
" Ohayou gozaimasu, sensei ", sapa Ridho saat cowok itu berpapasan dengan salah satu guru bahasa asingnya. Kebetulan cowok ini juga punya sedikit urusan dengan guru cantiknya itu.
" Ohayou, ada apa ya Ridho? ", tanya Dina Sensei kepada murid teladannya itu. Guru itu membalas sapaan Ridho dengan senyum hangat di pagi hari itu.
Baru saja Ridho ingin mengucapkan maksudnya, dia langsung mengatupkan lagi bibirnya. Mencoba menghindari tatapan lembut dari cewek yang sekarang ini sudah berdiri sejajar dengan Dina Sensei. Cewek yang sekarang sudah menjadi kekasih dari temannya. Cewek yang dia sebut sebagai pelarian. Cewek yang selalu dia bandingkan kehadirannya dengan sosok Daniella. Dan cewek yang dengan susah payah ingin dia hindari. Sekarang mata indahnya sedang menatap Ridho lurus. Seolah menilai penampilan cowok itu dari atas sampai ke bawah. Ridho sempat menelan ludahnya saat bertatapan dengan mata itu. Mata yang dia kata sangat memabukkan. Merasa situasi agak canggung, Dina Sensei lantas menoleh ke arah Crysan. Mencoba mengamati ekspresi Crysan apakah sama dengan Ridho atau tidak. Crysan yang tidak mengerti dengan tatapan gurunya itu hanya mengedipkan matanya. Mencoba berjalan lebih dahulu meninggalkan Ridho dan Dina Sensei di belakang.
" Ekhem, Ridho? Tadi kamu ada urusan apa ya sama saya? ", tanya Dina Sensei memastikan apa maksud dari Ridho yang sangat tidak jelas menurut guru itu. Ridho hanya menggeleng dan meminta maaf atas kelakuannya. Cowok itu lalu berlalu dari hadapan Dina Sensei tanpa penjelasan lebih lanjut lagi. Sedang guru jepang hanya mengedikkan bahunya.
Dengan langkah gontainya, Ridho menuju ke kantin. Selain dia ingin menghindari Daniella dulu hari ini juga cacing di perutnya sudah berdemo meminta makan. Cowok itu sudah duduk tenang menyantap soto yang dia pesan. Ditemani dengan teh hangat dan juga pikiran yang kacau balau. Ridho tersadar dari pikiran panjangnya. Memastikan kalau yang dia lihat memang benar adanya. Seorang cowok yang dengan hangatnya menggenggam tangan kekasihnya. Dimana sang kekasih adalah orang yang sudah berhasil merebut perasaan Ridho sedikit demi sedikit. Di belakang dua oranh itu juga ada Daniella dengan Karin dan Helen. Tidak, mereka tidak berjalan bersama ke kantin. Bram dan Crysan berjalan agak jauh di depan Daniella. Ridho mendesah lega. Dia belum siap kalau harus melihat tatapan sinis Daniella pada Crysan.
Kini Bram dan Crysan benar-benar sudah ada didepannya. Crysan yang membawa kotak bekal dan Bram yang membawa dua gelas es jeruk kesukaan Crysan. Ini memang masih pagi, tapi kebiasaan siswa yang sarapan di kantin memang sudah wajar di Wijaya Bakti. Lagi, Ridho mencoba menghindari Crysan. Tapi, seolah keadaan tengah mempermainkan cowok itu juga perasaannya, dia malah dipertemukan dengan Crysan. Bram dan Crysan memang tidak menyadari keberadaan Ridho di kantin itu. Posisi Ridho agak jauh dari mereka dan cowok ini mengucapk syukur atas hal itu.
" Halo, sayang. Aku gabung kamu ya? ", itu suara Daniella. Sudah jelas status Ridho sekarang. Menjadi kekasih Daniella juga sahabat cewek itu. Ridho hanya mengangguk dan mengamati sekitarnya. Karin dan Helen berada di meja lain. Hampir dekat dengan meja Bram dan Crysan. " Kok ngalamun aja sih Dho dari tadi? ", tanya Daniella ketus. Ridho hanya menggeleng dan memakan sotonya lagi.
Selesai dengan urusannya, cowok itu bangkit dan membayar makanan tadi. Berjalan meninggalkan kantin. Daniella hanya menatap tajam kepergian Ridho lalu mengetikkan sebuah pesan kepada nomor orang yang sangat dia benci. Kini matanya berpindah menatap sinis dan penuh ancaman kepada orang yang ternyata juga ada di kantin. Orang yang sedang menemani Bram menyantap sarapannya. Sekilas Daniella tersenyum sinis kepada orang itu sebelum dia berpindah bergabung dengan Karin dan Helen.
•••
Crysan memilih pulang menggunakan kendaraan umum. Menemani Nadya yang satu kompleks dengannya. Tempat duduk Crysan dan Nadya terpisah. Tadi Nadya sudah lebih dahulu duduk di sebelah nenek-nenek sedangkan dirinya masih harus berdesakan terlebih dahulu. Yang dilakukan setelah mendapat tempat duduk yaitu menghela nafas. Memejamkam matanya lalu beralih melihat pemandangan jakarta dari balik kaca bus yang ia naiki. Tadi dia memilih menyembunyikan pesan dari nomor misterius itu dari Bram. Dan sialnya, cowok itu berhasil merampas ponsel Crysan. Membaca kata demi kata dengan wajah merah karena marah.
