
Napas Aiko terengah-engah dan melihat ibundanya yang sedang diisolasi di dalamnya.
Mika yang tertinggal di belakang bertanya kepada salah satu perawat.
"Permisi perawat, Apa kamu melihat seorang gadis berambut pirang panjang lewat sini?" tanyanya pada salah satu perawat yang sedang membawa banyak obat di tangannya.
"Mungkin yang anda maksud Aiko, dia pasti ada di ruang isolasi bersama dengan ibunya," jawabnya. Ternyata semua perawat di rumah sakit tersebut sudah mengenal Aiko.
"Terima kasih," Mika bergegas pergi. Dia berlari mencari Aiko dan akhirnya menemukannya sedang berdiri bersandar di dinding dekat ruang isolasi.
"Hah...hah...hah... Aku menemukanmu," Mika berjalan mendekat ke arah Aiko. Dia mendekat ke arah wajah Aiko dan menyingkirkan poni yang menghalangi mata Aiko.
Mika melihat Aiko yang tengah menangis.
"Jangan menangis. Bagaimana jika kamu pertimbangkan permintaanku? Akan ku urus semua tanggungan yang kamu miliki, tapi sebagai gantinya kamu mau menikah denganku," ucap Mika seraya tersenyum.
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku hanya gadis bodoh yang tidak memiliki apa-apa," Aiko mengelap air mata di pipinya.
"Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kamu jadi pasanganku, itu saja," jelas Mika. Dia menyeka air mata Aiko.
"Tapi aku tidak menyukaimu,"
Suasana hening sempat menyerang mereka. Tetapi tidak begitu lama karena Aiko angkat bicara lagi.
"A, aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku sukai," ujar Aiko kembali mengelap air mata yang
"Aku tidak perlu kamu menyukaiku. Kumohon, hanya pernikahan yang tidak dihadiri oleh banyak orang, kamu bahkan bisa tidak mengakui menikah denganku," ujar Mika memohon.
Seketika hening kembali.
"Brak..!" pintu ruangan ibu Aiko terbanting dan memunculkan seorang dokter dengan wajah sangat panik.
"Nona Aiko, harap anda segera memindahkan ibunda anda ke rumah sakit yang memiliki alat lebih baik daripada rumah sakit ini," ucapnya.
"Memang bagaimana kondisinya?" tanya Aiko cemas.
Dokter hanya menggeleng dan membuat Aiko tertekan. Mika melirik ke arah Aiko dan menghela napas.
"Dokter, tolong pindahkan pasien sekarang juga," ucap Mika sontak membuat Aiko terkejut.
"Baik, tuan," dokter kembali ke dalam dan menutup pintu.
"Apa maksudmu?! Aku sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit lain," ucap Aiko pada Mika dengan nada membentak.
"Kamu hanya perlu terima permintaan ku," jawab Mika pelan.
"Lalu? Apa untungnya untukmu?! Aku, aku, aku hanya gadis yang tidak memiliki apapun?! Banyak gadis lain yang lebih cantik dariku dan lebih kaya dariku," Aiko memalingkan wajahnya dari Mika dengan wajah penuh air mata.
"Untuk menghindari perjodohan," jawab Mika.
"Hah?" Aiko berbalik ke arah Mika.
"Tuan, Nona, pasien siap di pindah. Mohon segera isi data ini," seorang suster memberikan selembar kertas kepada Mika.
"Asisten ku akan mengurus ini," Mika mengeluarkan ponselnya dan menelpon asisten nya untuk mengurus ibu Aiko. Tak lama kemudian asisten Mika datang.
"Rose, tolong urus masalah kecil ini, aku harus pergi," ucap Mika pada asistennya dan melangkah pergi dengan Aiko menuju mobilnya.
Di tengah perjalanan Aiko berhenti.
"Eng, aku, a....aku menyetujui permintaan mu," ucapnya dan membuat Mika sangat senang.
"Benarkah?"
Aiko membalas dengan senyum kepada Mika.
"Syukurlah, ayo, kita mendaftar sekarang," Mika menggendong Aiko di depan dan berjalan menuju mobil.
"Mendaftar sekarang sangat cepat, bisakah kita mendaftar besok saja," ucap Aiko.
