadapan Ridho ini sempat mendengar sebuah nama. Ya, tadi Ridho sempat menyebut nama tantenya yaitu Tante


" Oui, qu'est-ce que vous prenez? ", tanya waitress tersebut. Dan Ridho hanya sibuk membolak balik buku menu yang dia pegang. Berbeda dengan Crysan yang sibuk dengan ponselnya membalas setiap pesan dari Avni maupun Nadya.


" Emh, La spéciale est quoi? ", tanya Ridho kepada pelayan restoran.


" Oui, j'aime gratin dauphinois, je le prends. Kamu apa Sya? ", tanya Ridho kepada Crysan dan kini Crysan bingunh menentukan pilihan. Dia hanya memandang sederet nama makanan yang tak dia mengerti cara bacanya.


" Yang terbuat dari ayam aja deh kak tapi yang enak. Atau kalo nggak yang ini nih cassoulet keliatannya enak ", Ridho juga waitress itu hanya mengangguk dan membisikkan sesuatu pada Ridho. Cowok itu hanya tertawa kecil mendengar apa yang dibisikkan waitress yang juga temannya itu.


" Oui "


" Pour l'entrée je préfere le creme caramel et crepe "


" Et comme boisson? "


" orange juice et lachee tea "


" Okay, et pour dessert? "


" Aku pesen Mocha Pots de creme ini kak ", jawab Crysan cepat karena dia mengerti kalau urusan makanan penutup ditambah lagi tadi si waitress mengucapkan kata dessert. Ridho dan pelayan itu lagi-lagi tersenyum. Dan disusul oleh senyum malu Crysan.


" Moi, je veux du Vanilla Creme Brulée ", jawab Ridho santai dan membiarkan pelayan itu mencatat pesanannya juga Crysan. Setelah selesai membacakan pesanan Ridho, pelayan itu langsung pergi meninggalkan Ridho dan Crysan.


Berselang beberapa menit pesanan Ridho juga Crysan datang. Dahi Crysan berkerut melihat sajian makanan Perancis. Tanpa malu pula, cacing di dalam perutnya juga sudah memberontak meminta makan. Semburat merah di pipi Crysan terlihat, saking malunya cewek ini hanya terkekeh pelan saat ditatap intens oleh Ridho. Waktu beberapa menit mereka lewatkan untuk menyantap makan siang mereka yang sangat kebarat-baratan tersebut. Sampai saat mereka mencicipi makanan penutup, Crysan tak dapat menutupi rasa puasnya. Saat cewek ini menyuapkan sesendok kecil mocha pots de creme, Crysan sempat menutup matanya. Menikmati setiap rasa yang tersaji dalam hidangan tersebut. Bagi Ridho hal seperti ini sudah biasa. Ya, dia terbiasa makan di restoran tante Anne.


" Mau cicip punya kakak nggak? Enak loh? ", mendengar pertanyaan yang lebih mirip penawaran ini, Crysan langsung membuka matanya. Mulutnya yang masih asyik mengunyah coklat kental yang bercampur dengan cream membuat Ridho menahan tawanya. Crysan lantas mengangguk. Menelan makanan yang masih ada dalam mulutnya dan menerima suapan vanilla creme brulée dari Ridho.


" Iya kak, enak dessert nya ", jawab Crysan dan mengundang senyum merekah milik Ridho. Senyuman juga mengembang pada bibir Crysan sehingga memperlihatkan lesung pipit cewek itu.


Dulu kamu juga suka dessert yang dipesan sama Risya kan 'D'. Lagi Ridho membatin inisial orang di masa lalunya. Orang yang hadir dan menemaninya dua tahun silam.


***


" Hayo kemarin habis dari mana sama kak Ridho? ", tanya Nadya pada Crysan yang langsung mendapat cubitan dilengannya. Masih sibuk mengusap lengannya yang dicubig oleh Crysan, Nadya lantas duduk disammping temannya itu. Menyenggol bahu Crysan agar cewek itu mau menjawab pertanyannya. Tapi, Crysan hanya menggeleng sebagai jawabannya.


