
Aiko menyusul Mika yang sedang mengobrak-abrik isi lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian gadis.
"Ini, ibumu yang menyiapkan untukku?" tanya Aiko. Mika memberikan terusan polos dengan pita besar di belakangnya untuk Aiko.
"Ibunda kita," Mika menjentik dahi Aiko, "Jika kamu mau baju yang bagus bilang saja padanya, dia pasti akan membuatkan mu satu set pakaian," jawab Mika seraya tersenyum.
"Bagaimana kamu tahu aku suka baju terusan?" Aiko mengusap dahinya sebentar kemudian menerima baju yang diberikan oleh Mika dan melihatnya sekilas.
"Aku juga tidak tahu, ibunda yang menyiapkannya," ucap Mika. Dia melepaskan bajunya di depan Aiko.
"Waaa?!! Apa yang kamu lakukan? Tidak sopan mengganti baju di depan seorang gadis," teriak Aiko seraya menutupi matanya dengan baju yang dia bawa.
"Maaf maaf, aku lupa masih ada dirimu. Aku akan segera keluar," Mika memasang kembali bajunya dan melangkah keluar. Sebelum sempat membuka pintu, Aiko menahan Mika.
"Biar aku saja yang keluar, aku harus menggosok gigiku," ucap Aiko.
"Aku juga harus menggosok gigiku," jawab Mika sambil mengambil handuk kecil yang digantung di sebelah pintu. Mika melihat wajah Aiko yang merona dan matanya yang berkilau melihat ke arah Mika.
"Ah, apa kamu takut ditinggal sendirian?" tebak Mika dan membuat Aiko terkejut, "Jangan pasang wajah seperti itu, ayo, kita gosok gigi bersama di kamar mandi," ajak Mika.
Mika membuka pintu kamar dan berjalan ke arah kamar mandi diikuti oleh Aiko di belakangnya yang masih menggandeng tangan Mika.
Mereka menggosok gigi mereka didepan kaca kamar mandi yang besar dengan Mika yang menjahili Aiko.
"Lihatlah, kamu akan lebih imut jika seperti ini," Mika menggambar kumis kucing di pipi Aiko dengan pasta gigi yang dia pakai, "Haha, imutkan," ucapnya setelah menorehkan kumis kucing di pipi Aiko seraya tertawa kecil.
"Lucu sekali, ya," Aiko mencubit pipi Mika, "Lucu, ya. Tertawalah sepuasmu," Aiko makin kencang menarik kedua pipi Mika dan menandakan bahkan dia marah.
"Aduh..duh. .duh," ucap Mika sambil mengelus kedua pipinya yang memerah. Dia melirik ke arah Aiko yang sedang mencuci wajahnya dengan air di sebelahnya.
"Aiko, apa hari ini kamu mau ikut aku ke kantor setelah mendaftar pernikahan kita?" tanya Mika pada Aiko yang sedang mengelap wajahnya dengan handuk yang tadi dibawa oleh Mika.
"Emmm, aku sebenarnya ada kelas kuliah nanti, tapi jika itu maumu tidak apa-apa," Aiko tersenyum dan melangkah keluar dari kamar mandi untuk mengganti baju di kamar. Setelah melihat Aiko keluar Mika bergegas menutup pintu kamar mandi dan mengganti bajunya.
"Sebenarnya, Mika itu melihatku seperti apa, ya?" gumam Aiko dalam hati, "Menyebalkan sekali," dia menghela napas seraya menyisir rambutnya. Selesai mengikat rambutnya dia langsung mengganti bajunya.
"Nona Aiko. Tuan muda dan Nyonya menyuruh Anda turun untuk sarapan," seorang pelayan mengetuk pintu dan menyuruh Aiko untuk segera turun.
"Aku akan segera turun," jawab Aiko.
Aiko keluar dari kamar dan langsung turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mika dan Ibunda yang tengah sarapan.
Mika yang melihat Aiko langsung melambaikan tangan dan menyuruh Aiko duduk di sampingnya untuk sarapan.
Selesai sarapan para pelayan langsung membereskan meja dan piring.
"Mika, apa rencana mu hari ini?" tanya Ibunda seraya menyeruput teh di tangannya.
"Aku akan mendaftar pernikahan dengan Aiko dan memindahkan Aiko ke tempat kuliah yang baru," jawab Mika. Aiko seketika terkejut.
