Contract With You

Contract With You
Bab 17



Beberapa Minggu Kemudian


"Mika tidak menceritakan apapun padaku. Dia hanya bilang untuk tenang dan suatu saat nanti akan ia jelaskan. Yah, aku hanya bisa menunggu,"


Aiko sedang merenung di balik jendela kaca seraya melihat salju yang mulai turun dan menumpuk di mana-mana. Musim dingin kali ini datang lebih cepat dari biasanya.


"Ukhhh, sangat dingin. Sepertinya aku harus masuk ke dalam selimut sekarang juga," gumam Aiko seraya menggosok-gosok tangannya.


"Nyonya, ada seseorang yang datang. Sepertinya dia kenalan Nyonya," ucap Bibi Liya yang datang menghampiri Aiko.


"Benarkah? Suruh masuk kemari saja," suruh Aiko dan dibalas dengan anggukan oleh Bibi Liya.


Tidak lama berselang, seorang gadis masuk ke dalam dengan jaket tebal serta syal rajut yang menempel manis di lehernya yang putih.


Tap....tap....tap...tap...


"Sayang, aku merindukan mu!" gadis tersebut langsung berlari ke arah Aiko dan memeluk nya. Siapa lagi lagi bukan Mia.


"Oh, baiklah. Kita hanya tidak bertemu beberapa Minggu saja," jawab Aiko seraya melepaskan pelukan Mia.


•••


Akhirnya mereka berdua mengobrol bersama seraya menikmati teh panas untuk menghangatkan diri.


"Jadi, apa kamu mau ikut makan bersama dengan teman-teman yang lain?" tanya Mia.


"Yah, mungkin jika Mika mengizinkan aku akan ikut. Beberapa hari ini dia tidak memperbolehkan kan ku keluar," jelas Aiko seraya menghembuskan napas panjang karena dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menurut.


"Ih, kamu itu terlalu penurut. Kita hanya makan malam bersama, lho,"


Aiko hanya mengangguk-angguk mendengar apa yang dikatakan Mia. Entah itu jawaban 'iya' atau 'tidak' aku tidak tahu.


•••


Sore harinya....


"Jadi, kamu ingin pergi makan malam dengan teman-teman mu?" tanya Mika yang tengah merebahkan diri di atas karpet tebal depan televisi.


Dia baru saja pulang dari kantor. Dan jika kalian bertanya di mana Aiko, dia duduk di sofa belakang karpet menghadap ke arah televisi.


"Ah, iya. Apa boleh aku pergi? Malam ini saja aku mohon," mohon Aiko dengan mata kucingnya dan membuat siapapun tidak akan bilang 'tidak' jika melihatnya.


Mika menghela napas, "Pergilah. Ingat jangan pulang terlalu malam. Jika kamu berani melanggarnya akan ku bawa kamu ke hotel waktu itu juga dan tidak ada tapi," ancam Mika dengan nada sedikit bercanda. Namun berhasil membuat Aiko merinding seraya menutupi wajahnya.


Melihat hal tersebut Mika tersenyum. Dia berdiri ke arah Aiko dan mencium keningnya.


"Jadilah gadis baik," ucap Mika dan membuat wajah Aiko merona.


"Haha," Mika pun berjalan keluar ruangan menuju ke kamar. Ia masih punya pekerjaan padahal baru pulang.


Aiko memeluk erat bantal. Wajahnya merah semerah tomat.


"Aku kenapa sih??"


"Sudahlah. Aku harus segera bersiap. Bisa-bisa Mia memutilasi diriku jika tidak datang," gumam Aiko menuju kamar mandi.


Ngapain ke kamar mandi? Ya, mandilah. Masa bikin dodol← mewakili pertanyaan govlok author.


•••


"Aku menaruh nya di mana, ya??" gumam Aiko yang sedang mencari sesuatu di dalam lemari pakaian nya.


Gumamannya tersebut terdengar oleh Mika dan membuatnya menoleh ke arah Aiko.


"Harusnya aku taruh di sini,"


"Apa yang sedang kamu cari??" tanya Mika yang sudah berada di belakang Aiko entah sejak kapan. Padahal tadi dia sedang sibuk bergelut dengan dokumennya.


"Aku mencari syal ku. Di luar sangat dingin. Aku harus memakainya nanti," jawab Aiko tanpa melihat ke arah Mika. Dia benar-benar sedang sibuk mencari syal tersebut.


"Mau aku belikan lagi atau mencarinya saja?" tanya Mika yang sudah duduk di atas kasur tepat di belakang Aiko.