" Habis dinner ya Ris? Apa habis ngedate? ", tanya Avni lebih ngawur daripada Nadya. Namun, pertanyaan itu malah mendapat anggukan dari Nadya. Merasa tidak akan mendapat jawaban dari Crysan, Avni dan Nadya akhirnya menyerah. Crysan memang sulit untuk bercerita akhir-akhir ini.


Sedang asyik membahas yang lain dengan Nadya juga Avni, Crysan dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Bukan, itu bukan Daus yang terbiasa menepuk pundak Crysan melainkan orang lain. Benar saja, saat Crysan menoleh ke belakang sudah ada Ridho dan Eki yang berdiri disana. Menatap Crysan dengan senyuman yanh jarang dia keluarkan. Senyum yang lebih manis dari biasanya. Sedangkan Eki sudah asyik menggoda Avni dan Nadya yang tadi dia tarik menjauh dari Crysan dan Ridho. Kedua alis Crysan terangkat, dan jangan lupakan ekspresi cemberut Crysan. Ridho membisikkan sesuatu pada cewek ini dan langsung membawanya keluar kelas. Sampai di tempat yang dituju, Ridho lantas memberikan sebungkus coklat kepada Crysan. Walaupun ragu tapi, Crysan menerima coklat itu.


Maksudnya dengan coklat? Batin Crysan sambil mengamati coklat itu bergantian dengan Ridho. Tetapi, yang diperhatikan malah diam dan menatap lurus ke depan. Suatu kebiasaan dari Ridho yang sudah dihafal Crysan akhir-akhir ini. Karena Ridho diam, Crysan juga ikut terdiam. Kalau pun ada yang akan cewek ini katakan pasti pertanyaan yang pendek tetapi tak berkesudahan.


" Kamu cantik banget deh Sya ", kata Ridho yang langsung mendapat pelototan dari Crysan.


Menoleh sekilas pada cewek yang tingginya hanya sedadanya, Ridho lalu mengucapkan sesuatu yang langsung membuat mata Crysan lebih membesar dari sebelumnya, " Mau nggak jadi pacar kakak? ", tanya Ridho walupun pelan tapi berhasil didengar oleh Crysan. Belum sempat Crysan menjawab, tawa Ridho sudah pecah sampai membuat Crysan mengerutkan dahi.


" Bercanda, serius amat. Ayah kamu jago nyanyi ya Sya? ", tanya Ridho lagi tanpa memedulikan ekspresi yang berubah-ubah pada wajah Crysan. Dan bodohnya Crysan malah mengangguk.


" Emang kenapa kak? ", tanya Crysan balik kepada Ridho.


" Soalnya suara kamu juga mampu menggetarkan hatiku. I Love You Risya ", jawab Ridho dengan tatapan yang sedikit serius tapi malah membuat Crysan pucat.


Pasti gombalan receh dari kak Ridho. Hati kecil Crysan berkata dengan lancangnya. Dan membuat Crysan mundur beberapa langkah. Ridho hanya diam dan membalikkan badannya.


" Kok mundur? ", tanya Ridho melihat tingkah Crysan yang menurutnya agak aneh.


" Kakak gombalannya nggak lucu ", jawab Crysan pelan dan berlari meninggalkan Ridho menuju kelasnya. Tanpa memedulikan tatapan Avni, Nadya, Daus, dan Eki yang tadi berhasil dilewati cewek satu ini saat berpapasan di koridor menuju kantin.


Sorry Bram, gue belum bisa bantuin lo kali ini. Sementara itu Ridho sempat membatin sejenak setelah ditinggalkan Crysan pergi.


Gombalan receh dia kata. Heh. Batin Ridho lagi sambil menampilkan senyum miringnya. Setelah puas dengan pemikirannya, cowok ini langsung bergegas pergi ke kantin bermaksud mengisi perutnya yang kosong.