Contract With You

Contract With You
Bab 29 Season 2




HAPPY NEW YEAR 🎉🎉🎉🎉


Art by ig : sikucing_hitam12


......................


"Leo!" raut wajah Aiko langsung cerah melihat siapa yang datang. Yap, teman.


"Wahh, Paman datang!" ucap Keyko yang langsung memeluk Leo.


"Kalian sudah besar ternyata," ujar Leo seraya mengelus kepala Reyko dengan lembut.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?" tanya Aiko penasaran.


Leo meneteskan keringan dingin dan menunjuk rumah yang terlihat seperti vila di seberang toko Aiko. Melihat arsitektur yang tidak asing Aiko langsung sadar.


"Eh? Ehhhhh!!!!! Ba-bagaimana bisa?!! Bukankah harusnya rumah itu ada di pinggiran kota?!!!" teriak Aiko menyadari bahwa yang ada di seberang rumahnya adalah vila yang dulu ia tinggali bersama dengan Mika.


"Nona, memangnya dulu itu kapan? Sudah 8 tahun berlalu sejak saat itu," jawab Leo seraya mengendong Keyko dan Reyko bersamaan.


Leo yang dulu sekarang sudah tidak ada. Sekarang hanya ada seorang pria dewasa dengan wajah yang menawan dengan kacamata yang bertengger dengan manis.


"Tanganmu bisa patah jika mengendong mereka bersamaan. Masuklah, akan aku buatkan minuman," ajak Aiko masuk ke dalam rumah.


"Ayo, paman. Let's go!!" ucap girang Keyko dan membuat Leo tertawa.


•••


Leo duduk di kursi bersama dengan Aiko. Sedangkan Reyko dan Keyko duduk di bawah karena mereka sedang bermain. Secangkir teh hangat di minum oleh Leo.


"Jadi, bagaimana keadaan di Inggris selama 8 tahun?" tanya Leo membuka percakapan karena sedari tadi Aiko terlihat tidak bernyawa. Jiwanya terbang mengetahui nasib.


"Sudah aku bilang penuh cerita. Mungkin butuh waktu lama menceritakan semuanya. Daripada membahas itu, bukankah situasi ku lebih tidak menguntungkan?" ujar Aiko seraya berpikir apa yang harus ia lakukan.


Leo meletakan kembali cangkirnya ke atas meja, "Ingatannya sudah kembali. Bukankah lebih baik kamu membawa kedua anakmu kepadanya?" ucap Leo kembali membuat Aiko muram. Karena suatu alasan, Aiko tidak mau bertemu dengan Mika lagi.


"Rey, bawa adikmu ke atas dan bermain di sana. Ada yang harus ibu bicarakan dengan Paman Leo," suruh Aiko dan dibalas anggukan oleh Rey.


Setelah keduanya pergi ke lantai dua, Aiko langsung berbicara serius pada Leo.


"Sekarang, aku hanya punya satu tujuan. Aku akan hidup dengan kedua anakku tanpa bergantung padanya. Sepertinya ini bukan kebetulankan? Kalian...ah, bukan. Kamu dan Yuhi sudah merencanakan semua ini," ucapan Aiko tepat sasaran dan membuat Leo melepaskan kacamatanya.


"Haha, sepertinya Nona Aiko yang dulu polos sudah tidak ada,"


Aiko hanya memandang Leo datar dan percakapan mereka berakhir setelah Aiko menjelaskan semua alasannya pada Leo.


"Aku bisa memahami apa yang kamu rasakan. Jadi, aku hanya bisa memberi ini sebagai peringatan saja. Di vila itu sekarang ada Mika dan Stella. Mereka menikah setahun setelah Nona pergi. Aku harap Nona bisa menemukan seseorang yang bisa dibuat sebagai tempat bersandar," setelah mengucapkan hal tersebut Leo langsung berpamitan pulang.


"Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya. Atau mungkin, aku takut?"


•••


Hari-hari berikutnya berjalan biasa saja. Aiko menanam bunga dan merawatnya. Kemudian membuat sebuket bunga jika ada yang membelinya.


"Hari ini dingin," gumam Reyko yang tengah membaca buku di depan jendela.


"Itu karena kakak hanya diam disini selama berjam-jam. Ayo, kita keluar dan bermain di bawah pohon," ucap Keyko seraya merengek pada Reyko.


"Hentikan, aku ingin menjadi batu sebentar," jawab Reyko tenang padahal Keyko terus mendorongnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aiko yang menghampiri mereka berdua.


