
"Keluar sekarang!!!!" teriakan kembali terdengar ke seluruh penjuru rumah.
"Siapa?? Apa ada janji dengan Mika atau aku??" gumam Aiko seraya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri asal suara tersebut.
Sesampainya di pintu depan Aiko melihat keadaan ruangan yang sangat kacau.
"Ya ampun Nona, jangan buat keributan di rumah orang!!" teriak pelayan yang mencoba menghalangi seorang wanita.
"Apa yang kalian katakan!? Rumah ini adalah milikku?!!" teriak Stella yang tengah berusaha menerobos para pelayan.
"Siapa dia? Ahhh, aku ingat. Dia Stella. Dia gadis yang dibicarakan Mika saat itu. Tidak ku sangka dia bisa masuk kemari," ucap Aiko dalam hati dengan nada bosan.
"Nyonya. Apa yang akan anda lakukan?" tanya Bibi Liya dengan nada khawatir.
Stella menatap ke arah mata Aiko dengan amarahnya yang meluap-luap.
"Hey! *******! Kemarilah! Akan aku pelajaran untuk wajah sok polosmu," ucap Stella seraya menghempaskan pelayan yang daritadi menahannya. Kemudian dia berjalan ke arah Aiko yang sedari berdiri di sana.
"Bisakah tunjukan sopan santun mu di rumah orang lain," ujar Aiko.
Stella mendekat ke arah Aiko dan "Plak!" sebuah tamparan mengenai pipi mulus Aiko dan meninggalkan bekas merah di sana.
"Berlagak menjadi nyonya rumah, ya," ujar Stella seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Bisakah kamu pergi. Rasanya kamu hanya mengotori pemandangan saja," Aiko menatap tepat ke mata Stella dengan tatapan mata bosan.
"Cih, dasar pelac*r tidak tahu malu!" Stella hendak memukul Aiko lagi namun sebelum tangannya sampai...
"Sepertinya semua indramu sudah tumpul, Stella," Mika lebih dulu menahan tangan Stella sebelum sampai menampar Aiko.
"Mika?! Kamu sudah pulang ternyata," ucap Stella seraya bergelayut manja pada Mika.
"Menjauh lah dari ku," jawab Mika. Dia menjauhkan Stella dari tubuhnya dan menghampiri Aiko.
"Selamat datang, kupikir kamu akan pulang terlambat," ucap Aiko ketika Mika mengelus pipi yang baru saja Stella tampar.
"Sepertinya ini akan meninggalkan bekas. Akan aku panggil dokter nanti," Mika mengalihkan pandangannya pada Stella, "Keluar! Sebelum aku seret kamu keluar," ucap Mika dengan dingin pada Stella.
"Ak-aku tidak melakukan kesalahan apapun," sanggah Stella dengan keringat dingin yang sudah membanjiri wajahnya.
"Itu telinga atau hanya hiasan yang menempel? Keluar sekarang!!" bentak Mika dan membuat nyali Stella menciut.
"Cih," Stella pun menyerah dan pergi meninggalkan semuanya.
•••
Kringg....kringgg.....kring...
Ponsel Yuhi berdering. Padahal dirinya baru saja bisa istirahat dari dokumen yang berhamburan di ruangannya.
"Akhh, aku baru saja bisa istirahat," kesal Yuhi seraya menyambar ponselnya dan langsung mengangkat telepon tersebut.
"Apa?! Aku baru saja istirahat! Mau aku suntik dengan racun dirimu!" bentak Yuhi pada seseorang di dalam telepon.
"Ahhh, masih sama seperti biasanya dirimu. Yuhi. Lelaki paling imut yang aku temui. Sayang sekali mata mu itu melambangkan seorang yang berhubungan dengan Mika, hihihi,"
Itulah ucapan dari seberang telepon Yuhi. Seketika pupil merah Yuhi menyala dan membulat karena dia terkejut.
"Bedeb*h, sudah aku katakan padamu, aku tidak tertarik dengan apa yang kamu tawarkan," jawab Yuhi dengan nada marah.
"Wah, jadi seperti ini sambutan mu. Ku pikir akan ada yang lebih menarik lagi,"
Tanpa basa-basi Yuhi langsung mematikan ponselnya dan melemparnya hingga hancur. Dia memijit pelipisnya pelan dan kemudian bersandar pada dinding di sebelahnya.
Angin dari jendela masuk ke dalam ruangan dan membuat rambut hitam pekat Yuhi berantakan.
Kring...kring...kring...
"Ah, aku lupa. Aku punya dua ponsel," ucap Yuhi seraya merogoh saku jas putih bersihnya.
"Yuhi, datanglah ke rumah ku sekarang. Tidak ada tapi,"
Yang ini dari Mika. Tanpa peringatan lagi Mika langsung menutup teleponnya sepihak tanpa memperdulikan apa jawaban kawannya itu.
"DASAR KALIAN SEMUA SAMPAH!!!" teriak Yuhi kembali membanting ponselnya dengan keras ke lantai.
(Bukankah sebaiknya kamu memberikannya padaku, krauk) ucap Author seraya menggigit biskuit cokelat nya.
"Diam kau bodoh!" yah, Yuhi pun menghapus Author dari daftar teman.
(Dasar anak kurang ngajar)
Ok, Yuhi pun langsung tancap gas ke rumah Mika karena dia akan melakukan apapun demi pekerjaan nya.
•••
"Ku pikir tidak usah memanggil Yuhi kemari. Ini hanya luka kecil, aku bisa merawatnya sendiri," ucap Aiko yang kini tengah duduk di kasurnya bersama dengan Mika yang tengah melepas mantel nya di depan lemari.
"Tidak apa. Lagian si cebol itu tidak kan bisa menolaknya," jawab Mika santai dan menghampiri Aiko. Kemudian dia berjongkok di depan Aiko seraya mencium tangan kanannya.
"Sebenarnya aku ingin minta maaf tentang yang lalu. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Bisakah kamu memaafkan aku?" ujar Mika pada Aiko.
"Pasalnya aku berpikir untuk tidak tamak akan cinta. Namun, sepertinya aku juga mulai mencintainya,"
"Tidak apa. Lagian Mika sudah berusaha menceritakan nya. Aku tidak mau jadi beban lagi dan menjadi gadis lemah," jawab Aiko seraya tersenyum pada Mika.
"KELUAR KAU DASAR MANUSIA BEDEB*H!!!" teriakan Yuhi mengisi seluruh ruangan dan membuat gendang telinga siapapun serasa pecah.
"Seharusnya dia ikut kelas sopan santun mulai hari ini," gumam Mika.
•••
"Luka ini tidak akan meninggalkan bekas serius," celoteh Yuhi seraya mengobati pipi Aiko.
"Kalau begitu bagus. Aku pikir kamu punya banyak pekerjaan, ternyata waktu mu sangat renggang," ejek Mika pada Yuhi dan membuat nya sedikit marah.
"Diam kamu Presdir Bod*h! Aku ini banyak pekerjaan," jawab Yuhi seraya membereskan obat nya.
"Terima kasih sudah datang. Aku minta maaf karena Mika sangat mempersulit pekerjaanmu," ucap Aiko seraya tersenyum manis pada Yuhi. Namun serangan seperti itu tidak mempan pada Yuhi. Dia tetap mempertahankan wajah datarnya yang terlihat membosankan.
"Berhenti minta maaf," ucap Yuhi. Kemudian dia beralih pada Mika, "Kamu tahu. Gadis itu berulah lagi. Mungkin sebaiknya aku kembali ke Inggris dan bersama istri dan anakku saja," lanjut Yuhi seraya menghela napas berat.
"Ha? Yuhi sudah menikah?" tanya Aiko terkejut. Ini pertama kalinya Yuhi bercerita tentang dirinya.
"Kamu tidak tahu, ya. Yuhi sudah mempunyai seorang putra. Mungkin kamu bisa bertemu mereka dalam waktu dekat," jelas Mika.
"Yu-yu-Yuhi ternyata sudah mempunyai anak. Padahal dia sendiri masih seperti anak-anak. Aku jadi penasaran seperti apa istrinya," gumam Aiko dalam garis seraya menenangkan diri tadi keterkejutan.
"Sepertinya kedatangan Stella kemari bukan sekedar mencari mu," ucap Yuhi seraya merebahkan diri ke sofa panjang.
"Aku sedikit ragu untuk itu,"
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
Halo semua~
Aku cinta kalian hiks
Huaa, maaf banget buat kalian T-T para pembaca setia yang selalu mengiringi setiap langkah perjalanan Aiko dan Mika. Hiks, aku terharu banget sama kalian yang rela tunggu in diri ku update T-T. Bahkan ada yang sampe chat Author karena penasaran sama kelanjutan ceritanya. Makasih banget loh shayank kuh semua~
Semoga berkah selalu bersama kalian T-T salam dari Author tercinta