Aiko melirik sebentar ke arah Mika, kemudian dia sibuk mencari lagi seraya berkata, "Tidak perlu. Jika tidak ada aku tidak akan memakainya,".


"Oh, baiklah. Aku ingin istirahat. Rasanya pusing terlalu lama melihat tulisan," jawab Mika seraya merebahkan diri di atas kasur.


"Setidaknya mandilah dulu. Karena itu bisa membuat- gyaaaaa!" tiba-tiba seekor laba-laba kecil menempel di wajah Aiko entah darimana datangnya dan itu membuatnya berteriak seraya berlari ke arah Mika dan memeluknya. Refleks lari kalo ketemu laba-laba kaya saia.


"Pffttt. Ahahahaha, sudah lah. Laba-laba itu sudah pergi. Aku baru tahu kamu sangat takut pada laba-laba?" ucap Mika geli seraya tertawa.


"Hiks. Laba-laba itu mengerikan. Bisakah kamu bayangkan kakinya yang banyak merambat di wajahmu," jawab Aiko meninggikan nada bicaranya.


"Benarkah? Aku penasaran, seperti apa rasanya," Mika membisikan kata terakhir nya tepat di telinga Aiko.


Seketika wajah Aiko memerah.


"Cepatlah bersiap. Atau mau lebih lama bersama ku?"


Goda Mika dan membuat Aiko langsung meloncat turun dari atas ranjang.


•••••


Langit mulai gelap dan lampu jalan menyala dengan sendiri nya. Salju ikut turun dan membuat cuaca dingin kembali.


Aiko berdiri di depan rumah seraya memegang ponselnya. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Nyonya, apa tidak lebih baik anda masuk dulu ke dalam? Di luar sangat dingin. Tuan saja sudah tertidur di dalam kamar," ujar Bibi Liya yang mengkhawatirkan Aiko.


"Tidak apa. Sebentar lagi taksi yang aku pesan akan tiba," jawab Aiko. Tidak lupa dengan senyum khas nya yang sangat manis.


Tidak lama setelah Aiko mengatakan hal tersebut, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.


"Ah, itu pasti taksinya! Oh ya, Bibi. Tolong nyalakan penghangat ruangan di kamar. Sepertinya Mika tadi belum menyalakannya,"


"Tentu saja. Berhati-hatilah di jalan," ucap Bibi Liya ketika melihat Aiko berjalan ke arah gerbang.


Aiko pun melambaikan tangan ke arah Bibi Liya sebelum memasuki mobil taksi tersebut.


Aiko kemudian melaju ke restoran tempat yang sudah dijanjikan Mia.


Tidak perlu waktu lama untuk sampai di sana karena memang jaraknya tidak terlalu jauh.


Sampai di sana Aiko langsung masuk dan bertemu dengan Mia serta teman-teman nya.


Di meja bundar sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Dalam sekejap semuanya ludes mereka makan. Karena memang ada banyak orang yang ikut.


"Jadi Aiko sudah menikah. Ngomong-ngomong siapa suamimu?" tanya salah satu dari mereka dengan penasaran.


Aiko enggan untuk menjawab. Bukan karena dia malu, tetapi itu bisa membahayakan dirinya juga.


Jadi Aiko hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Sudahlah, dia tidak mau mengatakannya yang sudah," ujar Mia seraya menyodorkan kan segelas minuman ke Aiko.


Karena haus Aiko langsung meminumnya.


Selama bertemu mereka habisnya dengan mengobrol dan bersenda gurau.


Di tengah berjalanan acara tersebut pandangan Aiko mulai kabur dan kepalanya terasa pusing.


"Aiko, kamu baik-baik saja?" tanya Mia khawatir akan keadaan Aiko.


"Aku harus pulang sekarang," Aiko berlari keluar seraya menelpon Mika.


"Ada apa?" tanya Mika dari seberang telepon.


"Cepat jemput aku, hahhh....hahh...," napas Aiko mulai terengah-engah dan kepala nya tambah pusing.


"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Mika menutup teleponnya.


Aiko menyadarkan tubuhnya pada dinding dengan napas yang terengah-engah. Badannya panas dingin dan pusing menyerang kepalanya.


Beberapa menit kemudian Mika datang dengan khawatir dan langsung berlari ke arah Aiko.


"Itulah mengapa aku tidak suka kamu keluar rumah," ujar Mika. Dia memakaikan mantel hangat pada Aiko dan kemudian menggendongnya masuk ke dalam mobil.


Mika pun langsung melaju ke arah rumah. Sedangkan Aiko sudah tidak sadarkan diri.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


Happy reading~~