
" Gue jahat ", Lirih Daniella di depan kamar rawat Crysan.
" Ya, lo emang jahat Daniella "
" Bram-"
...
" Bram- in...ini nggak seperti yang lo kira. Gu-gue... ", Daniella tergagap-gagap menghadapi Bram. Bram yang semakin dingin dan kejam apabila terganggu seperti sekarang ini. Tatapan mengintimidasi Bram membuat Daniella makin gemetar ditempatnya.
" Memangnya apa yang gue kira, Dee ? Bisa lo jelaskan ?", Tanya Bram tanpa melepaskan tatapannya pada Daniella. Memaksa Daniella untuk membuka suara. Tapi, hal itu tak dilakukan oleh Daniella. Karena cewek ini tahu, kalau dia membuka suara Bram akan semakin gila menanyakan hal yang konyol.
Melihat Daniella yang hanya terdiam,Bram memilih mendekat ke arah cewek itu. Daniella bergerak gelisah ditempatnya. Melirik Bram takut-takut. Menyembunyikan wajahnya dari Bram. Masih bertahan untuk menutupi kebohongannya. Daniella takut kalau Bram mencurigai dirinya. Sama seperti saat Bram mencurigai semua anak Nusa Bangsa. Mengamuk semua siswa Nusa Bangsa dengan meneriakkan nama Yovi. Mencari Yovi ke setiap sudut SMA Nusa Bangsa tanpa memedulikan peringatan guru sekolah itu. Kenyataannya Daniella tahu kalau Yovi sudah berangkat terlebih dahulu ke Australia. Membiarkan Karin menyusul cowok itu beberapa bulan lagi. Melihat bayangan Bram yang semakin jelas didekatnya, Daniella semakin menggigil. Menatap ke segala arah asalkan tidak menatap Bram.
Tangan Bram terulur ke wajah Daniella. Menyentuh dagu cewek itu, mengarahkan agar Daniella menatapnya. Jelas ada ketakutan di mata cewek itu. Bram tahu pasti kalau Daniella juga terlibat atas apa yang dialami Crysan. Kalau Ridho memilih diam dan menerima keadaan Crysan. Maka Bram sebaliknya, katakanlah Bram sosok yang pendendam. Dan itulah faktanya, Bram memang berjanji kepada orang tua Crysan. Akan mencari pelaku tabrak lari itu sampai dapat. Dan dua hari setelah Crysan kecelakaan, Bram berhasil mendapatkan sopir yang mengendarai mobil bak terbuka itu. Mendapat keterangan yang mengarah pada Yovi dan satu orang cewek. Tapi, Bram masih meraba dalam petunjuk sopir itu. Cewek berambut panjang datang bersama cowok bernama Yovi. Ada tanda lahir di tangan cewek itu. Dan setahu Bram tidak ada cewek yang dia kenal dengan tanda lahir di tangan. Bram mengamati wajah Daniella.
" Di mana Yovi, Dee ? Lo- ", jari telunjuk kiri Bram teracung di depan wajah Daniella. Daniella hanya bisa pasrah. " Gue nggak nyangka lo ada hubungan sama Yovi "
Sontak Daniella menatap mata Bram. Menggelengkan kepalanya membuat suatu pembelaan. Dan Bram, tersenyum miring melepaskan tangannya yang masih berada di dagu Daniella. Bram juga menurunkan tangannya yang tadi teracung. Panik melihat reaksi Bram, Daniella menggenggam tangan cowok itu. Ingin menjelaskan semuanya.
" Gue nggak ada hubungan Bram. Gue nggak berkhianat sama sekali pun. Gue setia sama Wijaya Bakti bukannya kerja sama dengan Nusa Bangsa. Gu- "
" CUKUP DANIELLA !!! Cukup, berhenti gue nggak mau dengar penjelasan apa-apa dari lo ", Daniella tak pernah menyangka Bram akan bersuara demikian. Kegemataran Daniella tak dapat dia sembunyikan lagi. " Dengan kata-kata lo itu, gue jadi tahu kalo lo benar-benar busuk. Lo pengkhianat "
" BRAM DENGERIN GUE. PLEASE, Bram please listen the reason from me. Please, sekali aja Bram "
Langkah Bram terhenti. Cowok itu tidak berbalik hanya berhenti. Memberi kesempatan pada Daniella untuk menjelaskan. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Daniella. Cewek itu melangkah ke arah Bram. Berdiri di belakang cowok itu. Mereka tahu kalau tempat dan waktu sangatlah tidak tepat. Di rumah sakit dan Bram yang masih dikuasai emosi.
