
(Maskot Author nongol juga)
Hari-hari berlalu dan terlewati begitu saja. Minggu pun berganti dengan bulan-bulan yang terlewati penuh dengan cerita. Tidak terasa tangisan bayi kembar terdengar di telinga Aiko.
Air matanya mengalir melihat kedua anaknya yang menangis untuk pertama kalinya. Tangannya menggapai pipi yang agak memerah itu dengan lembut.
Bahagia? Entahlah. Karena aku tidak bisa membaca pikiran orang lain.
•••
"Yey!! Kita sudah sampai!" teriak girang dari Keyko membuat Aiko terbangun dari tidurnya.
Mobil Alice berhenti di sebuah rumah dengan toko kecil di depannya.
"Ayo, turun! Air liurmu hampir menetes tuh, haha," gurau Alice serta membukakan pintu mobil untuk Aiko yang masih setengah tersadar.
Aiko langsung turun dengan terkantuk-kantuk. Ia mengikuti Alice yang masuk ke dalam rumah tersebut bersama dengan Reyko dan Keyko.
Di depan rumah tersebut terdapat toko kecil yang keseluruhan terbuat dari kaca. Rak rak yang sudah penuh dengan berbagai bunga itu mengisi seluruh ruang kaca tersebut. Jika kita berjalan ke dalam, ada pintu masuk ke dalam rumah.
Ruangan pertama adalah ruang keluarga juga bisa digunakan sebagai ruang tamu. Karena ruangan ini sangat luas. Di sisi kiri terdapat tempat duduk yang di sediakan untuk tamu yang berkunjung. Di sisi kanan terdapat jendela kaca besar sebagai pembatas dalam rumah dan taman. Tepat di belakang tempat duduk terdapat tangga menuju lantai dua. Di lantai dua terdapat dua kamar dan satu kamar mandi.
Tepat di samping tangga, terdapat pintu menuju dapur serta ruang makan. Dapurnya didesain dengan perabot kayu agar terlihat menyejukkan hati.
Pintu di kanan dapur adalah kamar mandi dengan bak yang besar tidak seperti kamar mandi yang di lantai dua.
"Jika kamu tidak mau bekerja di perusahaan, maka lebih baik tinggal di sini saja," ujar Alice yang tengah menurunkan kardus-kardus entah apa isinya.
"Biar aku yang mengangkat nya, Bibi," ucap Reyko seraya membantu Alice mengangkat kardus yang mengisi penuh bagasi mobil.
"Sepertinya aku terlalu merepotkanmu," gumam Aiko ikut membantu Alice mengangkat kardus ke dalam rumah.
Alice hanya tersenyum tipis kemudian dia memasang raut wajah yang sulit sekali ditebak.
"Itu karena.....,"
Sebelum mendengar apa yang dikatakan oleh Alice, Aiko terkejut karena Reyko tiba-tiba menarik bajunya.
"Ibu. Kepala Keyko tersangkut di antara kayu pegangan tangga," ujar Reyko dengan wajah datar dan membuat Aiko panik serta melupakan apa yang mau dikatakan Alice.
"Hah?!! Bagaimana bisa?!!" Aiko langsung kelabakan menolong Keyko yang menangis tidak bisa apa-apa.
"Itu karena dia terlalu bodoh," jawab Reyko datar tanpa rasa bersalah.
Alice dan Aiko malah tertawa melihat Keyko yang menangis di antara kayu yang menjepitnya.
"Huaaa!!!"
Dari luar terdengar tangis Keyko yang pecah dan membuat Reyko tertawa kecil.
"Pfftttt. Dasar bocah bodoh," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya pada rumah di seberang.
"Rasanya, akan ada hal yang mungkin tidak mau dilihat,"
•••
3 jam kemudian. Selesai membereskan rumah.
"Hiks, telingaku rasanya perih," gerutu Keyko yang kini kepalanya sudah di perban. Karena sulit untuk di keluarkan akhirnya kayunya yang harus dipotong haha.
"Bodoh itu mengerikan ternyata," sindir Reyko yang tengah membaca buku di sebelah Keyko duduk.
"Hiks, huaaaa!!! Ibu, kakak memarahiku!!" teriak Keyko seraya menangis mengharapkan kasihan dari Aiko yang tengah berbincang dengan Alice.
"Kalian berdua jangan buat masalah," jawab Aiko seraya tersenyum dan membuat Reyko terpaksa menenangkan adik kembarnya.
"Jadi, kamu harus pulang ke Inggris lagi? Kupikir kamu tinggal di sini lebih lama," ujar Aiko seraya meletakkan secangkir tehnya kembali ke atas meja.
"Ren masih belum boleh pergi kemana-mana. Aku tidak rela jika ia aku tinggal lebih lama lagi," jawab Alice meneguk habis tehnya.
Dia pun beranjak berdiri karena sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.
"Bibi, harus sering-sering menghubungi kami," Keyko memeluk Alice seraya menahan air matanya.
"Tenang saja. Kamu tahukan aku seperti apa. Keyko jangan selalu menyusahkan ibumu, ya. Reyko, jaga ibu dan adikmu baik-baik," Alice memeluk keduanya dan pergi setelah puas berpamitan.
"Baiklah, bagaimana jika kita memasak untuk makan malam bersama-sama?" ajak Aiko menghilangkan kesedihan kedua anaknya.
Keduanya hanya mengangguk tetapi sudah ada sedikit senyum di wajah mereka.
•••
Langit mulai redup dan kini rembulan malam yang mengisi langit hitam itu. Hujan musim semi yang hangat turun dengan semerbak harum bunga yang mengiringi.
Seorang laki-laki dengan tubuh kekar itu menyibak tirai dan memunculkan wajahnya di atas kaca jendela.
Mata merahnya yang tajam masih tetap memancarkan warnanya dengan berani.
PRANGGGG.....
Dengan sengaja dia membanting gelas berisi wine di depan seorang wanita yang hanya memakai sehelai pakaian tipis.
"Jika kau mendekat satu langsung lagi. Akan aku pastikan hidupmu berakhir di sini," ucapnya dengan nada dingin kepada wanita tadi.
"Pffttt! Ahahahaha!!! Memangnya kamu bisa?!!! Memangnya apa yang kamu dapat setelah pencarian selama 8 tahun ini?!!! Nihil!!! Ahahaha!! Dengan bodohnya kamu percaya dengan rayuanku dan berakhir dengan pernikahan yang bahkan tidak kamu harapkan. Menyerahlah, Aiha Mika!!! Hihihi," tawa dari wanita itu masih bergema walaupun dia sudah meninggalkan ruangan ini.
"Tskkk. Walaupun tidak membuahkan hasil, tetapi aku tetap akan mencarinya dan meminta maaf untuk terakhir kalinya. Aiko, kamu ada dimana??"
•••
"Achewww. Ukhh, punggungku merinding," gumam Aiko yang tiba-tiba bersin di meja makan.
"Sepertinya ibu alergi musim semi," ujar Keyko yang tengah memakan semangkuk ceri.
"Sepertinya ada yang tengah membicarakan ibu," jawab Reyko seraya merebut semangkuk ceri yang berada di depan Keyko.
"Ah!!! Kakak kembalikan!!"
Keduanya berebutan mangkuk itu dan membuat Aiko tidak tahan lagi.
"Kalian berdua! Tinggalkan semangkuk ceri itu dan habiskan makan malam kalian," gertak Aiko dengan senyum iblis yang membuat ketakutan kedua anaknya itu.
"Ba-baik,"
Malam yang gelap pun kini berganti dengan mentari pagi hari. Dengan penuh semangat Aiko menata bunga-bunganya yang cantik di tempatnya.
"Untung saja Bibi masih memiliki banyak bunga-bunga yang indah ini,"
Gumam Aiko dengan ceria seraya mengingat Bibinya yang sangat baik padanya. Satu tahun lalu Aiko bertemu dengan kakak dari ibunya. Dia baru saja pulang dari Jerman karena suaminya orang sana. Dia sangat baik pada Aiko sejak kecil.
"Ibu, ini ditaruh dimana?" tanya Keyko yang tengah membantu menata pot-pot kecil bersama dengan Reyko.
"Kamu taruh saja di rak sebelah kanan. Jangan lupa disiram," jawab Aiko.
"Aku tidak punya tujuan lain selain membuat kalian berdua tumbuh dengan penuh kasih,"
Gumam Aiko dalam hati seraya memandang kedua anaknya.
Tringgg...tingg....
"Harum bunga di pagi hari,"
"Selamat dat...tang..," sambut Aiko dan melihat siapa yang datang pertama kali di tokonya.
"Maaf menganggu. Saya mencari setangkai bunga mawar yang mempesona seperti Nona,"
"Hehhh!!!"
Contract With You
Happy new year~~~🎉🎉