" Boleh duduk disini? "
Crysan langsung menatap cowok yang tadi bertanya dan dia sangat mengenalnya. Cowok itu adalah Ridho yang sudah berdiri di dekat kursinya. Bahkan Ridho hanya membawa tas sekolahnya juga kontak mobil yang masih dia pegang. Crysan hanya mengangguk dan tidak berbicara apapun. Crysan sama sekali tidak menoleh ke arah Ridho. Sedangkan Ridho diam dan terus menatap Crysan. Cewek itu tahu kalau Ridho terus menatapnya. Dia hanya pura-pura cuek dan bersikap biasanya saja. Bukankah Ridho ingin Crysan tidak dekat dengannya? Karena tidak enak dengan Daniella dan supaya tidak dilabrak? Itu hanya alibi sesaat menurut Crysan.
Begitu bus berhenti di halte dekat perumahan yang Crysan juga Nadya tinggali, Ridho tersadar dan langsung menggeser kakinya. Bermaksud supaya Crysan mudah saat melewati dirinya. Crysan turun bersama dengan Nadya, berjalan beriringan tanpa tahu kalau dia sedang diikuti seseorang. Ridho yang melihat Crysan dan Nadya sudah berpisah di persimpangan, langsung mempercepat langkahnya. Langkah Crysan terhenti, menengok ke belakang dan menemukan Ridho yang juga ikut berhenti. Memandang Ridho sekilas lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk pulang. Membiarkan Ridho mengikutinya dalam diam. Ridho terus mengikuti Crysan, bahkan sampai cewek itu masuk ke dalam rumahnya. Entah apa yang sebenarnya membuat Ridho sangat menyayangi Crysan. Bahkan ingin memiliki cewek itu. Setiap kali Ridho melihat ke balik manik mata Crysan, dia seakan tenggelam didalamnya. Tenggelam di dalam telaga madu yang ada di mata Crysan. Dia seakan bisa melupakam semua masalahnya. Crysan bagaikan vitamin untuk Ridho. Tapi, semua itu berubah saat Ridho mengingat kenyataan. Kenyataan bahwa dia adalah kekasih sekaligus sahabat dari Daniella. Daniella yang selama ini dia inginkan. Daniella yang dulu hampir meninggal karena kecerobohan seorang Ardana Ridho.
" Kakak masuk aja dulu ke dalam. Aku buatin minum dulu ", suara Crysan berhasil menerobos ke dalam indra pendengaran Ridho. Cowok itu hanya diam dan menurut.
Tak lama Crysan kembali dengan membawa baki berisi dengan dua gelas air putih. Seperti de javu, Ridho hanya tersenyum singkat. Menatap Crysan yang kini sudah menunduk tidak mau melihatnya.
" Lo, apa kabar? ", tanya Ridho dan cewek didepannya itu hanya diam. Tak merespon sama sekali. " Baik kok, kakak? ", tanya Crysan balik kepada Ridho.
" Seperti yang kakak mau dan kakak lihat ", jawab Crysan cuek dan tak peduli dengan Ridho.
Ting!!!
Bram : udh sampe rmh dek?
Crysan tersenyum dan membalas pesan itu dengan cepat. Bram selalu memanggilnya dengan sebutan adik atau dek. Cowok itu sudah berjanji akan menjaga Crysan dari bahaya si 'nenek sihir' yang sering disebut oleh Bram. Bahkan Bram juga mengatakan kalau Crysan tidak siap menjadi kekasihnya, cowok itu bersedia menjadi teman curhat Crysan. Terdengar aneh memang tapi itulah yang Bram katakan. Dan Crysan hanya diam sambil mencari kesungguhan Bram lewat sorot mata Bram.
Crysan : iya duh kk.
Bram : Jangan lupa lunch ya?
Crysan : siap kk ganteng.
Bram juga mengatakn kalau dia akan memperlakukan Crysan seperti adiknya bukan pacarnya. Bahkan Crysan sempat tidak enak saat Bram mengatakan kalau dia siap menjadi sahabat Crysan. Sahabat yang benar-benar seperti teman. Bukan sahabat yang berubah menjadi cinta seperti persahabatan Ridho dan Daniella. Sungguh Crysan ingin tertawa mendengarnya.
Ridho yang melihat Crysan asyik sendiri dengan ponselnya hanya diam. Mengamati setiap gerak-gerik cewek itu. Merekamnya dalam ingatan yang akan dia gunakan sebagai vitaminnya di rumah. Demi Tuhan, mamanya yang jarang bertanya pada Ridho akhirnya tadi pagi mengeluarkan suaranya. Bertanya tentang Crysan yang sudah datang lagi ke rumah besarnya dan mengapa Daniella yang sering datang ke rumah. Ridho ingin menjawab tapi malah mamanya itu meminta nomor ponsel milik Crysan.
" Ehm, Sya, gue pulang dulu deh ya ", Crysan hanya mengangguk dan mengantar Ridho sampai di teras rumahnya. Setelah Ridho jauh dari penglihatan barulah cewek itu masuk ke dalam rumah.
Crysan : Td dia ke rmh ku, kk.
Bram : Ngobrol apa?
Crysan : Ga ada yg diobrolin.
Aku ingin menghindarinya tapi kenapa susah sekali rasanya? Dia sudah punya Daniella kan? Allah bantu hamba-Mu ini. Batin Crysan dan dia langsung pergi ke kamarnya. Meluapkan rasa yang ada dihatinya pada sebuah sketsa abstrak yang berhasil dia buat beberapa hari ini.