" Gue emang benci sama Crysan dari dulu. Gue akui itu, Bram. Tapi, lo harus ingat, gue nggak pernah berpikir serendah itu buat hancurin Crysan. Ini semua ulah dar- "
" Terserah apa kata lo. Tapi, satu juga yang harus lo ingat. Gue nggak akan lepasin siapa pun yang sudah berusaha membunuh Crysan. Termasuk lo maupun Ridho "
Daniella tercengang mendengar ucapan Bram. Ridho sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini. Tapi, cowok itu harus terseret ke dalam masalah ini dan itu gara-gara Daniella. Air mata yang selama ini disimpan oleh Daniella harus tumpah membasahi pipinya hari ini.
•••
Crysan kembali ke sekolahnya. Dengan sambutan yang membuatnya bingung sekaligus senang melihat kejutan teman-temannya. Crysan juga kembali melakukan perkenalan. Bukan Crysan yang memperkenalkan diri melainkan semua temannya yanh mengenalkan diri mereka pada Crysan. Bermaksud agar Crysan mengingat mereka kembali. Avni dan Nadya selalu berada di samping Crysan. Tak pernah membiarkan Crysan sendirian. Bahkan saat Crysan melihat Daniella dan ingin menemui cewek itu, Avni dengan sigap menahan Crysan. Menyisakan kekecewaan Crysan karena tidak bisa menemui sepupunya itu.
Semua orang termasuk Bram masih bertanya-tanya tentang Daniella. Daniella yang berubah baik pada Crysan setiap cewek itu ke sekolah. Juga mempertanyakan sikap Crysan yang seolah mengenal Daniella lama. Seperti teman lama yang bertemu kembali. Atau saudara yang lama tak berjumpa.
" Ris, mau ikut nggak " Crysan melihat ke arah Nadya yang asyik mengunyah keripik singkong. Crysan sendiri masih sibuk dengan laptopnya. Mengerjakan tugas dari Pak Nur.
" Kemana ?", Setelah yakin tugasnya selesai dengan baik Crysan baru menjawab pertanyaan Nadya singkat. Mendapat delikan dari Nadya, Crysan hanya menggidikkan bahunya.
" Shopping juga membantu kak Bram packing ", Crysan kembali menggidikkan bahunya. Ditambah lagi alisnya yang sudah hampir menyatu di tengah.
" Kak Bram ? "
Nadya yang penasaran dengan kegiatan Crysan, mengambil ponsel temannya itu secara paksa. Membuat sang empunya cemberut. Nadya bersiul pelan, memandang Crysan takjub. Juga isi dari e-mail tersebut.
" Lo...keren...bingitz...Ris ", Crysan memutar bola matanya ke segala arah. Bosan mendengar kata-kata lebay Nadya yang sering dia dengar. Tak ada yang menghentikan teriakan alay Nadya kalau Avni tidak berhagung dengan mereka. Entahlah Avni pergi kemana hari ini. Membuat Crysan harus pusing menghadapi Nadya.
" Biasa aja tuh Nad. Lo tuh harusnya fokus sama nilai lo ", ejek Crysan membuat Nadya menggerutu kesal.
•••
" Lo serius Bram mau ninggalin Crysan ?", sudah tiga kali Eki menanyakan persoalan yang sama. Mengenai keputusan Bram yang memilih kuliah di Singapore.
" Gue serius. Gue juga mau ngasih kesempatan buat Ridho "
Baik Eki maupun Avni hanya tersenyum masam. Percuma membujuk Bram untuk membatalkan semuanya. Sudah terlanjur Bram mendaftarkan dirinya di Universitas terbaik di Singapura. Bram sudah membulatkan tekadnya.
" Berarti lo juga mau ngeluapin Crysan ?"
Bram menahan senyumnya. Dia bingung mau menjawab apa. Jika boleh memilih Bram ingin tetap di Indonesia. Tapi, mau bagaimana lagi. Selain menuruti dan berbakti pada orang tuanya, Bram juga ingin melupakan kenangannya tentang Indonesia. Tentang semua yang terjadi di Indonesia. Avni menghela nafasnya. Rasanya dia ingin memukul kepala Bram menggunakan gelas yang sedang dia pegang saat ini.