••
Mika meletakan Aiko di mobil. Mobil dinyalakan dan melaju menuju rumah Aiko.
Hanya berselang beberapa saat, akhirnya mereka sampai di rumah Aiko.
Mika keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Aiko.
"Turun dan ambil pendaftaran rumah tangganya atau aku yang akan mengambilkan untukmu," ucap Mika.
"Ka-kamu yakin mendaftar sekarang? Aku rasa terlalu cepat, la-lagian ini sudah larut," ucap Aiko.
"Kamu ini banyak alasan ya. Akan ku ambilkan untukmu," Mika berjalan menuju rumah Aiko.
"Aku yang akan ambil," Aiko berlari melewati Mika dan mengambilnya sendiri.
"Gadis lucu," Mika mengeluarkan ponselnya dan menelpon ibundanya.
"Nak, kamu sudah memutuskan untuk menikah kapan?" ucap ibu dari seberang telepon.
"Ibu, aku akan mendaftar besok bersama dengan pilihanku, aku akan pulang nanti dengannya," jawab Mika seraya menutup telepon sebelum ibunya menjawab.
Hah...hah....hah....
Aiko berlari dari rumahnya dengan napas terengah-engah.
"Aku sudah mengambilnya," ucap Aiko.
"Kemari lah, aku harus membawamu ke Ibunda," ucap Mika seraya menjulurkan tangan ke arah Aiko.
Aiko dan Mika menaiki mobil melaju menuju rumah Mika yang berada di sisi lain deretan pegunungan yang membelah kota menjadi dua.
Mobil berhenti di sebuah bangunan yang sangat megah dan merupakan rumah Mika. Mika dan Aiko turun disambut oleh beberapa pelayan yang membukakan mereka pintu. Mika mengajak Aiko ke ruang tengah. Ibunda Mika sedang menunggu dengan secangkir teh yang bertengger cantik di tangannya.
"Nak, kamu akhirnya pulang. Ibu menunggumu sejak tadi, dan siapa yang kamu bawa pulang?" ibu Mika menatap lurus ke mata Aiko dan membuat Aiko terkejut.
"Ini gadis yang ingin aku nikahi," jawab Mika tenang.
Ibu Mika menaruh secangkir teh ke atas meja.
"Jadi ini pilihanmu. Biarkan aku mengujinya,"
Sepertinya akan terjadi hal buruk...gumam Aiko ketika melihat Ibu Mika tersenyum penuh arti.
Entahlah aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
"Ibu, sebaiknya jangan menyiksa Aiko lagi, dia hanya gadis kecil," ucap Mika seraya menghalangi Aiko dengan tangannya.
"Ibu hanya menguji kesetiannya padamu. Ayo, nak, kita ke ruang ganti~ biar ibu membuatmu cantik," baiklah ibu Mika tidak semenakut ucapannya, dia adalah orang yang penuh kasih. Ibu Mika menyeret Aiko menuju ruangan yang berisi banyak baju, perhiasan, dan sepatu-sepatu indah yang merupakan karya Ibu Mika.
"Lihatlah, nak, kamu bisa memilih banyak baju bagus disini~ Pelayan~" ucap Ibu Mika seraya menepuk tangannya. Tidak lama kemudian para pelayan datang dengan banyak baju dan perhiasan di tangan mereka.
"Se-sebenarnya Tante, aku tidak suka barang yang terlalu mencolok seperti ini," ucap Aiko.
Ibu Mika seketika diam dan kemudian melontarkan senyum ke arah Aiko.
"Baiklah jika begitu pilih baju yang kamu sukai. Oh, ya, tolong panggil aku Ibu, ya, Mika pasti sangat menyukaimu," ibu Mika tersenyum. Dia meninggalkan Aiko kemudian berjalan kearah sofa kecil di pinggir dan duduk di sana.
"Nona, baju seperti apa yang anda sukai?" tanya seorang pelayan pada Aiko.
"Aku ingin baju yang tidak begitu mencolok," ucap Aiko dengan nada terpaksa.
"Baiklah~ Biar saya membuat anda sangat cantik," para pelayan pun mendorong Aiko ke dalam tempat mengganti baju dan mendandani Aiko sesuai dengan permintaannya.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil