
"8 tahun berlalu. 8 tahun yang sudah aku lalui dengan jerit payah ku sendiri. Pengalaman demi pengalaman sudah aku lalui. Dan sekarang, inilah saatnya aku menemui takdir yang baru,"
...
"Aku lelah," gumam Aiko yang baru turun dari pesawat. Dia berjalan di bandara seraya mengandeng dua anak kecil. Rambut pirangnya yang dulu panjang sekarang menjadi pendek. Dress biru yang ia pakai sekarang terlihat lebih dewasa. Sorot matanya yang dulu lemah sekarang terlihat kuat. Entah apa yang terjadi padanya 8 tahun silam.
"Ibu, kita kenapa kesini?" tanya seorang gadis kecil yang digandeng di sisi kanan oleh Aiko. Rambut pirangnya menurun dari Aiko sendiri dengan mata biru yang terlihat seperti berlian.
Namanya Keyko. Penampilan nya memang menurun dari Aiko. Namun tidak dengan sikapnya.
"Kamu sudah bertanya sebanyak tiga kali," jawab anak laki-laki yang digandeng di sebelah kiri. Nada bicaranya dingin dengan raut wajah datar. Matanya merah dengan rambut acak-acakan. Tebak saja siapa ayahnya.
Namanya Reyko. Kakak laki-laki dari Keyko sekaligus saudara kembarnya.
"Hehh, ibu daritadi tidak menjawab jadi aku bertanya lagi. Malah kamu yang jawab," ujar Keyko seraya menjulurkan lidahnya pada kakaknya sendiri.
"Panggil aku kakak," keduanya pun beradu mulut dan membuat Aiko memijit kepalanya.
"Hentikan," ucap Aiko lembut seraya mengelus rambut kedua anaknya itu.
"Kira-kira, apa yang terjadi pada 'nya', ya?"
Aiko menatap langit yang mulai dilahap awan kelabu.
Ada rindu. Ada sedikit rasa rindu. Ingin diucapkan, namun lebih baik disimpan. Ketika sebuah cerita sudah berjalan, klimaks selalu saja membosankan.
Ada rasa. Ada sedikit rasa yang masih tersimpan. Semakin lama semakin meluap. Akankah bisa bertahan sampai akhir cerita? Cerita yang diukir di atas sebuah batu. Batu yang tersapu ombak dan tidak tahu lagi apa tujuannya.
•••
"Ibu?" suara manis Keyko membuat Aiko sadar dari lamunannya.
"Ya? Maaf ibu malah melamun," jawab Aiko seraya tertawa ringan, "Ayo, bibi Alice sudah menunggu di luar," lanjut Aiko kembali melangkah ke luar bandara.
Di luar bandara sudah terparkir mobil hitam dengan seorang wanita berdiri di sebelahnya. Dia menoleh ke arah Aiko.
"Aiko!" panggil nya seraya melambaikan tangannya. Aiko pun mempercepat langkahnya ke arah wanita itu.
"Maaf membuatmu menunggu," ucap Aiko seraya membuka pintu mobil dan menyuruh kedua anaknya untuk masuk.
"Aku belum lama kok. Oh ya, aku sudah mengecek apartemen yang akan kamu gunakan. Yuhi juga sudah mendaftarkan mu pekerjaan," ucap Alice seraya tersenyum. Yang belum tahu dia baca bab sebelumnya. Dia istri Yuhi. Anaknya laki-laki bernama Ren. Alice sudah seperti kakak bagi Aiko. Selama 8 tahun di Inggris, dialah yang membantu Aiko dalam hal apapun. Dia wanita yang rendah hati dan selalu mengalah walaupun akhirnya dia sendiri yang rugi. Sosok bidadari yang sesungguhnya haha.
"Terima kasih untuk bantuannya. Aku malah jadi selalu merepotkanmu," ujar Aiko seraya menunduk tanda terima kasih.
"Ibu, bisa kita pergi sekarang?" tanya Reyko yang sudah lelah dan ingin segera istirahat.
"Tentu saja! Biar aku yang menyetir," jawab Alice cepat.
Aiko pun masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Alice. Mobil melaju menembus rintik hujan yang mulai turun.
"Ahh, benar-benar melelahkan. Rasanya kembali ke tempat ini membuatku merasakan hal yang seharusnya sudah aku lupakan," gumam Aiko dalam hati dengan memori yang meliuk bagai aurora di kepalanya.
Setelah kejadian itu. Aiko benar-benar tidak pernah menghubungi Mika lagi. Selama 8 tahun Aiko melewati masa-masa sulit sendirian. Apalagi setelah tahu dirinya mengandung anak kembar, beban pikirannya perlahan bertambah.
•••
••
•
Hari itu. Ketika Aiko mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Mika. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan dunia. Namun,
"Nyonya, jika saya boleh jujur. Saya sangat menyukai anda. Entah sejak kapan perasaan saya terus meluap. Tetapi, anda sudah jadi milik tuan saya. Dan saya hanya memiliki peran sebagai 'pelayan'.
Jika anda menyerah sekarang, bukankah anda akan membuat kecewa orang-orang yang mencintai anda?
"Ahh, Leo. Entah sejak kapan dia menjadi seperti itu?" Aiko masih saja bergelut dengan pikirannya.
•••
Aiko kembali memandang rintik hujan yang jatuh di jendela mobil. Senyum yang tadi ia kembangkan sekarang layu menyisakan kekecewaan yang mendalam. Layaknya bunga yang sudah tidak mau melihat kejamnya dunia dan memilih untuk layu dan mati.
"Oh ya, ngomong-ngomong Yuhi mendaftarkan ku sebagai apa?" tanya Aiko dan membuat Alice melirik dari sudut matanya.
"Umm, dia bilang karena posisi asisten kedua Presdir kosong, kamu yang harus mengisinya. Aku juga tidak begitu tahu, haha," jawab Alice seraya tertawa.
"Aku harus jadi asisten Presdir! Bukankah Yuhi tahu aku tidak begitu mahir bekerja begituan?!" ujar Aiko dengan terkejut.
"Ahaha, aku juga tidak tahu," jawab Alice menghindari pandangan mata Aiko, "Ta-tapi, jika kamu ingin menjual bunga lagi seperti di Inggris, kamu bisa membuka toko di apartemen mu," lanjut Alice dengan gugup.
"Aku lebih memilih membuka toko bunga daripada harus bekerja di tempat yang bahkan tidak aku tahu," kesal Aiko.
Alice hanya tertawa geli melihat perilaku Aiko. Entah sejak kapan Aiko lebih dewasa daripada beberapa tahun silam.
"Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengannya," gumam Alice seraya mengingat kembali pertemuannya dengan Aiko.
.
.
.
Jadi saat bertemu dengan Leo di jalan. Keesokan harinya Aiko langsung berangkat ke Inggris bersama dengan Yuhi. Entah karena rasa bersalah atau apa Yuhi jadi memperlakukan Aiko dengan berbeda.
"Tolong rawat dia seperti adik mu saja," ucap Yuhi saat pertama kali Aiko di Inggris.
"Maaf merepotkan," ujar Aiko dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis.
"Tidak apa. Salam kenal, aku Alice. Dan ini Ren," jawab Alice seraya menunjukkan seorang anak kecil yang sedari tadi mengekor padanya.
Mata merah yang menurun dari Yuhi serta rambut hitam pekat.
"Sejak saat itu. Aku mengenal sosok yang lembut seperti dia. Aku masih tidak menyangka dia mengalami hal buruk seperti itu,"
Alice merenung di tengah hujan. Dia menoleh ke arah Aiko yang entah sejak kapan terlelap.
"Lho, dia tidur?" ucap Alice kaget. Padahal dia baru saja mengobrol dengannya.
Alice menggelengkan kepalanya.
"Hujannya makin lebat. Semoga saja tidak ada badai,"
Contrast With You
Oh hai~
(Welcome back!)
Owh, thank ...
Ada yang kangen aku? Kagak ya udah. Walaupun aku sedih sih ngetik novel ini. Entah kenapa haha. Untuk pembukaan season 2 gini aja ya. Aku gak suka basa-basi.
Karena gak ada yang ngisi QnA jadinya aku percepat. (Menangid dengan estetik)
Cover by @sikucing_hitam12. Masih dengan yang biasa
Sekian dari Author