Crysan

Crysan
Dia Lagi ?



Yeay! !! Ini hari terakhir MOS. Senin pakai seragan SMA.


Senyum Crysan tidak pernah lepas dari wajahnya. Dari bangun tidur sampai sarapan dan terakhir di sekolah, dia selalu tersenyum kepada siapapun. Tapi, senyumnya langsung luntur karena Avni dan Nadya langsung menarik tangannya menuju ke Aula SMA Wijaya Bakti. Crysan memilih berdiri di barisan tengah bersama Avni dan Nadya. Walaupun berada di barisan tengah, Crysan masih bisa melihat dengan jelas sosok cowok yang berdiri di depan sana dan sedang memegang microphone di tangannya.


" Kak Ridho ? Ngapain disitu? ", desis Crysan yang tidak bisa didengar siapa saja termasuk Avni.


Meskipun tidak bisa mendengar ucapan Crysan, tapi Avni heran dengan tingkah Crysan yang seperti kebingungan. Sebagai teman yang baik sebenarnya Avni ingin bertanya tentang cowok itu tapi hal itu diurungkan oleh Avni. Pakaian Ridho yang kali ini rapi semakin membuat Crysan heran. Dari kejauhan Crysan juga bisa melihat kalau ada tahi lalat di dahi kanan Ridho.


Kalau begini kan kalem orangnya. Batin Crysan tentang Ridho. Oh, jangan lupakan senyuman manis cewek ini yang tiba-tiba mengembang dibibirnya begitu saja.


" Hallo, adik-adik semua. Saya disini mewakili teman-teman saya. Hari ini akan diumumkan pemenang lomba yang kemarin ya "


Semua siswa langsung ramai sendiri mendengar pengumuman dari Ridho tersebut. Dari juara lomba makan kerupuk sampai lomba ikebana. Sekarang adalah tiba saatnya pengumuman lomba ikebana. Ridho menatap kertas yang dia pegang dengan kening berkerut dan juga heran. Bukan, tidak ada masalah dengan juara dua dan tiga tapi dengan juara satunya.


Kok ini nama kayak pernah dengar dan tahu ya..


" Baiklah juara ketiga ikebana adalah Khalisa cs dari X-1. Juara kedua yaitu Nara cs dari X-5. Dan juara pertama adalah Crysan cs dari X-9. Untuk para juara silakan maju ke depan ", ucap Ridho yang mempersilakan para pemenang untuk maju.


Karena semua anggota harus maju jadi panggung kecil itu agak ramai. Pandangan Ridho tidak bisa terlepas dari Crysan dan teman-temannya yang menaiki anak tangga menuju ke panggung. Cowok itu terus mengamati langkah demi langkah Crysan sampai akhirnya Crysan berdiri tepat disampingnya. Crysan yang merasa diamati langsung menoleh ke kiri dan mereka saling bertatapan.


Hadiah sudah diterima dan mereka semua dibubarkan untuk kembali ke kelas masing-masing. Sampai di kelas Crysan langsung menyibukkan diri dengan hadiah yang tadi dia terima. Memasukkannya ke dalam tas dan memilih menunggu bel sekolah berbunyi.


" Akhirnya kita nggak MOS lagi. Ya nggak Us? ", tanya Crysan kepada Firdaus yang lebih akrab dipanggil Daus.


Ahmad Firdaus, satu-satunya anak laki-laki di kelas yang agak cupu dan culun. Cowok ini selalu mengikuti kemana pun Crysan, Avni dan Nadya pergi. Perkataan Crysan hanya diangguki oleh Firdaus. Dan karena bel sudah berbunyi mereka semua langsung membubarkan diri untuk pulang.


***


Sampai di rumah, Crysan langsung disambut oleh keheningan karena dia tidak melihat ibunya. Berjalan menuju ruang makan, gadis ini melihat ibunya sedang melamun di teras samping yang terhubung langsung dengan ruang makan. Crysan mendekati ibunya tetapi dia berhenti dibalik pintu kaca yang menghubungkan ruang makan dan teras rumah itu. Dia bisa melihat ibunya sedang memandangi foto seorang perempuan yang tidak pernah Crysan tahu siapa orang di dalam foto tersebut.


