
Brak..
Pintu kantor terbanting dan membuat Aiko mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mika masuk dengan rambut acak-acakan. Dia terlihat sangat pusing dengan para dewan yang menentang semua perintahnya. Itu yang ada dipikiran Aiko.
Leo bangkit dari duduknya dan menyapa Mika.
"Tuan, sepertinya anda lelah. Masuklah, akan saya perintahkan pelayan untuk menyiapkan teh untuk anda,"
Mika masuk dan langsung duduk di kursinya. Wajahnya lelah dan lesu. Sepertinya dia bertengkar dengan kepala botak itu lagi (salah satu dewan yang sangat menentang perintah Mika). Leo pamit keluar ruangan.
"Apa ada yang terjadi saat rapat?"
Lamunan Mika buyar mendengar Aiko yang berbicara di belakangnya. Sepertinya dia baru sadar bahwa sejak tadi Aiko duduk di sana. Dengan cepat Mika memutar kursinya dan duduk menghadap Aiko yang sedari tadi ada di belakangnya.
"Banyak yang terjadi saat rapat. Mau aku ceritakan semuanya?"
"Tidak. Aku tidak begitu tahu tentang bisnis,"
Aiko beranjak bangun untuk keluar dari ruangan itu. Namun, kakinya keram karena duduk dengan posisi bersila terlalu lama. Alhasil dia jatuh tersungkur ke arah Mika yang duduk di depannya.
Gedubrak...
"Aduh, kakiku keram....," Aiko mencoba berdiri. Dia menyadari kondisinya sekarang. Dia jatuh di perlukan Mika.
"Untung saja aku tangkap. Tidak ada yang terluka kan?" Mika membenarkan posisi Aiko. Membuatnya duduk di pangkuannya. (Ah, sosweet~~ Author sampe mimisan bayanginnya) ←gak usah dibaca malu-maluin.
"Tidak ada yang terluka, kok. Tapi kenapa aku harus duduk di sini, sih," wajah Aiko memerah melihat dirinya dipangku oleh Mika.
"Tidak apa. Tetap seperti ini saja. Karena lebih nyaman," Mika menekan kata tersebut di telinga Aiko seraya memeluknya dan membuat Aiko hampir pingsan karena malu.
"Dasar cab*l. Jangan membuatku jadi tomat karena kelakuanmu," Aiko memalingkan wajahnya ke arah Mika dan menarik kedua pipinya.
Tok tok..
"Tuan, saya membawakan teh," Leo memasuki ruangan. Dengan sigap Mika memutar kursinya dan duduk pernah wibawa dengan Aiko yang ada di pangkuannya. Padahal kedua pipinya merah karena di tarik oleh Aiko.
"Bawa kemari dan keluarlah,"
"Sepertinya nyawaku berkurang 10 tahun karena tadi," gumam Aiko dalam hati.
Mika tidak memperdulikan Aiko yang duduk di pangkuannya. Dia mengambil beberapa lembar kertas dokumen dan mulai mengerjakannya. Leo meletakan teh dan beberapa biskuit di meja Mika. Mika menatap Leo lekat lekat.
"Sejak kapan aku memintamu untuk menyajikan biskuit untukku?" tanya Mika dengan tatapan mengerikan ke arah Leo yang membuat merinding siapa saja.
"Sepertinya tadi nyonya menyukainya jadi saya mengambilkan lagi untuk nya," jawab Leo cepat seraya mengalihkan pandangannya pada Aiko. Aiko sadar.
"Iya, benar. Aku suka sesuatu yang manis," ujar Aiko.
Mika menghembuskan napas, "Ya, sudah kalau begitu. Leo kamu bisa keluar,"
Leo membungkuk hormat dan keluar dari kantor.
Aiko diam mematung karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan di pangkuan Mika. Dia melihat Mika yang sedang sibuk mengurusi dokumennya.
"Mika, bisakah kamu turunkan aku? Perutku mulai sakit terlalu lama duduk di sini," entah sejak kapan atau mungkin baru saja rasa sakit menyerang perut Aiko dan mulai membuatnya lemas.
"Padahal aku ingin memangku mu lebih lama lagi," gerutu Mika. Tetapi tangannya tidak berhenti menulis.
"Bukan itu. Ada masa- tunggu sebentar jangan bilang tamu bulananku,"
Mika memandangi wajah Aiko yang merah padam, "Kamu kenapa? Ada masalah apa?" tanya Mika mulai khawatir.
"Mana mungkin aku memberitahumu,"
"Tidak apa-apa. Beri tahu saja," tekan Mika dan membuat Aiko sedikit takut.
"Sepertinya aku datang bulan," bisik Aiko.
"Pfftt, ahahahha," tawa Mika lepas.