"Ibu. Adik kecilku yang manis menggangguku," jawab Reyko dengan wajah datar.


"Ha?? Aku tidak menganggu! Aku hanya ingin mengajak kakak keluar. Kakak sama sekali tidak bergerak sejak tadi pagi, Bu," sangkal Keyko dan membuat Aiko tertawa kecil.


"Rey, pergilah keluar dan temani adikmu bermain," ujar Aiko dan membuat wajah Keyko girang.


Akhirnya Reyko menemani Keyko bermain di luar.


Terik matahari di siang hari membuat suasana menjadi hangat.


"Tumbuhlah benih cinta yang baru~"


"Ibu sepertinya lelah, biar aku saja yang menjaga toko," ucap Reyko dan membuat Aiko tersentuh.


"Baiklah. Itu sangat membantu, sayang," jawab Aiko seraya mengelus pelan rambut putranya itu.


Aiko pun masuk ke dalam rumah. Reyko langsung mengambil tempat duduk dan membaca buku di kelilingi bunga-bunga yang tengah bermekaran.


•••


Tringg...Tingg...Tingg....


Hampir setengah jam berlalu, lonceng toko baru berbunyi dan seorang lelaki masuk ke dalam toko.


"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" ujar Reyko menghampiri lelaki tadi.


"Rey, apa ada yang datang?" tanya Aiko seraya menghampiri Reyko.


"Ahh, sepertinya paman ini ingin membeli sesuatu," jawab Reyko datar.


Aiko pun langsung menyambutnya.


"Selamat da...tang.... Kamu Mi-," sebelum menyelesaikan kalimatnya Aiko langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Bulir bening mengalir tidak terkendali dan membuat Reyko khawatir. Dia sangat terkejut melihat siapa yang datang.


Rambut berantakan nya masih sama seperti dulu. Mata merahnya juga masih sama saja. Baju serba hitam masih ia sukai sampai sekarang.


Lelaki tadi tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Bunga cinta masa lalu bermekaran kembali. Genangan yang dulu mengering kini terisi air kembali.


"Aiko? Benarkah itu kamu??"


"Ibu, paman ini siapa?" tanya Reyko seraya menarik-narik baju Aiko namun Aiko masih saja menangis tidak terkendali.


Beberapa saat yang lalu di vila milik Mika


"Tuan, bagaimana keadaan anda?" tanya Leo yang mengkhawatirkan keadaan Mika akhir-akhir ini.


"Entahlah. Aku hanya kesepian," jawab Mika yang tengah duduk di depan vila menatap kosong ke arah jalan.


"Leo, bisa kami urus perceraian ku dengan Stella sekarang? Jika dia terus bersamaku sepertinya perusahaan ku akan segera bangkrut," ucap Mika datar.


"Akan saya kerjakan. Sekarang, sa- ah tidak, aku akan berbicara sebagai teman. Bukankah lebih baik jika kamu berjalan-jalan sebentar? Biarkan angin musim semi mengisi kerinduanmu," ujar Leo. Karena tidak mendapat jawaban dari Mika, Leo langsung bergegas pergi.


"Sepertinya ada yang membuka toko bunga di seberang," gumam Mika seraya bangkit dari kursinya.


Dia mengambil jas hitam panjangnya dan memakai syal abu-abu. Langkah kakinya langsung menuju toko bunga yang terlihat sangat menggoda mata.


Dari luar Mika mengamati sekilas dan melihat anak kecil yang tengah membaca buku di antara bunga-bunga yang bermekaran.


"Anak itu, kenapa dia mirip denganku?!!" gumam Mika terkejut ketika melihatnya. Sangat mirip, bahkan raut wajah serta penampilan hampir seperti duplikat dari Mika.


"Tidak ada salahnya membeli bunga kan. Aku harap mereka mempunyai bunga lili," ucap Mika seraya masuk ke dalam toko tersebut.


Dan bertapa terkejutnya, bahwa pemilik toko itu adalah dia yang selama ini Mika cari. Satu-satunya orang yang membuat Mika merasa bersalah sampai hampir mati.


.


.


.


.


.


Contract With You


"Cerita random Author" gak guna skip aja~


Ketika sedang berfokus mengurutkan alur, author yang gabut dan jarang update ini pun melihat berapa usia dari para budaknya.



dan kang comen pun beraksi. Para bucin Mika pun mengeroyok Author sampe meninggoy (Help~)


*Sekedar humor, jangan dibawa serius