" Ibu, kok melamun sih? Nanti kesambet penunggu pohon beringin yang ada di rumah oom Tanto lho buk ", setelah merasa keheranannya sudah melebihi batas, Crysan baru muncul dari balik pintu dan mengagetkan ibunya.


" Kamu kok jam segini sudah pulang? Biasanya kan sore ", tanya Farra sarat akan jawaban dari anak perempuannya itu.


" Hari ini kan terakhir MOS jadinya pulang cepat buk ", jawab Crysan dan langsung memeluk sang ibu yang sudah memasukkan foto yang tadi dipegang ke dalam sebuah kotak.


" Ya sudah ganti baju terus makan sana. Ibu masak sayur asem sama sambal tomat kesukaan kamu ", setelah ibunya selesai memberitahu menu kesukaan Crysan, gadis itu langsung berlari menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Sampai di kamar yang sangat rapi itu,Crysan langsung mengganti seragamnya dengan celana jeans pendek karena dia tidak mungkin memakai hotpans yang basah. Memadukan kaos berbahan chiffon lengan pendek warna kuning polos. Rambutnya yang tadi terkepang dua juga sudah berubah menjadi kuncir kuda. Puas dengan tampilan sederhana yang dia ciptakan, Crysan langsung turun dan menuju ruang makan. Crysan sempat menengok ke teras samping dimana tadi ibunya berada tapi, orang yang dicari sudah tidak duduk ditempatnya. Disuapan kelima, gadis itu sempat berhenti dan memandangi sang ibu yang datang dengan kotak kado berwarna merah dengan aksen balon yang menghiasi permukaan kotak itu.


" Ini dari bunda kamu ", baru saja Crysan ingin menanyakan milik siapa kotak tersebut tapi Farra sudah memberitahu dari dan milik siapa kotak tersebut.


Bunda? Bukannya bunda sudah meninggal kata ayah? Batin Crysan yang merasa heran dengan ucapan ibunya.


Farra hanya tersenyun lalu memberikan kotak itu kepada Crysan yang sudah selesai dengan makan siangnya. Crysan lalu membuka tutup kotak kado itu, bisa dilihat dalam kotak itu ada empat belas surat yang ditulis bundanya dengan warna kertas yang berdeda antara satu dengan lainnya. Liana, bunda Crysan yang sesungguhnya memang meninggal saat Crysan berusia dua tahun dan Crysan juga tidak mengingat dengan baik wajah bundanya. Dari sekian banyak surat yang ditinggilkan, Crysan melihat sebuah foto yang tadi sempat dipegang oleh ibunya.


" Itu memang dari bundamu, sayang. Waktu umur kamu masih dua tahun, beliau menyempatkan diri untuk menulis empat belas surat itu untuk kamu ", Farra diam sejenak dan menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya pelan.


Melihat tatapan bingung dan penuh tanya dari Crysan, Farra langsung melanjutkan kalimatnya, " Beliau menyuruh ibuk memberikan ini untuk kamu saat ulang tahun kamu yang keempat belas. Harusnya kemarin Maret tapi ibuk lupa. Jadi, dikasih sekarang. Mumpung nggak ada ayah ", selesai mendengarkan penjelasan ibunya, Crysan langsung menutup kembali kotak tersebut. Gadis ini lebih memilih menuju ke rumah pohonnya yang juga berada di teras samping.


Crysan membaca surat demi surat yang ditinggalkan bundanya dan melihat satu per satu foto yang ditinggalkan. Hampir saja Crysan menangis karena memandangi wajah cantik bunda Liana yang juga menurun pada dirinya. Dipandanginya foto-foto lama milik bundanya dan juga ayahnya. Foto pernikahan bunda dan ayahnya. Semua foto yang menampilkan Liana saat mengandung Crysan dari usia satu bulan sampai sembilan bulan. Foto Liana saat setelah melahirkan Crysan. Crysan jadi teringat dengan ibunya yang juga berperan penting bagi dirinya. Farra juga yang membesarkan dan mendidik Crysan sama seperti anaknya sendiri.


" Itu bersejarah lho nduk. Disimpen jangan sampai hilang, besok kalau ada waktu dan rezeki kita pulang ke Pekalongan. Ziarah ke makan bunda kamu ", ucap Farra setengah berteriak dari bawah rumah pohon Crysan sebelum masuk kembali ke dalam rumah.