Eki yang memang memutuskan kuliah di Jakarta hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk temannya ini. Eki pernah menyarankan pada Bram agar memperjuangkan cinta yang dia punya untuk Crysan. Tapi yang Eki dapatkan adalah jawaban sok bijak milik Bram. Jawaban yang sama dengan ucapan Daus saat di rumah Ridho. Saat mereka membuat rencana dinner konyol malam itu.
" Terus, Kak Ridho kuliah di mana ?"
" Nggak tahu ", jawab Bram dan Eki bersamaan. Avni mengerti kalau Ridho sekarang mengasingkan diri dari dua cowok yang sedang bersama dirinya ini.
" Kak Bram, apapun yang terjadi sekarang aku doakan di masa depan nanti kakak sama Crysan bisa bersatu "
Bram hanya mengamini di dalam hati. Tidak mau menaruh banyak harapan untuk hubungannya dengan Crysan di masa depan nanti. " Gue juga berdoa biar kalian selalu bahagia. Juga siapa saja yang merencanakan kecelakaan Crysan membusuk di penjara "
Eki memilih diam sedangkan Avni berkutat dengan novel yanh sempat dia pinjam dari Crysan. Membiarkan Bram dengan segala amarah yang sedang menyelimuti cowok itu.
" Bram, lo jangan lupain gue ya kalo udah ada di Singapore "
Bram tergelak. Menurutnya Eki sedikit kekanakan. Bram tidak akan pernah melupakan semua temannya. Hanya kenangannya saja yang akan dia lupakan. Bram baru menghentikan tawanya saat melihat Nadya, Daus dan Crysan. Bram memasang wajah datarnya. Tidak ingin Crysan mengingatnya. Bram hanya ingin Crysan jauh dari hal buruk. Dan menurut Bram dengan wajah datarnya itu semua firasat yang dia rasakan hilang. Berbeda dengan wajah datar Bram, Crysan malah tersenyum. Memperlihatkan kedua lesung pipitnya.
Crysan memilih duduk di dekat Avni. Merebut paksa novel yang sedang dibaca Avni. Menutup novel itu dan meletakkannya di atas meja. Crysan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggung kecilnya. Sebuah kotak berwarna coklat. Membisikkan sesuatu ke telinga Avni. Dan Avni langsung mengangguk. Avni menyeret Crysan mendekati Bram.
" Emh ", Crysan masih berdiri ragu di dekat Bram. Antara harus melakukan atau tidak. Akhirnya Crysan memberanikan dirinya. " Kak Bram, ini buat kakak. Katanya kakak mau ke Singapore kan ? Semoga suka ya "
Bram mengangguk. Dia tidak membuka kotak itu. Meletakkan kotak itu ke dalam tas punggung yang dia akan bawa ke Singapura. Bram masih menoleh ke samping. Mendapati Crysan yang masih mengamatinya dengan senyum manis. Setelah Bram mengucap terima kasih, barulah Crysan bergabung kembali dengan Avni dan Nadya. Baru kali ini Bram melihat sisi lain dari Crysan. Crysan yang dulu selalu jual mahal dengan Bram maupun Ridho terlihat berbeda saat ini. Crysan yang dulu memilih bungkam apabila diberi masukan negatif, sekarang memilih untuk melawannya secara halus. Crysan yang dulu sering menangis sekarang lebih ceria. Dan Bram mensyukuri keputusannya waktu di rumah sakit bersama ayahnya Crysan.
Keputusan yang membuat Ridho terbang menuju Amerika. Juga keputusan yang membawa Bram pergi menuju ke Singapura secepatnya.
Semoga kamu bahagia setelah aku dan Ridho pergi dari kehidupan kamu, Crysan. Hanya itu doa Bram dalam hati. Cowok ini tidak ada permintaan lain lagi. Dia hanya menginginkan Crysan bahagia. Tanpa gangguan Daniella, Karin, atau Helen yang sekarang entah kemana. Bram sama seperti Ridho yang waktu itu mengatakan ikhlas. Dulu Ridho yang ikhlas saat membiarkan Bram bersama Crysan. Dan sekaranglah giliran Bram ikhlas melihat Crysan dengan masa depannya.
" Gue ikhlas sama kayak lo kali ini Dho ", lirih Bram sambil memadang Crysan yang tersenyum ceria bersama Avni dan Nadya.