"Akan aku panggilkan pelayan. Ikutlah dengannya dan ganti sekalian bajumu," Mika mengelus kepala Aiko dan menurunkannya. Dia mengambil telepon kantor.
"Ada apa tuan?"
"Kemari dan layani istriku,"
"Baik tuan,"
Beberapa saat kemudian seorang pelayan perempuan memasuki kantor. Dia langsung menghadap Aiko yang berdiri di sebelah Mika.
"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" ucapnya seraya membungkuk ke arah Aiko.
"Ikutlah dengannya," ucap Mika seraya memberi kode pada pelayan tersebut. Dia mendorong Aiko agak pergi bersama dengan pelayan itu. Aiko menurut dan keluar bersama dengan pelayan itu. Dia menengok ke arah Mika saat berada di depan pintu. Mika hanya melambaikan tangan dan tersenyum.
Selama Aiko pergi Mika berkerja mengurusi dokumennya yang menumpuk.
"Tuan, apa nyonya pergi?" Leo masuk ke dalam kantor.
"Iya," jawab Mika singkat.
"Tuan, dewan ingin bertemu anda," keringat dingin membanjiri Leo. Tatapan mata Mika yang tajam menyapu sekeliling. Kemudian pintu terbuka, seorang dewan pun masuk dengan tergesa-gesa.
"Presdir, anda harus mempertimbangkan lagi," seorang dewan mengebrak meja Mika. Mika menatap dewan itu dan menyeringai.
"Itu keputusan ku, perintahku, dan tidak ada seorang yang mampu melawanku. Jika kamu menentang itu, maka turunkan jabatanmu sekarang dan pergi," ucap Mika dingin.
Dewan tersebut menelan ludah, "Saya tahu itu, tetapi keputusan yang anda katakan tadi tidak bisa diterima. Saya sudah berbaik hati mengizinkan anda menikah dengan gadis tak berpengaruh itu, namun saya tidak terima jika anda membuat keputusan tentang kerjasama dengan Perusahaan tuan Yuhi di Inggris,"
Brakkk... Amarah Mika meluap. Dia mengebrak meja dan menatap dewan tersebut dengan mata merahnya yang menyala. Seketika nyali dewan tersebut ciut.
"Yuhi sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Aku membuat keputusan sudah melalui banyak pertimbangan. Jika kepala botak mu mau selamat pergi dalam waktu 2 detik dari ruangan ini,"
Mendengar ucapan tersebut dari Mika dewan tersebut gemetaran dan lari keluar dari ruangan. Keringat dingin membanjiri Leo yang sedari tadi berdiri di samping kanan meja Mika. Jarang-jarang amarah Mika terpancing sampai seperti ini. Bahkan dia jadi takut mau bertanya dengan Mika.
"Dasar bedeb*h kepala botak! Membuat orang lain pening saja," Mika menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Leo, kamu diam saja. Apa ada masalah?" tanya Mika yang heran pada Leo. Padahal biasanya dia bicara tidak karuan pada Mika.
"Saya sedang berpikir tuan," jawab Leo capat.
"Berpikir?"
"Iya, saya penasaran. Kenapa anda malah mau berkerja sama dengan perusahaan milik Yuhi di Inggris? Bukankah sejak dulu anda selalu menghindari perusahaan yang hancur itu?"
"Leo, sudah kukatakan berkali-kali. Perusahaan Yuhi itu tidak hancur tapi kehilangan ahli warisnya. Yuhi tidak mau menjadi ahli waris dan malah tinggal di sini. Tetapi keluarganya selalu menuntutnya. Apa kamu pikir dia tidak punya keinginan? Yuhi itu tipe keras kepala luar biasa," jelas Mika.
"Saya mengerti tuan. Namun, apa alasan anda menyelamatkan Yuhi?" tanya Leo.
Mika tersenyum sebentar, "Aku ingin Yuhi yang akan menyelamatkan Aiko jika dia berhenti mendapat kepercayaan dariku,"
Ctarrrrr.....
Petir menyambar seakan menembus kaca ruangan. Terkejut? Bukan terkejut, tetapi apa yang sebenarnya mau di ucapkan oleh Mika. Perkataan seperti malapetaka yang akan melanda. Sebuah ramalan yang akan melanjutkan jalan cerita yang dia rajut bersama Aiko.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
Lalola~ para pembaca~~
Ada yang kangen sama Author?
(Stop Thor stop gak ada yang kangen Ama elu)
Oh ya hampir lupa, Author mau ngucapin terima kasih nih sama pembaca setia novel ini. Kalo ada yang mau ngobrol sama Author masuk ke grup chat nya ya~
(gak ada yang mau ngobrol sama author jelek kek kamu) ←ni anak siapa tolong dipungut *-*