Di dalam rumah pohonnya, Crysan hanya terdiam dan merenungkan dua wanita yang hebat yang hadir dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Liana 'bunda'nya dan juga Farra 'ibu'nya. Turun dari rumah pohon dan membawa kotak itu menuju kamarnya.


***


Setelah selesai mengerjakan PR analisis drama yang diberikan guru bahasa Indonesia yaitu Pak Nur, Crysan tertidur di meja belajarnya sampai pagi dan masih mendekap foto bunda juga foto keluarganya. Saat bangun dari tidurnya, Crysan tersenyum sendiri lalu menaruh bingkai foto itu kembali ke atas meja. Melaksanakan rutinitas seperti biasa dan menyelesaikan ritual mandi itu selama tiga puluh menit.


Memilih menuju ke sekolahnya dengan bus yang menuju ke sekolahnya. Di sepanjang jalan menuju ke koridor kelasnya, Crysan menghentikan langkahnya karena mendengar teriakan khas Avni dan Nadya yang memanggil namanya.


" Crysan tungguin kita?! ", teriak keduanya dari kejauhan.


Karena asyik dengan tingkahnya yang senang melihat kedua temannya, Crysan sampai tidak menyadari kalau sebuah mobil everest hitam yang melintas di sebelahnya. Walaupun dengan kecepatan yang lambat karena sudah ada di sekolah, tapi itu bisa membuat air yang ada di genangan mengenai baju seragam Crysan. Gadis ini sebenarnya ingin memaki orang yanh mengemudi mobil itu tapi dia urungkan. Crysan tidak melihat siapa yang menyetir karena dia sibuk dengan seragamnya yang basah dan kotor, tapi Avni dan juga Nadya bisa melihat orang yang tadi dengan atau tanpa sengaja membuat baju seragam Crysan kotor. Cowok itu berlari menghampiri Crysan dengan wajah cemas.


" Kamu nggak apa-apa kan? Mana yang kotor ?", Crysan terdiam dan semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang tertutupi rambut lurus yang sengaja digerainya. Cowok yang mendatangi Crysan adalah Ridho. Yang selalu dikejar oleh semua murid perempuan tetapi, dia malah menjauh kalau didekati.


" Ris, kakaknya tanya itu sama lo. Paris? ", Firdaus yang memang datang sedikit siang langsung menghampiri Crysan dan yang lainnya. Sekarang cowok cupu itu sedang menggoyangkan lengan Crysan, sampai Crysan tersadar dan langsung mengangkat wajahnya.


" Kamu nggak apa kan? Ada yang kotor? ", tanya Ridho sekali lagi memastikan bahwa cewek yang ada dihadapannya ini tidak terjadi sesuatu.


" Ng...aku...ng...nggak apa-apa. Cuma baju aja yang kotor kak ", jawab Crysan terbata dengan suara pelan namun, masih bisa didengar oleh Ridho.


" Ya udah, pakai jaket aku aja ya buat nutupin baju kamu yang kotor ", tawar Ridho sambil melepas jaket yang dia pakai dan memakaikannya pada Crysan.


" Kamu? Crysan kan? ", tanya Ridho kemudian dan diangguki oleh Crysan sebagai jawaban.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ridho kembali menghampiri Crysan dan menggandengnya menuju kelas cewek manis itu. Dari sepanjang koridor sampai di tangga dan koridor menuju kelas Crysan, Crysan dan Ridhon menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana.


" Udah kak. Sampai sini aja, ada temanku yang satu kelas kok. Lagian saya bisa ke kelas sendiri, tadi juga dilihatin sama senior terus ", ucap Crysan pelan yang langsung menghentikan langkah Ridho juga Crysan yang dia gandeng.


Ridho hanya tertawa mendengar ucapan orang yang sedang digandengnya itu, " Aku nggak mau kalau kamu sampai diganggu sama Karin yang dari tadi ngeliatin kamu ", ucapan Ridho semakin membuat Crysan bingung dan memilih mengikuti Ridho kembali.


Kenapa dari kemarin harus berhubungan dengan kak Ridho sih?