"Mika, tempat kuliah ku tidak usah diganti," ucap Aiko pada Mika.
"Aku punya rencana sendiri tentang itu. Jika kamu belajar di tempat yang aku pilih, hanya dalam waktu 5 tahun kamu bisa mendapat gelar doktor," jawab Mika.
"Ibunda jangan membuat ku tersiksa saat mengingatnya," ucap Mika seraya mengigit ujung kukunya.
"Pelayan siapkan mobilku," ucap Mika tiba-tiba kepada seorang pelayan pria yang berdiri di belakangnya.
"Baik tuan muda,"
"Kamu akan pergi sekarang, Nak?" tanya Ibunda.
"Iya," jawab Mika pada Ibunda. Mika menggandeng Aiko menuju mobil yang sudah disiapkan oleh pelayan tadi.
Pelayan itu membukakan pintu mobil untuk Aiko dan Mika.
"Hati-hati di jalan Tuan dan Nona muda," ucap pelayan tersebut.
Mika tidak menjawab dan langsung melaju. Setelah sampai di sana, Mika langsung mendaftarkan diri bersama Aiko dan mereka langsung mendapat sertifikat pernikahan seusai berfoto.
Mereka berdua keluar dari bangunan yang merupakan kantor pemerintahan.
"Akhirnya kita menikah juga," Mika memeluk erat Aiko yang ada di sebelahnya.
"Bisakah kamu lepaskan aku, aku bisa mati jika seperti ini," ucap Aiko. Mika pun melepas pelukannya dan menggandeng Aiko masuk ke dalam mobil. Mobil kembali berjalan dan melaju menuju kampus baru Aiko.
Setelah beberapa saat perjalanan mereka sampai di kampus tersebut. Mika menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus. Dia turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Aiko.
"Terima kasih," Aiko turun dari mobil seraya tersenyum pada Mika.
"Kamu bisa langsung ikut kelas hari ini. Tas mu ada di bagasi, dan jika ada sesuatu yang menyulitkan jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku," ucap Mika sambil menutup pintu mobil dan mengelus kepala Aiko.
"Apa aku tidak jadi ikut kamu ke kantor?" tanya Aiko seraya mengambil tas nya di bagasi.
"Masalahnya itu diundur, jadi kamu pergi kelas dulu dan nanti setelah pulang akan aku ajak ke kantorku," jawab Mika. Dia berjalan ke arah Aiko dan mencium dahinya.
"Chu~ jangan buat masalah, ya," ucap Mika.
Aiko mengelap dahinya dan melihat telapak tangan yang dia gunakan untuk mengelap.
"Air liurmu mengenai dahiku," ledek Aiko seraya tersenyum ke arah Mika.
"Benarkan? Kemari akan aku lap dengan sapu tangan," Mika langsung mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengelap dahi Aiko. Aiko lantas tertawa kecil dan mengambil sapu tangan Mika.
"Bercanda, wajahmu sangat mudah dibohongi," ucap Aiko seraya berlari menuju kampus, "Sampai ketemu nanti, Mika~" Aiko melambaikan sapu tangan yang dia ambil dari Mika dan masuk ke dalam kampus. Mika melambaikan tangannya dan bersandar di mobilnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tuan muda, apa yang bisa saya bantu?" ucap seorang gadis yang tidak lain adalah asisten Mika yaitu Rose.
"Kirim seseorang ke Kampus Diary untuk mengawasi Aiko jika ditindas oleh siswa lain," ucap Mika kemudian menutup telepon sebelum Rose menjawab.
"Apa aku tidak ada apa-apa dibanding dengan Aiko? Apa yang tidak aku miliki seperti dirinya?"
Terkadang, kekecewaan selalu mengiringi kita jika orang yang kita cintai tidak membalas perasaan kita. Hal tabu yang kita harap harapkan ternyata hanya ilusi semata. Sesuatu yang disebut cinta itu membuat manusia buta. Apa yang Rose harapkan itu bertepuk sebelah tangan sejak dulu. Walaupun Mika dan dirinya sangat dekat sejak Mika memasuki perusahaan, tapi dia tidak ditakdirkan untuk bersama dengan Mika. Dan sekarang Mika memiliki Aiko.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil