
Warning warning!
Ada adegan dewasa mohon siapkan jantung anda agak tidak jatuh berserakan
Soalnya kemarin saya pungut jantung di depan rumah haha
Happy reading~~
"Hoekkkkk. Uhuk....uhuk....uhuk," air keran mengalir dan suara gemericik air memenuhi kamar mandi.
"Kalau tidak bisa minum alkohol tidak usah diminum," ujar Mika yang tengah menepuk-nepuk punggung Aiko.
Aiko tidak menjawab. Dia malah melepas dress nya dan membuat Mika melihat punggung mulus nan putih miliknya.
"H-hey, apa yang kamu lakukan?!" sontak Mika langsung menutupi badan Aiko dengan handuk yang ia bawa sejak tadi.
Aiko berbalik menghadap ke arah Mika. Siapa pun yang melihatnya akan tahu dia mabuk berat. Aiko alergi akan alkohol. Walaupun dia minum sedikit saja, dia pasti akan tidak sadarkan diri atau haha yah, lihat saja nanti ya
"Badanku rasanya panas," Aiko langsung berjinjit dan mengecup bibir Mika. Mika terkejut dan wajahnya merah seperti tomat.
"Aku takut tidak bisa menahannya lagi. Tetapi gadis ini malah mulai duluan,"
Handuk yang menutupi badan Aiko meluncur jatuh dan membuat Mika melihat aurat Aiko.
"Sudahlah. Lagian gadis ini duluan yang memulainya,"
Mika membalas kecupan Aiko dengan agresif, "Ingat, ini kamu yang memintanya," lanjutnya seraya menggendong Aiko masuk ke dalam kamar.
Suara desahan mengisi malam yang panjang. Pada akhirnya Aiko menyerahkan keperawanannya pada suaminya sendiri.
(Ok, tamat tamat)
Haha, gak gak canda :)
•••
Ketika tengah malam kemarin. Sebuah lampu menyorot pada sebuah kursi yang sudah didudukin seseorang. Tangan serta kakinya diikat pada kursi dan membuatnya tidak bisa bergerak. Wajahnya memar memar dan ada sedikit bercak darah di sudut bibirnya.
"Jadi, kamu tidak mau menurut, ya?" seorang wanita masuk ke dalam ruangan yang hanya disinari satu lampu itu.
Lelaki bertubuh anak kecil itu mendongakkan kepalanya dan melihat wanita tersebut dengan jijik. Mata merahnya menyala dengan rambut hitam berantakan.
"Stella. Sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya nya dengan suara serak. Sepertinya selama disekap dia tidak minum setetes air pun.
"Ahahaha, aku tidak akan menyerah. Yuhi,"
Jadi, Stella menyekap Yuhi ketika dia pulang dari rumah Mika. Sebenarnya apa tujuannya?
"Cuih! Apa kamu tahu akibatnya jika orang lain tahu ini?" tanya Yuhi seraya tersenyum ke arah Stella.
"Aku tahu. Tetapi setelah melihat ini, apa kamu mau menuruti perintah ku?" Stella mengeluarkan selembar kertas dan membuat bola mata merah Yuhi membulat.
"Keparat kau! Jika berani menyentuhnya akan aku pastikan kepalamu tidak selamat," desis Yuhi ketika melihat isi dari kertas tersebut.
Stella hanya tersenyum licik. Yuhi masih berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tali itu.
"Jadi, mau menuruti perintahku? Hanya perintah sederhana. Hanya seperti ini....,"
Stella membisikan rencananya tepat di telinga Yuhi. Hal yang dibisikkan Stella membuat mata merah Yuhi membulat. Dia terkejut.
"Apa yang mau kamu lakukan sebenarnya?" tanya Yuhi lagi ketika Stella selesai memberitahukan rencananya pada Yuhi.
Stella tersenyum. Dia meletakan jari di bibirnya. Tandanya Yuhi harus diam saja.
"Kamu boleh pergi sekarang,"
•••
Lelaki itu menoleh ke arah jendela yang terbuka. Angin kencang masuk dan membuat kertas yang berserakan tadi berterbangan.
"Saya rasa, akan ada badai yang lebih besar dari sekarang," Leo kembali menyandarkan tubuhnya seraya menghembuskan napas panjang.
"Tuan, semoga anda menyelesaikan dokumen anda malam ini," gumamnya sendirian.
•••
Langit malam yang gelap mulai sirna karena cahaya matahari masih berusaha memancarkan sinarnya walaupun salju masih saja turun. Udara dingin membuat pagi menjadi sangat damai. Bagi kaum rebahan yang gak ada kerjaan dan cuma bisa guling sana guling sini.
Angin dingin membuat Aiko bangun. Dia menyibak selimutnya dan terduduk di atas ranjang empuknya.
"Ukhh, badanku rasanya seperti habis olahraga semalaman," gumamnya seraya beranjak bangun dari duduknya. Tetapi saat ia bangun, pinggulnya sangat sakit dan membuatnya jatuh terduduk di lantai.
"Ha? Apa? Tunggu sebentar, badanku rasanya sangat sakit begitu juga pinggulku. Dan...kenapa aku tidak memakai baju!!!" Aiko panik dan melihat pakaian dalamnya berserakan di lantai. Di kulitnya yang putih tertinggal bekas merah yang sangat banyak.
"Apa yang terjadi tadi malam?" tanyanya putus asa. Rasanya memorinya tadi malam putus begitu saja.
"Baru saja aku terlelap sebentar kamu sudah menghilang," tiba-tiba Mika datang dan langsung mengangkat tubuh Aiko kembali ke atas ranjang.
Mika menarik kembali selimut dan menutupi badan Aiko. Dia sendiri duduk di pinggir ranjang seraya menguap.
"Apa yang terjadi tadi malam?" tanya Aiko yang masih panik tidak karuan. Rasanya dia baru saja mendapatkan hadiah utama pertunjukan.
Mika menoleh ke arah Aiko dan tersenyum nakal. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Aiko dan membuat pipi Aiko merona.
"Aku baru saja memasuki sebuah sumur keramat," ucap Mika seraya tertawa kecil dan membuat Aiko membayangkan mozaik yang tidak bisa dideskripsikan, entah apa aku tidak tahu.
Air mata tiba-tiba mengalir di pipi Aiko, "Hiks, huaaa!! Kamu telah menodaiku!!" tangis Aiko pecah dan membuat Mika bingung.
"Ja-jangan menangis?! Aku akan bertanggung jawab," Mika mengelus pelan pipi Aiko seraya tersenyum.
"Tetapi aku istri kontrakmu, bagaimana bisa kamu bertindak seperti ini," ucap Aiko mengelap air matanya.
"Apa?! Tidak, siapa bilang. Kamu ini istri sah ku. Jadi kamu jangan berpikir seperti itu lagi, ya," Mika mengecup pipi Aiko dan membuat tangisannya berhenti.
"Tapi tetap saja. Kamu mengambil kesempatan saat aku tidak sadar," ujar Aiko dan membuat Mika hanya bisa tertawa datar.
Mika kemudian tersenyum nakal, "Jadi, mau aku ulangi saat kamu sadar?"
Haha, jadi Aiko dimakan habis oleh Mika untuk kedua kalinya. Monggo dibayangkan sendiri. Karena author jomblo jadi sekarat gegara melihat keuuwuuan mereka.
•••
Di sisi lain, Yuhi yang tubuhnya sudah dibalut dengan perban duduk sendirian di dalam ruang kerjanya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Yuhi meringkuk di bawah meja kerjanya. Bulir bening mengalir di pipinya. Dia benar-benar tidak tahu harus apa.
"Jangan kamu ambil juga keluargaku,"
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
......................
Disini Cebol mewakili Author yang sudah sekarat dan hendak mati
"Buak!!!" sebuah sandal melayang dan menghantam tepat di kepala Cebol
"Elu kalo gitu lagi kagak ada gaji buat bulan ini!"
Ya, ya maap. Author enggak sekarat kok tenang aja. Kalo authornya mati sekarang nanti ni novel tamat di tengah jalan. Bukan di tengah hatimu loh ya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, And rate ya~